
Bak tertampar kenyataan bahwa saat ini Mentari sedang menatap tidak percaya pada sosok pria yang berdiri di dekat pintu. Mengapa dia mengatakan kalau dia ayahnya Sean? Tidak mungkin dia mengetahui sesuatu yang dia sembunyikan selama empat tahun dua bulan ini? Darimana juga Aditya tahu rumah yang saat ini Mentari tinggali.
"Papa?" Sean menatap lekat sosok pria tinggi yang ada di hadapan mereka. Benarkah itu ayahnya? Ayah yang selalu dia tanyakan pada mamanya namun tidak pernah di jawab oleh Mamanya? Benarkah dia adalah ayah yang selama ini Sean rindukan?
"Dia bukan papa kamu, Sean. Lebih baik kamu masuk ke dalam kamar karena kamu harus istirahat." Mentari segera menghalangi tubuh Sean dari tatapan Aditya yang tersisa saja memperhatikan Putranya. Dia takut pria itu macam-macam atau bahkan mengambil Putranya dari dia.
"Mah, Sean ingin lihat dia." Namun tubuh mungil itu tidak sedikitpun mengikuti perintah Mamanya. Dia begitu penasaran dengan sosok pria yang berdiri dari dekat pintu. "Benarkah dia papa Sean yang selalu Sean tanyakan sama Mama? Benarkah Papa Sean sudah pulang dari kerjanya dan akan menjemput Sean." Yang Sean tahu, kalau ayahnya pergi bekerja mencari uang untuk mereka di negara orang. Bukan Mentari yang bilang begitu, tapi Bu Sukma yang memberitahunya karena dia tidak mau Sean terus bertanya.
Dada Mentari berdenyut nyeri mendengar penuturan putranya. "Mama tidak bilang kalau papa kamu kerja, dia sudah ma ...."
"Ini papamu, Sean. Kamu tidak ingin meluk papa?" Meskipun banyak hal yang ingin Aditya tanyakan, namu mata Sean dan wajah anak itu mengingatkan dirinya pada saat waktu kecil. Sean begitu mirip dengan dia namun dia baru menyadari hal itu. Aditya merutuk kebodohannya sendiri yang tidak pernah bisa sadar kalau orang itu ada di dekatnya. Tidak mau mencari tahu siapa orang itu karena takut menyakiti Mentari, tapi malah menyakitinya sedemikian rupa hingga membuat wanitanya terluka dan tanpa sadar sudah menghina wanita yang mungkin menjadi salah satu alasan dia belum memiliki kekasih hingga saat ini.
"Sean anakku, kamu tidak berhak mengklaim dia sebagai anak mu." Di depan Sean, Mentari tidak mungkin berucap kasar karena takut mengotori pendengaran putranya.
"Tapi dia darah dagingku juga, Tari. Aku yang telah menanam benihnya di rahim kamu." Aditya tidak mau kalah, dia sudah memastikan segalanya bahkan dia mencari tahu dari semua orang di masa lalunya untuk memastikan kembali kalau wanita itu adalah Mentari. Dan dia menemukannya ketika pemilik kontrakan yang dulu mengiakan kejadian yang dulu dia alami tanpa sadar.
Jika bertanya darimana dia mendapatkan informasi tentang Mentari, alamat rumahnya darimana, maka jawabannya dari rumah sakit yang membocorkan alamat ini. Setelah mendapatkannya barulah Aditya bergegas menuju kemari.
"Apa Om memang papa Sean?" tanya Sean masih menatap penasaran dan masih bersembunyi di balik punggung Mentari batang terus menghalangi tubuh mungilnya.
__ADS_1
"Sean ...."
"Iya, aku ayahmu."
"Kalau Om papaku kenapa baru sekarang datang ke sini? Kemana di saat Sean membutuhkan Papa? Kemana saja di saat banyak orang lain yang bilang kalau Sean adalah anak haram dan kenapa Papa tidak datang bilang pada semua orang kalau Sean anak Papa?"
Deg.
Baik Aditya Maulana Mentari tidak percaya kalau Sean akan bertanya seperti itu. Kenapa pernyataan Sean tidak seperti anak seusianya saja? Kenapa terkesan dewasa dan menyesakan dada.
"Sean ...."
"Papa ...." Aditya sulit menjawab semuanya karena dia tidak menahu tentang adanya Sean diantara dia dan Mentari. Seandainya dulu dia tahu, mungkin tidak akan seperti ini.
"Papa tidak bisa menjawabnya kan? Sean tahu jawabannya karena Papa tidak pernah menginginkan kamu. Aku pernah mendengar Mama menangis dan bilang kalau Papa tidak menginginkan Mama, itu artinya Papa juga tidak menginginkan aku dalam hidup Papa. Sekarang Papa datang untuk apa? Sean sudah tidak mau lagi punya Papa. Sean benci Papa yang sudah membuat mama bersedih, Sean benci lontarkan kata mereka yang bilang kalau Sean tidak punya Papa da hanya anak haram." Suara kecil Sean memekik mengeluarkan segala macam kesedihan yang di miliki anak seusianya. Sean juga berlari dari sana memasuki kamar yang ada di kamar kedua.
"Sean tunggu!" Aditya ingin mengejar, tapi Mentari menghalangi.
"Tidak perlu kamu mengejar anakku, sekarang pergi dari sini!"
__ADS_1
Bu Sukma yang ada di sana perlahan meninggalkan tempat itu dan mengejar Sean untuk menenangkan anak kecil itu.
"Tari, aku minta maaf." Aditya menyesali perbuatannya.
"Ck, minta maaf? Maaf mu tidak ada artinya setelah semua perlakuan kamu pada hari itu. Aku sudah melupakan segalanya dan kita tidak ada urusan apapun lagi. Mendingan kamu pergi dari sini!" Mentari menarik tangan Aditya membawanya keluar dari rumah kecilnya.
Namun Aditya menepis dan beralih mencekal tangan Mentari. "Tidak akan pernah lagi aku pergi dari hidup kamu. Aku akan membawa kalian pulang ke rumahku, ayo kita pulang. Aku akan bertanggungjawab terhadap semuanya."
"Aku tidak butuh pertanggungjawaban dari pria seperti dirimu, Aditya Buana. Cukup kamu pergi dari sini dan jangan lagi pernah mengganggu kehidupan ku dan Sean lagi. Dia bukan anak kamu, tapi anak pria lain." Mentari menatap tajam namun air matanya tidak bisa diam untuk tidak menangis. Dia tidak suka situasi seperti ini.
"Tapi aku tidak peduli, mau dia anak siapapun aku meyakini kalau dia anakku. Dan sekarang kamu ikut aku." Aditya menarik tangan Mentari.
"Lepaskan! Kaku mau bawa aku kemana hah!" Mentari meronta tidak mau pria itu sesuka hatinya membawa dia pergi dari sana.
"Ketempat dimana seharusnya aku melakukan ini pada kamu dan tidak akan aku biarkan lagi kamu pergi dengan segala kebodohan ku." Aditya membawa paksa Mentari ke dalam mobilnya.
"Aku tidak mau ikut dengan kamu! Lepaskan!" Namun sayang, Aditya sudah mengunci Mentari di dalam mobilnya dan segera membawa dia pergi dari sana.
"Kamu gila! Turunkan aku dari sini! Buka pintunya!"
__ADS_1