Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 62 - Terkejut


__ADS_3

"Aku tidak mau pergi, Nau. Aku akan tetap di sini sampai kamu mau menerima lamaran ku." Azriel begitu kekeh dengan pilihannya. Dia tidak mau kehilangan Naura lagi. Melihat Naura terkapar lemah tak berdaya membuatnya sangat terluka dan tidak mau kehilangan Naura lagi.


"Sudahlah Azriel, jangan memaksakan diari. Dia tidak pantas untukmu. Sudah jelas dia menolakmu karena sudah memiliki pria lain yang bisa memuaskan dirinya dan bisa dengan mudahnya bergonta-ganti pasangan. Lebih baik kamu tinggalkan dia saja, Nenek sudah memutuskan untuk menikahkan kamu lagi dengan Azkia."


Azriel menatap lekat mata Naura yang tengah menunduk tidak berani menatapnya. "Beri aku alasan yang pasti Kenapa kamu memutuskan hubungan ini dan tidak mau menerima lamaranku?" Kecewa, sudah pasti karena Naura tidak mau menerimanya padahal mereka saling mencintai.


"Sudah berapa kali nenek bilang kalau dia itu ja lang! Alasannya karena pria yang ada di sampingnya itu adalah sosok langganannya!" sentak Fatimah menampar Azriel supaya sadar dengan kebodohan cucunya yang terpikat pada tampang polos Naura.


"Mama!" pekik Azzura dan Azzam.


"Cukup wanita tua!" sentak Aditya tidak bisa lagi berdiam diri menahan emosi yang sedari tadi meluap ingin mengeluarkannya.


"Apa hah? Kamu marah? Ini memang benar kan kalau kamu itu salah satu pelanggan jala ng ini." Fatimah menunjuk wajah Aditya.


"Apa benar karena pria ini kamu menolakmu? Apa benar karena dia sudah memberikanmu surga dunia kamu tidak ingin bersamaku lagi?" kata Azriel putus asa.


Naura terhenyak, ia tidak menyangka kalau Azriel memiliki pikiran sepicik itu. Dia langsung mendongak dan saat itu juga air matanya menetes begitu saja. Dia tersenyum sinis menertawakan dirinya sendiri.


"Diam kau!" sentak Aditya menunjuk Azriel.


"Cukup sudah kau menghina Naura, dan cukup sudah aku bersabar dari tadi. Orang yang kau sebut ja lang ini adalah adikku, adik kandungku! Orang yang kau tuduh menjadi pelanggan ku itu nyatanya adik kandungku!" sentaknya mengakui kalau Naura adalah adiknya.


Deg.


Azriel terhenyak, ia terkejut. Benarkah itu? Pun dengan Fatimah, Azzura, dan Azzam.

__ADS_1


"Sekarang kalian semua pergi dari sini! Saya tidak akan membiarkan kalian mendekati adik saya lagi terutama kau nenek tua!" tunjuknya pada Fatimah.


"Hahaha paling juga ini akal-akalan kamu saja demi menutupi kebusukan wanita murahan ini. Maling mana mungkin mau ngaku, kalau ngaku penjara penuh." Fatimah menatap remeh dan tidak mempercayainya.


"Siapa yang mengaku-ngaku?" seru seseorang masuk ke dalam ruangan Naura. Ia mendengar banyak suara ketika dekat berada di depan pintu ruangan yang ditempati Naura. Pas masuk dirinya terkejut ada banyak orang di sana.


Mereka semua menoleh pada asal suara. Tidak ada yang mengenali siapa pria itu.


Dan lirih sudah tangis yang sedari tadi Naura tahan. "A-ayah," ucapnya terisak menahan rasa sakit di tubuh dan juga hatinya.


"Ayah?!" pekik mereka kembali terkejut.


Genta tersenyum bahagia Naura mau menyebut dirinya ayah. Dia mendekati Naura dan membawa pelan tubuh rapuh gadis itu. Naura kembali menangis dalam pelukan Genta.


