
Adzan subuh telah berkumandang, namun tidak mampu membangunkan gadis bernama Naura yang masih terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Khanza yang sudah terbiasa bangun sebelum subuh.
"Kak, ayo bangun! Ini sudah subuh, waktunya shalat, Kak." Khanza berusaha membangunkan Naura secara lembut, akan tetapi Naura masih saja tidur tanpa terganggu oleh suaranya Khanza.
"Bagaimana caranya membangunkan kak Naura? Sumpah kebo banget tidurnya."
Hingga suara Azkia nyaring di telinganya Khanza. "Naura belum juga bangun, Za?" Azkia datang dalam keadaan mengenakan mukena, kain untuk shalat.
"Belum, Kak. Aku bingung membangunkannya. Kebo banget."
"Ini tidak bisa di biarkan." Azkia mendekatinya, menyibak selimut Naura. "Bangun, Nau. Kita harus shalat sebelum waktu subuh habis." Azkia menggoyangkan tubuh Naura secara paksa supaya Naura terbangun.
"Mmmm, apaan sih? Ganggu orang lagi tidur saja. Ini masih pagi, berisik tahu." Naura bersuara, tapi mata terpejam dengan tangan menepis tangan Azkia.
"Astaghfirullah. Di bangunin malah gini. Ini mah harus pakai cara ekstrim."
"Kakak mau ngapain?" tanya Khanza. Azkia menyimpan sejarahnya, lalu melipatkan mukena yang ia kenakan.
"Kita harus bawa dia ke kamar mandi supaya syetan yang menempel di tubuhnya Naura hilang." Azkia secara paksa membangunkan Naura.
"Bangun, Nau! Ini udah subuh, hayu belajar shalat." Azkia menepuk-nepuk pipinya Naura.
"Shalat? Shalat itu apaan? Aku tidak tahu shalat?" gumam Naura ingin kembali tidur, tapi Azkia menarik tangan Naura kemudian memapahnya menuju kamar mandi.
"Nanti kamu tahu, pokoknya sekarang kamu harus bangun dulu."
Khanza hanya diam mengikuti keduanya dari belakang. Ia tidak tega sekaligus tidak bisa mencegahnya. Ini adalah awal mula kehidupan Naura dan dia yang baru di pondok ini.
Sesampainya di kamar mandi, Azkia menyiram wajah Naura pakai air. Karena kebetulan satu kobong ada kamar mandi sendiri.
Byur..
"Akkhh hujan, banjir, hujan, banjir!" pekik Naura mulai tersadar dari tidurnya yang tengah mengigau.
"Bangun woi! Buruan wudhu kita shalat berjamaah."
"Azkia... iseng banget sih jadi orang. Aku kira hujan, eh tak tahunya ulah kamu." Naura mengusap wajahnya secara kasar dengan mimik wajah cemberut.
"Buruan wudhu, tidak pakai lama!"
__ADS_1
"Wudhu? Wudhu itu apa?" Naura mengerutkan keningnya tidak tahu wudhu itu apa.
"Kamu tidak tahu wudhu?" tanya Azkia heran. Naura menggelengkan kepalanya dengan wajah terlihat bingung.
"Astaghfirullah." Azkia menepuk jidatnya.
"Kak, Kak Naura memang masih tahap belajar," kata Khanza. Azkia mengangguk mengerti, ini akan menjadi pr nya membantu Naura belajar.
"Secara bahasa, wudhu adalah menyucikan diri sebelum sholat dengan membasuh muka, tangan, mengusap kepala, membersihkan telinga, dan membasuh kaki. Kata wudhu dalam bahasa Arab berasal dari kata al-Wadha'ah yang bermakna al-Hasan, yaitu kebaikan, dan juga sekaligus bermakna an-Nadzafah yaitu kebersihan. Jadi, sebelum kamu shalat di wajibkan wudhu untuk membersihkan diri dulu."
Naura diam mendengarkan, lalu ia mengangguk. "Lalu tata cara wudhu nya gimana? Aku kan tidak tahu."
Berhubung Naura masih baru dan juga belum tahu banget cara-cara dan do'anya, Azkia memberikan contohnya untuk Naura ikuti.
"Kamu ikuti aku, nanti sehabis shalat kita belajar tata cara wudhu yang baik dan benar."
"Ok."
Dan Naura mengikuti setiap pergerakan yang Azkia contohkan. Di mulai dari membersihkan kedua telapak tangan, berkumur, membersihkan hidung, wajah, kedua tangan, mengusap kepala bagian depan, kedua telinga, hingga membersihkan kedua kaki.
