Ketulusan Cinta Freya

Ketulusan Cinta Freya
Ucapan Michelle


__ADS_3

"Michelle jadi konsulen Freya itu pasti perintah dari Lo kan!" Rendi yang baru saja tiba langsung menuding Arga dengan pertanyaannya.


"Kalau iya kenapa? Michelle konsulen terbaik buat Freya dia tahu semua kondisi tentang Freya."


"Michelle itu---"


"Sepupu gue! mau apa lu?" tantang Arga. Rendi melebarkan matanya apa dia bilang sepupu?


"Bentar-bentar gue gak salah denger kan, Michelle sepupu Lo? sejak kapan?" ucapnya.


"Sejak dulu lah bego! sejak mama dia jadi adik bokap gue dan sejak nenek gue ngelahirin ibu nya Michelle!" jelas Arga.


"Lo punya sepupu cantik gak ngenalin ke gue!" ucap Rendi dengan gerlingan matanya membuat Arga bergidik.


"Mau apa Lo! gak usah macem-macem sama dia! tuh cewek galaknya kek singa."


"Jangankan singa ibu gorila aja bisa gue bikin tunduk. Lo restui kan kalau gue sama dia?" ucap Rendi dengan alis naik turun.


"Bapak dia tentara minta aja restu sama om Ronald."


"Bantulah gue jatuh cinta pada pandangan pertama nih!" ucap Rendi.


"Kapan Lo ketemu sama dia? jangan bilang Lo dari sana!" tuding Arga dengan mata menajam.


"Kalau iya kenapa? tadi gue disuruh Andra buat lihat keadaan istrinya. Eh ketemu konsulen cantik."


"Pergi sana Lo! telinga gue sakit dengerin ocehan Lo!" usir Arga.


"Sabar pak bos. Gak gue bantu nangis darah Lo!" songgong Rendi.


"Gak gue bantu udah nikah lu!" balas Arga membuat Rendi terdiam.


"Kalah deh gue. Yaudah gue cabut babay babang tampan Jan lupa kenalin gue sama itu dokter cantik!" ujarnya lalu pergi meninggalkan ruangan Arga.


Arga terdiam ia meraih foto di laci mejanya, foto itu ialah foto USG milik Freya waktu itu ya Arga sempat memfotonya dengan ponsel dan menjadikannya album saat ini.


Hatinya terasa bergetar melihat foto itu, dia mungkin bukan anaknya tapi rasa sayang itu telah tumbuh dihati Arga.


"Hai baby, mau gak jadiin aku papa kamu. Anggap sekarang aku papa kamu jangan anggap dia yang bisa menyakiti mama mu itu. Doakan papa semoga ada jalan buat papa bersama dengan mamamu dan kau akan menjadi anak dari papa Arga."


"Mungkin dia papa biologis mu tapi aku akan menjadi papa yang sangat menyayangimu kau dan mamamu akan papa bahagiakan. Doakan papa oke semoga saat kau lahir akulah yang pertama melihatmu, semoga itu menjadi keajaiban Tuhan untuk kita bersama. Aku, mama dan baby. Sehat selalu kesayangan papa."


Mungkin terdengar gila dengan seenaknya dia mengklaim anak yang belum terlahir itu menjadi anaknya dia juga tidak tahu saat pertama kali melihat Poto USG itu hatinya merasa terenyuh dan hatinya sudah sangat menyayangi dia.

__ADS_1


"Pak." Arga langsung memasukkan Poto itu setelah mendengar suara seseorang yang masuk kedalam ruangannya.


"Ada apa?"


"Sepuluh menit lagi meeting akan segera dimulai!"


"Baiklah persiapkan semuanya!" Arga merapikan jas nya lalu berjalan keluar dengan diikuti sekertaris nya dibelakang.


"Pak kau akan meeting dengan rivalmu, Tuan Andra Stevano."


.


Freya tersenyum saat ia baru selesai mengerjakan tugasnya, dia baru saja keluar dari ruang operasi mungkin didalam tadi dia merasa takut, takut jika gagal namun akhirnya ia tersenyum saat operasi itu berjalan lancar.


"Kerja yang bagus dokter Freya, anda memang berbakat menjadi dokter spesialis bedah!" puji dokter Michelle.


"Ini semua berkat dokter Michelle juga, terimakasih dok."


"Baiklah anda bisa beristirahat, mau istirahat dengan saya. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, kita bisa ngobrol-ngobrol santai di taman belakang."


"Boleh." Freya tersenyum lantas mengikuti langkah dokter Michelle. Ia senang bisa dekat dengan konsulen nya lagi pula dokter Michelle tipe orang yang ramah.


"Anda sudah lama menikah dokter Freya?" tanya Dokter Michelle.


"Baiklah, jadi?"


