Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 48 - Sebuah Permintaan


__ADS_3

Tempat Lain


Kabar sakitnya Fatimah usah terdengar ke telinga Azzura dan juga Azriel. Pasangan suami istri itu langsung meluncur ke kita B untuk melihat keadaan Fatimah secara langsung.


Bahkan keluarga Umi Qulsum pun datang menjenguk setelah tahu kalau Fatimah masuk rumah sakit.


"Bagaimana keadaan nenek kalian?" tanya Azzam ketika sudah sampai di rumah sakit.


"Alhamdulillah lebih baik, tapi belum bangun juga," kata Azriel berdiri di samping Fatimah.


"Menurut dokter, Nenek terkena serangan jantung ringan," ucap Khanza.


"Innalilahi, kamu seriusan?" Baik Azzam dan Azzura tercengang dengan kabar buruk ini. Keduanya sama-sama tidak tahu kalau Fatimah memiliki penyakit jantung. Setahuku mereka, pola makan dan pola hidup Fatimah selalu baik dan juga sehat. Namun mendengar kabar mengejutkan ini mereka percaya tidak percaya.


"Kata dokter begitu, Ayah."


"Kenapa ini bisa terjadi? Sebelumnya mama tidak pernah bilang punya riwayat sakit jantung?" tanya Azzura menatap wajah mertuanya yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Baik Khanza dan Azriel tidak berani menjawab, keduanya tidak ingin memperkeruh suasana dan tentunya mencoba melindungi Naura.


Khanza yang merasa ini bukan salah Naura dan lebih merasa ke takdir. Lalu Azriel yang merasa bersalah telah menyalahkan Naura tidak ingin mengulang lagi kesalahannya. Apalagi Khanza memberikan nasehat-nasehat kalau semua ini terjadi atas kehendak Allah. Dia yang kuliah jauh merasa tercubit dan bodoh karena sudah mengikuti hawa nafsu.


"Ini semua sudah menjadi garis takdir Allah, Nak. Kita tidak pernah tahu nasib seseorang pada masa yang akan datang. Sekalipun kita berusaha mencegah, kalau Allah sudah berkehendak maka tidak akan ada yang bisa menghalangi," ujar Umi Qulsum.


"Yang penting sekarang kalian tabah, berdoa sama Allah meminta kesembuhan buat Bu Fatimah," sahut Ustadz Ali.


"Kalian benar. Sekarang kita fokus pada kesembuhan Mama saya," ucap Azzam.


"Azzam, Azzura, ini sudah malam. Kita pamit pulang dulu." Sudah satu jam lamanya mereka berada di sana. Dan langit pun berubah malam sampai menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka tidak bisa menginap, mungkin salah satu alasannya adalah banyak orang yang akan menunggu Fatimah.


"Insyaallah besok kami mampir ke sini lagi," sambung Ali.


"Sebelumnya kami berterima kasih pada kalian yang sudah Sudi menjenguk Mama kami," kata Azzam.


"Sama-sama, Azzam." Umi Qulsum tersenyum.


"Oh, iya. Naura juga pasti sedang berada di ruang sakit," sahut Ali teringat Naura yang katanya mendapatkan kabar buruk.


"Apa?!" Semua yang ada di sana memekik kaget. Terutama Azriel yang sangat panik dan juga tidak karuan.


"Naura di rumah sakit? Apa dia di rumah sakit ini? Dia sakit apa?" cerca Azriel.


"Tadi Kak Naura baik-baik saja, Ustadz, Umi," sahut Khanza sama-sama khawatir.

__ADS_1


"Bukan Naura yang sakit, tapi ibunya. Kami mendaftarkan kabar kalau ibunya Naura kecelakaan dan saat ini sedang di rawat di ruang sakit. Naura langsung pulang dan mungkin saja saat ini sedang berada bersama ibunya," tutur Umi Qulsum membantu menjelaskan.


"Innalilahi," Azzura dan Khanza sampai menutup mulutnya dengan tangan.


Azriel terhenyak mendengarnya, semakin kacau pula pikirannya.


"Ya Allah, terus keadaannya bagaimana?" tanya Azzura.


"Kami belum dapat kabar apapun dari mereka," jawab Ustadz Ali.


"Mudah-mudahan Allah melindungi ibunya Naura, kasihan gadis itu," kata Azzam.


"Aamiin."


Lalu Umi Qulsum dan juga Ali berpamitan.


