
Setelah memasrahkan putri kesayangan pada pihak pesantren, keluarga Azzam pamit undur diri. Banyak wejangan yang mereka berikan kepada Khanza dan juga pada Naura sebelum berpamitan kembali pulang. Meskipun berat meninggalkan Khanza, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah keinginan Khanza sekolah sambil mondok di sana.
Pelukan dan ciuman dari seluruh anggota keluarga menjadi kekuatan untuk Khanza sendiri saat akan menempuh kehidupan yang baru di penjara suci. Di balik kehangatan keluarga itu, ada sosok gadis diam menyendiri dengan tatapan iri.
"Ingin sekali aku memiliki keluarga yang utuh, tapi apalah daya, aku hanyalah anak dari seorang wanita yang seperti itu. Bahkan aku sendiri tidaklah tahu siapa ayah aku." Dialah Naura, gadis yang merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya, gadis yang tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya, dan gadis yang hanya hidup berdua bersama ibunya saja. Namun kini ia merasa hidup sendiri setelah ibunya memilih pergi dari rumah yang dulu mereka tinggali.
"Jangan nakal, harus nurut sama seluruh guru-guru di sini, dan jangan sampai berbuat ulah," pesan Azzam.
"Iya, Ayah."
"Jaga diri baik-baik, jangan sampai terpengaruh oleh kehidupan kotor seseorang." Fatimah menyindir Naura.
"Tentu tidak akan karena aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Aku bukan orang yang mudah bergaul dan dekat dengan orang dan jika aku dekat dengannya, itu artinya dia adalah sosok yang baik," bawan Khanza seakan menunjukan kalau Naura buan orang seperti yang neneknya bilang. Terbukti dari cara dia memperlakukan Naura sangatlah dekat, itu membuktikan kalau Naura sosok yang baik tanpa melihat siapa dia yang dulu.
Kini giliran Azzura. "Bunda hanya ingin putra putri Bunda menjadi orang-orang baik dengan segala kebaikannya. Tuntutlah ilmu sebanyak yang kamu mampu, dan amalkan lah ilmu sampai nafas terakhir menjemputmu."
"Insyaallah Bunda, doakan Khanza ya."
"Pastinya, sayang." Khanza pun beralih pada kakaknya.
"Kakak tidak akan memelukku?"
"Tidak, kalau kakak memelukmu rasanya ingin menangis."
"Kakak." Khanza menghambur ke pelukan kakak laki-lakinya.
"Jangan cengeng, harus mandiri, sekarang tidak akan ada lagi yang menjagamu. Kakak juga akan jauh dari kamu. Mungkin kita akan bertemu hanya setiap liburan semester saja."
"Pokoknya kalau kakak jauh jangan suka sama orang sana, awas ya."
"Kenapa tidak boleh?"
"Soalnya aku sukanya sama kak Naura." bisik Khanza membuat Azriel terdiam melirik Naura yang sedang menunduk.
"Hmmm."
"Naura, kemari!" Azzura membawa Naura kedalam pelukannya. "Semoga kamu betah ya. Jangan pernah merasa sendiri karena ada Allah dan kita bersama kamu." Azzura seakan mengerti kesedihan Naura. Meskipun ia tahu kehidupan Naura penuh lumpur dosa, tapi hatinya tidak bisa menghakimi gadis itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Tante." Naura membalas pelukannya Azzura dengan mata terpejam menahan tangis atas kerinduannya pada ibu kandungnya.
Setelah mengantarkan keluarga Khanza pulang, Naura dan Khanza kembali masuk ke dalam di temani oleh Azkia putri pertamanya ustadz Ali yang juga seumuran dengan Naura.
Dalam perjalanan menuju asrama putri, Naura banyak mengajukan berbagai pertanyaan pada Azkia. Namun berbeda dengan Khanza yang diam mendengarkan, tapi tangan tidak lepas dari Naura. Sikap Naura terhadap Azkia membuat Azkia senang dan merasa yaman. Ia merasa Naura menganggapnya sebagai teman. Jika mengingat siapa Azkia, banyak yang segan terhadap anak ustadz itu.
"Kia, siapa mereka berdua? Murid baru, ya?" tanya santri putri mendapat Naura dan Khanza secara silih berganti.
"Iya, mereka santri baru di sini. Ini Naura dan ini Khanza. Kenalin."
