Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 73 - Di balik cerita


__ADS_3

"Emangnya apa yang diminta nenek kamu pada kamu? Apa beliau meminta sesuatu yang membuatmu tidak bisa memberikannya?" Penasaran dengan permintaan neneknya Azriel, Naura terus bertanya sesuatu pada suaminya.


"Kamu yakin mau tahu?" Naura mengangguk.


"Kamu tidak akan marah kalau semisalnya aku memberitahu tentang permintaan Nenek?"


"Tergantung." Masalah marah atau tidaknya tergantung permintaan itu, namun Naura berusaha untuk tidak marah meskipun permintaannya lebih menyakitkan dari ucapan biasanya.


"Saat aku kembali kesana, Nenek telah meminta ku menikahi gadis pilihnya." Azriel menjeda ucapannya. Ia ingin tahu reaksi Naura seperti apa, namun Naura terlihat biasa saja. Ia pun melanjutkan lagi ucapannya.


"Lalu?"


"Lalu?"


"Ya kamu mau menerima perjodohan itu atau tidak? Kalau aku sih silahkan sana asalkan kamu menceraikan aku dulu," kata Naura berwajah biasa saja. Tanpa Azriel sadari kalau dalam hati Naura berdenyut nyeri. Ia tidak mungkin bisa membayangkan hal itu. Kemarin saja dirinya merasakan sakit, namun karena tidak ingin menunjukan rasa sakitnya, Naura bersikap biasa saja.


Berbeda dengan Azriel yang sedang menunjukkan raut wajah penuh keterkejutan. "Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu di saat kita baru saja melangsungkan pernikahan. Sekalipun kita baru menikah siri, tapi yang namanya pernikahan tidak bisa dipermainkan.


Aku tidak mungkin membiarkan kamu pergi lagi dariku bisa apa aku sudah mendapatkan mu. Aku tidak akan pernah mengucapkan kata keramat itu Karena bagiku nikah itu cukup sekali seumur hidup. Dan dengan mudahnya kamu mengucapkannya? Daripada aku harus kehilangan kamu, lebih baik aku kehilangan warisan dan juga menolak perjodohan tanpa peduli tantangan semua orang."


"Siapa tahu wanita pilihan nenek kamu itu begitu cantik berpendidikan dan wanita baik-baik. Kan kamu akan bangga menjadikan dia istrimu, tidak seperti aku yang hanya wanita hina dan banyak kekurangannya. Kalau misalkan aku tidak perawan bagaimana? Kamu tahu sendiri kalau kehidupanku dulu itu begitu liar dan juga tidak terkendali. Apa kamu akan siap menerima segala macam keadaan aku yang tidak sempurna ini?"


"Jangan lagi mengungkapkan masa lalu kamu. Aku sudah bilang aku akan menerima kamu apa adanya tanpa peduli siapa kamu, bagaimana masa lalu kamu, dan juga tidak peduli kamu perawan ataupun janda, gadis atau bukan." Pria bermata coklat itu begitu serius dalam berucap. Tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya tentang siapa yang akan ia nikahi. Karena baginya cinta itu tidak memandang apapun dan cinta itu datang dari dalam hati yang paling dalam.

__ADS_1


"Kamu yakin? Lalu bagaimana jika mereka tidak lagi menganggap kamu keluarga? Aku tidak mau gara-gara aku, kamu menjadi durhaka sama mereka."


Azriel menunduk lesu. "Aku bukan durhaka, tapi aku memperjuangkan kebahagiaan ku sendiri. Aku tahu kalau sikapku ini keterlaluan, tapi aku tidak mungkin bisa menerima pernikahan itu di saat hati dan pikiranku sudah milikku, dan di saat kita sudah menikah. Sekalipun kita belum menikah, aku tidak akan mau di jodohkan."


Naura menggenggam tangan Azriel. Dia menatap dalam pria yang kini sudah menjadi suaminya. "Berbakti sama orangtua dan nenek kamu boleh, tapi jika kamu kurang nyaman dan merasa tidak mungkin bisa menerimanya aku tidak bisa bantu apa-apa. Namun, nenek kamu benar, aku tidak baik berada di sisi kamu karena kau membawa pengaruh buruk untukmu." Wajah Naura berubah murung, ia sadar jika dirinya membawa pengaruh buruk pada Azriel. Pria itu jadi melawan keluarganya karena dirinya sendiri. Hal itupun membuat Naura merasa bersalah.


