
Kandungan Freya tepat sembilan bulan sekarang wanita cantik itu tampak sering lelah, perutnya yang membuncit membuatnya sering kelelahan.
Hal itu juga yang membuatnya sering susah tidur, jantungan nya sering kali berdebar perkiraan dokter dua hari lagi ia akan melahirkan, hal itu membuat Freya gugup.
Ada ketakutan sendiri dihatinya, setiap malam dia akan tidur dengan sang nenek. Freya juga sering mendapat cerita dari bunda dan neneknya, sedangkan kakek Freya sudah lama meninggal.
"Kenapa belum tidur Frey?" tanya nenek. Jam menunjukkan pukul dua belas malam.
"Freya nggak bisa tidur nek," adu Freya sedari tadi ia merasa mulas pada perutnya, hilang lalu datang kembali itu yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Ada yang sakit?"
"Perut Freya dari tadi mulas nek," ucapnya dengan tangan mengelus perut buncitnya.
"Itu udah biasa sayang, itu namanya kontraksi tanda-tanda mau melahirkan," jelas nenek.
"Kamu nggak usah khawatir udah tidur dulu ya, istirahat biar nggak kecapean."
"Iya nek." Freya mencoba tidur namun sakit itu kembali mendatanginya. Mencoba tenang dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan ia lakukan berkali-kali agar mengurangi rasa sakit itu.
Freya bangkit ke kamar mandi ia jadi lebih sering buat air kecil sekarang, Freya terkejut saat di CD nya terdapat flek cokelat membuatnya takut terjadi apa-apa pada kandungannya.
"Nenek." Freya membangunkan neneknya yang tengah tidur.
"Kenapa Frey?"
"Nek Freya keluar flek kecoklatan itu nggak papa?" tanya Freya cemas.
"Nggak papa sayang, sudah kamu tidur kamu butuh istirahat yang cukup mungkin besok kamu akan membutuhkan energi yang besar," ucap nenek menenangkan meskipun terdengar ambigu ditelinga Freya.
Freya akhirnya menurut lantas tidur dengan tubuh yang terus bergerak ia masih mencari posisi yang nyaman untuknya.
Pukul tiga pagi Freya kembali terbangun saat merasakan sakit pada perutnya. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan sepertinya dia akan melahirkan. Freya membangunkan neneknya yang tengah tertidur itu.
"Nek perut Freya sakit..." rintih nya.
Nenek terbangun lantas mengeceknya. "Masih pembukaan satu," ucap nenek.
"Kamu tunggu disini sebentar nenek akan membangunkan semua orang, semua Persiapan sudah siap bukan?"
Freya mengganguk ia masih mengatur nafasnya untuk merilekskan tubuhnya dan menahan rasa sakit itu.
"Sayang kamu mau lahir ya? perut mama sakit banget kamu kuat ya sayang kamu harus lahir dengan sehat." Freya terus mengajak bicara pada anak nya dengan tangan mengusap perutnya.
Semua orang tergesa masuk ke kamar Freya terlebih Arga memang mendekati kelahiran Freya Arga ngotot tinggal disana padahal Freya sudah melarang tapi Arga tetap ngeyel.
"Freya..." panggil Arga, terlihat wajah cemas dari lelaki itu.
"Sakit?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Freya menggeleng karena rasa sakit itu telah hilang, memang begitu sakit sebentar setelah itu hilang.
"Kontraksi udah biasa kalau orang mau lahiran Ga." Freya menatap semua orang yang tengah cemas disana.
Clarita mendekat kearah anaknya lantas mengusap kepala Freya. "Sebentar lagi anak bunda akan menjadi seorang ibu," ucap Clarita dengan senyum haru air matanya ikut menetes lalu ia usap secepatnya.
"Perasaan baru kemarin bunda ngerasain sakit ngelahirin kamu tapi sekarang ganti kamu yang akan merasakan sakit saat melahirkan."
"Freya jangan takut ya sayang, melahirkan emang sakit tapi itu adalah sebuah keistimewaan kita sebagai seorang wanita, setelah kita melihat wajah anak kita lahir rasa sakit itu akan terbayar sudah dengan kebahagiaan. Dia yang selama sembilan bulan ini ada di kandungan mu sebentar lagi akan segera hadir di dunia ini."
"Freya nggak takut bund, Freya malah bersyukur karena Freya bisa diberi kesempatan untuk merasakan sakitnya melahirkan, ini nikmat yang Tuhan berikan pada Freya, dan Freya akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan anak Freya, anak yang Freya jaga selama sembilan bulan ini." Freya tersenyum tulus dengan tangan tak henti mengusap perutnya.
"Akhhh..." Freya menggenggam tangan bundanya saat merasakan kontraksi itu kembali, Clarita dengan sabar mengusap kepalanya.
"Kenapa bund?" panik Arga. "Nggak langsung dibawa ke rumah sakit aja bund?" Arga nampak panik sendiri.
"Hey Arga tenang okay. Freya nggak papa, ini biasa ini namanya kontraksi pembukaan kehamilan Freya."
Arga mendekat kearah Freya mengambil alih genggaman tangan bunda ia menggenggam erat tangan Freya lalu mengusap kepalanya ia beri kecupan dikepala.
"Mana yang sakit? apa yang harus aku lakuin biar kamu nggak kesakitan," ucap Arga lirih ia nampak sedih melihat Freya kesakitan.
