
Langit malam berubah pagi memperlihatkan sinar matahari nan cerah secerah hatinya Azriel yang sedari bangun tidur terus memandangi wajah cantik istrinya. Sehabis shalat subuh berjamaah, pria itu tidak tidur lagi. Namun berbeda dengan sang istri yah masih terlelap dalam tidurnya ketika kembali tidur.
Tiada hentinya dia menatap wajah cantik sang istri. Dia tidak pernah menyangka kalau kini dirinya bisa bersama seorang wanita yang selama ini selalu mengganggu tidurnya. Tak pernah sedikitpun Azriel lupa pada sosok Naura, tidak pernah pikirannya memikirkan perempuan yang baru saja ia kenal.
Namun sekarang ia tahu jika alasan di balik rindu yang terpendam karena jarak itu karena ada dorongan kuat dari doa-doa Naura. Doa yang selalu ditasbihkan ketika di waktu-waktu tertentu. Kini hati, pikiran, serta seluruh jiwanya sudah terikat sempurna pada sosok perempuan cantik yang sudah diam-diam mencuri hatinya.
"Bahkan dulu aku pernah bermimpi basah denganmu, dan itu adalah hal yang paling aku sesali karena tanpa sengaja telah berzina denganmu. Namun kini aku tidak menyesal karena bisa mempertanggungjawabkan perbuatan ku pada kamu." Azriel menunduk senyum sendiri membayangkan mimpi yang tidak berfaedah itu. Dia sampai di ledek oleh teman-temannya karena meracau memanggil Naura dan bangun dalam keadaan celana basah akibat mimpi non faedah itu.
Kepalanya kembali terangkat, tangannya menyingkirkan surai Naura yang menutupi sebagian wajah Naura. "Terima kasih sudah bersedia menunggu ku selama ini, terima kasih sudah mencintaiku dan menyebutkan namaku dalam untaian tasbih yang sering kamu lafalkan, terima kasih sudah begitu mencintaiku dan terima kasih sudah menjaganya untukku." Kepala Azriel mendekati kening Naura, dia mengecup mesra kening istrinya dengan mata terpejam.
"Aku mencintaimu ya Humaira." Kata cinta pun tidak akan mampu membalas setiap cinta yang Naura berikan untuknya. Dia pernah berencana untuk melupakan gadis itu dan fokus pada pendidikannya. Namun setelah pertemuannya dengan Naura lagi, rasa itu muncul secara tiba-tiba dan semakin hari semakin berkembang saja.
Karena tidak ingin mengganggu tidur istrinya, dia beranjak dari sana. Azriel sampai lupa menyalakan ponselnya dan kembali membiarkan ponsel miliknya mati.
*****
Sesampainya di bawah.
"Wih manten baru seger bener, mana mempelai bininya adik ustadz?" seru Aditya ketika melihat adik iparnya menuruni anak tangga.
Azriel yang ditanya seperti itu tersenyum canggung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm Naura masih tidur, Kak. Dan satu lagi, jangan panggil aku ustadz karena memutuskan untuk tidak mengajar lagi."
Sebenarnya dia malu karena sudah membuat keluarga perempuan dari mertuanya kepar sampai pulas sekali. Namun mau bagaimana lagi, dia tidak bisa menahan hasrat yang begitu menggebu ketika berada di dekat wanita halalnya.
__ADS_1
Dia mendekati Aditya yang sedang berada di meja makan.
"Loh kenapa?" Bukan Aditya yang menjawab melainkan sang mertuanya, Papa Genta yang bertanya dan sepertinya pria paruh baya itu baru juga bergabung di meja makan.
"Makan dulu, Yah. Nanti bicaranya, bukannya tidak baik makan sambil bicara?" kata Aditya. Dalam keadaan makan, mereka memang terbiasa untuk tidak banyak bicara.
"Ah Ayah lupa, ayo sarapan."
"Tapi Naura ..." Azriel tidak enak harus meninggalkan Naura yang belum makan apapun.
"Soal Naura, nanti bisa kamu antarkan makanan ke kamar. Biarkan dia istirahat dulu, Papa dia pasti kelelahan melayani mu."
Lagi-lagi Azriel menunduk malu, baik kakak ipar dan mertuanya paham betul dengan kejadian semalam.
