
Kandungan Freya telah berjalan dua bulan, ia masih sering mengalami mual-mual bahkan hampir setiap hari. Saat ini Freya tinggal di rumah orang tuanya karena Andra yang tengah ke luar kota.
Sebenarnya Andra tidak ingin meninggalkan Freya namun ia juga tidak bisa mengajak Freya berpergian, maka dari itu ia menitipkan nya pada mertuanya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Andra pada sekertaris nya.
"Sudah pak." Mereka akan pergi bertiga, Andra, Rendi, dan juga Syafa.
"Sayang aku berangkat dulu, kamu jaga diri baik-baik ya!" ucap Andra, ia mengecup sekilas kening istrinya lalu berganti menunduk mengusap perut Freya dan juga menciumnya kilas.
"Papa pergi dulu jaga mama baik-baik ya sayang," ucap Andra.
"Hati-hati dijalan mas!" ucap Freya menyalami tangan suaminya.
"Frey gue pergi dulu, jaga kesehatan keponakan gue!" ucap Syafa tertawa jenaka.
"Gue pergi dulu Frey, baik-baik dirumah!" ucap Rendi ia mengusap kilas kepala Freya yang langsung ditepis oleh Andra.
"Gak usah modus Lo!" ucap Andra kesal. Rendi hanya menatapnya sinis lalu tersenyum manis kearah Freya.
"Temen Lo udah balik Frey!" bisik Rendi lirih lalu pergi dari sana.
Freya mematung, teman? a-apakah Atha? lengkungan dibibirnya tertarik keatas, tanpa sadar matanya berkaca benarkah temannya telah kembali?
Setelah melihat mobil suaminya pergi Freya langung masuk ke dalam ia ingin melanjutkan acara memasak nya tadi. Entah kenapa hari ini ia sangat menginginkan bolu cokelat.
"Frey jangan kebanyakan gerak, udah duduk aja biar bunda yang buatin!" ucap Clarita.
Freya mencebikkan bibirnya kesal ia tidak suka seperti ini, apa-apa tidak boleh kenapa dia diperlakukan seperti orang sakit. Menyebalkan!
"Bunda..." rengek Freya.
"Udah duduk aja ya, entah kamu kecapekan kasihan cucu bunda!" ucap Clarita yang semakin membuat Freya kesal.
Bibir gadis itu melengkung kebawah matanya berkaca hidungnya kembang kempis ia siap meledakkan tangisnya, Freya memang sangat sensitif ia semakin sering menangis hanya karna hal-hal sepele.
"Huwaa hiks hiks." tangis Freya pecah membuat orang rumah berkumpul, Gio yang tengah di ruang kerja pun langsung turun begitu mendengar suara tangisan anaknya begitu juga dengan Rangga dan istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Gio panik ia menghampiri putrinya yang langsung memeluk tubuhnya.
__ADS_1
"Hiks hiks bunda jahat!" Isak Freya.
"Bunda kenapa hm? biar papa marahin bunda!" ucap Gio, Clarita menghela nafas lelah entah kenapa Freya jadi seperti ini.
"Bunda nggak bolehin Freya apa-apa padahal kan Freya pingin masak!" ucap Freya terisak.
"Aelah Frey gitu aja nangis! orang kenceng banget lagi bikin gue mengkaget aja lu!" ucap Rangga.
"Huwa hiks hiks, KaRang juga jahat. Freya mau pulang!" ucap Freya kembali, semua orang dibuat panik dengan Freya yang terus menangis kencang entah kenapa mereka seperti mengasuh anak kecil.
"Eh eh cup cup cup, maafin kakak ya iya kakak salah ngomong! udah jangan nangis lagi ya adik kakak yang paling cantik paling unyu-unyu kek monyet!" ucap Rangga menenangkan namun bukannya tenang Freya malah semakin menangis.
"Papa, KaRang ngatain Freya monyet!" ucapnya dengan tangis yang belum mereda.
"Rangga!" ucap Gio kesal.
"Hehe udah ya Frey Lo diem gue beliin eskrim deh, mau berapa? gue beliin setoko nya deh asal Lo diem."
Dan ajaibnya Freya langsung diam, dia menghapus air matanya menatap binar pada kakaknya.
"Ayo kak!" ucapnya tiba-tiba.
