Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 80 - Sean


__ADS_3

Sedangkan di rumah, Khanza terdiam seorang diri memikirkan segala macam resiko yang akan ia ambil nantinya. Dia termenung sendirian di atas sejadah dengan air mata terus berderai membasahi wajah cantiknya. Dia baru saja mengambil keputusan besar dalam hidupnya di usia yang masih terbilang muda, dua puluh tahun.


"Ya Allah, hanya kepada mu hamba berserah diri, hanya kepadamu hamba meminta, dan hanya kepada mu hamba mohon. Jika memang keputusan hamba ini adalah jalan terbaik menurutmu, hamba ikhlas dan bimbing hamba dalam memantapkan hati dan pilihan. Hamba tidak ingin menyakiti orang lain, karena hamba nenek harus mengalami hal seberat ini. Ya Allah, Ridoi hamba dalam mengambil keputusan ini, aamiin." Kemudian Khanza mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.


Dia membereskan barang-barang ibadahnya, kemudian berencana kembali ke rumah sakit untuk memberitahukan keputusan untuk menerima perjodohan ini. Meskipun hatinya belum menerima, namun ia akan berusaha menerima dengan ikhlas.


Hendak mengambil ponselnya, panggilan telpon masuk. Nama Dokter Revan tertera di layar ponselnya.


"Kak Revan nelpon? Tumben." Meski heran, Khanza menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum dokter."


( "Waalaikumsalam. Kamu lagi ngapain?" ) Di sebrang sana jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Dia menahan diri untuk tidak berucap kata rindu pada gadis pujaannya.


"Aku lagi di rumah mau ke rumah sakit. Kenapa?" Suara serak Khanza sehabis menangis menyita perhatian Revan.


( "Kamu habis nangis? Kamu sakit?" )


"Hah! Bukan aku, aku tidak apa-apa. Nenek yang sakit."


( "Pasti sekarang kamu sedang bersedih, mungkin juga sedang menangis. Jangan bersedih ya, sayang. Semuanya akan baik-baik saja." )


Khanza tertegun mendengar kata sayang dari pria dewasa yang akhir-akhir ini dekat dengannya, sering bertukar kabar, sering saling telponan meski jarang. Pun dengan pria yang ada di sebrang telpon merutuk kebodohannya sendiri karena sudah bicara ngasal namun dalam hatinya memang ingin berucap sayang.


"Hmm Dokter, sudah dulu, aku mau ke rumah sakit. Maaf, assalamualaikum." Khanza cepat-cepat mematikan sambungan teleponnya saking gugup dengan keadaan yang tidak biasa ini.


Dia menghembuskan nafas kasar. "Ada apa dengan aku? Kenapa gugup begini?" Khanza menggelengkan kepalanya lalu kembali beranjak dari sana menuju rumah sakit.


*****


Rumah Sakit


Naura begitu telaten menyuapi anak kecil yang bernama Sean. Entah kenapa hati kecilnya merasakan hal yang berbeda. Naura merasa dekat dengannya dan merasa menyayangi anak kecil itu. Di sana juga ada Azriel dan juga pengasuh yang selalu merawat Sean ketika ibunya kerja.

__ADS_1


"Jadi mamanya Sean sedang mencari pekerjaan, Bu?" tanya Naura pada wanita yang mungkin saja usianya sudah menginjak kepala lima. Ibu-ibu itu baru sampai rumah sakit setelah membereskan rumah majikannya.


"Iya, Nak. Mamanya Sean baru saja di pecat dari pekerjaannya karena di tuduh menjadi pelakor sampai istri dari bos tempat dia bekerja memecatnya. Jadi terpaksa harus mencari pekerjaan lain."


"Emang sebelumnya kerja dimana?" Naura terus bertanya sambil menyuapi anak yang berusia empat tahun ini.


"Sebelumnya bekerja di perusahaan sebagai OB."


"Ibu sudah lama menjadi pengasuh Sean?"


"Sudah sekitar dua tahun saya menjadi pengasuh Sean, bahkan mamanya selalu memperlakukan saya dengan baik. Saya sangat menyayangi mereka berdua seperti keluarga sendiri. Saya yang hidup sendirian tidak punya keluarga merasa memiliki keluarga. Sean sudah saya anggap sebagai cucu sendiri dan mamanya sudah saya anggap sebagai putri ku sendiri."


