Ketulusan Cinta Freya

Ketulusan Cinta Freya
Balasan Rendi


__ADS_3

Kediaman Rumah keluarga Addison sore ini sangat ramai, mereka semua berkumpul tentunya untuk melihat si tampan Nathan.


"Gantian dong jeng saya kan juga pingin gendong cucu saya!" ucap Clarita sebal. Nathan saat ini tengah digendong Alena, keluarga Arga yang baru saja datang itu sudah memonopoli baby Nathan bahkan Clarita tidak diizinkan barang menggendongnya sebentar membuat semua orang tertawa.


"Bentar dong jeng saya kan cuma sebentar, jeng Clarita kan bisa buat gendong Nathan nanti kalau saya pulang!" balas Alena.


"Lah kamu nggak nginep?" tanya Clarita.


"Ya jelas nginep lah orang cucu saya baru lahir!" ucapnya bangga.


"Lah terus saya kapan gendongnya kalau kamu aja nginep!" dengus Clarita.


"Ngusir nih ceritanya?" tantang Alena.


"Taulah nyebelin banget jadi orang. Udah tua juga!" balasnya membuat Alena terkekeh, teman nya ini memang emosian dan dia suka mengerjainya.


"Udah tua pemarah lagi, Oma kamu itu emang bener-bener ya!" ucap Alena pada baby.


Freya saat ini tengah tidur karena ia juga butuh istirahat, setelah memberi asi pada Nathan dan bayinya dibawa oleh para neneknya ia pun tidur sedangkan Arga ia juga tidur di kamarnya, kamar Arga ya bukan kamar Freya.


"Mereka jadi kapan nikahnya?" Rama duduk disebelah Gio mereka tengah mengobrol santai sembari melihat para istri yang berebut menggendong Nathan.


"Dua bulan lagi itu kemauan mereka berdua, pas kelahiran Nathan yang ke dua bulan," ucap Gio.


"Berarti tanggal 10 September?" tanya Rama, ia menyesap kopi hitamnya.


"Iya. Acaranya keluarga aja, apa kamu keberatan?"


"Tidak. Tahun depan saja jika Arga mau kita bisa merayakannya, aku tidak memaksa yang terpenting anak-anak kita bahagia."


"Ya. Mereka berdua juga mengatakan begitu, biar Nathan besar dulu."


"Ayahnya datang?" tanya Rama yang dimaksud ayah adalah Andra.


"Kata mereka datang, tapi aku tidak sempat bertemu dengannya mungkin dia sengaja menghindar. Mertua Freya besok datang untuk melihat cucunya."


"Freya wanita yang baik bagaimana bisa mantan suaminya melakukan hal itu padanya, tidak habis pikir saya."


"Mungkin memang jodohnya bukan pada Andra tapi pada Arga," kekeh Gio.

__ADS_1


.


"Mama." Syafa bersalaman pada mertuanya yang baru saja tiba, Melisa diam ia menunjukkan raut tidak suka pada Syafa.


"Mana Andra?" tanyanya cetus.


"Mas Andra ada dikamar ma, mama duduk dulu biar Syafa panggilkan." Melisa tidak menjawab dia hanya diam membiarkan Syafa memanggilkan Andra, sifat Melisa berubah drastis wanita baik itu sangat tidak suka pada Syafa.


Syafa sudah biasa menerima itu semua dibenci suami dan dibenci mertua ia memang pantas mendapatkannya.


"Mas ada mama dibawah," ucap Syafa pada Andra. Andra diam lalu pergi meninggalkan Syafa, Syafa menghela nafas lelah.


Jika bukan karena bayinya mungkin ia memilih mengakhiri hidupnya. Hidupnya sungguh seperti neraka mau mati pun dia takut.


Jangan harap setelah ini kau akan hidup tenang! setiap detik mu akan terasa seperti neraka. Bersiaplah dengan kehancuran hidupmu. Bahkan kematian akan lebih menyenangkan bagimu!


Ucapan Rendi hari itu terngiang di kepalanya, Syafa takut ya dia sangat takut pada Rendi mengingat pria itu membuatnya ingat kejadian-kejadian menyeramkan yang ia alami hari itu.


"Nona Syafa..." Rendi datang di apartemen Syafa dengan wajah datar namun ia tersenyum devil membuat Syafa merinding.


"Ngapain Lo kesini?" ucap Syafa bergetar.


"Ck. Apartemen mu ini sekotor tubuhmu." Rendi mendekat ia melepas satu persatu kancing bajunya.


"Layani aku!" ucapnya membuat Syafa takut.


