
Andra menangis saat menatap wajah bayi nya, ini bayi yang dulu ia nanti kelahirannya, ini bayi yang selalu minta hal aneh padanya, ia rindu itu semua dulu saat bayi ini masih dikandungan, bayi yang meminta nya untuk memasak makanan untuk Freya, tapi karena kesalahannya ia harus terpisah oleh malaikat kecil ini.
"Anak papa." air mata Andra mengalir, hatinya sangat sakit saat melihat anaknya lahir tanpa dirinya disampingnya.
"Papa sayang sama kamu, suatu saat nanti jika kamu sudah dewasa jika kamu sudah tahu semuanya tahu perbuatan bejat yang papa lakukan yang membuat mama pergi dari papa dan yang membuat kita berpisah. Papa mohon jangan pernah benci papa, papa sangat menyayangi mu papa sangat sayang sama kamu."
Andra mengusap air matanya lantas menoleh kearah Freya. "Boleh aku gendong?" tanyanya yang langsung dapat anggukan dari Freya, Freya pun sedih melihat itu semua andai suaminya tidak mengkhianati dirinya mungkin saat ini mereka tengah bahagia tapi Freya sadar itu semua takdir memang dirinya tidak ditakdirkan bersama Andra, danĀ sekarang Tuhan mengirimkan Arga, lelaki baik yang sangat menyayangi dirinya dan anaknya.
Hati Andra bergetar saat menggendong bayi mungil itu. Air matanya kembali mengalir, hatinya sangat sakit ia sangat sangat menyesal.
Andra mengecup kedua pipi anaknya, ia mencium lama tepat di kening putranya. "Papa sayang sama kamu, jagain mama jangan jadi lelaki seperti papa. Kamu lelaki baik kamu akan menjadi pahlawan untuk mama, maafin papa sayang."
Lalu Andra menidurkan kembali putranya pada ranjang bayi. Ia berjalan kearah Freya yang saat ini menatap teduh kearahnya namun ia sama sekali tidak melihat pancaran cinta dari Freya, mungkinkah dia sudah melupakan nya? jika ia itu bagus karena lelaki brengsek sepertinya tidak pantas dicintai begitu tulus oleh wanita baik seperti Freya.
"Maafin aku Frey, sampai sekarang aku masih dihantui rasa bersalah sama kamu. Maaf karena aku selalu memberikan luka pada hatimu maaf jika aku terlalu sering mengecewakanmu."
"Aku ingin bicara berdua sama mas Andra boleh?" tanya Freya.
Arga mengganguk lantas pergi begitupun Syafa, Andra lantas duduk ditempat Arga tadi.
"Frey jika aku masih berharap kita akan bersama apakah itu mungkin? sampai sekarang aku masih mencintaimu sampai sekarang bahkan rasa itu tetap sama seperti awal kita bertemu. Aku emang brengsek Frey tapi cinta aku ke kamu sama tulusnya sama cinta kamu ke aku. Sifat ku memang buruk dan aku nggak pernah bisa merubah semua itu." Andra menatap dalam mata itu ia menangis dihadapan Freya, ia begitu lemah dihadapan Freya.
"Mas aku emang udah maafin kamu tapi bukan berarti kita bisa kembali bersama. Aku masih ingat semua yang kamu lakukan sama aku. Memaafkan bukan berarti melupakan bukan? lagian kita sudah memiliki kehidupan masing-masing mas. Kamu sudah punya Syafa dan kalian udah nikah sebentar lagi Syafa juga bakal melahirkan bukan? melahirkan anak kamu mas bukan anak orang lain."
"Tapi Frey---"
"Sebentar lagi aku dan Arga juga akan menikah!"
Deg!
Sebentar lagi aku dan Arga juga akan menikah!
Hati Andra seperti dihantam balok yang besar, hatinya sakit saat mendengar ucapan Freya dan itu bukti jika selama ini ia masih sangat mencintai Freya sedangkan untuk Syafa? ia tidak mengerti sepertinya tidak ada sedikitpun cinta untuknya yang ada hanya kebencian.
Andra diam setelah mendengar ucapan Freya ucapan yang akan ia ucapkan tadi ia telan kembali.
"Mas aku mohon terima Syafa di hidup kamu bagaimanapun juga kalian udah menikah. Kamu sama Syafa sebentar lagi akan menjadi orang tua, jangan seperti ini mas."
"Aku nggak bisa Frey! aku nggak cinta sama dia," ucap Andra lirih.
__ADS_1
"Buka hati kamu buat Syafa mas, perlahan cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kalian selalu bersama, hidup bersama benarkah tidak ada sedikit saja rasa cinta itu walau hanya sedikit?"
"Nggak ada Freya. Karena cinta aku sepenuhnya milik kamu." Andra menjawab dengan tegas.
