Ketika Cinta Bertasbih

Ketika Cinta Bertasbih
Bab 65 - Rencana Fatimah


__ADS_3

Perjodohan, satu kata yang mungkin sering terjadi pada jaman dahulu sebelum jaman modern ada. Banyak yang bilang perjodohan itu identik dengan jaman Siti Nurbaya. Sebenarnya, jaman nenek moyang dulu perjodohan memang ada, tidak ada kata pacaran, sayang langsung di tanya mau serius atau tidak? Tidak seperti jaman sekarang yang apa-apa harus berlandaskan kata cinta dan sayang.


Akan tetapi, di era jaman sekarang masih ada juga yang masih melakukan perjodohan demi memberikan pasangan terbaik untuk keluarganya. Contohnya seperti Fatimah yang masih mencari sosok istri untuk sang cucu pertama, Azriel. Setelah kegagalan dalam menjalankan misi perjodohan dengan Azkia, dan pihak mereka menolak tegas tawaran kedua darinya, Fatimah kembali mencari calon istri untuk Azriel.


Dia seakan tidak lelah melakukan sesuatu yang mungkin tidak diinginkan oleh Azriel. Namun karena penilaian dia yang kulot ini membuat Fatimah terus berusaha mencari pasangan terbaik menurut versinya. Ntah mencari yang seperti apa, entah mencari yang mau bagaimana? Intinya sesuai kriteria dia.


"Perjodohan cucumu dan anakku?" tanya Silvi.


"Iya, kita kan sering bahas ini. Saya suka sekali putrimu, dia cantik, baik, sopan, dan juga Solehah. Pasti cocok dengan cucuku, Azriel."


"Oh kalau itu mah tentu aku setuju. Putriku tidak banyak neko-neko, dia pasti nurut apa kata ibunya. Dia juga sudah cukup umur menikah. Gak apa-apa lah menikah di usia 22 tahun."


"Jadi kapan nih mempertemukan mereka berdua? Saya bisa meminta Azriel datang ke sini, dia pasti mau." Fatimah tidak sabar menunggu hari itu.


"Kebetulan sekali hari Minggu tidak ada acara, bagaimana kalau kita bertemu di hari Minggu saja?"


"Boleh, bisa di atur itu mah."


*****


Pondok.


"Apa?! Kamu seriusan?" ujar Azriel ketika Khanza memberitahukan perihal kabar mengejutkan yang mereka terima. Keduanya ketemuan di pembatas santri putra dan putri. Tidak ada yang melarang karena semua orang sudah tahu kalau Khanza dan Azriel saudara kandung.

__ADS_1


"Aku serius, Kak. Tadi aku dapat kabar dari dokter Revan kalau Kak Naura akan di jodohkan dengan pria pilihan orangtuanya. Apa Kakak masih mencintainya atau tidak? Kalau Kakak masih cinta ayo perjuangkan. Dokter Revan sudah memberikan alamat rumahnya Kak Naura yang sekarang. Di satu kota dengan kita, Kak. Mereka berada di barat, kita di timur."


"Ya Allah, jadi kita satu kota? Kenapa aku tidak bisa menemukannya ya? Padahal Ayah bantu mencarinya." Bodohnya dia tidak bisa menemukan keberadaan Naura padahal jarak mereka begitu dekat. Namun takdir malah menjauhkan mereka, tapi kini kembali di dekatkan dan mungkin saja akan di pertemukan kembali.


"Makanya sekarang kita harus pulang dan tunjukkan keseriusan Kakak pada mereka sebelum Kak Naura benar-benar dinikahkan dengan orang lain."


"Baiklah, hari ini juga kita akan pulang. Kamu mau ikut pulang kan?"


"Tentu saja mau. Aku kangen Kak Naura juga, kangen orang tua kita dan kangen Naufal." Khanza tersenyum bahagia akan kembali bertemu keluarganya. Sudah satu bulan lamanya dia belum pulang lagi dari pondok. Dan kini dirinya mau pulang.


*****


Kediaman Azzura


Anak usia enam tahun lebih enam bulan itu terus saja berlarian kesana kemari menghindari kejarannya Azzam. Nampak sekali kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka berdua.


"Mas," panggil Azzura.


Azzam menoleh, ia membiarkan Naufal bermain sendiri. "Iya, kenapa?" Lalu Azzam duduk bersila di samping istrinya.


"Ayah bicara dulu sama Bunda, kamu main saja dulu ya," kata Azzam pada Naufal.


"Iya, Yah." Seringkali Naufal ikut, tapi tak pernah banyak bicara. Anak yang kini mau memasuki kelas satu SD itu selalu saja diam seribu bahasa tanpa mau ikut campur urusan orang dewasa. Ketika keluarganya sibuk dengan Naura, Fatimah, dan peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Naufal selalu diam dan memilih diam di dalam pondok. Makanya ke rumah sakit, ketika kemana-mana saat di kota B dia tidak ikut.

__ADS_1


"Aku kepikiran Azriel terus, apa dia baik-baik saja? Sudah dua bulan tak kunjung pulang. Sejak Naura di bawa pergi keluarga enam bulan yang lalu, Azriel berubah jadi pendiam dan lebih menghabiskan waktu bersama anak-anak di pondok."


"Pasti dia baik-baik saja."


"Mas, apa kamu menemukan alamat Naura?" Azzura menatap suaminya.


"Sebenarnya sudah sejak empat bulan yang lalu, tapi Mas belum memberitahu Azriel karena ingin Allah yang mempertemukan mereka dengan cara-NYA. Kalau jodohnya Azriel tidak akan kemana."


"Jadi kamu menyembunyikannya keberadaanya?" tanya Azzura kaget suaminya sudah tahu.


"Siapa yang kalian sembunyikan?" celetuk seseorang.


Naufal yang mendengar suara Neneknya cepat-cepat menghindari urusan orang dewasa. Telinga anak itu selalu saja tidak mau mendengar pertengkaran dan tidak mau ikut campur. Naufal lebih memilih main di halaman belakang bersama kelincinya daripada mendengarkan orang berantem.


"Mah, kapan datang?" tanya Azzam.


"Mama tanya siapa yang kalian sembunyikan?" Fatimah ingin tahu.


Azzam dan Azzura saling lirik.


"Jawab!"


"Alamat rumah Naura, tapi kami berencana mempertemukan mereka lagi."

__ADS_1


"Apa?! Jadi kalian ..."


"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus cepat-cepat bertindak. Tidak boleh Azriel bersama perempuan itu. Meskipun dia punya ayah tetap saja dia anaknya pela cur. Pasti dia tetap pe la jur yang suka menjajakan tubuhnya sebelum bertemu kita," batin Fatimah kesal.


__ADS_2