"Ini ayah sayang, Ayah ada di sini. Kamu tidak sendirian lagi, ada Ayah, ada kakak kamu yang akan menjadi sandaran kamu. Tidak akan kita biarkan siapapun menyakiti kamu lagi. Maafkan ayah, sayang, maafkan ayah."


"Iya, kita akan pergi. Kita akan bersama, kita akan pulang."


"Tu-tunggu! Kalian siapa? Kenapa kalian bilang Kakak dan ayah?" tanya Azzam yang sedari tadi diam.


"Saya sudah bilang kalau saya adalah kakak kandung Naura dan Beliau ini ayah kandung kami. Kami Satu ayah beda ibu," kata Aditya menjelaskan.


"Apa?! Ini tidak mungkin. Mana mungkin perempuan murahan itu punya ayah kandung?" Fatimah tidak percaya.


Namun Genta mengeluarkan kertas hasil tesnya. "Ini bukti Naura anak kandung saya. Aditya, kamu bawa Naura pergi. Hari ini juga kita akan pulang," kata Genta sudah mendapatkan izin dari pihak rumah sakit membawa Naura ke kota dan akan mendapatkan perawatan intensif di rumahnya nanti.

__ADS_1


"Baik Ayah." Tanpa banyak kata Aditya membawa Naura dengan cara membopongnya. Naura tidak menolak, ia malah menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang di sebut kakak.


"Kalian mau bawa kemana Naura? Jangan pisahkan kita, aku mohon." Azriel dilanda kepanikan. Dia tidak mau kehilangan Naura lagi. Apapun akan ia lakukan demi bisa tetap bersama Naura. Azriel juga mencegah langkah Aditya.


"Membawa pergi jauh dari orang-orang seperti nenekmu, minggir!" ujar Aditya menubruk tubuh Azriel.


"Tidak, jangan bawa dia. Jangan jauhkan dia dariku, aku mencintainya. Tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku akan bisa membahagiakannya." Azriel mengejar Aditya ke luar ruangan.


Tinggal Genta dan keluarga Azriel yang ada di sana.


"Nyonya, mungkin Anda lupa kalau sesungguhnya segala sesuatu itu sudah di harus bawahi. Dan seperti sekarang ini kalau ternyata Naura adalah anak kandung saya. Anak sah dari pernikahan resmi saya." Genta melemparkan foto-foto pernikahan dia dan ibunya Naura tepat ke dada Fatimah.


"Informasi yang Anda lakukan kurang akurat, Nyonya. Anda sudah berbuat ulah pada anak saya, dan jika suatu hari nanti saya melihat Anda kembali menyakiti putri saya, maka jangan salahkan saya bertindak." Lalu Genta menatap Azzam.


"Anda dan istri Anda adalah orangtua yang baik, Terima kasih sudah membantu Naura dan begitu tulis menyayanginya. Jika memang Naura dan Azriel berjodoh, maka mereka akan di persatukan dengan cara-NYA. Saya permisi dulu." Genta pun pergi dari sana setelah mengucapkan salam.


Fatimah tertegun menunduk, ia memandangi foto-foto pernikahan Genta dan Farida. "Kenapa jadi begini? Itu artinya dia bukan anak haram? Tapi ibunya?"


"Mama keterlaluan, Azzam kecewa sama Mama. Mulai saat ini Azzam Azzura dan anak-anak tidak akan tinggal lagi di rumah. Lebih baik kami tinggal di rumah berbeda tanpa peraturan yang Mama lakukan."


"Apa?! Kamu mau meninggalkan mama sendirian hanya karena kesalahan perempuan itu? Kalian mau jadi anak durhaka, hah?" sentak Fatimah kaget putranya mau pindah tempat tinggal.


"Tapi sikap Mama tidak mencerminkan seorang orangtua yang baik dan benar. Sikap Mama selalu saja egois dan Azzam tidak mau Mama mengatur kehidupan anak-anak Azzam."


"Ayo Azzura, kita pergi dari sini." Azzam menggenggam tangan istrinya dan pergi dari sana. "Assalamualaikum."

__ADS_1


"Aakkhh kenapa jadi begini? Ini semua karena ulah perempuan itu." Fatimah marah kesal.


__ADS_2