Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 60 - Lontaran Hinaan


__ADS_3

Kabar sadarnya Naura sudah di dengar oleh keluarga Azriel. Karena Azriel selalu meminta pihak rumah sakit mengabarkan mereka ketika Naura sudah sadar. Banyak yang bahagia mendengar kabar itu, tapi tidak dengan Fatimah yang menggeram kesal karena sebelum dia menikahkan cucunya dengan calon pendamping yang baik, Naura malah sadar lebih dulu.


"Ayah serius dapat kabar dari dokter kalau Naura sudah sadar?" Azriel yang baru saja pulang mengajar mendengar percakapan ayahnya dan juga suster yang merawat Naura.


"Iya, barusan suster yang merawatnya mengabari Bunda kamu. Katanya Naura sudah siuman."


"Kalau begitu kita ke rumah sakit lagi, Ayah. Aku mau bertemu dengannya dan mau bicara sesuatu padanya." Azriel tidak sabar ingin melihat Naura yang sudah membuka matanya. Banyak hal yang ingin Azriel katakan pada perempuan itu dan ana niat yang ingin ia utarakan pada perempuan yang telah mencuri hatinya.


"Dia sudah sadar, aku harus secepatnya bertindak supaya Azriel tidak jadi menikah dengan perempuan itu. Sampai kapanpun aku tidak akan mau menerima wanita murahan itu," batin Fatimah memikirkan cara untuk membuat Azriel menikah dengan perempuan pilihannya.


"Tidak sabaran banget sih kamu, Nak."


"Karena aku ingin bicara banyak hal dengannya, Bunda."


"Baiklah, sekarang kita akan segera ke sana," kata Azzura.


"Mama tidak ikut?" tanya Azzam.


"Tidak, malas banget bertemu dengannya."


Mereka menghela nafas, susah sekali membuat Fatimah menerima kehadiran Naura.


"Mah, Mama harus ikut dan minta maaf sama Naura. Walau bagaimanapun juga Mama sudah berbuat salah pada dia," kata Azzam.


"Kamu memaksa mama?" Fatimah sewot.


"Aku tidak akan memaksa."

__ADS_1


"Baiklah mama akan ikut."


"Tapi hanya untuk membuat memastikan dia tidak mengusik cucuku," sambung nya dalam hati.


******


Rumah Sakit


"Terima kasih sudah membantuku, aku bisa sendiri," kata Naura pada Genta yang sudah membantu Naura mengantarkannya ke toilet.


"Ayah akan melakukan apapun untuk kamu, Nak. Maaf."


"Ayah? Aku merasa tidak punya Ayah, dan aku merasa ayahku sudah tiada sejak aku di kandungan ibu," jawab Naura sambil perlahan masuk ke toilet. Cairan infus yang ia kenakan sudah tidak lagi di pasang karena sudah di lepas oleh dokter.


Genta menghembus nafas kasar. "Iya tahu kalau Naura tidak akan mudah menerimanya. Dia dan Aditya sudah memberitahu perihal tes itu pada Naura. Dia juga menceritakan tentang masa lalu yang sebenarnya. Namun sikap Naura tidak menunjukan bahagia, terkejut, ataupun marah. Gadis itu hanya diam membisu dengan tatapan dinginnya.


"Iya, kamu benar. Ini salah ayah. Kamu tunggu di sini dulu, ayah mau ke luar dulu." Pria itu pun pergi dari sana dengan perasaan sedih.


Aditya menunggu Naura keluar dari toilet. Dia setia menunggu adik perempuannya keluar.


Mereka memiliki darah yang sama, mereka satu ayah yang sama, itu artinya mereka mahram dan diperbolehkan bersentuhan. Menurut islam Satu ayah beda ibu itu termasuk adik kakak atau (Saudara kandung) dan termasuk mahram kita.


"Nau sudah belum?" kata Aditya mengetuk pintu toilet karena Naura tak kunjung keluar juga, padahal gadis itu sudah cukup lama di dalam sana. Tidak ada sahutan dari dalam membuat Aditya dilanda kekhawatiran.


