
...Tiga bulan kemudian...
Usia kandungan Freya saat ini menginjak tujuh bulan, sudah sangat terlihat. Freya sekeluarga memilih pindah dari Jakarta, mereka pindah Kerumah orang tua Clarita nenek Freya yang berada di Bandung.
Selama ini Freya juga melanjutkan masa koas nya hanya saja dia pindah rumah sakit, sebentar lagi dia akan meminta cuti karena sebentar lagi ia akan melahirkan.
"Halo bumil," sapaan itu membuat Freya menoleh. Itu Arga selama tiga bulan ini Arga bolak-balik Jakarta Bandung untuk mengurus pekerjaan dan untuk bertemu Freya, ia dua kali sehari kemari padahal Freya mengatakan jangan tapi emang dasar Arga nya saja bebal.
"Baru sampe Ga? kamu kenapa sih suka banget bebani diri kamu sendiri, kamu nggak perlu bolak-balik Jakarta Bandung. Emang kamu nggak cape? kalau sakit gimana?" omel Freya. Wanita itu nampak semakin berisi dan sangat cantik.
"Cie khawatir bumil," goda Arga sembari menoel pipi Freya membuat Freya mendengus kesal.
"Jan ngambek sayang. Ini salah satu perjuangan aku buat dapetin kamu, aku juga nggak mau jauh-jauh sama baby." Freya terenyuh mendengar ucapan Arga, selama ini Arga selalu baik padanya.
"Ga, a-aku---" ucap Freya gugup.
"Nggak papa Frey, aku nggak maksa buat kamu terima aku. Kamu izinin aku buat perjuangin kamu aja aku udah seneng."
"Aku terima lamaran kamu Arga. Aku akan mencoba membuka lembaran baru sama kamu, perjuangan kamu selama ini udah cukup buat buktikan ketulusan kamu sama aku." Freya mengucapkannya dengan lirih ia menunduk sembari memainkan jari-jarinya.
Arga terpaku beberapa saat sampai ia tersenyum dengan wajah sumringah, lamarannya dua bulan yang lalu akhirnya diterima oleh Freya. Selama tiga bulan ini perjuangannya tidak sia-sia.
"Makasih Frey. Aku janji akan bahagiain kamu sama baby. Aku akan berikan yang terbaik buat kalian berdua!" Arga memeluk Freya erat, dalam hati tak hentinya ia mengucap syukur.
"Kamu selama ini udah baik sama aku Arga. Aku akan mencoba buka hati aku buat kamu, maaf kalau saat ini aku masih belum bisa menerima kamu sepenuhnya tapi aku akan belajar. Ketulusan cinta kamu yang akan membantuku untuk mencintai kamu dengan tulus, kekuatan cinta."
"Aku akan berusaha buat kamu jatuh cinta sama aku, aku akan berusaha buat kamu melupakan masa lalu kamu. Kita akan hidup bahagia bersama baby."
"I love you Ciaku."
.
"Mas makan dulu ya!" wanita itu memanggil dari arah meja makan, sedangkan pria itu hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"Aku gak sudi makan masakan kamu!" ucapnya tajam lalu pergi begitu saja.
Wanita itu hanya bisa diam, ia tidak akan menangis sudah cukup hari-hari nya ia buat menangis karena pria itu.
Tangannya mengusap perut buncitnya dengan tatapan sendu. "Mama takut nggak bisa lihat kamu saat kamu lahir sayang, doakan mama agar selalu sehat agar mama bisa merawat kamu. Mama pantas menerima semua ini, ini hukuman untuk mama, mama orang jahat tapi kamu jangan sampai menjadi jahat kamu harus menjadi orang baik sayang."
__ADS_1
"Akhhh." Dia berteriak saat merasakan sakit dibagian perutnya dan disusul darah segar yang mengalir. Wanita itu terduduk dilantai merasakan sakit yang teramat sakit pada perut bagian bawahnya.
"Nyonya..." Asisten rumah tangga itu hadir membantu majikannya untuk duduk dikursi ia cukup panik saat melihat darah segar itu.
"Nyonya tahan dulu, saya akan panggil Danang untuk membawa nyonya ke rumah sakit." Pembantu itu lantas berlari kearah depan untuk memanggil seorang sopir.
"Sayang bertahan ya." Wanita itu terus mengusap perutnya ini sudah biasa ia alami.
Seorang pria datang dengan baju kantornya, ia nampak tergesa meskipun wajahnya tetap dingin.
"Menyusahkan!" ucapnya lalu menggendong wanita itu keluar, ia segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
"Bagaimana keadaan dia?" lelaki itu bertanya pada dokter yang baru saja keluar.
"Tuan keluarganya?"
"Ya."
