
"Siapa orang itu Mentari! Jawab aku!" Aditya membentak kekasihnya. Dia marah mengetahui bukan dia orang pertama yang sudah menyentuh Mentari.
"Abang, kamu orang pertama itu." Tari menjawab jujur. Dia tidak bohong kalau Aditya yang sudah menyentuhnya. Tidak ada pria lain selain kekasihnya.
"Kamu pikir aku bodoh, tidak mungkin aku, bahkan aku tidak merasakan kalau kamu masih perawan. Kamu bilang aku satu-satunya, kamu bilang aku yang pertama tapi nyatanya apa? Kamu berbohong, kamu berkhianat. Siapa orang itu!" Aditya masih tersulut emosi. Dia tidak terima kekasihnya berkhianat darinya.
"Aku berani bersumpah kalau itu adalah kamu, Bang. Aku tidak pernah melakukan hal apapun dengan orang lain. Hanya padamu aku menyerahkan segalanya."
"Ck, jangan pernah bersumpah demi kebohongan kamu. Aku pikir kamu wanita baik-baik dan hanya padaku saja kamu begini, tapi aku salah telah menilai mu. Kamu bahkan sudah menyerahkan barang berharga mu pada orang lain. Berapa? Berapa dia membayarnya? Siapa orang itu? Dimana kalian melakukannya, hah? Berapa orang yang sudah kamu layani selain aku? Siapa saja? Kamu sudah menjual tubuhmu?" sentak Adit saking marahnya.
Mentari terdiam mematung. Dia tidak percaya kalau kekasihnya menuduh dia serendah itu. Padahal hanya Aditya, tidak ada yang lain. Tetesan air mata membasahi pipinya. Sakit di tuduh seperti ini oleh pria yang dia cintai.
"Aku tidak seperti itu! Aku akui bodoh telah menyerahkan diriku padanya, seharusnya aku tidak melakukan itu jika dia sendiri tidak percaya padaku." Mentari menghapus air matanya.
"Jadi benar kamu sudah berkhianat dariku?" Aditya semakin salah paham. Dia menyangka Mentari telah memberikan barang berharganya pada pria lain. Padahal Aditya bersungguh-sungguh ingin menikahi Mentari, wanita yang memang sudah dia rusak dan tentunya dia cintai. Namun Aditya tidak merasa kalau dia mengambil keperawanan Mentari.
"Aku tidak berkhianat, Bang. Tolong percaya sama aku kamu hanya kamu, tidak ada yang lain." Mentari sesegukan dia paling tidak bisa di bentak, rasanya menyakitkan. Apalagi itu adalah orang yang dia cintai.
"Bulsyit!! Percaya sama perempuan ja lang seperti mu, tidak akan. Mulai hari ini aku tidak mau lagi melihat wajah pengkhianat seperti mu! Kita putus!"
Deg.
"Bang!!"
Flashback end...
Aditya menjambak rambutnya sendiri. "Brengsek! Gue benci lo Mentari, gue benci!!"
******
Sedangkan sosok yang Aditya pikirkan tengah menangis seorang diri di toilet umum yang ada di sekitar sana.
"Kenapa rasa ini masih sama, Bang? Kenapa aku tidak bisa membencimu? Kenapa aku masih saja mencintaimu? Kenapa aku tidak bisa melupakan kamu? Kenapa? Aku ingin melupakan semuanya tentang kamu, tapi aku tidak bisa, Bang. Aku tidak bisa hiks hiks."
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk menjelasan semuanya. Kamu malah seenaknya menuduhku dan melempar ku uang."
Flashback
"Pu-putus! Setelah semua yang terjadi Abang minta putus? Abang bilang tidak akan meninggalkan aku, tapi kenapa Abang bilang putus?" Di sisa tangisnya, Mentari menanyakan hal itu. "Mana janji Abang yang akan bertanggungjawab? Mana ucapan Abang yang bilang akan menikahi ku?"
Dengan tertatih, Mentari mengambil seluruh pakai yang ada di lantai, bahkan dia mengenakannya di saat Aditya membelakanginya.
Teramat sangat mencintai sampai dia rela menyerahkan segalanya pada pria yang ada di hadapannya. Perlahan Mentari mendekati Aditya, dia memeluk tubuh Aditya dari belakang. "Aku tidak mau putus, Bang."
