
...Lebih baik saya diam daripada bicara saya melukai hati anda...
...Rendi...
...^...
...^...
...^...
Syafa menatap ke arah dua manusia didepannya, Freya hanya diam ia menunduk mempermainkan jarinya.
"Jadi kenapa dengan kalian!" ucap Syafa menatap mengintimidasi pada dua orang tersangka, Andra dan Rendi.
"Gue gak tau dia dateng-dateng mukul gue, ya gue gak terimalah gue pukul balik dia dikira muka gue gak sakit apa dia pukul," sinis Rendi.
Andra menatap tajam pada Rendi. Syafa ganti menatap galak pada Andra, mendengar cerita Freya tadi rasanya saat ini juga Syafa ingin mencakar wajah Andra.
"Dan Lo gak ada pembelaan atas apa yang Rendi bilang?" cetus Syafa.
"Saya ada masalah pribadi sama Rendi yang anda tidak perlu tahu!" ucap Andra tajam, ia menatap kesal pada Syafa.
"Kalau emang pribadi ya gue bisa pergi tapi gue harap Lo jujur sama Freya, apa dia juga gak boleh tahu! dia istri Lo ya kali gak boleh!" sindir Syafa.
"Fa, udah." Freya menarik tangan Syafa agar menghentikan semua ini.
Freya enggan menatap ke arah Andra sebenarnya ia ingin bertanya kenapa suaminya tidak berangkat.
"Kalian berdua bisa pergi! saya pingin ngomong berdua sama Freya." Andra menatap tajam pada Syafa dan Rendi.
"Kenapa harus pergi? selesaikan disini apa sangat privasi," sinis Rendi.
"Tau batasan Tuan Rendi, anda hanya bawahan dan saya Tuan anda. Apakah anda lupa, atau saya sering membiarkan anda berlaku tidak sopan sehingga anda makin menjadi seperti ini!" sinis Andra.
Rendi terkekeh ia menatap tajam pada Andra. "Dengan senang hati saya akan keluar dari kantor anda Tuan Andra yang terhormat."
"Baguslah agar saya tidak mempekerjakan pengkhianat sepertimu."
__ADS_1
"Pengkhianat berucap pengkhianat, wah lucu sekali!" kekeh Rendi, ia menatap sinis ke arah Andra lalu ganti menatap Freya.
"Yang baik belum tentu baik, harus perlu waspada baik didepan belum tentu baik dibelakang," ucap Rendi lalu pergi dari sana dengan menggandeng tangan Syafa.
"Lepasin! ngapain Lo narik tangan gue sih!" cetus Syafa. Rendi menatap datar pada Syafa, gadis cerewet dan menyebalkan.
"Apa anda tidak dengar? jika mereka ingin berbicara berdua apa anda ingin menjadi setan diantara mereka?" ucap Rendi dengan bahasa formal.
"Aneh, tadi ngomong pake gue elu sekarang pake saya anda. Gak usah sok Lo jijik gue!" Syafa menatap tajam pada Rendi entah kenapa ia selalu merasa sensi dengan cowok itu.
"Lebih baik saya diam daripada bicara saya melukai anda." Rendi tersenyum manis senyuman yang tidak pernah Syafa lihat ia memakai kembali kaca mata hitamnya. Duh damage nya, bikin Syafa melting saja.
"Manis sekali senyuman tuh cowok, damage nya calon imam." Syafa nampak melting dengan pesona Rendi, tidak sadarkah jika Rendi mendengarnya.
"Pesona gue emang gak ada yang bisa nolak kecuali dia!" ucap Rendi sedikit keras lalu melajukan mobilnya.
"Rendi kampret! dari tadi tuh bocah masih disitu! ya Allah mau taruh mana nih muka bisa besar kepala tuh cowok sableng!"
.
"Mau bicarain apa lagi sih mas, Freya kan udah sering ngomong ke emas. Kalau Freya gak mau bicara sama mas sebelum bukti itu ada!" setelah berucap itu Freya langsung pergi dari hadapan Andra namun berhasil dicegah oleh cowok itu.
