Ketulusan Cinta Freya

Ketulusan Cinta Freya
Sedikit Curiga


__ADS_3

Hari masih sangat pagi namun Freya sudah rapi dengan pakaiannya, hari ini hari pertama masa koas nya.


Ia akan koas di rumah sakit kasih bunda bersama Tania. Masih ingat Tania bukan? dia sahabat karib Freya dia juga mempunyai impian sama dengan Freya menjadi dokter spesialis.


"Mas bangun ih! ayo sarapan bareng aku udah mau berangkat koas loh!" Freya menggoyangkan lengan suaminya yang masih nyaman dengan selimutnya.


"Mas Andra. Aku makan sendiri nih! Yaudah kamu nggak bangun-bangun!" kesal Freya ia menghentakkan kakinya kesal saat ia akan keluar tubuhnya terdiam saat merasakan pelukan dari belakang dan hembusan nafas seseorang dilehernya.


"Pagi banget sih berangkatnya!" ucap Andra dengan suara seraknya.


"Iyalah kan ini hari pertama aku kerja eh koas maksudnya, sama aja sih koas sama kerja!" Freya membalikkan tubuhnya melingkarkan tangannya pada leher suaminya.


"Beda lah koas itu nggak di gaji, cuma bantu-bantu doang sekaligus belajar!" Andra mencium bibir ranum itu, ia sedikit memberi jarak takut melukai buah hatinya.


Perut Freya memang masih belum terlihat jika hamil, karena kandungannya yang masih dua bulan.


"Udah! ayo sarapan aku udah mau berangkat nih!" Freya menarik tangan suaminya berjalan menuju meja makan.


"Masakan siapa?" tanya Andra di meja makan saat ini tengah banyak masakan dengan berbagai macam makanan.


"Masakan aku lah," ucap Freya. Ia mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Jangan terlalu cape!"


"Nggak cape sayang. Kalau capek aku juga bakal istirahat, tenang aja oke!"


Mereka berdua makan bersama dengan tenang tidak ada yang bicara meskipun terkadang Freya yang banyak mengoceh.


"Makan dulu jangan bicara!" tegas Andra.


Freya tengah menyelesaikan makannya ia melihat jam yang menunjukkan pukul set tujuh.


"Aku berangkat dulu ya mas, keperluan kamu udah aku siapin cepet mandi jangan sampai telat ke kantornya!" Freya berdiri mencium wajah suaminya lalu menyalami nya.


"Hati-hati." Andra mencium kening istrinya lama, rasanya ia tidak ingin melepas Freya. Ia memeluk istrinya erat tidak ingin melepasnya.


"Udah ih aku udah mau berangkat nih!" ucap Freya.


"Assalamualaikum suamiku!"


.


"Hari ini Freya mulai koas!" ucapan itu mengalihkan atensi Arga kepada lawan bicara.


"Kok Lo baru ngomong! dimana?" Arga menatap Rendi, mungkin dia mengatakan akan mengikhlaskan Freya tapi dia tetap akan memantau dan menjaga wanita itu.


"Rumah sakit kasih bunda. Rumah sakit Lo, kalau Lo inget!" balas Rendi.


Rumah sakit kasih bunda adalah rumah sakit milik keluarga Arga. Mungkin Freya tidak tahu jika itu milik keluarga Pramudya.

__ADS_1


"Bagus. Katakan pada mere---"


"Jangan! Freya gak mau di istimewa kan. Dia pingin berjuang buat dapatin impiannya, maka dari itu dia koas di rumah sakit itu mungkin dia gak tau kalau itu punya keluarga Lo, kalau dia tau mungkin dia gak bakal koas disana."


"Bukannya Andra juga punya rumah sakit?"


"Hm. Tapi Freya gak mau karena dia takut di istimewa kan!"


"Kok Lo tau?"


"Apa yang nggak gue tau?" sombong Rendi.


Arga menatapnya malas, lantas ia menghubungi tangan kanannya yang mengolah rumah sakit itu.


"Hallo."


"..."


"Apa ada anak koas yang bernama Freya?"


"..."


"Baiklah. Pantau dia terus! tapi jangan sampai membuatnya curiga."


"..."


Sambungan terputus, Arga memejamkan matanya dengan bibir tersenyum entah mengapa ia merasa takdir selalu mendekatkan dirinya dengan Freya.


"Gue mau ke rumah sakit entar."


"Janganlah bego! kalau Freya tahu Lo yang punya tuh rumah sakit gue jamin besoknya dia keluar!"


