
"Bolu cokelat sudah jadi! siapa yang mau?" teriak Melisa heboh, ia puas dengan hasil nya memasak dengan menantunya sangat menyenangkan.
Semua diam tidak ada yang menanggapi bagi Andra mamanya itu lebay. "Apaan sih ma!" kesal Andra, ia yang tengah fokus dengan laptopnya jadi buyar karena teriakan mamanya sedangkan papa Andra hanya tertawa kecil.
"Nih mama sama Freya tadi bikin bolu enak benget, coba rasain! kalian kan suka bolu," ucap Melisa.
Papa Andra mengambil bolu itu dan mulai merasakan nya enak bahkan lebih enak dari biasanya.
"Enak," puji papa Andra.
Andra ikut mengambil dan memakannya, ia sudah pernah memakan bolu buatan istrinya dan ia sangat suka dengan itu.
"Iyalah orang buatan istri Andra," songgong Andra ia mulai memakan bolu itu tanpa terasa ini sudah tiga kali bolu masuk ke perutnya.
Semua orang terkekeh, "Tadi aja sok-sokan gak mau sekarang habis dimakan sendiri," tawa semua orang pecah menertawakan Andra.
Mereka semua duduk diruang tamu bercanda ria bersama, Freya sangat menyukainya berkumpul bersama keluarga ia jadi rindu pada keluarganya.
"Nanti kalian nginep kan?" tanya Melisa, Abel baru saja tiba dan ikut nimbrung disana berceloteh ria bersama Freya.
"Enggaklah ma, besok Freya juga kuliah Andra juga udah lama nggak ke kantor," ucap Andra.
"Yah kenapa gak nginep sih, mama kan masih kangen sama kalian." Melisa mendesah kecewa baru saja kumpul.
"Kapan-kapan aja ma, kita nginep disini. Kalau mama kesepian mama bisa main kesana," ucap Freya.
"Abel juga tuh, punya anak gadis dikamar mulu!" omel Melisa.
"Ma Abel tuh dikamar----"
"Pacaran," potong Andra ia menatap mengejek pada adiknya, tak perduli dengan pelototan adiknya.
"Apaan sih kak!" pukul Abel lengan kakaknya, nyebelin!
Andra terkekeh mengusap Surai rambut adiknya. "Jadi anak yang bener, temenin mama biar gak kesepian!" tutur Andra.
Melisa terharu ya dia sangat rindu suasana seperti ini, anaknya yang saling menyayangi membuat rasa bahagia dihatinya.
"Kenapa nangis ma?" tanya Freya.
Melisa mengusap air matanya yang mengalir. "Enggak mama cuma terharu aja lihat Abel sama Andra yang akur, kalau lihat mereka kayak gini rasanya mama udah ikhlas kalau mama mau diambil, tapi---"
"Ma!" sentak Andra, apa-apaan mamanya ini.
"Mama ngomong apa sih!" Abel malah menangis sekarang ia memeluk erat tubuh mamanya.
__ADS_1
"Abel masih butuh mama, mama jangan pernah ngomong kayak gitu!" Isak Abel.
"Ish kalian ini kenapa sih! makanya kalau ada orang tua ngomong jangan dipotong!" sebal Melisa.
"Mama tadi mau ngomong ikhlas tapi nggak dulu karena mama beluk lihat anak perempuan mama dan mama juga belum bisa gendong cucu mama! kalian pasti tahu kalau kematian itu pasti ada, cepat atau lambat! yang hidup pasti akan mati," ucap Melisa.
"Udah ma nggak usah bahas itu, Andra kesini kumpul mau seneng-seneng nggak mau bahas hal kayak gini!"
.
"Sayang." Andra memeluk tubuh Freya dari belakang, saat ini mereka tengah berdiri di balkon tangan Freya berpegangan pada pembatas balkon menatap langit malam, bulan dan bintang yang bersinar terang.
"Kenapa?" Freya menatap wajah suaminya yang menumpu pada bahunya.
Andra menggeleng ia mengendus ceruk leher istrinya semakin mempererat pelukan itu.
"Udah malem mau pulang kapan?" tanya Freya.
"Setelah makan malam, kenapa?" Andra mengecup sekilas pipi istrinya.
"Kangen bunda sama papa," ucap Freya tatapannya menatap kearah langit, ia menutup matanya merasakan hembusan angin malam.
"Nanti kita kesana," ucap Andra, ia membalikkan tubuh Freya menyelipkan anak rambutnya pada belakang telinga Freya.
"Udah malem," cicit Freya.
