Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 57 - Idenya Fatimah


__ADS_3

Bait demi bait tulisan tangan Naura yang ada di buku Diary miliknya sudah Azkia baca. Gadis itu terisak kala ia membaca setiap curahan hati perempuan yang sudah menjadi temannya.


Azkia memeluk buku Diary milik Naura. Ia menyesal telah menyakiti Naura, ia menyesal sempat berniat merebut sosok yang Naura inginkan dan harapkan menjadi kebahagiaannya. Azkia menyesal telah berburuk sangka pada Naura.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu begitu mencintainya, Nau. Bahkan kamu sudah mencintai dia sebelum aku mengenalnya. Kenapa kamu juga tidak bilang tentang setiap permasalahan hidupmu padaku? Kamu memendam sendiri suka yang kamu miliki. Ternyata canda tawamu selama ini hanyalah topeng semata untuk menutupi rasa kesepian dan derita yang kamu alami. Apa aku tidak pernah menjadi sahabatmu?"


Di dalam diary nya tertulis tentang masa lalu Naura, perjuangannya, kisah hidupnya, pertemuannya dengan Azriel, hingga seluruh kesedihan dan bahagia tercurahkan dalam buku diary itu.


Azkia terisak menyesal. "Maafkan aku, Nau. Maafkan aku telah mengecewakan kamu. Ternyata cintamu padanya begitu besar."


Azkia menghapus air matanya, "aku harus bertemu Naura dan minta maaf sama dia."


*****


Di tengah sikap Azriel yang semakin tidak nurut padanya, Fatimah bertambah kesal dan selalu menyalahkan Naura.


"Apa sih yang Azriel lihat dari perempuan hina itu? Apa kalian tidak sadar kalau perempuan murahan itu sudah membuat Azriel bersikap kasar pada ku dan melawan ku. Ini yang di sebutkan baik menurut kalian?"


"Mah, yang namanya cinta itu dari hati dan tidak bisa di paksakan. Sekalipun seseorang itu kotor yang namanya cinta tidak memandang hal itu. Mungkin Mama menilai Naura hina, tapi mungkin saja banyak kelebihan yang Naura miliki sampai Azriel begitu mencintainya. Apa Mama tidak lihat kalau Azriel sangat terluka karena kecelakaan kemarin? Azriel terlihat rapuh dan seperti tidak bernyawa," kata Azzam.


Azzam memutuskan untuk tinggal di kota B dalam beberapa waktu kedepannya. Sampai Naura sadar dan ntah sampai kapan juga mereka di sini. Azzam pun menyewa rumah untuk dia tinggali beserta anak, istri, dan mamanya.


"Halah, mama tidak peduli. Pela cur tetap Pela cur, murahan tetap murahan, mama yakin kalau dia hanya memanfaatkan Azriel dan juga sama seperti ibunya yang murahan itu!" balas Fatimah marah.


"Mah, tidak baik mengatai orang, itu jatuhnya Fitnah. Dan Mama harus menjaga emosinya Mama supaya sakit jantungnya tidak kumat lagi," kata Azzura menasehati mertuanya.


Fatimah terdiam. "Bodoh, kenapa tidak gunakan cara ini lagi supaya Azriel mau menuruti kemauan ku."


"Justru ini juga sedang sakit sekali," lirihnya memegang dadanya. "Namun mama tidak peduli karena kalian semua juga tidak peduli. Biarkan mama mati," balas Fatimah berlalu dari sana.

__ADS_1


"Mah, kita periksa ke rumah sakit ya," kata Azzam mengkhawatirkan keadaan mamanya.


"Tidak usah kalian pedulikan mama. Mama bisa sendiri!" Mana mungkin Fatimah pergi dengan anaknya memeriksakan diri, nanti dia ketahuan bohongnya. Iya, Fatimah berbohong mengenai sakit yang ia rasa saking tidak setujunya Azriel dengan Naura.


Cepat-cepat Fatimah mencegat taksi demi menghindari Azzam, tapi tangan masih memegang dadanya seakan terlihat sedang tidak baik-baik saja.


*****


Rumah sakit.


"Hei, sampai kapan kamu akan menjadi putri tidur, Naura? Apa kamu tidak mau menikah denganku? Aku selalu menunggu kamu bangun, Naura. Maafkan aku yang kemarin bersikap tidak tegas. Maafkan aku tidak memperjuangkan mu dan maafkan aku tidak tahu kalau ibumu sudah tiada." Azriel menunduk sedih, ingin sekali ia memeluk Naura dan menumpahkan rasa sedihnya, kalau perlu mau bersujud meminta maaf pada Naura.