"Kalau boleh tahu kemana ayahnya Sean?" tanya Azriel ikut tertarik dengan kisah Sean.


"Sedari kecil Sean sudah hidup berdua dengan mamanya. Dia juga tidak pernah bicara tentang ayahnya Sean. Pernah saya bertanya, namun dia malah menangis tidak ingin menjawabnya. Mungkin ada duka di balik kisah masa lalunya. Jadinya sampai saat ini saya tidak lagi menanyakan tentang ayahnya Sean. Malang sekali anak ini, dia selalu di bully anak-anak lain karena tidak punya ayah, sekarang Sean harus berobat jalan akibat gejala tipes yang menyerang tubuh kecilnya." Ibu itu menatap iba pada Sean.


Naura mencerna baik-baik, dia merasa kasihan. Lalu tiba-tiba dirinya teringat Aditya. Dia menyimpan piring yang ia pegang di samping Sean, kemudian mengambil ponselnya.


"Aku mau nelpon kak Aditya. Siapa tahu ada lowongan kerja di toko, mungkin ini bisa membantu mamanya Sean jika belum dapat pekerjaan."


Dan sambungan pun tersambung. "Assalamualaikum, Kak."


( "Waalaikumsalam, Dek. Tumben, ada apa?" )


"Apa di sana ada lowongan kerja?"


( "Hmmm ada sih, di bagian kasir, pelayanan sama tukang beres-beres. Ini kakak lagi menyebarkan beberapa lowongan kerja. Kenapa emangnya?" )


"Kak, ada teman Naura ingin melamar pekerjaan. Boleh?" Naura menatap ibu itu dan juga Azriel secara bergantian.


( "Ajak saja teman kamunya ke sini. Nanti Kakak pertimbangkan." )


"Baik, Kak. Nanti Naura bilang sama teman Naura. Makasih ya, kalau gitu Naura tutup dulu, Assalamualaikum."

__ADS_1


( "Iya, Kakak tunggu. Waalaikumsalam." )


"Bu, kalau mamanya Sean belum dapat kerjaan nanti bisa melamar di toko sandalnya Ayah. Ada banyak toko tersebar di beberapa tempat, mungkin nanti bisa bantu mamanya Sean."


"Terima kasih, Nak. Nanti ibu sampaikan jika belum dapat kerjaan." ibu itu tersenyum senang ada orang baik mau menolong majikannya.


"Tante, makasih sudah temani Sean. Sean senang bisa kenal Tante, nanti kita main lagi kan? Nanti kita akan ketemu lagi kan?" kata Sean.


Naura mengangguk. "Boleh kok. Insyaallah kita akan bertemu lagi." Lalu pandangan matanya beralih pada Bu Sukma. "Boleh aku sering menjenguknya? Atau main ke rumahnya?"


"Tentu boleh, pasti Mentari akan senang memili teman baru apalagi bisa dekat dengan Sean.


******


Toko


"Teman? Emangnya Naura punya teman selain Khanza? Setahuku dia tidak banyak teman. Jadi penasaran siapa temannya." Aditya bertanya-tanya siapa temannya Naura. Sejak Naura ikut dengan keluarganya, Naura tidak mudah bergaul dengan banyak orang. Tidak ada teman dekat yang Naura miliki selain Khanza seorang. Namun hari ini Naura meminta dia menerima temannya kerja, jadinya Aditya bertanya-tanya.


"Ah daripada mikirin itu mendingan melayani pembeli saja." Aditya pun bergabung dengan beberapa karyawan yang sedang melayani pembeli. Dia juga ikut mempersilahkan pembeli masuk ke dalam toko.


"Silahkan di lihat-lihat, Bu. Banyak aneka sandal sepatu di sini. Harganya pun terjangkau."


"Kamu bisa aja, Nak Adit. Saya lihat-lihat dulu ya."


"Silahkan." Pada pembeli sudah langganan membeli di sana. Jadi mereka sudah hapal dengan Aditya.


Aditya terus menawarkan barang jualannya hingga ada seseorang yang datang.


"Permisi, Pak."


Aditya menoleh, namun dia tertegun kala matanya melihat sosok yang selama ini dia benci. Pun dengan dia yang juga sama-sama terkejut siapa pria di hadapannya.


"Kamu!!"

__ADS_1


__ADS_2