"Nggak. Gila Lo!" sentak Syafa ia berjalan mundur menjauhi Rendi yang terus mendekat dengan senyum miring dibibirnya.


"Kenapa takut? bukankah ini pekerjaan seharian mu? maka layani aku. Aku akan memberikan berapa pun uang yang kau minta."


"Jangan mendekat! pergi Lo!" sentak Syafa.


"Kenapa takut? aku bahkan belum memulainya. Aku juga ingin mencicipi tubuhmu itu, tubuh yang mampu membuat Andra tergoda padamu. Dulu Farah dan aku pernah mencobanya sangat puas sekarang ganti kau bisakah kau memberikan lebih dari Farah? sepertinya bisa Andra saja sampai candu pada tubuhmu. Lakukan sekarang sayang," Rendi mengucapkannya tepat ditelinga Syafa.


"Pergi! bangsat Lo. Gue nggak sudi layani Lo!" sentak Syafa ia mendorong tubuh Rendi namun lelaki itu sama sekali tidak bergerak.


"Kenapa sayang? padahal aku sangat menginginkan tubuhmu saat ini." Rendi berucap dengan suara serak, ia mendekat bahkan bibirnya berjarak Senti dengan milik Syafa.


Brak!

__ADS_1


Pintu apartemen terbuka kasar, seorang wanita paru baya masuk kedalam sana dengan raut wajah marah.


Plak!


Wanita itu menampar pipi Syafa dengan sangat keras sedangkan Rendi sudah menepi dengan senyum miring dibibirnya.


"Wanita murahan! kamu yang sudah menggoda anak saya dan sekarang kamu menggoda Rendi juga!" bentak--- Melisa.


Melisa datang saat mendapat pesan dari nomor tidak dikenal.


Datang ke apartemen Syafa, maka sifat sebenarnya akan kau ketahui!


Itu isi pesan yang ia terima, memang benar sebelumnya Melisa menerima Syafa dengan baik bahkan sangat baik seperti ia memperlakukan Freya, tapi setelah melihat kejadian itu ia menjadi benci pada Syafa.


"Ma, mama salah paham."


"Salah paham apa? Jelas-jelas saya melihat kamu sedang bersama Rendi. Saya jadi percaya ucapan anak saya jika kamu. Wanita MURAHAN! JALANG! MATA DUITAN."


"Saya yakin anak itu bukan anak Andra, kamu ngaku siapa ayah dari anak haram itu!" bentak Melisa.


"DIA BUKAN ANAK HARAM MA! MAMA NGGAK BERHAK BICARA SEPERTI ITU." Syafa membentak membuat Melisa bertambah marah.


"Tadinya saya menerima kamu, tapi kamu semakin menunjukkan sifat asli kamu. Wanita rendahan seperti mu tidak pantas untuk anak saya. Kamu pelakor jika kamu tidak ada pastinya rumah tangga anak saya tidak akan berantakan seperti ini."


Syafa hanya diam ia menunduk menangis dimaki habis-habisan oleh Melisa, wanita yang selama ini baik padanya yang selalu membelanya mengatakan hal buruk yang sangat menyakitinya dan sejak kejadian itulah Melisa tidak menyukainya bahkan sangat membencinya.


"Tidak tahu diri! saya sudah berbaik hati menerima kamu tapi kamu...? wanita murahan!" setelah mengatakan hal itu Melisa pergi.


"Ma Syafa bisa jelasin semua ini ma!" teriak Syafa ia mengejar Melisa berhasil menggapai tangan nya namun langsung ditepis oleh Melisa bahkan sampai Syafa tersungkur.


Wanita itu menangis bahunya terguncang, Melisa sudah tidak lagi percaya padanya. Rendi berjalan mendekati Syafa pakaiannya sudah rapi ia tertawa melihat kehancuran Syafa ia senang melihatnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rendi.


"Brengsek Lo Rend!" bentak Syafa.


"Semua ada balasannya Syafa. Seperti yang saya katakan, setiap tetes air mata Freya akan kau balas dengan kehancuran hidupmu. Hidupmu akan ku buat seperti neraka, sampai kematian akan lebih menyenangkan bagimu. Di dunia aku yang menyiksamu dan neraka tempat kembali mu." setelah itu Rendi pergi meninggalkan Syafa yang terdiam ditempat dengan perasaan marah.


Syafa takut dengan Rendi, lelaki itu licik dia pandai membuat jebakan. Hidupnya hancur karena berurusan dengan orang seperti Rendi.

__ADS_1


__ADS_2