"Kak, lebih baik kita berdoa saja supaya Kak Naura cepat sembuh. Aku yakin kalau Kak Naura mendengar ucapan kita. Sekarang lebih baik kita keluar dari sini dan biarkan Kak Naura beristirahat dulu. Dari tadi kita terus di sini, kasihan dia pasti terganggu." Meskipun Khanza tidak tahu apakah Naura mendengarnya atau tidak, tapi ia tidak ingin istirahat Naura terus terganggu oleh mereka.


Azriel mengangguk lesu. "Ya sudah, aku pamit pulang dulu sebentar. Nanti aku jenguk kamu lagi ya, aku harap saat aku kembali kamu sudah sadar. Assalamualaikum bidadari surgaku."


"Kak, kita pamit dulu, ya. Cepat sadar, kami menunggu mu."


*****


"Azriel, Khanza! Mereka ada di sini? Pasti mereka sudah menemui perempuan murahan itu." Fatimah bersembunyi di balik pilar rumah sakit dengan harapan dia tidak di ketahui kedua cucunya. Kedatangannya ke rumah sakit untuk memperingati dokter yang kemarin menanganinya supaya tidak membocorkan rahasia dia pada siapapun.


"Semoga Azriel dan Khanza tidak melihat ku." Dia menunggu kedua cucunya menaiki taksi, dan ketika sudah pergi, barulah dia muncul sambil mengusap dadanya. "Selamat."


Buru-buru Fatimah mencari dokter yang menanganinya. Dia bahkan berani menemuinya di ruangan dokter.


"Kita ketemu lagi, Dokter." Fatimah berkata saat dia sudah berada di ruangan dokter itu.


"Anda!"

__ADS_1


"Saya kesini untuk meminta Dokter menyembunyikan sesuatu tentang kenyataan saya. Kalau ada keluarga saya yang bertanya tentang sakit saya, bilang saja sudah parah dan harus di turuti. Nanti saya akan memberikan bayaran lebih buat Dokter!"


"Tapi Bu, saya tidak mungkin berbohong lagi. Ini taruhannya pekerjaan saya."


"Saya yang akan menjamin segalanya, Dokter. Bantu saya sekali lagi." Lalu Fatimah merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop tebal berisikan uang. "Ini lima belas juta untuk rahasia kita."


Dokter itu menatap amplopnya. Dia berpikir lagi. "Ternyata hanya pura-pura saja dapat uang banyak begini."


"Kalau saya tidak mau menerima bagaimana?"


"Saya tambahkan lima juta," kata Fatimah tidak main-main dalam ucapannya. Dia kembali mengambil uang lima juta dari dalam tasnya.


Dokter itu pun tersenyum. "Baiklah, saya akan pegang rahasia Anda dan saya akan melakukan seperti yang Anda katakan."


Fatimah tersenyum. "Bagus, kerjakan yang benar."


******


Sesudahnya dari Dokter, Fatimah beralih menuju ruangan Naura. Kebetulan sekali tidak ada siapapun di sana.


"Naura, saya tidak tahu kamu memiliki daya pikat apa sampai cucuku begitu menyukai? Kamu tidak cantik, tidak kaya, yang ada kamu berasal dari kalangan hina. Seharusnya kamu mikir tidak pantas menjadi pendamping cucuku yang tampan dan Soleh itu. Padahal saya sudah melakukan apapun untuk memisahkan kalian termasuk berpura-pura kena serangan jantung, tapi apa? Kamu mengacaukan segalanya. Kenapa kamu tidak mati saja hah? Saya tidak sudi mempunyai menantu dari perempuan malam." Bisik Fatimah ke telinganya Naura.


Reaksinya pun luar biasa, jari-jari tangan Naura kembali bergerak dan kali ini semakin menunjukan kemampuan yang lebih. Kelompok matanya pun perlahan bergerak, namun bagi Naura seakan sulit di buka. Telinga mendengar namun mata tak bisa terbuka.


"Wow, ternyata kamu mendengarkan saya? Bagus, biar kamu tahu kalau saya dengan sengaja memisahkan kalian berdua. Dan kamu akan lihat jika cucuku akan memilihku dan dia akan menikah dengan wanita pilihan ku."


"Tebakan kamu benar, Naura. Saya hanya pura-pura kena serangan jantung."


"Apa!?" pekik seseorang.

__ADS_1


Fatimah menoleh, ia terkejut dengan bila mata terbelalak. "Azkia!"


__ADS_2