"Ini udah kodrat aku sebagai seorang ibu, aku bangga bisa merasakan sakit ini kamu tahu banyak orang di luaran sana yang ingin merasakan sakit yang aku rasakan saat ini."
"Bund kapan Freya dibawa ke rumah sakit?" tanya Arga tampak frustasi.
"Nanti saja di pembukaan ke tiga," balas nenek.
"Air ketuban Freya pecah ma," ucap Clarita pada nenek.
Nenek mendekat lantas melihat ternyata Freya sudah pembukaan empat. "Ayo bawa Freya kerumah sakit dia sudah pembukaan keempat."
Arga segera menggendong tubuh Freya, ia nampak seperti suami siaga. Rangga kebagian menyetir mobil dan Arga duduk dibelakang dengan Clarita dengan nenek didepannya bersama Nanda dan Gio yang berada disamping Rangga.
Freya menyenderkan punggungnya pada senderan mobil, punggungnya terasa sakit, kontraksi itu sudah mulai hilang ia bisa bernafas dengan lega namun jarak lima belas menit kemudian kontraksi itu kembali muncul.
Ia mencengkram tangan Arga disampingnya Arga dengan telaten terus menggenggam tangan Freya tangannya tak berhenti mengusap kepala Freya.
Tangan Arga terulur mengusap perut Freya ia menunduk mencium perut buncit itu sembari membisikkan.
"Jagoan papa mau lahir ya? jangan sakiti mama ya sayang kasihan mama. Kamu harus lahir dengan sehat, jagoan papa kan kuat."
Ajaib rasa sakit itu perlahan hilang, Arga memberi kecupan pada kepala Freya lalu turun pada kening Freya.
"Mama kuat, mama pasti bisa. Bertahan ya ma buat baby sama aku, I love you sayang." Arga berucap dengan tulus membuat air mata Freya mengalir ia bersyukur bisa dicintai begitu tulus oleh Arga.
"I love you too Ga," balas Freya dengan senyuman, mereka tidak perduli dengan banyaknya orang atau kondisi saat ini.
Arga tersenyum lantas mengusap air mata Freya, mobil berhenti mereka sudah sampai dirumah sakit. Dokter dan suster pun sudah siap disana, Arga segera menggendong Freya lalu membaringkannya pada brankar dan mendorongnya menuju ruang rawat, Freya tidak langsung dibawa ke ruang bersalin karena dia yang masih pembukaan lima.
__ADS_1
"Akhhhh." Freya berteriak saat rasa sakit itu kembali, tapi rasanya lebih sakit dari yang sebelumya dan lebih cepat datangnya.
"Sayang..." Arga memanggilnya lembut melihat Freya kesakitan membuatnya ikut merasakan sakitnya.
"Sa-kit..." ucap Freya lirih.
"Kamu pasti bisa." Arga menyemangati ia genggam tangan Freya kuat.
"Akhhhh." Freya kembali berteriak sakit itu kembali datang.
"Lebih cepat dari biasanya, ayo bawa ke ruang persalinan ibu Freya sudah pembukaan sembilan," ujar dokter itu.
Arga terus mengikuti Freya dengan tangan menggenggam erat kemari Freya. "Akhhh." teriak Freya kembali, rasa sakit ini lebih sakit dari yang tadi.
"Sudah pembukaan sepuluh," ucap Dokter.
"Ibu ikuti arahan saya, hitungan ketiga ibu bisa mengejan."
"Tarik nafas buang," arah dokter itu.
"Ayo ibu mengejan!" arah dokter itu, sekuat tenaga Freya mengejan tubuhnya sangat lemah peluh membanjiri wajahnya.
"Akhhhh."
"Sekali lagi Bu, dorong! sudah terlihat kepalanya."
"Akhhhh."
Freya nampak lemas membuat Arga mendekat, ia mencium lama kening Freya lalu membisikkan sesuatu.
"Ayo Mama pasti bisa, sebentar lagi rasa sakit mama akan terbayar. Ayo sayang kamu pasti bisa! aku mencintaimu." Arga terus mengatakan itu memberi semangat pada Freya.
Sekali lagi Freya mengejan saat mendapat arahan dari dokter.
"Akhhhh."
Oek oek oek.
"Alhamdulilah bayinya terlahir dengan sehat, selamat ibu anda melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan." Freya meneteskan air mata dengan senyuman sakit yang tadiĀ langsung hilang begitu saja saat ia mendengar tangisan anaknya, bahkan Arga sampai menangis haru ia mengecup kening Freya lama.
"Selamat mama makasih udah berjuang buat baby," bisik Arga membuat Freya tersenyum.
Arga lantas menghampiri bayi mungil itu yang sudah dibersihkan oleh suster ia menggendongnya dengan perasaan haru. Lantas ia cium wajah bayi itu, sangat tampan dan sangat menggemaskan. Arga mendekatkan bibirnya pada telinga baby boy lalu mengadzani nya.
"Papa memang bukan ayah biologis mu tapi papa sangat menyayangimu, sehat selalu jagoan papa." Arga berucap dengan nada serak karena ia menahan untuk tidak menangis melihat bayi mungil itu.
Tanggal 10 Juli 2020 telah dilahirkan seorang anak laki-laki tampan. Seorang anak yang akan menjadi kebanggaan bangsa dan negara dan merupakan Anak kesayangan keluarga Addison dan keluarga Pramudya. Anak dari papa Arga dan mama Freya.
~
__ADS_1