
"Benar-benar ya si Fitri. Beli pembalut saja harus titip pada kita, padahal di dalam ada warung juga yang menyediakan aneka macam jajanan dan juga sembako. Eh dia malah nyuruh kita yang beli, dasar tidak ada kerjaan. Dia itu sangat terlihat sekali sok cantik, sok berkuasa, dan sok paling segalanya, kelihatan angkuh juga." Naura menggerutu kesal.
"Ssttt, Tidak boleh begitu, Kak. Kita kan tidak tahu sifat aslinya kayak apa. Mungkin lagi tidak mau keluar pondok saja, jadinya kayak gitu. Mendingan kita belanja saja. Banyak yang harus kita lakukan sebelum para teteh santri kelaparan," kata Khanza.
"Iya, kamu benar. Terus kita akan beli apa ini?" Naura memperhatikan aneka macam sayuran yang ada di warung depan.
"Kita tanya-tanya dulu harganya berapa. Aku kan belum pernah belanja masalah beginian. Setiap makanan bunda yang beli, aku mah udah tahu ada."
"Kamu aja tidak tahu, apalagi aku? Aku malah tidak pernah belanja juga karena ibuku juga yang selalu belanja, tapi di tempat yang lebih bagus aku cukup tahu sih beberapa harganya. Namun berbeda dengan di sini. Ini desa, pastinya harganya pun beda."
"Oh gitu, kayaknya memang iya. Coba kita tanyakan dulu sama pemilik warungnya."
Naura celingukan mencari pemilik warung. "Assalamualaikum, permisi, spada, apa ada orang? Kami mau beli." Dia juga terus memanggil pemilik warungnya. Sebenarnya di dalam pondok pun ada warung yang dulu Azzura tempati, namun karena tidak ada aneka macam sayuran, jadinya semua anak-anak belanja di warung depan saja.
"Assalamualaikum." Khanza juga ikutan mengucapkan salam supaya orang yang ada di dalam mendengarkan.
"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban salam dari dalam. Muncullah seorang ibu-ibu memakai daster lengkap dengan kerudung menutupi dadanya.
"Mau beli apa, Neng?" tanyanya tersenyum ramah.
"Biasa mau belanja, Bu. Hmmm harga tempe berapaan?" tanya Naura.
"Kalau itu tiga ribu satu batang."
"Tiga ribu? Kalau beli lima berarti lima belas ribu." Naura memperhatikan uang yang ada di tangannya. "Tinggal dua puluh lima ribu lagi. Lalu beli apa lagi, Khanza? Uangnya hanya tinggal dua lima saja."
"Hmm apa, ya? Aku juga bingung."
"Di dalam minyak ada kan? Terus garam, micin, sama penyedap rasa juga ada?"
"Hmm kayaknya ada, Kak."
"Berarti kita cuman beli lauk pauknya saja." Naura kembali memperhatikan aneka sayuran.
"Kalau satu ikat kangkung harganya berapa?" Naura kembali bertanya supaya ia bisa mengatur keuangan yang di pegangnya.
__ADS_1
"Kalau kangkung mah murah, cuman dua ribu satu ikat."
"Dua ribu? Beli lima jadi sepuluh ribu. Sisa lima belas. Apa lagi ya?" uang sedikit harus cukup membeli beberapa macam teman makan, dan Naura cukup bingung mengaturnya.
"Beli ini saja." Khanza menunjukan ikan asin kepada Naura.
"Ikan asin berapa, Bu?"
"Yang ikannya di belah 7 ribu satu perempat."
"Mahal, Khanza. Kan kita beli sayurannya harus cukup sampai nanti sore," kata Naura kebingungan.
"Ah pusing. Gini saja," ujar Naura mengambil uang dari dalam saku roknya. "Aku tambahin dua puluh lagi buat beli ayam satu kilo, mungkin cukup." Khanza memberikan uang berwarna biru kepada Naura.
"Kalau ayam 32 ribu satu kilo, Neng. Kalau telurnya 25 ribu satu kilo, harga telur lagi murah. Itu tergantung Neng mau beli ayam atau telur. Kalau ayam satu kilo paling jadi 12 potong, kalau telur satu kilo ada yang isinya 16 ada pula yang 17 kalau yang besar paling isi 14 telur satu kilo," kata ibu pemilik warung menjelaskan dengan detail dua bahan tersebut.
Naura menatap Khanza. "Kita beli telur saja. Kan kalau isinya enam belas bisa di makan dua kali, pagi sama nanti sore. Paginya kita masak tumis kangkung sama goreng telur, kalau sorenya kita makan sama orek tempe dan semur telur, bagaimana?"
"Ide yang bagus. Aku ikut kak Naura saja."
"Siap, Neng. Pasti kalian baru di sini, ya?" Ibu itu pun menghitung barang belanjaannya sambil bertanya-tanya.
"Iya, Bu. Kami baru, baru kemarin ke sini sudah kebagian patrol masak, kan jadi deg degan, takut masakan kita tidak enak," kata Naura.
"Belajar, Neng. Pasti nanti juga bisa, tapi ibu mah yakin kalau neng ini bisa masak."
"Ah ini bisa saja, aku aja tidak tahu bisa atau tidaknya. Semoga saja masakan kita di terima mere semua."
"Aamiin. Dan ini barang belanjaannya, total semuanya jadi lima puluh ribu." Ibu warung memberikan satu plastik sayuran ke Naura.
"Ini Bu uangnya, kalau begitu kita pamit dulu, ya. Assalamualaikum."
"Assalamualaikum," kata Khanza.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Naura dan Khanza pun kembali ke dalam pondok membawa satu plastik sayuran. Mereka tersenyum senang bisa mengatur uang meski harus menambahkan sedikit.
"Semoga makanan ini menjadi berkah. Sedikit tapi bikin kenyang."
"Aamiin. Mudah-mudahan saja mereka tidak protes sama hasil masakan kita," kata Naura.
"Hei, murid baru ke sini!" Siapa lagi yang memanggil kalau bukan Fitri.
Naura dan Khanza menoleh. Mereka baru ingat sesuatu.
"Astaghfirullah! Jamsosteknya lupa di beli!" Keduanya menepuk jidat saking kaget baru ingat.
"Apa? Kalian berdua lupa beli pesanan aku? Dasar lemot, masa beli pembalut saja tidak bisa, sih? Ih kesel da," pekik Fitri menggerutu kesal.
"Beli saja sendiri, kita sibuk! Ayo Khanza, kita ke dapur."
"Lalu mana uang buat beli pembalutnya? Mana?" Fitri menengadahkan telapak tangannya meminta uangnya kembali.
Naura menatap Khanza. "Tadi uangnya kamu yang pegang, berikan!"
Namun Khanza malah tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe, uangnya sudah Kakak tambahkan buat beli sayuran. Kan hanya sepuluh ribu."
"Apa? Jadi uang itu milik dia?" kata Naura baru tahu yang di berikan padanya uang Fitri. Khanza mengangguk seraya tersenyum tanpa dosa.
"Jadi kalian malah menggunakan uang itu? Kalian ya ..."
"Maaf, nanti kita ganti. Ayo lari Khanza!" Naura menarik tangan Khanza sambil berlari menghindari ocehan Fitri.
"Naura ... Khanza .. Kalian kurang ajar sekali! Kembalikan uang sepuluh ribuku!"
"Sudah habis!"
*****
__ADS_1