"Naura, bagaimana keadaan kamu? Bagaimana keadaan ibu kamu? Apa kamu baik-baik saja? Apa ibu kamu baik-baik saja juga? Nau, maafkan aku yang tadi memarahi kamu. Kamu pasti kecewa padaku, dan sekarang kamu sedang tidak baik-baik saja. Ingin sekali aku berada di sana menemanimu, menenangkan kamu, memberikan kamu semangat dan memberimu kekuatan. Namun aku juga bingung dengan keadaan saat ini," batin Azriel sambil menatap lekat wajah neneknya.


Setelah mereka pergi, mata Fatimah mulai terbuka.


"Nenek sudah sadar." Azriel yang dari tadi menatapnya senang ketika melihat mata neneknya terbuka.


"Kalian," lirihnya membuat keempat orang yang ada di sana menoleh.


"Alhamdulillah Mama sadar," kata Azzam senang.


"Tapi tidak dengan cucu Mama," jawab Fatimah terdengar judes.


Azzam dan Azzura mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana, Mah?"


"Ayah, Bunda, mendingan kita biarkan Nenek istirahat dulu." Azriel menyela karena ingin mengalihkan perhatian neneknya.


"Kenapa Azriel? Kamu akan tetap membela wanita murahan itu dam memilih untuk melihat nenek mati?"


"Astaghfirullah, Nek."


"Astaghfirullah, Mah."


"Jangan bilang begitu, Mah." Azzam menegurnya.


"Itu kenyataannya, Azzam. Cucu mama sendiri lebih membela wanita itu dan malah membiarkan mama begini. Asal kalian tahu kalau mama begini gara-gara Azriel dan perempuan hina itu!" kata Fatimah dengan suara tinggi, lalu ia memegang dadanya.


"Mah, mama kenapa?" Azzam dan Azzura mendekati Fatimah. Mereka panik.

__ADS_1


"Nek, jangan marah-marah, Nek. Azriel tahu sudah melakukan hal yang menyebabkan nenek marah, tapi jangan buang begitu."


"Iya, Nek. Kakak dan Kak Naura tidak bersalah," sahut Khanza.


"Ka-kalian lihat, ke-kedua cucuku te-terus membela w-wanita hina itu."


"Bukan begitu, Nek." Azriel serba salah, sati sisi hatinya berpihak pada Naura. Sati sisi lainnya pada sang Nenek. Dia di lema.


"Azriel, mendingan kamu nurut sama nenek kamu, lihatlah keadaannya!" kata Azzam tidak tega pada mamanya.


"Kalau kamu tidak nurut berarti kamu memilih melihat nenek mati hari ini." Fatimah mencoba mengatur nafasnya menahan sesak di dada.


"Baiklah, aku akan nurut apa kata nenek." Di tengah kegelisahan dan rasa paniknya, Azriel mengiakan meski ia belum tahu apa yang akan terjadi.


"Kak," kata Naura memegang pangkal lengan kakaknya.


"Azriel, Nenek sudah tua, nenek sakit, sebelum nenek pergi, nenek hanya ingin melihat kamu menikah dengan orang pilihan nenek. Nenek mohon, Azriel?" Dalam keadaan begini pun Fatimah masih sempat-sempatnya meminta permintaan.


"Maksudnya aku harus menerima perjodohan ini, Nek?" kata Azriel.


"Perjodohan?" Azzam dan Azzura belum tahu apapun mengenai ini.


"Tapi aku tidak menyukainya, aku cintanya sama Naura, Nek!"


"Ahhh sakit!" Fatimah segera memegang dadanya merintih kesakitan.


"Nenek!"


"Mamah!"


"Azriel, kali ini papa pinta sama kamu ikuti kemauan nenekmu. Kaju tidak lihat dia kesakitan begini?"


"Tapi Ayah ..."


"Nak, ini demi kebaikan Nenek kamu sendiri. Mau ya? Bunda mohon." Azzura sampai memohon pada putranya karena ia tidak tega melihat mertuanya kesakitan dalam meminta permintaan terakhirnya.


"Kakak bagaimana dengan Kak Naura?" ucap Khanza. "Bukankah kakak mencintainya dan juga kak Naura mencintaimu?"


"Khanza, dalam keadaan begini kamu masih memikirkan orang lain, kalian tega sama Nenek. Lebih baik nenek mati saja daripada cucuku tidak mau mengabulkan permintaan terakhir ku."


Azriel kebingungan, ia tidak tahu harus pilih mana. Ia tidak ingin neneknya sakit, tapi hatinya tidak mau menerima. Azriel memejamkan mata menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Baiklah, Azriel akan menerima perjodohan ini," ucapnya lesu.

__ADS_1


Dan seketika senyum kecil penuh kemenangan muncul pada sudut bibir Fatimah tanpa mereka sadari.


"Akhirnya berhasil juga," batin Fatimah.


__ADS_2