
Yuhuu part yang kalian tunggu-tunggu 😠nggak tau ending nya kek gimana.
"Gimana dengan Freya?" Arga menatap datar wanita di depannya, wanita itu tersenyum lalu mengacungkan jempolnya.
"Aman. Kamu tenang aja aku udah anggap dia sebagai adik aku sendiri, lagian percaya aja sama kakak kamu ini."
"Hm."
"Aku mau tanya?" ucap wanita itu.
"Hm."
"Freya kan udah punya suami terus kenapa kamu nyuruh aku jagain dia? kamu suka sama dia? atau--- kamu!"
"Gak usah mikir yang enggak-enggak tugas kakak cuma jagain dia. Berikan yang terbaik buat dia! aku emang sayang sama dia dan salah kalau aku jagain dia? lagian suaminya nggak becus jagain wanitaku."
"Hari ini Freya USG." Arga menatap tajam wanita didepannya. Merasa tidak terima karena dia tidak mengetahui itu semua.
"Kenapa nggak ngasih tau? dimana?" tanya Arga.
"Di rumah sakit dia koas, cuma tadi dia pergi dulu nggak tau mau kemana terus aku ketemu sama kamu disini mungkin sekarang dia udah ada di rumah sakit."
"Kak Mici. Aku kan udah bilang sama kakak kasih tau semua tentang Freya, kenapa kakak nggak ngomong dari awal. Aku kan juga pingin tahu pertumbuhan anak aku."
Michelle--- dokter cantik itu yang saat ini tengah Arga temui kakak sepupunya.
"Anakmu? nggak salah denger kan aku. Emang itu anak kamu beneran?" tanya Michelle ragu.
"Ayah biologis nya emang bukan aku tapi aku bakal jadi ayah sambung buat dia. Udah aku mau lihat kondisi anak aku dulu!" setelah mengucap itu Arga langsung meninggalkan Michelle sendiri yang saat ini tengah melonggo mendengar penjelasan Arga.
"Se pede itu dia mengatakan akan menjadi ayah sambung untuk bayinya Freya, gue yakin nih anak tiap hari doa untuk perceraian Freya, emang sinting tuh anak kok bisa gue punya adik sepupu kayak dia!" ucap Michelle geleng-geleng.
.
Arga yang baru sampai langsung memasuki tempat USG waktu itu namun disana ia hanya melihat Dokter Risa saja tidak dengan Freya.
"Dokter..." ucap Arga.
__ADS_1
"Eh tuan Arga. Ada yang bisa saya bantu?"
"Pasien bernama Freya dimana? dia udah kesini kan?" tanya Arga beruntun ia merasakan firasat yang buruk entah kenapa ia kepikiran Freya terus.
"Baru aja pergi, katanya sih mau ngasih kejutan buat suaminya. Saya pikir suaminya---" ucapan Dokter itu terhenti saat Arga langsung pergi meninggalkannya.
"Kantor Andra!" ucapnya ia langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Parker--- perusahaan milik Andra.
.
Syafa datang ke perusahaan dengan wajah yang nampak segar wajah kacau itu telah ia tutup dengan riasan sehingga wajahnya nampak segar saat ini, ia baru saja dari rumah sakit dan benar--- dia tengah mengandung saat ini.
Usia kandungannya sudah berjalan dua bulan, selama itu dan dia tidak mengetahuinya.
Wanita cantik itu berjalan menuju ruangan Andra, ia tidak memperdulikan tatapan tak suka yang dilayangkan Rendi padanya.
"Selamat siang tuan Andra," sapa Syafa dengan senyuman manis.
"Ada apa anda kemari! kita sudah tidak ada urusan! pergilah! jangan menggangu saya!" usir Andra.
"Sampai kapan pun kita nggak akan pernah bisa terputus tuan Andra, hubungan itu masih berlanjut anda tidak bisa memutuskan sepihak.
"Aku rindu belaian mu sayang!" ucapnya dengan suara seksi.
"Pergilah Syafa!" ucap Andra tegas.
"Tidak bisa. Mana mungkin aku pergi dari kehidupanmu, kau tidak bisa pergi dari hidupku ada hal yang membuat kita akan selalu terikat."