"Aku harus ngomong kayak gimana mas supaya kamu ngerti, kita udah nggak lagi bisa bersama mas. Kita udah punya kehidupan masing-masing, kamu dengan Syafa dan aku dengan Arga. Aku yakin mas kita bisa sama-sama bahagia dan aku mohon rubah sifat buruk kamu, jangan sampai kesalahan itu terulang untuk kedua kalinya, Syafa orang baik mas dia jahat karena dia dibutakan oleh dendam."
"Aku harus ngomong kayak gimana Frey sama kamu kalau sampai kapanpun aku nggak akan bisa cinta sama dia, karena kebencian itu terlalu dalam untuknya."
"Jangan menyimpan benci pada orang lain mas! berdamai lah dengan masa lalu maka kebahagiaan akan datang menghampirimu. Aku juga tidak melarang untuk mas Andra bertemu sama baby. Bagaimanapun juga mas Andra ayah biologisnya."
"Siapa namanya?" tanyanya dengan pandangan kearah ranjang baby.
"Andreas Jonathan Stevano."
"A-andreas."
"Kamu mau siapa nama baby kita nanti mas?" Freya bersender di dada Andra dengan memakan mangga muda.
"Maunya siapa?"
"Aku tanya kok bales nanya sih!" kesal Freya, ia bangkit dari tidurannya menatap kesal pada Andra.
"Andreas."
"Andreas?" beo Freya.
"Nama anak kita Andreas, Andre Andra, namanya sama kayak aku."
"Bagus!" ucap Freya senang.
Mata Andra kembali berkaca saat mengingat kejadian itu, Andreas adalah nama yang ia pilihkan untuknya dan sekarang Freya memberikannya.
"Kamu ngasih nama dia itu?" ucap Andra sendu.
"Iya nama yang kamu pilih. Pasti baby senang karena namanya ayahnya sendiri yang memberi." Freya tersenyum begitu tulus membuat rasa bersalah semakin besar di hati Andra.
"Aku benar-benar menyesal Freya, aku minta maaf. Aku emang nggak pantes buat kamu Arga yang terbaik buat kamu. Bahagia selalu Freya, baby pasti bangga bisa lahir dari rahim wanita mulia seperti kamu."
Arga masuk keruangan dengan wajah datar ia menatap Andra yang masih diam disana. "Syafa masuk UGD dia mengalami pendarahan."
__ADS_1
Semua orang terkejut saat mendapat kabar dari Arga, raut wajah Andra menjadi cemas ia lantas keluar setelah berpamitan pada Freya.
"Ga aku mau---"
"Mau kemana? udah sini aja kamu masih belum pulih. Lagian kamu mau ninggalin baby sendiri? masih kangen sama mantan suami kamu itu." Arga berucap dengan raut wajah kesal.
Freya bukannya marah malah tertawa bahkan matanya sampai menyipit sangking lebarnya ia tertawa.
"Kamu cemburu?" ucap Freya menoel pipi Arga.
"Nggak."
"Hm bilang aja kali kalau kamu cemburu?" ledek Freya.
"Mana ada aku cemburu," elak Arga.
"Kok cemberut gitu?" kekeh Freya.
Andra tersenyum paksa memperlihatkan gigi rapinya dengan ekspresi datar membuat tawa Freya kembali pecah.
"Lucu banget sih muka kamu kalau lagi cemburu!" kekeh Freya.
"Nggak ada yang cemburu Freya. Lagian kamu ngomongin apa sih sama dia sampai kayak nya privat banget, berduaan, udah lama banget lagi. Betah banget kayaknya sama mantan suami tercinta."
"Tuh kan kamu kelihatan banget kalau lagi cemburu. Arga lihat aku!" Syafa menangkup kedua pipi Arga seperti biasa Arga lakukan padanya.
"Aku cuma sayang sama kamu. Aku tadi coba jelasin sama mas Andra kalau kita berdua udah nggak lagi bisa bersama dan jelasin ke dia agar buka hati buat mencintai Syafa, dan kamu lihat kan tadi mas Andra cemas banget saat denger Syafa pendarahan itu artinya ada rasa cinta di hati mas Andra buat Syafa walaupun dikit."
"Aku Freya Velicia Chesa sangat menyayangi dan sangat mencintai tuan Arga Ramatha Pramudya. Paham!"
Arga memalingkan muka karena salting dengan ucapan Freya, hatinya yang tadinya kesal sekarang nampak berbunga-bunga.
"Salting nih orangnya!" goda Freya kembali, Arga ganti menangkup kedua pipi Freya matanya menatap dalam kedua netra hitam itu.
Mata Freya terpejam saat tahu apa yang akan Arga lakukan, jantungnya berpacu lebih cepat, kurang sedikit bibir mereka menyatu tapi---
Oek oek oek
Baby Nathan pun menangis! Yah gagal?! Freya tersenyum malu sedangkan Arga Langsung cekatan menggambil Nathan dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Ganggu aja anak papa."