
Banyak orang yang menunggu kabar baik dari dokter yang tengah memeriksa keadaan Naura. Azzam, Azzura, Khanza, bahkan keluarga umi Qulsum juga ada di sana.
"Demi kamu dia mengorbankan nyawa sendiri, Azriel. Lihatlah betapa dia begitu mencintaimu? Di saat yang lain diam mematung, berteriak memanggil nama kamu hanya dia yang nekat menyelamatkan nyawa mu," kata Azzura terisak kecil dalam pelukannya Azzam. Ia yang tahu ada kecelakaan dan itu adalah Naura sangatlah syok. Apalagi mendengar penjelasan saksi mata kalau Naura menyelamatkan Azriel merasa cinta gadis itu begitu luar biasa untuk putranya.
"Itu salah dia sendiri malah menyelamatkan Azriel, sekarang dia begini kan? Merepotkan saja," kata Fatimah masih egois. Tak ada rasa empati hadir dalam dirinya, yang ada malah rasa marah karena perempuan itu telah mengacaukan segalanya.
"Astaghfirullah, Nek. Dalam keadaan begini saja masih menyalahkan Naura, kalau bukan karena mungkin aku yang sudah berada di dalam sana. Sekarang aku makin yakin untuk tidak mengikuti keinginan Nenek."
"Bisa saja dia hanya pura-pura untuk mengambil simpati kalian. Bisa dia ..."
"Cukup, Mah! Jangan lagi Mama bicara yang tidak-tidak apalagi terus menerus menyalahkan Naura. Dulu Mama juga membenci Azzura dan tidak merestui ku dengannya, sekarang sejarah terulang lagi pada anakku. Tidak akan lagi ku biarkan Mama mengatur kehidupan Azriel, biarkan dia memilih kehidupannya sendiri. Aku tidak mau banyak yang terluka karena keegoisan Mama," kata Azzam sudah tidak lagi bisa berdiam diri di saat Mama nya semakin menjadi dan tidak terkendali.
"Sudah berani kamu melawan Mama? hanya karena perempuan tidak jelas asal-usulnya itu, hanya karena perempuan anak dari wanita malam itu, kalian sampai rela melawan mama termasuk Azriel dan juga Khanza ikut-ikutan melawan neneknya sendiri. Asal kalian tahu, mama tidak setuju Azriel dengan dia karena dia itu seorang perempuan tidak benar yang pastinya akan mempermalukan kita. Mama tidak sudi punya cucu mantu pela cur sepertinya!" sentak Fatimah.
"Tapi bukan berarti pe lacur itu tidak bisa berubah, Fatimah. Kita tidak tahu seberapa imannya dia dengan Allah, kita tidak pernah tahu seberapa banyak amal kebaikannya yang tidak pernah kita ketahui. Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah mengisahkan seorang pela cur dari kalangan Bani Israil yang masuk surga karena amalannya. Amalan yang dilakukannya adalah menolong seekor anjing kala hewan tersebut kehausan."
Dikisahkan dari Rasulullah SAW pada para sahabatnya, pela cur tersebut tengah berjalan di tengah terik matahari yang menyengat. Selama perjalanan, tiba-tiba, wanita itu melihat seekor anjing yang tengah menjulurkan lidah.
Tidak berhenti sampai di situ, anjing tersebut juga terlihat tengah mengitari sumur berisi air di dekatnya. Usut punya usut, ternyata hewan yang dilihat oleh si pelacur itu tengah kehausan.
Hatinya seakan luluh dan merasa iba, pela cur itu pun kemudian menolong anjing kehausan tersebut dengan sepatu kulit yang tengah dikenakannya. Lantas, sepatu kulit tersebut diisinya dengan air.
Setelahnya, menurut keterangan hadits, perbuatan wanita itu pun diampuni dan diberi ganjaran surga.
menurut-NYA, amalan-amalan sholeh saja sebetulnya tidak cukup untuk mengantarkan seseorang untuk masuk surga. Sebaliknya, sebagai Dzat Maha Penentu, rahmatNya juga dapat menyelamatkan seseorang dari siksaan api neraka.
"Begitu halnya dengan seorang pela cur yang berhak memasuki surgaNya, itu hanya karena menolong seekor anjing yang kehausan. Semua itu semata-mata karena rahmat Allah SWT," tutur Umi Qulsum.