"Naura! Kamu tidak kenapa-kenapa?" Aditya semakin khawatir sama Naura. Dia terus mengetuk pintunya sampai pintu itu terbuka sendiri.


"Nau kamu tidak apa-apa? Kenapa lama sekali di dalam sana? Aku khawatir sama kamu, kalau kamu terjadi sesuatu padamu bagaimana?" Adit memegang kedua pundak Naura. Dia menatap wajah Naura, terlihat matanya sembab. Apa yang terjadi padanya? Begitu pikiran Aditya.

__ADS_1


"Kamu habis menangis? Ada apa? Apa kamu merasakan sakit tubuh mu?"


Namun Naura menggelengkan kepalanya. Dia tetap menunggu membiarkan Aditya memegang pundaknya karena ia tahu kalau mereka masih mahram.


"Naura, sekarang kamu memiliki keluarga, kamu punya aku sebagai kakak kamu, punya Ayah yang akan ada di samping kamu. Coba ceritakan padaku apa yang menyebabkan kamu menangis di dalam sana?" Aditya mencoba bertutur kata lembut.


Kepada Naura terangkat mendongak menatap mata pria itu. Ntah mau bicara apa, Naura tidaklah tahu. Namun banyak yang ingin Naura ucapkan, tapi sulit ia katakan. Akan tetapi air matanya menetes begitu saja mengingat kisah dia, ibunya, dan cerita tentang orangtuanya.


"Jangan menangis, Nau. Kamu tidak salah apapun." Aditya menghapus air matanya Naura. Dia yang hidup berdua dengan ayahnya terkadang merasa kesepian dan ingin memiliki saudara. Kini dia mempunyai adik perempuan yang memang ia inginkan sejak dulu.


"Bolehkan aku mengeluh kenapa hidupku begini? Bolehkan aku bertanya kenapa Allah memberikan cobaan ini padaku? Bolehkah aku marah pada keadaan ini? Kenapa, kenapa aku di lahirkan hanya untuk menghadapi hidup yang begitu berat bagiku? Banyak duka yang telah aku rasakan, banyak hinaan yang telah aku dapatkan di saat orang-orang bertanya dimana ayahku? Apa aku harus menyalahkan ibu dan ayahku karena telah membuatku ada? Kenapa rasanya aku sulit menerima kenyataan ini? Kenyataan tentang dia dan ibu? Apa yang harus aku lakukan? Apa? Hiks hiks hiks." Naura terisak menanggung beban pikiran seorang diri. Ia teringat masa-masa sulit yang sering ia dan ibunya hadapi tanpa adanya sosok suami dan ayah di samping hidupnya.


Aditya membawa Naura dalam pelukannya. Ia bingung harus menjawab apa karena ia tidak pernah merasakan apa yang Naura rasakan. Namun melihat Naura menangis tersedu-sedu membuat dadanya terasa sesak dan matanya meneteskan air mata. Kenapa ia ikut sakit? Hanya pelukan yang ia berikan ketika Naura menangis tersedu-sedu.


"Ya Allah, apa yang telah dia alami sampai tangisnya begitu menyayat hatiku? Kehidupan seperti apa yang telah Naura alami selama ini?"


******


Sedangkan Azriel begitu tergesa masuk ke ruangan Naura. Dia tidak sabar ingin berinteraksi dengan Naura. Namun pas masuk kesana, tubuhnya tertegun dan matanya terbelalak melihat pemandangan yang menyediakan dadanya.


Dimana Naura tengah menangis dalam pelukan seorang pria yang kemarin memeluk bahkan berani mengecup Naura. Tangannya mengepal kuat, ia marah, hatinya terbakar cemburu.


Pun dengan Fatimah, Azzura, dan Azzam yang sama-sama diam membisu. Namun Fatimah semakin membenci Naura karena menurutnya dia menunjukan kalau perempuan itu benar-benar murahan.


"Ow ow ow, akhirnya ketahuan juga belangnya," kata Fatimah membuat Aditya dan Naura menoleh. Namun Aditya tidak melepaskan rangkulannya di pundak Naura.


"Kalian lihatkan kalau dia itu murahan? Yang namanya bangkai pasti akan tercium juga, dasar busuk!"

__ADS_1


__ADS_2