"Kenapa?"


"Pake nanya lagi! udahlah males gue jelasinnya. Intinya Lo jangan kesana!"


Rendi berjalan pergi meninggalkan ruangan Arga ia akan berangkat kerja ke kantor milik Andra.


Di pertengahan jalan Rendi berpapasan dengan Syafa ia menatap tak suka pada wanita itu.


Jalang! batin Rendi.


"Selamat pagi pak Rendi," sapa Syafa dengan wajah terpaksa tersenyum. Rendi tak membalas melirik sekilas dengan pandangan meremehkan lalu berjalan masuk kedalam.


Syafa mengepalkan tangannya ia kesal dengan sikap Rendi yang sok menurutnya. Syafa berjalan dengan sedikit kesal masuk kedalam ruangannya dengan wajah yang tertekuk.


Ponsel milik Syafa bergetar ia segera melihat ternyata ada panggilan dari seseorang--- Freya.


"Hallo Frey, kenapa?"

__ADS_1


"Hai Syafa. Elah lama nggak ketemu!" seseorang menyahut dari sana nampak dua orang wanita menatap sumringah kearahnya.


Saat ini mereka tengah memanggil Vidio membuat satu sama lain dapat melihatnya.


"Ada apa nih tumben nelpon, terus kalian lagi dimana?"


"Kita lagi dirumah sakit, hari ini hari pertama kita koas. Lo sih gue ajak nggak mau kan sayang gelar sarjana Lo yang kemarin, buang uang banget!" ucap Tania, Freya hanya diam berada disamping Tania entah mengapa ia merasa ganjal dengan Syafa.


"Gue males udah dapat kerjaan juga!" ucap Syafa terdengar candaan.


"Gila lu beda banget sekarang Fa, makin dewasa aja. Sejak kapan Lo pake make up tambah cantik aja nih orang kantoran!" kekeh Tania.


Ya Freya juga merasakan itu, sejak kapan Syafa memakai make up padahal dulu wanita itu sangat tidak suka berias namun sekarang, bahkan baju yang Syafa kenakan sangat ketat menurut Freya tidak biasanya.


"Kenapa Frey diem aja?" Tania menyenggol lengan sahabatnya.


"Eh nggak papa!" itu perkataan mereka yang terdengar ditelinga Syafa.


"Eh udah dulu ya! semangat kerjanya Syafa!" ucap Freya, setelah mendapat balasan dari empunya ia langsung mematikan ponselnya.


Entah kenapa ia merasa sesak merasakan firasat tidak enak. Namun secepatnya ia tepis pikiran buruk itu, tidak mungkin.


"Kenapa Frey?" tanya Tania merasa beda dengan Freya.


"E-enggak papa, ayo masuk!" ajak Freya.


"Syafa sekarang beda ya," ucap Tania. Freya menoleh lalu mengganguk benar perasaan kemarin-kemarin dia bertemu Syafa tidak sepeti itu.


"Iya."


"Syafa kerja di perusahaan laki lo kan?" tanya Tania, lagi-lagi Freya hanya mengganguk ia seperti hilang semangat untuk bicara.


"Freya, Lo ngerasa aneh?" Tania memegang lengan sahabatnya, ia juga merasa aneh. Bukan apa-apa Tania juga sudah berumah tangga bahkan lebih lama dari Freya ia juga sudah memilik anak sekarang.


"Mungkin sedikit," balas Freya.


"Disini siapa yang nggak Lo percaya, sahabat Lo atau suami Lo!"


"Nggak tau, mas Andra suamiku nggak mungkin dia khianati aku dan Syafa dia sahabat baik aku nggak mungkin juga. Mungkin cuma perasaan aku."


"Jaman sekarang nggak ada yang bisa dipercaya selain diri kita sendiri Frey. Jangan mudah percaya sama orang kalau Lo nggak mau kecewa diakhir."


"Maksud kamu?"


"Wajar? karyawan kantor berpenampilan seperti itu, baju ketat dan lihatlah tadi riasan wajahnya seperti lon--- ups maaf!" kekeh Tania.


"Jangan gitu ih, Syafa kan sahabat kita nggak mungkin juga dia kayak gitu."


"Nggak ada yang nggak mungkin Freya, hati-hati aja. Sekarang nggak ada yang bisa Lo percaya selain diri Lo sendiri."

__ADS_1


.


Masih pemanasan sebelum panas, konflik akan dimulai besok ya... like, hadiah, and vote Jan lupađź’•


__ADS_2