
Kedua orang tua mereka menatap binggung kearah mereka maksud mereka ialah Andra dan Freya.
Wajah mereka terlihat tidak akur, wajah kesal keduanya membuat semua orang menatap intens pada mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Rangga.
Freya terdiam matanya mengedar menatap satu persatu mata keluarga yang menghadap kearahnya.
"Kenapa?" tanya Freya balik.
"Berantem?" tanya Clarita.
Freya menoleh kearah Andra lalu menggeleng, ia langsung mengambil makanannya dan segera memakannya tak memperdulikan mereka semua yang tengah menatapnya.
"Kalau ada masalah diselesaikan baik-baik jangan diem-dieman kayak gini. Gak baik!" itu suara dari mama Andra.
Mereka berdua mengganguk lalu tersenyum kearah mereka, Andra mengusap kepala Freya lalu mengecup kepala nya sekilas.
"Nggak ada yang berantem ma, kita baik-baik aja!" ucap Andra.
Mereka semua mengganguk meskipun sedikit tidak percaya, Freya melempar senyum yang terkesan terpaksa. Jujur saja dia masih kesal dengan Andra.
"Kak ponakan ku udah ada belum?" Abel bertanya dengan kekehan kecil menatap jahil kearah Freya.
"Sabar masih proses!" sahut Andra yang membuat gelak tawa disekitarnya.
Freya hanya menunduk menutupi wajahnya yang memerah pernikahannya sudah 3 bulan lebih dia juga sudah ingin memiliki anak namun---- Tuhan belum memberinya.
"Kalian berdua kan belum jadi honeymoon waktu itu, kapan mau berangkat?" tanya Melisa mama Andra.
"Besok!" ucap Andra membuat Freya melotot, besok? what dia saja tidak diberi tahu.
"Besok?" beo Freya.
"Iya sayang, semua udah aku urus besok kita berangkat." Andra berucap dengan senyuman ini adalah hadiah untuk kelulusan Freya darinya.
"Kok nggak bilang!" kesal Freya.
"Surprise dong! ini hadiah aku buat kamu, kita honeymoon dua Minggu." Freya melongo dua Minggu lama juga.
"Serius?"
"Iya istriku sayang," ucap Andra sabar dengan kecupan singkat dipipi Freya.
"Gak usah umbar kemesraan didepan jomblo! kasihan tuh kak Rangga entar nangis!" ledek Abel.
"Eh bocil gue udah punya istri ya, Lo kali yang iri. Wleee lupa ingatan Lu? Gue juga baru aja nikah kali!" ledek Rangga balik ia merangkul istrinya yang berada disamping dirinya dan kecupan singkat dipipi ia berikan pada--- Nanda istrinya.
__ADS_1
"Sialan!" umpat Abel lirih, ia menggembungkan pipinya kesal disini hanya dia yang sendiri? miris!
Abel menatap sendu kearah mamanya, ia merengek menggoyang-goyangkan lengan Melisa, dengan puppy eyes diwajahnya.
"Mama Abel mau nikah!" ucap gadis itu yang membuat mereka semua tertawa.
.
Arga pulang dengan wajah sumringah ia terus tersenyum saat menatap foto dirinya dan juga Freya, kalian tahu kenapa baju mereka sama? ya itu semua memang ia pesan sama dengan milik Freya. Sengaja dengan bantuan Rendi Karena Rendi yang mengurus baju Andra dan Freya, jadi Rendi memesan tiga baju untuk Freya, Andra dan juga dirinya.
Perihal Andra tadi Arga juga tahu karena itu ia sengaja merangkul bahu Freya untuk membuat Andra kesal.
"Mama." Arga terkejut saat melihat kedua orang tuanya tengah duduk diruang tamu, menatap tersenyum kearah Arga. Karena orang tua Arga seharusnya ada diluar negeri saat ini kenapa sekarang ada disini.
"Selamat sayang, mama bangga sama kamu." Alena memeluk erat tubuh putranya ia tersenyum bangga padanya.
"Makasih ma, kalian kenapa bisa ada disini?" tanya Arga.
"Kenapa! ini rumah kami, terserah dong mau pulang kapan aja!" sahut Alena terdengar kesal.
"Apa kamu nggak suka kalau mama papa pulang!" omelnya.
"E-enggak gitu ma, kalian kan lagi diluar negri kok sekarang ada disini?"
"Papa sama Mama baru sampai barusan berangkat kemarin malam. Itu semua karena kita ingin datang diacara wisuda kamu eh malah telat!" jelas Rama--- papa Arga.
