Ketulusan Cinta Freya

Ketulusan Cinta Freya
Senja


__ADS_3

Freya tengah mengemas bajunya dan Andra untuk honeymoon besok, senang? sangat ia sangat senang selama ini Freya sangat ingin pergi tapi ada saja halangan nya.


"Sayang nggak usah bawa baju banyak-banyak!" ucap Andra ia duduk disebelah Freya menatap satu koper besar yang sudah terisi penuh.


"Kenapa mas? kita kan lama disana!" ucap Freya. Andra memeluknya dari samping ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Freya bibirnya mendekat tepat di telinga Freya lalu berbisik.


"Karena disana kamu nggak butuh itu! aku lebih suka kamu telanjang!" bisik Andra membuat Freya bergidik.


Ia mendorong tubuh suaminya wajahnya merah menatap kesal kearah Andra. Andra terkekeh tangannya terangkat mengusap rambut istrinya.


"Kenapa? kita honeymoon disana, jadi 80 persen dikamar 20 persen diluar!"


"Mas ih!" Freya memukul kuat dada Andra, kesal dengan suaminya yang terus menjahili dirinya.


Andra memeluk tubuh Freya membuat dia menghentikan pukulan itu. "Biar cepet debay nya!" bisik Andra.


Mereka berdua tengah duduk di balkon kamar menatap ke arah langit yang sebentar lagi menampakkan senja.


"Senja itu indah walau hanya sesaat." Freya tersenyum tatapannya lurus kedepan tak sabar menunggu senja yang hanya sekejap menampakkan wujud.


"Senja itu mengajarkan kita untuk menunggu, meskipun kepergiannya membawa luka."


"Kamu itu kayak senja mas, indah tapi hanya sesaat." Freya tersenyum getir ia menatap dalam mata suaminya.


"Aku emang senja tapi aku bukan sesaat untuk kamu, aku selamanya untuk kamu Freya."


"Aku takut mas!" Freya berucap lirih ia menunduk, menghindari tatapan dari suaminya.


"Kamu takut kenapa?" Andra memegang kedua bahu Freya ia mendongakkan wajah itu menatap dalam wajah yang menyiratkan kesedihan.


"Aku takut---- kalau kita nggak ditakdirkan untuk bersama!"


"Kenapa kamu ngomong gitu?"

__ADS_1


"Mas kalau suatu saat aku emang bukan ditakdirkan untuk kamu. Aku berdoa semoga kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku, dan aku akan selalu berdoa untuk kebaikan kamu."


"Freya! aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu. Kamu istriku, wanitaku, ibu dari anak-anakku dan kamu takdirku. Sampai mati pun kita akan tetap sama-sama!"


Freya mengalihkan pandangannya ia mengusap sekilas air matanya. "Kita nggak akan tahu masa depan mas, aku dan kamu nggak ngerti dua tahun tiga tahun atau beberapa tahun yang akan datang akan seperti apa."


"Kamu tahu mas aku juga mengimpikan pernikahan yang indah dan bahagia dulu sebelum aku menikah dengan kamu, itu yang selalu aku impikan dan kenyataannya aku harus dijatuhkan dengan kenyataan yang sama sekali nggak pernah ada dipikiran aku. Itu emang hukum alam mas bahwa kenyataan nggak seindah impian."


"Kalau ditanya capek? capek mas banget. Aku capek sama rumah tangga kita yang nggak pernah jauh dari masalah, aku kadang mikir, kenapa? bahkan pernikahan yang kita bangun belum ada setahun tapi---"


"Frey nggak usah dipikir yang nggak perlu dipikirin. Kita jalanin aja alur Tuhan aku tahu itu yang terbaik buat kita semua, ini ujian kita pasti bisa ngelewatin semuanya."


"Ujian? aku harap begitu dan aku harap hanya sekali ini kamu kecewa in aku karena aku nggak akan siap jika harus kecewa untuk kedua kalinya."