__ADS_1
Wallahu'alam.
"Dari kisah diatas kita tidak pernah tahu amalan mana yang akan mengantarkan seseorang masuk surga-NYa Allah. Dan pelajarannya adalah kita tidak boleh melihat seseorang dari keburukannya karena kita tidak pernah tahu apakah kita lebih baik dari orang itu atau tidak. Bisa saja dia jauh lebih mulia dibandingkan kita karena itulah sebabnya Allah menguji Naura dengan cara-NYA." Sambung Ustadz Ali.
"Kalian mau bicara apa, aku tidak peduli! Tetap bagiku dia tidak pantas menjadi bagian keluargaku." Fatimah yang egois, begitu sifat yang dimilikinya. Nama dan sifat sangat bertolak belakang.
"Kalau Nenek egois maka aku juga akan egois," kata Azriel tidak akan lagi nurut dalam masalah hati. Melihat Naura tak berdaya dan terluka di depan matanya membuat dia tidak ingin kehilangannya dan akan berjuang demi cinta mereka.
"Azriel kau ..."
Namun tiba-tiba tim medis berlarian keluar ruangan UGD.
"Kenapa mereka berlarian? Ada apa dengan Naura?" tanya Azzura.
"Ya Allah semoga Naura baik-baik saja," kata Umi Qulsum khawatir.
"Pasien mengalami kritis, dan saat ini dia membutuhkan donor darah secepatnya. Itulah sebabnya Suster berlari mencari stok darah."
"Golongan darahnya apa, dok?" tanya Khanza. "Aku siap mendonorkan daraku untuk kak Naura."
"AB Rhesus negatif."
"Golongan darahku B," lirih Khanza lesu karena ia tidak bisa mendonorkan darahnya. Mereka yang ada di sana juga tidak memiliki golongan yang sana.
"Itu golongan darah yang langka," lirih Azriel semakin tak berdaya dan berpikir negatif.
"Dokter, persediaan golongan darahnya sudah habis," kata Suster tergesa.
__ADS_1
"Cepat kalian cari dari rumah sakit lainnya, kalau saja terlambat ditangani dan tidak segera mendapatkan donor darah, nyawa gadis itu dalam bahaya," dokter itu kembali masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Deg
Runtuh sudah pertahankan Azriel, pria itu terduduk lesu dengan pandangan mata kosong.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini?"
"Kalau dia meninggal sudah takdirnya," kata Fatimah egois.
*****
Musholla
Dalam keadaan hati yang terluka, duka yang ia rasa, air mata yang menetes begitu saja, Azriel berdoa sangat khusu demi keselamatan wanita idamannya. Untuk pertama kalinya ia menangis karena seorang perempuan yang bukan selain mahramnya, untuk pertama kalinya Azriel meminta makhluk ciptaan-NYA pada sang pemilik alam.
"Ya Allah ya Tuhanku, engkaulah pemilik segala alam dan seluruh isinya, engkaulah dzat maha kaya dengan segala kuasanya. Di hadapan mu aku berserah diri, di hadapanmu aku meminta keajaibanmu. Berilah hamba kesempatan untuk membahagiakan makhluk ciptaan mu, berilah dia yang ku cinta kesembuhan. Ya Allah, tiada tempat ku mengadu, tiada tempat ku meminta selain kepadamu Ya Rabb. Hamba mohon berolah kesembuhan untuk Naura, berilah hamba kesempatan untuk menjadikannya tulang rusuk hamba, hamba mohon Ya Allah."
Azriel tertunduk, bahunya terguncang hebat dengan segala perasaan kacau. Tangisnya pecah kala dokter mengatakan wanita yang ia cintai kini berjuang antara hidup dan mati. Dia hanya berharap ada keajaiban datang membantu Naura. Pendonor datang yang saat ini sedang di carinya.
"Azriel," panggil Azzura sambil berjongkok di belakang Azriel.
Azriel mengusapkan kedua telapak tangannya, kemudian menoleh. "Iya Bunda."
"Nak, Alhamdulillah Allah berbaik pada kita. Barusan dokter bilang ada yang bersedia memberikan donor darahnya untuk Naura."
"Bunda seriusan?"
__ADS_1