Setelah beberapa saat berlangsung, mereka bertiga selesai makan.
"Yah, Adit ke toko dulu." Aditya menyalami papanya. "Gue berangkat dulu, adik ipar. Awak jangan lo gempur terus adek gue! Dia masih lelah jangan tambah lagi." Aditya memperingati Azriel.
"Aditya, bisa tidak untuk tidak menggoda adik ipar mu?"
"Hahahaha habisnya dia lucu, Yah. Masa laki ko malu-malu gitu. Ck, macam perempuan." Lalu Aditya beranjak pergi.
Tinggallah Azriel dan juga Genta di ruangan keluarga.
__ADS_1
"Ayah mau menanyakan tentang keinginan kamu yang tidak tahu ingin lagi mengajar. Kenapa?"
"Kalau boleh jujur, menjadi pengajar di sebuah pondok bukanlah keinginan aku, Yah. Namun karena desakan nenek akhirnya aku terpaksa ngajar di pondok. Sebenarnya kalau aku balik ke sini niatnya mau melamar kerjaan di salah satu SMP swasta sebagai guru, tapi ternyata tidak mendapatkan restu dari nenek dan malah menggiringku ke pondok."
"Lalu keinginan kamu saat ini apa?"
"Karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi, jadi aku mau mencoba peruntungan menjadi guru dan mencari kerja sampingan lain, mungkin jadi penjaga toko." Azriel tidak mungkin lagi bergantung hidup pada harta keluarganya. Pasti neneknya sudah mencoret dia dari daftar waris. Namun ia tidak akan pernah pantang menyerah demi menghidupi istri dan anak-anaknya kelak.
"Maksud kamu tidak punya apa-apa, apa?" Genta di buat bingung, ia tidak mengerti menantunya bicara seperti itu.
Azriel menghela nafas. "Semalam nenek berniat menjodohkan aku, tapi aku menolak tegas karena aku hanya mencintai Naura. Nenek marah dan mencoret aku dari daftar warisan. Jadinya sekarang aku tidak punya apa-apa selain punya tekad, niat, kedua tangan dan kedua kakiku untuk mencari pekerjaan demi bisa menafkahi anak dan istriku kelak. Aku tidak ingin bergantung pada kekayaan orangtuaku."
Genta diam, dia memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan untuk membantu menanti dan putrinya. Dia cukup prihatin dengan keputusan nenek Azriel, namun ia cukup bangga karena pria ini lebih memilih putrinya daripada harus menikah dengan calon pilihan neneknya.
"Kamu ingin bekerja?" Genta serius bertanya.
Azriel menoleh. "Iya, Yah. Kerjaan apapun akan aku lakukan yang penting halal. Namun untuk saat ini, aku tidak mau mengajar di pondok."
"Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di sekolah teman Ayah. Kebetulan sekali ada lowongan buat guru agama di sana. Kebetulan kamu pernah kuliah di Kairo, lebih baik kamu mencoba melamar jadi guru saja supaya kamu bisa mengajarkan anak-anak dan itu menjadi salah satu amal jariyah kamu kelak."
"Ayah tidak keberatan kalau aku hanya jadi seorang guru?" Azriel bersedia menerima tawaran itu, tapi ia takut jika papanya kurang menyetujui.
"Mengapa harus keberadaan jika itu adalah kebaikan dan rejeki yang halal. Dulu Ayah pernah menjadi OB, tukang rujak keliling, pernah jadi tukang baso, pernah juga menjual aneka macam sandal keliling. Berbagai macam kerjaan telah papa coba demi bisa menafkahi Aditya dan demi bisa mencari ibunya Naura. Hingga pada akhirnya menjadi sekarang adalah perjuangan yang luar biasa meskipun papa harus kehilangan perempuan yang telah papa cintai, ibunya Naura. Ayah juga percaya sama kamu kalau kamu mampu menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab untuk anak ku. Besar kecilnya sebuah penghasilan tergantung kitanya bisa bersyukur atau tidak. Dan Ayah percaya jika Naura bukanlah perempuan matre ataupun boros seperti perempuan lainnya."
__ADS_1
Luar biasa, dua kata yang Azriel ucapkan dalam hatinya begitu kagum dengan pemikiran sang mertua.