Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 35 - Kembali Mondok


__ADS_3

Sudah tiga gari lamanya Naura berada di kontrakan sang ibu. Tempat sederhana yang kini menjadi tempat tinggal Farida selama mencari Naura. Tempat yang sudah cukup lama Farida tinggali sekitar empat tahun lamanya.


Selama tinggal bareng ibunya, Naura juga membantu sang ibu bekerja. Kadang ia gantian dengan Farida membersihkan meja-meja yang ada di warung makan tempat ibunya bekerja.


"Bu, itu anaknya ya? Rajin sekali dan baik banget mau bantuin ibu," kata pemilik warung yang juga sama-sama perempuan.


Farida yang tengah membantu sang majikan melayani pembeli tersenyum dengan mata memperhatikan Naura yang tiada hentinya membantu dia. "Iya, Bu. Itu anak saya yang hilang lima tahun lalu, sekarang kami bisa bertemu lagi atas izin Allah dan tentunya atas bantuan orang yang sudah mau membantu."


"Alhamdulillah, ikut senang dengarnya. Saya pikir dia siapa sampai mau membantu Ibu bekerja tanpa imbalan. Ternyata anak kandungnya." Ibu pemilik warung belum tahu kalau orang-orang berkeringat membantu ibunya. Dia baru kesana satu hari ini karena kemarin-kemarin yang jaga adalah adiknya. Setelah sehat kembali barulah dirinya kembali menjaga warung makan sederhananya.


"Awalnya saya juga melarang dia buat bantu, tapi dia kekeh karena ingin meringankan kerjaan ibunya. Saya merasa bersyukur memiliki dalam hidupku." Tentu Farida sangat bangga bisa melahirkan putri yang kini menjadi putrinya. Meskipun Naura belum tahu ayah kandungnya dan berharap hidup bahagia tanpa bayangan masal lalu mereka, tapi Farida tidak akan pernah bisa memberitahukan tentang ayah kandungnya Naura.


"Sudah cantik, cekatan, ramah, rajin ibadah juga, dan juga Solehah. Sungguh, bikin saya ingin meminangnya jadi mantu."


"Ah ibu bisa saja, mana mungkin ibu mau menjadikan putriku, anak dari pelayan warung makan ini mantu. Aneh-aneh saja." Farida tahu putra pemilik warung memang masih muda, namun ia tidak kepikiran silau majikannya akan bicara seperti itu.


"Sungguh, Bu. Saya ingin mantu seperti itu. Saya yakin Naura ini anak yang Solehah."


"Aamiin, mudah-mudahan." Hanya itu harapan Farida saat ini, menginginkan putrinya menjadi sosok wanita yang taat agama, taat pada Tuhannya, dan menjadi wanita Solehah.


"Permisi, Bu. Kalau boleh tahu mana lagi yang bisa Naura kerjakan?" Naura ternyata sudah ada di dekat ibunya tanpa mereka berdua sadari.


"Sudah beres ya? Rajin sekali." Ibu warung itu memuji Naura. Gadis itu membalasnya dengan senyumannya.


"Untuk saat ini belum ada. Kalian boleh istirahat dulu, makan dulu, ibadah dulu. Waktu Dzuhur sudah tiba, kalau ini bisa yang lain dulu menggantinya," kata pemilik warung.


"Terima kasih, ya Bu." Naura tidak menyiakan kesempatan itu, dia dan ibunya pun pergi ke belakang dulu untuk beristirahat sejenak dan makan dan ibadah.


*****


Kebetulan di belakang ada tempat ibadahnya, jadi memudahkan para pekerja untuk shalat. Baik Naura dan ibunya serta beberapa orang yang juga sedang istirahat ibadah bareng serta makan bareng. Sudah selesai akan gantian dengan pekerja lainnya yang juga sama-sama ingin istirahat dan ibadah dulu.


"Hmm Bu, boleh Naura izin." Ucapan Naura terdengar sangat hati-hati sekali.

__ADS_1


"Izin apa, Nak?"


"Sebenarnya Naura kangen mondok, Bu. Bolehkan kalau Naura kembali ke kota B?" tanya Naura meminta izin ingin kembali menikmati kebersamaannya dengan para teteh santri yang lainnya.


"Tentu boleh, ibu tidak akan melarang kamu selama itu dalam kebaikan. Jika kamu mau kesana silahkan, tapi kapan?" Tentu saja Farida tidak akan melarang Naura, justru ia sangat bahagia putrinya mau menuntut ilmu lagi. Hati kecilnya sangat ikhlas mempersilahkan Naura mencari ilmu.