"Besok aja."
.
"Cia jika kita sudah besar nanti maukah kau menikah denganku?" tanya seorang bocah kecil itu.
"Menikah? apa itu menikah?" bocah perempuan itu nampak tak mengerti akan maksud temannya.
"Kata mama jika kita menikah kita akan terus hidup bersama seperti mama dan papa kita, jika kita menikah kita tidak akan pernah terpisah." Bocah lelaki itu tertawa menatap bocah perempuan didepannya.
"Baiklah aku akan menikah denganmu, agar kita selalu hidup bersama."
"Cia, jika suatu saat nanti aku pergi apa kau akan tetap menungguku?" Bocah itu nampak sedih mengucapkan kalimat itu.
"Kau akan pergi? kau akan meninggalkan aku?" Cia menatap berkaca pada Atha ia menahan tangis dimatanya.
"Mungkin, papa dan mama ku bilang aku akan pindah."
"Kenapa? Atha mau ninggalin Cia?" pecah sudah tangisannya ia menatap sendu pada temannya.
__ADS_1
"Cia jangan nangis, Atha gak suka lihat Cia nangis. Atha cuma pergi sebentar Atha pasti kembali untuk Cia."
"Atha bohong! Atha kan suka bohongin Cia!" ucap gadis itu terlihat kesal.
Bocah lelaki itu tertawa ia menghapus air mata temannya dan menatapnya dengan senyuman.
"Cia, Atha kan udah bilang kalau Atha akan menikah dengan Cia. Suatu saat kalau Atha udah besar Atha pasti kembali untuk Cia dan kita akan hidup bersama."
"Bohong!" Isak gadis itu.
"Atha janji Atha gak bohong!"
Arga tersenyum saat bayangan percakapan itu muncul dipikirannya, sekarang itu semua hanyalah hayalan semata untuknya, menikah? tidak mungkin.
"Atha rindu Cia," Arga menatap foto dua bocah kecil yang tengah tersenyum bahagia. Ia ingat foto ini diambil saat mereka pulang dari liburan, ya liburan bersama kedua keluarga mereka.
Keluarga Arga dan keluarga Freya duku cukup dekat sampai suatu hal yang membuat mereka berpisah.
"Arga..."
Arga menoleh saat mendengar suara tak asing ditelinga nya. "Kenapa ma?" Arga kembali meletakkan foto itu ke mejanya, foto itu ia perbesar dan ia bingkai. Arga meletakkannya diatas meja sebelah ranjang ia tidur.
"Kamu masih belum ketemu sama Freya?" Alena mama Arga mengusap lembut kepala putranya. Arga adalah anak tunggal karena itu ia sangat disayang oleh orang tuanya dan karena itu juga ia sebagai pewaris kekayaan mereka.
"Udah ma." Arga merebahkan kepalanya pada paha mama nya, ia terpejam merasakan usapan lembut pada rambutnya.
"Terus kenapa kamu murung?"
"Takdir nggak mempersatukan aku dengan Freya, aku ditakdirkan hanya sebagai cerita masa lalunya."
"Maksud kamu?"
"Freya udah menikah ma."
"Menikah? di umur semudah ini?" Alena nampak tak percaya, ia bahkan mengira jika anaknya tengah menjahilinya.
"Freya udah umur 25 tahun ma, dan aku juga lupa jika dulu Freya pernah bilang ia berkeinginan menikah muda karena kata dia jika ia nikah muda kelak jika ia punya cucu Freya masih tetap muda dan tidak terlalu tua," kekeh Arga ia selalu ingat cerita masa kecil mereka dulu, singkat tapi sangat berkesan untuknya.
"Freya gadis yang baik bahkan mama juga sangat merindukannya mama sangat berharap jika Freya calon menantu mama, tapi takdir berkehendak lain maka kamu harus ikhlas ngelepas dia, jika kamu tidak ditakdirkan untuknya maka Tuhan telah merencanakan yang terbaik untukmu."
"Tapi aku bersyukur karena aku pernah menjadi bagian terpenting di hidupnya, aku juga tidak tahu takdir apa yang tuhan tuliskan untukku tapi aku berharap tetap Freya lah takdirku!"
.
cieee dua bab nih doubel loh!! like nya harus banyak dongg... vote elah jam pelit Ama aku🤭
__ADS_1
Mau nanya nih kalian binggung nggak sih? Kalau cerita masa kecil mereka aku gunakan nama Freya jadi Cia ya kalau Arga jadi Atha. Kalian paham nggak?
Like, komen, and favorit jangan lupa-!!