Setelah selesai, mereka mengikuti barisan santriwati yang hendak menjalankan ibadah subuh.
"Kita ini mau ngapain? Kenapa kita di suruh baris gini? Terus kenapa di depan ada satu orang yang berdiri? Kenapa tidak ikut barisan kita juga?" Naura celingukan memperhatikan semua perempuan berdiri dengan barusan yang cukup rapat sesuai ajaran.
"Kita ini mau shalat dan yang di depan itu di sebut imam. Kalau bersamaan begini di sebutnya shalat berjamaah. Sholat berjama'ah itu lebih utama daripada sholat sendiri dengan selisih pahala 27 derajat. Jadi, ketika kita shalat berjamaah maka pahala sholat kita akan di kali lipatkan," jelas Azkia.
"Oh gitu."
"Sekarang jangan banyak tanya dulu, Kak. Iqomah sudah di mulai," kata Khanza. Dan semua santriawati yang ada di mushola khusus perempuan mulai menjalankan ibadahnya penuh khusu.
Namun berbeda dengan Naura yang baru pertama melakukannya. Matanya terus melirik ke samping mengikuti gerakan orang-orang. Bacaannya pun belum tahu dan hanya ikutan orang saja.
"Jadi ini yang namanya shalat, tapi kenapa mulut mereka bergerak? Mantra apa yang mereka bacakan disaat sedang shalat?" Keingintahuan tentang Tuhannya semakin bertambah besar. Dan Naura menghapalkan setiap gerakan dari shalat itu sendiri.
*****
Para santriwati berhamburan keluar musholla, pun dengan Naura yang juga ikut ke luar.
"Kak, boleh aku bertanya?" tanya Nazwa yang juga ada di belakang mereka.
__ADS_1
"Iya, mau tanya apa?"
"Dia itu nol banget dalam pengetahuan agama? Dari awal shalat terus saja celingukan ke kiri dan kanan? Tidak fokus."
"Terus kenapa kamu tahu kalau aku celingukan memperhatikan sekitarku? Apa kamu juga tidak fokus?" tanya Naura.
"Karena aku merasa terganggu dengan kamu yang aneh itu," jawab Nazwa seakan mengakui kalau shalatnya tidak fokus.
"Aku tidak fokus karena aku baru pertama kali melakukan gerakan tadi, jadinya mengikuti gerakan kalian. Ini masih dalam tahap yang wajar, kan? Yang tidak wajar itu, sudah tahu harus fokus tapi masih saja tidak fokus dan mencibir orang lain, malu atuh." Inilah Naura. Sekalipun ia bodoh dalam hal agama, tapi soal membalikkan fakta adalah ahlinya.
"Yang di katakan Naura itu benar, Nazwa. Berarti selama shalat kamu tidak fokus ya? Astaghfirullah, bukannya kamu lebih tahu tentang adab shalat?" kata Azkia.
"Tahu ah, kalian ngeselin." Dan Nazwa pun pergi dari sana karena kalah telak.
"Gini nih, orang yang tahu ilmu tapi tidak di amalkan," seru Khanza.
"Naura tunggu!" seseorang memanggil Naura. Baik Naura, Khanza dan Azkia menoleh ke asal suara.
"Assalamualaikum teteh-teteh santri," sapanya tersenyum ramah.
"Waalaikumsalam ustazah," jawab Azkia dan Khanza. Naura bengong, lalu ia menjawabnya juga.
"Waalaikumsalam ustadzah Asiah."
Dia adalah Asiah, istrinya Ali sekaligus ibunya Azkia.
"Nanti kamu ikut umi ya. Kamu belajarnya sama umi saja. Dan untuk Khanza, kamu juga ikut umi." Asiah lebih sering menyebut dirinya umi daripada Ustazah.
"Kenapa begitu Ustazah? Kenapa tidak bareng dengan Azkia dan yang lainnya?" tanya Naura.
"Berhubung kalian berdua masih baru, dan sesuai peraturan pondok, maka yang baru akan ikut kelompok 1 sesuai tingkat pengetahuan yang kalian miliki. Kalau sudah lulus dari kelompok satu, maka kalian akan di pindahkan ke kelompok dua dan ke kelompok tiga."
"Oh gitu. Siap kalau gitu mah. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan," kata Naura nurut saja.
******
Mohon maaf kalau ada kesalahan, aku masih belajar, dan mohon koreksinya jika ada kekeliruan dalam penjelasan.
__ADS_1