"Maafin mama ya sayang," ucap Alena kembali.
"Arga papa bangga sama kamu. Kamu sudah membuktikan ke papa kalau kamu pantas pegang perusahaan papa! secepatnya papa akan mengesahkan kamu sebagai pengganti jabatan papa."
"Pa, tapi Arga pingin merintis perusahaan Arga sendiri. Biar Arga bangun perusahaan Arga dengan usaha Arga sendiri!" pinta Arga.
"Kenapa Arga? cepat atau lambat perusahaan papa juga akan jatuh ke tangan kamu! karena kamu anak satu-satunya yang papa punya."
"Pa Arga juga pingin berjuang buat bangun perusahaan Arga sendiri, papa tenang saja perusahaan papa juga akan Arga urus. Arga pingin mandiri pa!" ucapan Arga membuat mereka berdua tersenyum, tidak salah Arga memang sudah pantas memegang alih perusahaan mereka.
"Baiklah jika itu kemauan kamu. Papa sama Mama akan selalu dukung kamu selagi itu baik!"
"Makasih pa."
Arga kembali ke kamarnya setelah berbincang-bincang dengan orang tuanya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang tatapannya mengarah kearah ponsel yang menunjukkan foto tadi, tak ada bosan-bosannya Arga memandang foto dirinya dan Freya.
"Foto pertama setelah terpisah 18 tahun." Arga tersenyum senyuman yang menyiratkan banyak makna.
Deret
"Halo."
__ADS_1
"..."
"Kapan?"
"..."
"Atur buat gue juga!"
"..."
"Ya!"
"..."
"Thanks."
Arga mematikan ponsel itu setelah mendapat kabar dari kepercayaan nya--- Rendi.
"Freya sampai kapan pun Lo yang akan tetap ada dihati gue. Delapan belas tahun aja gue sanggup buat setia sama Lo dan sekarang waktunya buat gue berjuang buat Lo. Aneh emang perjuangin istri orang!" kekeh Arga.
"Mau gimana istri orang lebih menggoda!"
.
"Sial! udah dua bulan tapi rencana gue belum berjalan lancar. Rendi! dia juga harus gue waspadai cowok gila itu jadi ancaman buat gue!"
"Haha gue akan hancurkan rumah tangga Lo! meskipun gue harus korbanin diri gue buat di jamah cowok brengsek seperti dia. Gue gak perduli asal dendam gue terbayar! keluarga lo akan hancur dan gue pastikan Lo akan menderita saat itu juga tuan Andra terhormat."
"Syafa jaga diri baik-baik. Kakak nggak akan bisa selalu ada buat kamu!"
"Kak Farah ngomong apasih! aku nggak suka kakak ngomong kayak gitu, sekarang kakak makan jangan kayak gini."
Farah menatap sendu kearah adiknya ia lantas mengalihkan pandangannya kearah jendela melihat matahari yang tengah bersinar terang, matanya menghitam rambutnya acak-acakan. Ia nampak tak memiliki harapan untuk hidup.
"Fa, kakak nggak bisa hidup kayak gini. Semua udah terbongkar, bahkan kakak malu hanya untuk keluar dari apartemen. Berbagai teror kakak dapatkan, hujatan dan makian orang-orang kakak---- hiks hiks kakak nggak kuat Fa."
"Kak! Kakak punya Syafa kita hadapi semuanya bareng-bareng kakak nggak sendiri masih ada Syafa disini."
Farah menggeleng ia mengusap air matanya tatapannya beralih kearah adiknya, sayang? sangat dia sangat menyayangi adiknya meskipun mereka beda ayah tapi tetap saja dia sangat menyayangi nya.
"Kakak sayang sama kamu, tapi kakak gak bisa jaga kamu lagi!"
"Kak jangan gitu Syafa cuma punya kakak disini jangan tinggalin Syafa sendiri." Farah hanya menggeleng dengan air mata yang mengalir.
"Kenapa bisa begini sih kak?"
"Ini semua ulah Andra. Sampai mati pun kakak akan tetap benci sama dia! kakak ingin hancurin hidup dia tapi kakak sadar kalau derajat kakak masih sangat dibawah dia. Kakak hanya bisa menyimpan dendam ini sampai kakak mati sekalipun!"
__ADS_1
"Kakak jangan bahas kematian! kita balas dendam itu sama-sama. Kakak jangan pergi!"
"Maaf Fa."