Aditya melepaskan pelukannya Mentari, pria itu mendorong tubuh kekasihnya sampai tersungkur ke lantai.
"Tidak ada Janti, tidak ada pertanggungjawaban, semua tidak akan terjadi. Gue benci lo, gue tidak suka di khianati. Dengan ini lo sudah membuktikan kalau lo itu pengkhianat dan ja lang. Pergi kamu dari sini!"
Mentari menggelengkan kepalanya. "Izinkan aku menjelaskan dulu."
"Tidak perlu! Gue tidak mau perempuan kayak lo ada di sini!"
"Jadi lo tidak mau pergi juga?" Aditya mengambil dompetnya, dia mengambil beberapa lembar uang merah kemudian melemparkannya ke wajah Mentari.
"Itu bayaran lo, anggap saja gue pakai jasa ja lang." Lalu Aditya mengambil pakaiannya dan pergi dari sana meninggalkan Mentari yang sedang menangis sesenggukan.
FLASHBACK END.
"Bahkan kamu tidak ingat kejadian malam itu, Bang. Kamu jahat, Aditya. Kamu pria terjahat yang aku kenal, aku benci kamu! Aku membencimu!!" ujar Mentari meremas baju bagian depannya.
Perlakuan Aditya padanya menyisakan luka yang mendalam. Banyak kejadian yang tidak Aditya ketahui setelah mereka putus. Dunia Mentari jungkir balik, hamil di usia muda, di marahi habis-habisan oleh orangtuanya, di hina orang lain karena hamil di luar nikah, bahkan harus kehilangan kedua orangtuanya secara bersamaan pada saat dia di ketahui hamil.
"Tidak, aku harus kuat. Aku harus buktikan kalau aku mampu hidup tanpanya, aku tidak boleh menunjukan kelemahan ku pada dia, aku harus semangat demi anakku. Anak?" mengingat anak, Mentari jadi teringat anaknya yang sedari tadi dia tinggalkan.
Cepat-cepat dia menghapus air matanya, kemudian keluar dari sana dan pulang menemui anaknya.
*****
__ADS_1
Rumah sakit.
Khanza terus melewati koridor rumah sakit, matanya ia edarkan memperhatikan taman tanya da di sekitar rumah sakit. Dia tersenyum melihat banyak anak-anak kecil bermain di sana. Namun seketika ia tertarik pada sosok yang dia kenal.
"Kak Naura, Kak Azriel." Senyumnya mengembang sambil sedikit berlari mendekati keduanya yang sedang berjalan beriringan.
"Kak," panggilnya sedikit berteriak.
"Khanza, kamu di sini?" tanya Naura lalu memeluk Khanza.
"Mau lihat keadaan nenek. Pasti kalian sudah melihatnya 'kan?"
"Iya, tapi ya gitu, kakak males berdebat dengan nenek. Keras kepala." Azriel yang menjawab.
Wajah Khanza berubah murung. Dia menghela nafas. "Kak, berhubung kalian berdua ada di sini, aku mau bicara sesuatu sama kalian semuanya. Ayo kita ke ruangan nenek di rawat."
"Sesuatu apa? Sepertinya penting." Naura dan Azriel penasaran.
"Nanti kalian akan tahu."
******
Dan kini Naura, Azriel, Khanza, Azzura, Azzam, Genta, dan Fatimah sudah berada di satu ruangan.
"Berhubung kalian ada disini, aku mau bicara hal yang penting." Khanza menghirup udara dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan.
"Nenek, maaf jika apa yang Khanza katakan membuat nenek begini. Sesungguhnya aku tidak bermaksud menyakiti Nenek ataupun mau melawan. Namun jika ini memang menyangkut kebaikan diriku sendiri, aku siap menjadi pengganti Kakak. Aku akan menerima perjodohan ini," ucap Khanza membuat mereka yang ada di sana terkejut atas keputusan Khanza.
Namun Azriel di buat bingung. "Kamu bicara apa, Dek? Pengganti? Maksud kau apa?"
"Karena Kakak sudah menikah dan menolak perjodohan dengan Syifa, maka aku siap menggantikan perjodohan ini dengan Alan."
"Apa? Kamu dijadikan pengganti?!"
__ADS_1