Gadis itu menganggukkan kepalanya, kemudian mengulurkan tangannya. "Kenalin, aku Nazwa anaknya ustadz Ahmad dan juga ustazah Annisa. Aku cucu kedua setelah Azkia."
Naura menerima uluran tangan Nazwa. "Aku Naura."
"Lalu kamu?" tanya Nazwa pada Khanza.
"Aku Khanza, Kak." Khanza pun sama menerima uluran tangan Nazwa.
"Ok. Oh iya, jangan masukkan mereka ke kobong 5 ya. Kobong itu hanya untuk murid-murid berprestasi dan juga para senior. Masukkan saja ke kobong tiga, di situ tempat berkumpulnya santri baru yang di mulai dari nol. Aku pergi dulu, assalamualaikum."
"Bicaranya terlihat angkuh," ujar Khanza.
"Tidak boleh menilai orang dari sebelah pihak. Nanti jatuhnya fitnah, tidak baik." Naura menegurnya.
"Astaghfirullah. Maafkan aku ya Allah."
"Tidak apa-apa, sekarang kita lanjutkan saja yu." Azkia mengajak Naura dan Khanza ke asrama yang di maksud.
Setibanya di asrama putri, di sana di sebut Kobong.
"Teh Siti." Azkia memanggil salah satu santri yang ada di sana.
"Iya, Teh." Dan orang yang di panggilnya beranjak berdiri menghampiri Azkia.
"Ada murid baru yang akan menjadi penghuni Kobong tiga. Aku minta Teteh sama yang lainnya berkenan membantu mereka ya."
"Muhun Teh, insyaallah. Mari masuk." Teh Siti mempersilahkan Naura dan Khanza masuk ke kobong berukuran 5x4 meter. Tempatnya luas, banyak perabotan seperti lemari baju, dan juga alas tidur yang sedang di gulung di sudut tembok.
__ADS_1
Khanza memperhatikan ruangannya, pun dengan Naura yang juga ikut memperhatikan tempatnya.
"Teh, kita tidurnya di mana?" tanya Khanza tidak melihat kasur busa seperti yang ada di rumahnya.
"Tidurnya di sini. Kita semua tiduran secara bersamaan di sini," kata Teh Siti.
"Tanpa kasur, Teh?" tanya Naura.
"Sumuhun, paling hanya beralaskan tikar itu." Teh Siti menunjuk satu tikar besar seperti karpet tergulung tapi di pojokan.
"Itu mah karpet. Jadi kita tidurnya di atas karpet tanpa kasur?" tanya Khanza.
"Iya, disini mah kebanyakan tidur beralaskan karpet. Kalau mau pakai kasur ya bawa saja sendiri."
"Kak, gini amat ya tinggal di pondok?" bisik Khanza pada Naura.
"Aku juga tidak tahu. Aku juga baru pertama kalinya mondok."
"Semoga saja aku betah," lirih Khanza yang ternyata kenyataan tidak sesuai ekspektasi.
*****
Malam hari.
Puk.
Naura menepuk lengannya yang di gigit nyamuk. "Banyak nyamuk, aku tidak bisa tidur." Berhubung waktu semakin larut, Naura dan Khanza beristirahat, tapi ternyata keduanya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku juga sama, Kak. Aku tuh heran, mereka semua tidur dengan nyenyak, apa tidak terganggu oleh nyamuk di sekelilingnya? Tubuhku juga sakit tidak tidur di karpet." Khanza mulai mengeluh.
"Sama, aku juga belum terbiasa tidur di atas karpet begini. Tapi mau bagaimana lagi, Za? Inilah kehidupan baru kita di sini. Mau tidak mau kita harus terbiasa dalam suasana baru seperti ini." Meskipun ia anak seorang wanita malam, tapi Naura belum pernah tidur di atas karpet begini.
"Iya, sih. Semoga saja aku bisa betah di sini." Khanza menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya agar nyamuk yang terus berkeliaran tidak menggigit tubuhnya.
Sedangkan Naura, ia diam memandang langit-langit asrama. "Suasa baru, kehidupan baru, tempat baru, orang-orang baru. Semua serba baru dan aku pun harus terlahir baru." Naura memejamkan matanya.
"Ya Allah ya Tuhanku, kata mereka engkau adalah Tuhanku, maka bimbing aku menuju jalanmu. Bismillah, mulai saat ini aku pasrahkan hidupku hanya padamu."
__ADS_1