Naura mengembangkan senyumnya. "Makasih ya, Bu. Aku senang Ibu ngizinin aku, besok aku mau kesan, ya Bu."


Farida mengangguk, ia tidak akan menghalangi putrinya mencari ilmu yang ingin di dapatkan.


*****


Keesokan harinya.


Sejak keinginan Naura di izinkan, kini ia sudah berada di depan pondok Miftahul'ulum. Meskipun ibunya tidak mengantarkan sampai saja dan hanya mengantarkan sampai terminal saja, tapi Naura senang karena kali ini ada tempat yang akan Naura rindukan ketika ingin pulang.


Naura melangkah masuk menuju gerbang pondok yang selalu di jaga oleh keamanan bernama Bang Muklis.


"Assalamualaikum, Mang." Pekik Naura tersenyum menyapa Mang Muklis, si penjaga pos dekat gerbang.


"Aduh jadi tersanjung di sirih masuk." Naura pun masuk melewati gerbang.


"Lah si Neng malah tersanjung, buruan masuk atuh. Gak rindu sama Neng Khanza yang sering banget menunggu Neng Naura di sini."


"Mas sih, Mang? Dia beneran suka ke sini nungguin aku?" Naura tidak percaya, tapi juga senang bisa bertemu lagi dengan sahabatnya.


"Iya, beneran dah. Baru saja Neng Khanza dari sini dan dia kembali masuk dengan wajah murungnya."


"Ya Allah sahabatku. Mang, ini oleh-oleh dari ibu, Naura masuk dulu ya." Naura memberikan sedikit bingkisan dari ibunya yang memang untuk beberapa orang di sana termasuk Mang Muklis.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


*****


Naura berlari tergesa-gesa untuk bertemu dengan Khanza, sahabat sekaligus rasa saudara. Sambil membawa tentengan di tangannya, Naura terus celingukan mencari Khanza.


"Kemana dia? Apa dia tidak rindu aku?" Tanpa melihat ke arah depan, Naura terus memperhatikan pandangnya ke samping dengan sedikit berlari.


Tanpa sadar tubuhnya menubruk seseorang.


Bruk!


"Astaghfirullah!" pekik Naura kaget. Ia berjongkok memunguti buku dan kitab milik orang. "Maaf, maaf, aku tidak sengaja."


"Kamu kalau jalan pakai mata. Gak lihat badan Segede ini?" ujar pria itu


Naura mendongakkan kepalanya. "Ustadz!" dia sempat tertegun kala menyadari sosok pria yang di hadapannya.


"Apa? Saya jadi telat gara-gara kamu, cepetan kumpulkan buku dan kitab-kitab saya!" ujarnya tegas membuat Naura menghela nafas panjang.


"Aku sudah bilang maaf, ustadz Azriel Al-fauzi. Apa ustadz tidak dengar? Dan satu lagi, Sejak kapan berjalan pakai mata? Masa mata di gunakan jalan, Ustadz ngawur nih." Naura menjadi sewot ketika pria yang ada di hadapannya terdengar dingin.


"Astaghfirullah! Siapa yang bilang berjalan menggunakan mata? Jalan itu dimana-mana pakai kaki, masa pakai mata. Apa kata dunia kalau jalan pakai mata."


"Lah, barusan ustadz yang bilang kalau jalan pakai mata. Ah sudahlah, aku malas berdebat dengan Ustadz, aku harus mencari seseorang dulu. Permisi, Assalamualaikum." Naura lebih baik memilih menghindari perdebatan yang tidak berguna itu. Ia ingin segera menemui Khanza yang ia rindukan.


"Ya Allah, sabar .. Sabar! Dia itu kadang-kadang, untung cantik." Azriel menunduk sambil mengelus dadanya. Eh, "Astaghfirullah." Azriel kembali mengucap istighfar saat tengah memuji Naura.


"Aku emang cantik Ustadz, baru sadar." Dan ternyata Naura masih ada di sana. Dia mendengar ucapan Azriel yang bilang dirinya cantik. Sungguh hatinya berbunga.


"Hah! Kamu!" lagi-lagi Azriel terlonjak kaget.


"Ini untuk Ustadz, dari calon mertua." Naura terkikik sendiri. Ia menyimpan paper bag di samping Azriel yang memang kebetulan ada kursi kayu.


"Dadah Ustadz, Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Azriel mengatur nafasnya. "Ya Allah."


__ADS_2