
Rindu, satu kata yang mampu membuat orang gelisah ketika tidak bertemu. Rindu, kata simpel namun artinya begitu dalam. Rindu, kata yang mampu membuat orang tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, hati gelisah, pikiran tidak tenang. Hanya satu obatnya ketika hati sedang merindu, yaitu bertemu.
Pun dengan Azriel yang kini di landa rindu terobati sudah oleh pertemuan yang di impikannya. Menatap lekat sosok gadis cantik yang sedang diam berdiri tak jauh di dekat Aditya. Mata mereka saling berpandangan hingga beberapa detik bertahan.
"Kak, jaga pandanganmu," tegur Khanza mengusap wajah kakaknya yang dari tadi terus sama menatap Naura.
"Astaghfirullah." Azriel memundurkan pandangnya.
"Kak," ujar Naura memanggil Aditya. Dia meminta penjelasan Kenapa ada pria itu di sana?
"Kakak juga tidak tahu kenapa dia ada di sini? Kakak tidak pernah memberikan alamat rumah kita. Oh iya, pesanan kamu ada didalam, tunggu sebentar." Aditya mengambil barang belanjaannya di dalam mobil, kemudian memberikannya pada Naura. "Nasi Padang dan pembalut pesanan kamu."
Naura terbelalak. "Kak." Dia malu kakaknya menyebutkan benda sensitif bagi seorang perempuan.
"Apaan sih, itu memang pesanan kamu kan? Oh iya, hari ini kamu dandan yang cantik ya, kita akan bertemu dengan seseorang untuk membicarakan sesuatu." Aditya bicara tapi mata melirik Azriel.
Pria itu langsung mendongak. "Sesuatu?"
"Emangnya kita mau kemana?" Naura terlihat cuek, ia tidak menyapa Azriel ataupun Khanza.
"Menentukan per ..."
"Naura, mau kah kamu menikah denganku?" tiba-tiba Azriel memotong ucapan Aditya. Dia langsung berjongkok menekuk satu lututnya dan yang satunya berada di tanah. Dia mengulurkan tangannya sambil memegang sesuatu.
Khanza menepuk jidatnya, "Kak, itu bukan cincin. Itu duit."
__ADS_1
"Eh!" Azriel melihat tangannya. "Salah ambil." Lalu dia menukar kembali uang itu ke dalam sakunya dan mengeluarkan cincin entah milik siapa.
"Kamu mau kan nikah sama aku?"
Naura mematung, ia tidak percaya pria itu nekat melamarnya. Sekian lama tidak bertemu sekali bertemu bilang begini. Antara haru, bahagia, bingung, semuanya bercampur menjadi satu. Ia tidak pernah menyangka kalau Azriel akan datang melamarnya seperti yang dulu ia inginkan. Namun, sekarang dia tidak mungkin begitu saja menerima pinangan itu karena ada seseorang yang harus ia mintai persetujuan.
"Hei, enak banget kamu melamar adikku setelah apa yang kamu dan nenekmu lakukan padanya." Aditya berdiri di hadapan Naura menghalangi Azriel.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, itu memang kesalahan nenek. Ayolah, restui aku dengan Naura." Azriel berdiri.
"Tidak akan! Naura sudah di lamar orang."
"Apa?! Kapan? Siapa? Kok aku tidak tahu, kak?" Naura terkejut, soalnya tidak ada pria yang melamar dia dan datang ke rumah.
"Kakak." Naura semakin bertambah terkejut. Dia tidak mau menikah dengan orang yang tidak ia cintai dan juga tidak ia kenal.
"Beri aku kesempatan untuk menikahi dan membahagiakan Naura."
"Siapa yang akan menikah," ujar Genta keluar dari rumah.
"Om," Azriel cepat-cepat menyalami papanya Naura begitu dengan Khanza namun tidak menyentuh kulitnya.
"Ada apa kalian berdua datang kesini? sepertinya penting sekali," kata Genta heran ada dua anak muda berkunjung ke rumahnya. Salah satunya ia tahu jika pria itu pernah berada di rumah sakit.
"Kedatangan kita ke sini ingin meminta Om untuk tidak menikahkan Naura dengan orang lain. Aku mencintai dan aku akan menikahinya. Kalau perlu hari ini juga aku bersedia menikah dengannya."
__ADS_1
"Menikah hari ini?!" Naura dan Genta terkejut.
"Iya, aku mau menikahi Naura hari ini juga, tapi aku mohon batalkan perjodohan yang kalian rencanakan," kata Azriel meminta dan bertekad menikahi Naura tanpa kehadiran orangtuanya dan neneknya.
"Hari ini?!" keduanya semakin terkejut.
"Om, tolong bantu aku mengatur semuanya. Hanya Om yang bisa membantu ku saat ini. Aku tidak mau kehilangan Naura lagi, aku sangat mencintainya, Om." Azriel serius memohon, ia tidak peduli dengan yang lain. Tujuannya ke sana memang untuk membatalkan perjodohan yang akan Naura terima.
Genta dan Aditya saling pandang. "Apa alasanmu ingin menikahi Naura sedangkan kamu tahu kalau Naura itu tidak sempurna. Punya masa lalu, dan pastinya bukan istri idaman?" tanya Genta ikut serius.
"Pertama karena aku mencintainya, kedua aku tidak mau berpisah dengannya, dan ketiga dia jodoh yang Allah kirimkan untukku. Untuk masa lalunya insyaallah aku akan menerimanya, masalah sempurna atau tidaknya aku akan tetap menerima karena aku juga tidak sempurna. Justru dengan ketidaksempurnaan itu aku akan menjadi penyempurna dalam hidupnya," jawab Azriel begitu serius.
"Kamu yakin ini alasannya?"
"Bagiku tidak ada alasan dalam mencintai seseorang. Cinta sesungguhnya tidak memerlukan alasan. Cinta itu perasaan dalam hati yang tidak bisa dilukiskan lewat kata-kata yang diciptakan manusia. Aku tak punya alasan kenapa aku mencintainya. Hanya satu yang aku tahu, aku bahagia saat bersamanya. Aku mencintainya tanpa tahu siapa dia, dari mana itu berasal, dan tidak peduli masa lalunya. Aku hanya mencintainya tanpa syarat, aku mencintainya seperti ini karena aku hanya merasa sangat nyaman saat bersamanya." Azriel berucap sambil menatap serius Genta dan beralih menatap wanita pujaannya.
Naura sudah tak mampu membendung air mata haru atas ucapan Azriel yang terdengar serius.
Genta sendiri terdiam tak bisa berkata saat melihat sorot mata ketulusan penuh cinta di mata anak pemuda itu. Padahal Azriel belum tahu Naura yang sebenarnya. Tapi, Azriel menerima Naura dengan segenap hati dan jiwanya.
"Seandainya saya tidak menerima kamu, bagaimana? Seandainya Naura sudah menikah bagaimana?"
Deg.
Azriel terdiam. Benarkah Naura sudah menikah? Begitu pikirnya.
__ADS_1