"Aku juga punya batas kesabaran mas, aku bukan Tuhan yang bisa dengan mudah memaafkan kesalahan umatnya aku manusia aku juga punya rasa lelah aku juga punya rasa untuk menyerah, dan jangan sampai kamu buat aku sampai dititik yang benar-benar buat aku pingin nyerah, kamu tahu akhirnya apa? kalau aku udah capek sama kamu aku udah lelah sama rumah tangga kita aku--- akan memilih pergi dari hidup kamu."


"Frey..."


"Jika suatu saat nanti kamu berbuat sesuatu yang benar-benar fatal dan kamu bikin aku kecewa lagi jangan harap ada kesempatan kedua dari aku! dan kamu jangan marah kalau pada akhirnya aku memilih pergi dari hidup kamu. Jangan jadi senja yang datang sesaat dengan meninggalkan luka yang mendalam."


"Aku janji----"


"Aku nggak butuh janji mas! aku cuma butuh bukti!"


Jangan jadi pelangi buat orang yang buta warna


.


"Motif anda kerja disana apa? jawab jujur! atau anda akan tau akibatnya!" Wanita itu tersenyum sinis ia menatap tajam pada lelaki didepannya.


"Gue gak punya urusan sama Lo! jadi Lo nggak usah iku campur! dan motif apa yang Lo maksud? Gue kerja karena gue butuh uang!"


"Benarkah? karena uang! baiklah keluar dari sana semua kebutuhan anda saya yang tanggung!"

__ADS_1


"Lo terlalu ikut campur sama hidup Gue! pertama Lo bukan siapa-siapa gue jadi untuk apa Lo tanggung biaya hidup gue cuma karena supaya gue nggak kerja disana? kenapa?"


"Saya tahu anda punya maksud lain kerja disana! nona Syafa Revalina Madison adik dari Farah Vernanda! right?" lelaki itu tersenyum miring dengan wajah yang sangat datar.


Wanita itu terdiam ia nampak panik, tatapannya menatap tajam pada lawan bicaranya.


"Omong kosong! Farah siapa yang Lo maksud. Pergi! jangan buang-buang waktu gue!"


"Jawab jujur dan anda bebas atau bohong dan anda akan menyesal dikemudian hari!"


"Dengerin gue Tn. Arga yang terhormat! Gue nggak ada urusan sama Lo ini hidup gue. Jadi Lo nggak perlu ikut campur! apapun yang gue lakuin selagi nggak ngerugiin hidup Lo. Lo nggak usah komen!"


"Kalau anda tidak punya malu seenggak nya anda tahu diri! jangan hancurin masa depan hanya karena dendam. Apalagi sampai buat orang yang udah baik hati buat nolong anda ikut kena imbas dendam anda. Dia nggak tau apa-apa tapi anda? sangat tega melakukan itu padanya. Sifat anda nggak jauh beda sama binatang!"


Syafa mengepalkan tangannya ia menatap tajam pada lelaki didepannya--- Arga.


"Lo nggak tau apa-apa jadi Lo diem!" sentak Syafa.


"Apa yang saya tidak tahu? bahkan saya jauh lebih tahu daripada anda. Jangan lakukan itu atau anda sendiri yang akan menyesal, Farah juga salah dan Andra juga salah. Dua orang itu sama-sama salah!"


"Tapi Andra yang udah bikin kakak gue meninggal!" sentak Farah keras ia tidak perduli dengan beberapa tatapan yang mengarah kearahnya.


"Farah meninggal karena dia bunuh diri! saya tahu Andra juga salah tapi yang salah Andra bukan Freya. Jadi anda jangan menimpakan kesalahan Andra pada Freya!"


"Oh gue tahu sekarang, Lo suka sama Freya?" Syafa tersenyum miring lantas ia mengulurkan tangannya pada Arga.


"Kerja sama? Lo suka sama Freya bukan? Gue bantu Lo dapetin dia!"


"Saya tidak tertarik bekerja sama dengan wanita iblis seperti Anda."


"Kurang ajar!"


"Kalau Freya terluka karena anda saya pastikan hidup anda akan hancur saat itu juga!" setelah mengucap itu Arga segera pergi dari hadapan Syafa membiarkan wanita itu yang tengah mengepal menahan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2