Rangga terdiam menatap binggung adiknya yang sudah berhenti menangis itu. "Ayo apa?"
.
Deret
Rendi segera mengangkat panggilan telepon nya ia mendengarkan seksama apa yang tengah dibicarakan lawan bicaranya.
"..."
"Rumah sakit mana ma?" ucap Rendi khawatir.
"..."
"Baiklah Rendi segera kesana!" ucapnya lalu panggilan terputus, tatapannya langsung beralih kearah sopir.
"Pak berhenti!" ucap Rendi.
__ADS_1
"Kenapa, ada masalah?" tanya Andra.
"Gue nggak bisa ikut rapat ini Ndra, gue mau izin bokap gue masuk rumah sakit!" ucap Rendi cemas.
"Baiklah tapi Lo pulang cari taksi sendiri bisa kan?"
"Bisa, thanks gue balik dulu." setelah itu Rendi turun dari mobil dan segera mencari taksi untuk dirinya menuju rumah sakit untung saja mereka masih belum keluar Jakarta.
"Pak..." ucap Syafa yang duduk disebelah Andra.
"Hm."
"Ehm kita kesana berdua aja nih pak?" tanya Syafa. Andra hanya menanggapi dengan deheman ia fokus dengan ponselnya tanpa menatap kearah Syafa.
"Bapak masih ingat pesan saya hari itu?" tanya Syafa kembali, Andra menoleh dengan alis terangkat bertanya akan maksud ucapan Syafa.
Permainan akan segera dimulai!
"Simpanan!" bisik Syafa lirih tepat ditelinga Andra dengan suara yang seksi. Tangannya meraba dada Andra dengan tatapan memuja.
"Bagaimana pak? kita bisa mulai dari sekarang dan saya pastikan Freya tidak akan tahu." Syafa merapatkan duduknya dengan Andra ia tak henti-hentinya menggoda Andra karena Andra sendiri tidak menolak dan tidak menanggapinya.
"Tidak. Saya suami sahabat kamu kalau kamu lupa!" ucap Andra ia menyingkirkan tangan Syafa, ia harus sadar jika saat ini istri ya tengah mengandung buah hatinya jangan sampai ia tergoda dengan wanita lain.
"Lalu kenapa, aku hanya menjadi simpanan mu pak bukan istrimu. Selagi Freya tidak tahu semua akan aman," ucap Syafa kembali dengan berani ia duduk dipangkuan Andra mengalungkan tangannya pada leher jenjang Andra tak perduli dengan sopir didepanya.
"Saya sayang sama bapak!" ucap Syafa dengan suara serak, ia mendekatkan bibirnya pada bibir Andra menciumnya dengan nafsu.
Syafa tersenyum saat tidak ada penolakan dari Andra ia semakin gencar tak perduli dengan orang lain dimobil itu, selagi itu bukan Rendi ia bisa leluasa melakukannya beruntungnya Rendi tidak jadi ikut itu bisa mempermudah rencananya.
Tangan lentik itu mulai meraba wajah hingga turun ke dada Andra, bermain disana membuat garis-garis abstrak di dada Andra ia tersenyum saat merasa tegang dibawahnya ternyata Andra sudah mulai terangsang.
Ternyata mudah sekali menggodanya baru segitu saja dia sudah tegang!
"Bagaimana pak? apa kau menerima tawaranku, ini sangat menguntungkan untukmu bukan? bukankah dulu kau juga pernah berselingkuh dengan kakakku? apa kau juga tidak ingin mencobanya denganku?" ucap Syafa dengan suara menggoda.
"Hentikan Syafa! jangan lakukan itu, saya suami dari sahabat kamu."
"Saya tahu Pak tapi saya menginginkan bapak. Say cinta sama bapak, kita bisa melakukannya tanpa sepengetahuan Freya," ucap Syafa kembali.
__ADS_1
"Tidak. Istri saya tengah mengandung anak saya! saya tidak bisa mengkhianati nya dan saya tidak bisa mengecewakan dia untuk yang kedua kalinya." Andra menjauhkan tubuh Syafa dari dirinya ia menahan sangat hasrat yang telah muncul akibat ulah dari Syafa.
"Jangan terburu-buru menolaknya pak, saya yakin secepatnya bapak akan menerima tawaran saya."