"Lepasin mas! kalau mas gak bisa lakuin ini seharusnya waktu mas mau selingkuh dari aku. Mas inget sama aku mas nggak akan tega buat khianati aku! nyatanya itu semua nggak terjadi mas lebih memilih bersenang-senang dengan wanita lain sedangkan aku mikirin emas dirumah takut mas kenapa-napa tapi apa ternyata mas lagi main sama cewek lain." Freya mengusap setitik air mata yang mengalir ia melepas paksa tangan itu.
"Bersikaplah seperti orang asing padaku sampai bukti itu ada." Setelah mengucap itu Freya langsung pergi dari kantor Andra.
Andra mengusap wajahnya kasar, sampai kapan ia bisa bersikap asing pada Freya. Ia tidak akan pernah bisa, secepatnya bukti itu akan ia cari.
"Bagaimana apa kamu sudah menemukannya?" tanya Andra pada sambungan telpon.
"....."
"Kerja bagus! setelah ini saya akan kesana!" Andra tersenyum senang. Sebentar lagi Frey, sebentar lagi bukti itu akan aku bawa kepadamu! batin Andra.
Andra memasuki sebuah gedung yang sudah usang, sepertinya gedung itu sudah lama tidak digunakan.
Andra berjalan dengan wajah dinginnya para orang berbadan besar lengkap dengan pakaian hitam-hitam, menyambut kedatangan Andra dengan menunduk.
__ADS_1
"Dimana wanita itu dan bukti apa yang kau dapat?" Andra melepas kaca mata hitamnya ia menatap tajam pada anak buahnya, wajahnya yang dingin membuat mereka semua menunduk takut pada Andra.
"Wanita itu ternyata sedang tidak mengandung Tuan, dia berbohong. Sudah diperiksa oleh dokter secara langsung dan ada surat pembuktiannya juga itu bisa Tuan jadikan bukti penjelasan kepada istri Tuan dan penjelasan dari dokter tadi juga saya rekam saat dia memeriksa wanita itu."
"Kerja bagus! sekarang dimana wanita itu!" Andra berjalan dengan diiring anak buahnya, disebuah ruang kosong yang sangat gelap dan pengap.
Terdapat seorang wanita yang tengah terikat disebuah kursi, wajahnya tertutupi oleh rambut hitam panjangnya.
"Dia tertidur karena pengaruh obat Tuan!" jelas anak buah Andra.
Andra mengambil air dari anak buahnya ia mendekati tempat Farah diikat. Andra tersenyum miring dia Bernai menganggu rumah tangganya maka bersiaplah untuk berhadapan dengan Andra Stevano!
Byur!
Andra menyiram rambut Farah dengan air itu membuat wanita itu gelagapan dan terbangun.
"A-andra," ucap Farah terbata, ia nampak takut saat melihat mata iblis Andra.
"Sudah bangun tuan putri," sambut Andra dengan senyum miring dibibirnya. Andra nampak seperti iblis senyuman dan matanya sangat mengerikan membuat bulu kuduk Farah meremang ia juga sangat takut melihatnya.
Andra menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Farah, lalu tersenyum miring.
"Inikan yang anda mau, gimana? udah puas main-main nya, seneng lihat gue hancur. Hm...?"
"Le-lepasin aku Andra, lepasin aku! Aku janji nggak akan ganggu kamu sama keluarga kamu lagi. Maafin aku," Isak Farah.
"Terlambat Farah Anandita, anda sudah memilih bermain-main dengan saya jadi terima akibatnya!"
"Kehancuran sedang menantimu, kebusukan mu sebentar lagi akan terbongkar."
"Anak haram dari bapak Hutomo, menjual tubuh demi menjadi modeling, dan tubuh operasian-!!"
"Nggak nyangka aja tubuh molek bak model ini hasil operasi, haha buat apa coba. Dan bodohnya saya tergoda sama cewe murahan seperti anda-!!"
"STOP-!!" teriak Farah, ia tidak siap jika semuanya terbongkar ia tidak siap jika semuanya akan hancur, semua itu ia bangun dengan susah payah dan Farah tidak ingin semua itu hancur.
"Anda punya dua pilihan, pilihan pertama mati dengan pistol atau pilihan kedua mati perlahan karena tekanan batin yang akhirnya anda sendiri yang akan bunuh diri!" sinis Andra.
__ADS_1
.
Lanjut gak? Kalau lanjut like sama votenya jan lupa lahhh, rate juga favorit harus!