Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 87


__ADS_3

"Tadi ada orang jahat mengejar, Mama. Jadinya Sean dan Nenek harus pulang lebih cepat karena mama takut orang jahat itu terus mengejar kita. Sekarang Sean akan aman bersama Mama dan juga Nenek." Mentari tidak mungkin memberitahukan perihal Aditya pada Sean. Dia belum siap memberitahukan tentang ayahnya Sean dan takut putranya akan di ambil. Hanya Sean yang Mentari miliki.


Bu Sukma mengusap lembut pundak Mentari. Mereka berada dalam satu kendaraan yang sama, taksi. Bu Sukma merasa Mentari menyembunyikan sesuatu. Terlihat dari raut wajahnya yang tidak baik-baik saja.


"Apa kamu baik-baik saja? Ibu merasa kamu sedang tidak baik-baik saja."


Mentari melirik sebentar, lalu memaksakan senyumannya. "Aku baik-baik saja, Bu." Bohong jika dia baik-baik saja, nyatanya saat ini tidak sedang baik-baik saja. Dia berusaha keras untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari Sean. Dia tidak mau membuat putranya bertanya-tanya tentang masalah yang sedang dihadapi saat ini.


Bu Sukma pun tidak lagi bertanya apapun kepada Mentari. Dia tidak akan memaksa perempuan itu menceritakan masalahnya.


"Kalau kamu mau bercerita, Ibu siap mendengarkan segala macam keluh kesah yang sedang kamu rasakan saat ini. Namun jangan pernah merasa sendirian karena Ibu sudah menganggap kamu sebagai anak ibu sendiri. Kita sama-sama sudah tidak memiliki sanak saudara lainnya, jadi anggaplah ibu ini sebagai ibu kandung kamu dan ceritalah apapun yang ingin kamu ceritakan. Jangan pendam sendiri, jangan merasa sendiri, dan jangan pernah sekalipun menyembunyikan setiap masalah yang kamu. Ibu siap mendengarkan dan kalau bisa membantu kamu menyelesaikan masalahnya."


Mentari tersenyum, namun air matanya menetes kembali. Dia cepat-cepat menghapus air matanya di saat Sean bertanya.


"Mama menangis? Siapa yang sudah menyakiti hati Mama? Siapa yang sudah jahat sama mama? Bilang sama Sean, Mah? Nanti Sean marahi." Balita berusia empat tahun dua bulan itu begitu pasih salam berbicara. Bibir mungilnya yang ikal mengucap kata demi kata terdengar dewasa.


"Tidak ada yang jahat sama Mama, sayang. Mata mama hanya kelilipan saja. Sekarang Sean udah tidak sakit lagi, jadi Sean udah bisa pulang." Mentari mengalihkan perhatian Sean supaya tidak lagi banyak bertanya.


Selama satu tahun ini putranya harus rutin kontrol karena memiliki riwayat penyakit tipes, namun hari ini adalah hari terakhir Sean kontrol dan Alhamdulillah sudah dinyatakan sembuh. Selama ini pula Mentari berjuang memenuhi kebutuhan mereka dan juga biaya pengobatan buat putranya. Untungnya masih ada tabungan yang Mentari miliki sehingga masih bisa membayar pengobatan Sean.


"Bagaimana dengan Tante Naura, Mah? Sean ingin ketemu dan main lagi. Apa kita akan bertemu lagi sama Tante Naura?"


Mentari menghela nafas. Dia tidak pernah tahu jika Naura adalah adik dari Aditya karena sebelumnya Aditya bilang tidak memiliki adik ataupun kakak. Hanya anak tunggal, tapi setelah melihat dan mendengar Naura memanggil kakak membuat dia berpikir kalau Naura dan Aditya adik kakak. Darimananya tidak tahu.

__ADS_1


"Sayang, dengerin mama. Untuk sekarang jangan dulu bertemu mereka, ya."


"Kenapa, Mah? Tante Naura baik." Di usia Sean yang ke empat tahun sudah banyak ingin mengetahui setiap hal. Bahkan bicaranya pun sudah terbilang fasih.


Mentari bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia bilang kalau Aditya adalah kakaknya Naura dan mereka adalah keluarganya Sean.


"Nduk, ada apa?" Bu Sukma yang sedari tadi memperhatikan terus memikirkan Mentari. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi antara Mentari dan Naura.


Mentari menghela nafas. "Nanti aku jelaskan kalau sudah di rumah, Bu." Dan Bu Sukma tidak lagi bertanya sampai mereka tiba di rumahnya.


*****


Rumah


"Mama mau bicara dulu sama nenek, kamu istirahat di kamar ya sayang. Mau main pun di kamar dulu, ya."


"Iya, Mah." Anak itu berlari masuk ke dalam kamar tanpa bertanya lagi apapun mengenai Naura dan hal lainnya.


Mentari duduk di lantai beralaskan tikar yang di ikuti oleh Bu Sukma.


"Kamu mau ibu buatkan minuman?" Gurat kelelahan dan kesedihan tergambar jelas dari wajah Mentari. Hal itu membuat Bu Sukma sangat penasaran, terutama secara tiba-tiba meminta pulang tanpa banyak bicara pada siapapun.


"Tidak usah, Bu. Aku hanya ingin istirahat sejenak." Mentari menyenderkan kepalanya ke dinding lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


"Ada masalah?"


"Cukup rumit, Bu. Papanya Sean berada di sini."


"Papanya Sean?" Bu Sukma terkejut, pasalnya Mentari tidak pernah mau membicarakan hal apapun tentang ayahnya Sean. Namun kali ini Mentari berbicara.


"Iya, aku ketemu dia pada saat mau melamar kerjaan di toko sepatu dan ternyata Naura itu adiknya. Mereka sempat mengejar ku makanya aku meminta ibu secepatnya membawa Sean pulang." Mentari membuka matanya, lalu menatap Bu Sukma dengan tatapan sedih.


"Aku takut dia mengambil Sean dariku, Bu. Aku takut kalau dia mau memisahkan aku dari anakku."


"Mana mungkin bisa begitu? Ibu yakin kalau papanya Sean tidak akan mengambil Sean dari kamu."


"Masalahnya dia tidak tahu kalau Sean anaknya. Kalau seandainya tahu pasti tidak akan membiarkan Sean bersama ku." Khawatir Mentari begitu besar. Itulah sebabnya mengapa dia langsung pulang dan menghubungi Bu Sukma untuk segera keluar dari ruang sakit. Mentari takut Aditya mencari Sean di sana.


"Nak, ibu tidak tahu masalah kamu itu seperti apa. Namun yang namanya seorang ayah tidak mungkin mau memisahkan anaknya dengan ibunya. Siapa tahu dengan dia mengetahui keberadaan Sean, kian bisa hidup bersama lagi. Jika masa lalu kalian kurang baik, perbaikilah selagi masih ada waktu. Apalagi adanya Sean diantara kalian bisa saja jadi jembatan penghubung kalian berdua. Jangan sampai Sean tidak tahu papa kandungnya. Dia berhak tahu, apa kamu tidak kasihan ketika melihat Sean yang selalu di Katai anak-anak seusianya kalau dia tidak punya ayah? Mungkin ini saatnya Sean tahu kalau dia punya ayah."


"Jadi Sean punya ayah? Siapa, Mah?" sahut Sean tanpa di duga.


Deg.


Mentari menoleh pada Sean, dia bingung harus menjawab apa.


"Aku ayahmu."

__ADS_1


__ADS_2