
"Frey..." Arga mengusap kepala Freya sayang, ia menatap wajah wanita yang tengah terpejam itu.
Freya mengerjab karena merasa terganggu, Arga sudah menunggu satu jam disini menunggu Freya bangun.
"Arga, Lo ngapain disini?" tanya Freya lirih ia bangun dengan dibantu Arga, tubuhnya terasa lemas saat ini.
Arga diam tangannya mengusap wajah Freya sayang, tatapannya teduh menatap netra hitam milik Freya.
"Jangan takut, ada gue disini! Lo punya gue. Kita hadapi ini semua sama-sama, Lo mau apa? sebisa mungkin gue bakal wujud in itu asal Lo nggak sedih lagi!"
Mendengar ucapan Arga membuat Freya ingin menangis, ia menatap berkaca pada Arga. Lelaki ini yang selalu ada disaat ia bersedih, dan lelaki ini yang selalu menghiburnya.
"Gue boleh peluk Lo?" tanya Freya lirih ia menunduk tanpa berani menatap Arga.
Arga terkekeh lantas menarik Freya kedalam pelukannya, ia mengusap kepala dan punggung Freya bergantian saat merasa wanita itu menangis di pelukannya.
"Inget! waktu buat Lo nangis cuma lima menit! selebihnya itu, gue larang Lo keluarin air mata!" ucap Arga yang membuat Freya tertawa ditengah-tengah isakan nya.
Freya melepas pelukannya lalu tersenyum kearah Arga. Dia senang bisa melihat sahabatnya kembali setelah delapan belas tahun mereka terpisah.
"Makasih Ga," ucap Freya dengan senyuman. Ia menatap depan dengan tatapan kosong, begitu banyak masalah yang ia hadapi lantas tangannya menyentuh perutnya mengusap pelan.
Bagaimana nasib bayi dalam kandunganku, apakah dia akan terlahir tanpa sosok ayah disampingnya.
"Ngelamunin apa?" tanya Arga, tangannya kembali mengusap kepala Freya.
"Harusnya gue percaya sama ucapan Lo Ga. Gue nggak nyangka suami gue kayak gitu, hati gue sakit banget!" ucap Freya lirih.
"Lebih baik Lo tahu sekarang meskipun Lo bakal sakit hati daripada Lo terus-terusan dibohongi sama dia!"
"Kenapa dia tega sama gue. Bukan sekali dia kayak gini Ga! apa yang kurang dari gue sampai dia selingkuhi gue." air mata kembali mengalir di wajahnya.
"Gue bilang gue larang Lo buat nangis!" ucap Arga tegas ia lantas menangkup wajah Freya dan menghapus pelan air mata itu.
"Gue nggak suka Frey lihat Lo nangis!" ucap Arga lembut, ia menarik sudut bibir Freya dengan senyum kecil.
"Senyum ya biar cantik!" wajah Freya memerah, ia memukul dada Arga singkat.
"Apaan sih Lo!"
__ADS_1
"Gitu dong ketawa kan cantik," kekeh Arga. Dengan gemas Arga mengacak rambut Freya, membuat Freya mencebik kesal.
"Hari ini Lo USG kan?" tanya Arga. Freya menoleh dengan kerutan di dahi.
"Dari mana Lo tau?" tanya Freya.
"Apa yang nggak gue tahu, bahkan gue lebih tau Lo dari pada suami Lo!"
"Dia baik!" ucap Freya dengan tangan mengusap perutnya.
Arga tersenyum ia menatap perut Freya dengan pandangan beda. "Boleh gue lihat hasil USG nya? kalau nggak salah empat bulan udah tau kan jenis kelaminnya?"
"Udah, hasil USG nya ada di tas. Tuh di meja!" ucap Freya, dagunya menunjuk meja didekat sofa.
Arga berdiri lalu mengambil tas Freya dan melihat hasil USG nya.
"Jenis kelaminnya apa?" tanya Arga, ia tidak paham tapi melihat foto itu membuat hatinya bergetar.
"Lihat aja sendiri!"
"Gue gak ngerti Frey!"
"Kepo. Lo nggak perlu tau!"
"Bercanda sayang! serius juga nggak papa!"
.