"Mari ikut keruangan saya tuan, ada hal penting yang akan saya katakan." Lelaki itu mengganguk lantas mengikuti dokter itu menuju ruangannya.
"Pendarahan itu sudah biasa ibu Syafa alami, apakah anda suaminya?" tanya dokter itu.
Dua bulan yang lalu mereka melaksanakan pernikahan itu, namun pernikahan itu serasa seperti neraka untuk Syafa. Andra yang selalu bersikap kasar padanya dan tidak pernah menganggap nya sebagai istri dan mertuanya yang sama sekali tidak senang padanya.
"Maksud dokter?"
"Apakah ibu Syafa tidak cerita jika dia mengidap penyakit tumor rahim." Andra terkejut saat mendengar ucapan dokter itu.
"Tumor rahim?"
"Tumor rahim yang di idap ibu Syafa termasuk tumor jinak. Miom, yang disebut juga dengan leiomioma atau fibroid."
"Sejak kapan?"
"Sudah lama, saat ibu Syafa melakukan USG pertama kali dia baru mengetahui jika ada tumor rahim yang tumbuh didinding rahim ibu Syafa."
"Apakah itu berbahaya untuk ibu dan kandungannya?"
"Bu Syafa akan mengalami komplikasi kehamilan berupa nyeri perut atau perdarahan ringan dari ******. Namun, hal ini jarang memengaruhi kondisi janin, kecuali pada kasus perdarahan yang berat."
__ADS_1
"Ada kondisi tertentu, miom saat hamil mungkin untuk meningkatkan risiko terjadinya keguguran dan persalinan prematur. Selain itu, adanya miom saat hamil juga dapat menyebabkan posisi bayi menjadi sungsang, sehingga kemungkinan Bu Syafa untuk melahirkan secara Caesar lebih besar. Miom juga dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pasca melahirkan."
"Apakah bisa sembuh? apa yang harus saya lakukan?" binggung Andra
"Bisa. Saya sudah menyarankan Bu Syafa untuk melakukan pemeriksaan USG secara rutin, karena miom saat hamil juga bisa membesar dan hal ini bisa saja menyebabkan timbulnya nyeri."
"Apakah selama ini dia rutin USG? apakah bisa hilang tumor itu dok?"
"Terkadang Bu Syafa tidak hadir, bisa seiring berjalannya waktu tumor itu bisa sembuh."
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok!" entah kenapa ucapan itu keluar dari mulut Andra padahal selama ini ia sangat tidak ingin menyebut Syafa sebagai istrinya.
"Kami akan memberikan pengobatan dan metode penanganan yang paling aman untuk kesehatan kehamilan ibu Syafa."
"Ini resep obat-obatan untuk ibu Syafa, tuan bisa menebusnya nanti."
"Obat ini apakah aman?"
"Ini obat pereda nyeri tuan dan ini aman untuk dikonsumsi ibu hamil."
Setelahnya Andra keluar dari ruangan itu ia masuk ke ruangan Syafa dan melihat wanita itu sudah terbangun, Syafa mencoba meraih gelas disampingnya tapi perempuan itu nampak kesusahan.
Andra mengambilkan minuman itu pada Syafa dengan wajah dingin seperti biasa tidak ada rasa cemas ataupun khawatir dari raut wajahnya.
"Makasih mas," ucap Syafa.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika ada tumor di rahimmu!" ucapnya.
"Percuma aku mengatakannya, kau tetep tidak akan perduli."
"Kau berani padaku!" marah Andra.
"Tidak. Mas, apa aku boleh minta satu hal sama kamu?" ucap Syafa lirih, tangannya mengusap perutnya dengan air mata yang mengalir namun secepatnya ia usap.
"Mas, aku mohon. Kalau nanti saat aku melahirkan dan nyawaku tidak terselamatkan aku mohon mas rawat anak ini dengan baik, mas bisa benci sama aku tapi jangan dengan anak dia. Dia nggak salah mas dia darah daging kamu sendiri." Andra melengos lalu pergi dari tempat itu membuat air mata Syafa menetes.
Aku memang sudah menikah dengannya tapi aku tidak pernah mendapatkan cintanya. Freya cinta Andra tetap untukmu, aku tersiksa di pernikahan ini, itu membuatku tahu jika semua perbuatan ku ada balasannya masing-masing. Apa yang kau rasakan menjadi boomerang untukku bahkan lebih pedih hidupku.
.
__ADS_1
maaf ya kalau kalian nggak suka sama bab ini, semua udah aku pikirkan matang-matang dan bagaimana endingnya nanti semoga kalian suka, ini udah mendekati end ya semoga akhir bulan udah selesai ☺️ siap pisah sama mereka?