Syafa duduk dipangkuan Andra ia mengalungkan tangannya pada leher Andra, ia menatap dalam mata itu.
"Seperti waktu itu, awalnya kau menolak ku namun akhirnya kau menerimaku dan saat ini pun sama kau memang menolak tapi tubuhmu menginginkan aku bukan!" ucap Syafa dengan seringai.
Jari lentiknya meraba wajah Andra, turun sampai tepat di dada Andra dia melepas satu persatu kancing di baju pria itu tidak perduli dengan tempat mereka saat ini.
Syafa mulai mencium bibir Andra ia seolah membangkitkan nafsu Andra, tidak perduli dengan tempat wanita itu terus melancarkan aksinya.
Aku hamil maka kau harus hancur!
__ADS_1
Andra menjauh lantas mendorong tubuh Syafa. "Hentikan perbuatan gila mu ini Syafa!" sentak Andra.
Syafa berdiri lantas tersenyum kearah Andra. "Aku tidak gila sayang! jangan munafik kau juga menginginkan tubuhku bukan. Baiklah ayo aku kasih semau mu!" ucap wanita itu.
Ia kembali mendudukkan tubuhnya pada pangkuan Andra, ia raba wajah itu dengan cari telunjuknya dan berhenti tepat dibibir Andra ia mengusap bibir itu dengan ibu jarinya.
"Jangan munafik sayang! katakan jika kau menginginkan tubuhku. Bukankah selama ini istrimu juga tidak mengetahuinya maka ayo kita teruskan saja! sampai kapan pun istrimu tidak akan tau." Syafa mencium rakus bibir milik Andra tangannya bergerak menggapai tangan Andra ia sempat membuka kancing bajunya sampai bawah membuat bajunya tersingkap dan mengarahkan tangan itu tepat di dadanya.
Licik? memang! itulah Syafa sekarang.
"Tidak usah munafik sayang! lakukan tidak akan ada yang tau!"
Ceklek
Pintu terbuka tanpa sepengetahuan mereka yang tengah asyik dengan dunianya, wanita didepan pintu itu menutup mulutnya tak percaya air mata meluruh begitu saja.
"Mas..." Freya menggelengkan kepala tak percaya dengan air mata yang mengalir deras, saat matanya dengan nyata melihat apa yang tengah dilakukan suaminya.
Hancur sudah kepercayaan itu, marah, kecewa, dan rasa tak percaya bercampur menjadi satu dihatinya. Suami yang selama ini sangat ia percaya nyatanya telah mengkhianati nya lagi!
Andra yang tengah berbuat tak senonoh itu pun terkejut saat matanya menangkap keberadaan istrinya yang sudah berlinang air mata.
"FREYA..." teriak Andra saat Freya berlari menjauh dari tempat itu. Andra dengan tergesa mengejar Freya yang tengah berlari tanpa memperdulikan jika ada nyawa lain ditubuhnya.
"Sayang aku bisa jelasin semuanya, itu semua gak seperti apa yang kamu lihat," ucap Andra saat tangannya berhasil menggenggam tangan Freya.
Freya mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya, matanya menatap tajam pada lelaki berstatus suaminya itu.
"MAU JELASIN APA LAGI MAS! AKU UDAH LIHAT SEMUANYA. AKU UDAH LIHAT! tega kamu mas, tega kamu khianati aku disaat aku hamil anak kamu!" ucap Freya lirih diakhir.
"Sayang maafin aku, aku salah aku khilaf Frey." Andra memeluk Freya yang terus berontak di pelukannya.
Freya memundurkan tubuhnya menjauh dari Andra tangannya menunjuk ke arah Andra pertanda dia tidak boleh mendekat.
"MENJAUH! JANGAN DEKET-DEKET AKU! AKU JIJIK SAMA KAMU!" bentak Freya.
"Frey..."
__ADS_1
"Kurang apa aku selama ini mas? sampai kamu tega khianati aku," isak Freya, ia kecewa pada suaminya, kepercayaan yang ia taruh sepenuhnya telah hancur berkeping-keping. Setelah melihat suaminya yang tidak malunya melakukan hal tak senonoh di kantor nya bersama sang sekertaris.
"Ceraikan aku mas!"