"Sttt .." Azriel mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Naura. Kepalanya menggeleng, "jangan bicara seperti itu. Kamu tidak pernah membuat ku buruk, tapi karena memang aku sendiri yang bersikap kurang baik karena walau bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa."


"Tapi ..." Belum saja Naura bicara banyak, Azriel sudah lebih dulu membungkam bibir mungil Naura dengan bibinya sendiri.


Naura terbelalak, ia tertegun tak percaya kalau Azriel akan melakukan ini secara tiba-tiba. Ini pengalaman pertama dia dalam melakukan adegan ini. Ya, sekalipun dirinya berada dalam lingkungan tidak baik-baik, namun ia masih bisa menjaga dirinya sendiri dari hal yang tidak mungkin ia lakukan.


Selama hidupnya Naura memang bandel, suka minum, suka merokok, suka main ke club, tapi bukan berarti dirinya nakal dalam hal sexxs. Dia masih tahu batasannya sebagai seorang wanita. Almarhum ibunya pun tidak pernah membiarkan Naura berpacaran atau pun menjadi wanita nakal. Namun karena setiap tuduhan orang-orang, Naura menutupi setiap kebenarannya yang sesungguhnya masih suci selain tangannya yang pernah berpegangan tangan dengan pria lain.


Azriel menjauhkan dirinya dari tubuh Naura. Ia juga tidak bisa mengontrol dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak melakukan apapun pada Naura. Entah siapa yang mulai, kini tubuhnya sudah berada di atas Naura. Matanya menatap lekat bola mata indah berwarna coklat milik Naura.


"Meskipun tidak gadis lagi?"


"Iya, aku menerima kamu." Keduanya sama-sama saling menatap satu sama lainnya.


Tiada yang bisa menghalangi setiap gelora asmara yang ada dalam diri mereka. Tiada yang bisa membuat keduanya berhenti berlayar dalam lautan cinta penuh kehangatan dan kenikmatan yang luar biasa.


Peluh mulai membasahi mereka berdua, pakaian sudah berserakan dimana-mana. Namun kala tangan ingin melepas baju bagian bawah, Azriel berhenti. Ia melupakan sesuatu.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Kamu kan sedang kedatangan tamu bulanan dan seharusnya kita melakukan hal ini sesudah shalat sunah." Karena hawa nafsu, Azriel dan Naura sampai melupakan itu semua.


"Astaghfirullah, aku lupa, tapi aku sudah selesai bersuci dari haid." Naura memang kedatangan tamu bulanan, namun sudah selesai tadi magrib dan langsung mensucikan dirinya setelah selesai nikah.


"Jadi ..." Azriel terbelalak, namun sedetik kemudian ia mengembangkan senyumnya. Kita shalat sunah dulu, baru kita lanjutkan.


*****


Berbeda dengan Azriel dan Naura yang tengah menikmati malam indahnya, Azzam dan yang lainnya dilanda kecemasan yang luar biasa.


"Cepat hubungi Azriel, Mas. Beritahu kalau neneknya sedang berada di rumah sakit."


"Sudah aku coba, tapi ponselnya tidak aktif terus." Mereka dilanda kepanikan yang luar biasa.


Namun ada sosok yang sedang gemetar dan diam mematung dengan segala macam pikiran yang sedang ia rasakan.


"Ini semua karena ku. Kalau saja aku menerimanya, mungkin nenek tidak akan nekat begini," lirihnya sambil meneteskan air mata.


"Khanza, kamu jangan bilang begitu," seru Azzura kemudian memeluk putrinya.


"Kalian lihat kan, baru saja menolak sudah buat Fatimah nekat. Apa kalian akan diam tanpa mau memenuhi keinginan dia?"


Khanza bersuara, "jika Nenek sadar, aku bersedia menikah muda."

__ADS_1


Deg.


"Khanza!!"


__ADS_2