Syafa menatap kosong kearah depan, keadaannya sungguh mengenaskan. Matanya bengkak, rambutnya acak-acakan, dan apartemen nya nampak sangat kotor.
Itu semua ulah dari Andra, kemarin lelaki itu datang ke apartemennya dan mengamuk memecahkan semua barang disana dia mengatakan jika ini semua karena Syafa ini semua ulah Syafa, Freya pergi meninggalkannya juga ulah Syafa.
Syafa dibentak bahkan di tampar oleh Andra membuat sudut bibirnya berdarah, dia sangat kasar pada Syafa bahkan bau alkohol sangat menyengat ditubuh Andra.
"PUAS LO! PUAS LO BUAT RUMAH TANGGA GUE HANCUR! DASAR JALANG GAK TAU DIRI LO!" bentak Andra.
"Kenapa lo nyalahin gue! disini bukan hanya gue yang salah tapi Lo juga salah. Egois Lo Ndra! Lo mau enaknya aja!" teriak Syafa yang sama-sama emosinya.
"LO YANG GODA GUE BANGSAT! LO MURAHAN! LO JALANG, LO SAMA KAKAK LO ITU SAMA AJA. SAMA-SAMA JALANG, MURAHAN, MATA DUITAN!"
__ADS_1
Plak!
Syafa menampar keras wajah Andra membuat lelaki itu tambah murka namun Syafa tidak takut bahkan ia menatap marah kearah Andra.
"LO BOLEH HINA GUE! TAPI LO JANGAN PERNAH HINA KAKAK GUE. BRENGSEK LO! LO ITU BRENGSEK! BAJINGAN! LO CUMA BISA MAININ CEWE SETELAH LO PUAS LO TINGGAL GITU AJA. LO EMANG COWOK BRENGSEK! PANTAS FREYA NINGGALIN LO! COWOK BAJINGAN KAYAK LO NGGAK PANTES BUAT FREYA!"
Plak!
Andra menampar balik Syafa dengan tamparan yang cukup keras membuat sudut bibir wanita itu berdarah.
"Jaga ucapan Lo ya! Gue bisa bunuh Lo saat ini juga. Lo mau ngalamin apa yang dialami kakak Lo!" bentak Andra.
"Gue hamil Ndra! Gue hamil anak Lo!" ucapan Syafa membuat Andra terdiam, tatapannya mengarah ke arah perut Syafa lantas menatap tajam wanita itu.
"Dan Lo pikir gue percaya! gue yakin itu bukan anak gue. Jalang kayak Lo nggak tidur sama gue aja!"
"DIA ANAK LO ANDRA DIA DARAH DAGING LO! GUE CUMA NGELAKUIN ITU SAMA LO AJA! LO LUPA SETIAP LO MAIN LO NGGAK PERNAH PAKE PENGAMAN!" sentak Syafa.
"Terus mau Lo apa? Lo mau gue nikahi elo!" tanya Andra dengan tangan memegang dagu Syafa.
Syafa dengan percaya diri mengganguk yang dibales kekehan sinis oleh Andra. "Ngimpi!" ucap Andra lalu menghempas dagu Syafa.
"Gue nggak sudi nikahi jalang kayak elo! dan gue nggak akan ngakuin anak itu. Anak gue cuma anak yang dikandung Freya! bukan anak yang ada di rahim wanita murahan seperti Lo!"
Syafa terdiam ia menangis terisak saat Andra pergi meninggalkannya ia tahu jika Andra tidak akan mau menerima anak ini.
"Ini karma buat gue!"
.
"Makan ya Frey, Lo dari tadi belum makan kan? kasihan tuh anak gue kelaparan!" ucap Arga, Freya mendelik kesal lelaki ini terus saja menyebut anak Freya sebagai anaknya.
"Sejak kapan anak gue jadi anak Lo!" ucap Freya dengan nada kesal.
"Belum jadi Freya masih coming soon!" kekeh Arga, ia lantas meraih makanan dimeja dan mulai menyuapi calon istrinya eh sahabatnya.
"Lo udah makan?" tanya Freya. Arga menggeleng masih fokus menyuapi Freya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kenapa? mau Lo suapi?" goda Arga. Lagi-lagi Freya mendengus kesal merasa jengah dengan sikap Arga.
"Gimana gue bisa makan sedangkan Lo aja nggak mau makan!" imbuhnya.