"Belum lama sih dok mungkin sekitar enam bulanan," balas Freya.


"Oh masih pengantin baru nih. Saya saja masih belum menikah, pusing tiap kali ditanya kapan nikah? kapan nikah!" ucap Michelle sebal membuat Freya tertawa.


"Tidak apa dok, lebih baik tidak terburu-buru dalam menikah. Butuh persiapan juga, saya pun merasakan perbedaan yang sangat setelah menikah." Freya berucap dengan pandangan kearah depan.


"Perbedaan gimana? pasti enak dong nikah sama orang yang kita cintai dan mencintai kita balik pasti bahagia banget saya juga pingin," kekeh Michelle.


"Mungkin sebagian orang mengatakan menikah dengan orang yang kita cintai pasti buat kita bahagia, bagi saya itu tidak semuanya benar mungkin 50 persen benar dan 50 persen salah."


"Kenapa?" tanya Michelle penasaran.


"Ehm boleh saya curhat?" tanya Freya sedikit kekehan, ia ingin sedikit berbagi masalahnya bertukar pikiran dengan orang lain.


"Boleh dong saya malah senang, mungkin kita belum lama kenal bahkan belum ada sehari tapi saya merasa sangat nyaman mengobrol dengan anda," ucap Michelle.


"Saya merasakan perbedaan pada suami saya saat sebelum menikah dan saat sudah menikah. Mungkin suami saya sangat sayang dan sangat mencintai saya itu dulu saat kami belum menikah namun sekarang saya merasakan perbedaan dengannya. Entahlah kita sebagai wanita selalu merasakan itu saya merasa jauh dengan suami saya meskipun kami selalu bersama."

__ADS_1


"Mungkin hanya perasaan kamu saja. Bisa saja suami kamu sibuk berkerja, apa dia pernah mengeluh padamu?"


"Pernah tapi saat saya hamil saya merasa jauh dengannya bahkan memberi kabar saja jarang."


"Mungkin sibuk, positif tingking saja ingat kamu sedang hamil jangan kebanyakan pikiran kasihan baby nya. Oh ya berapa bulan ini?"


"Dua bulan."


"Dua bulan lagi kamu bisa melihat jenis kelaminnya," ucap Michelle, tangannya mengusap perut rata Freya.


"Ehm saya sudah tidak sabar melihat kelahiran anak ini." Freya tersenyum dengan tulus sembari tangannya mengusap lembut perutnya.


"Kamu orang yang baik Freya, bahkan saya bisa melihat dari sorot mata kamu melihat dan senyuman kamu yang tulus hati kamu penuh dengan ketulusan. Saya senang bisa berteman dengan orang baik sepertimu."


"Terimakasih dokter Michelle juga orang yang baik."


"Terkadang kamu juga perlu menjadi jahat untuk mempertahankan sesuatu yang menjadi milikmu, jangan terlalu baik pada orang yang tidak tahu diri."


"Maksud dokter?"


"Tidak saya hanya belajar dari pengalaman saya, dua tahun yang lalu saya sempat gagal nikah," ucap dokter Michelle dengan helaan nafas panjang.


"Gagal nikah?" ucap Freya terkejut.


"Iya itu semua terjadi karena kebodohan saya. Saya terlalu percaya pada sahabat saya bahkan semuanya saya percayakan pada dia, tapi ternyata dia menghianati saya."


"Calon suami saya berselingkuh dengan sahabat saya. Bahkan itu terjadi sudah sangat lama sampai akhirnya kedok itu terbongkar tepat dihari pernikahan saya sahabat saya datang dan mengatakan dia hamil anak calon suami saya." Michelle tertunduk ia merasa sangat sedih saat mengingat cerita itu.


"Tapi saya beruntung setidaknya kebusukan itu terbongkar sebelum saya menikah apa yang akan saya lakukan jika itu semua terbongkar saat saya telah menikah dengannya. Di madu? itu jalan satu-satunya tapi saya akan sangat tersiksa."


Freya hanya diam ia tidak tahu harus merespon bagaimana ia hanya mengusap bahu Michelle menenangkannya.


"Mungkin dia memang bukan jodoh dokter beruntung itu semua terjadi sebelum pernikahan."


"Ya saya bersyukur akan hal itu, sejak hal itu saya tidak terlalu percaya dengan orang. Itu juga bisa menjadi pelajaran untukmu Frey jangan terlalu percaya yang baik didepan belum tentu baik dibelakang."


"Saya juga punya sahabat dia kerja di kantor suami saya tapi dia sangat baik dan hal itu tidak mungkin terjadi."


"Freya!" Michele memegang bahu Freya dengan tatapan serius.


"Nggak ada yang nggak mungkin, orang bisa berubah kapan aja. Jangan terlalu percaya pada orang lain sekalipun itu orang terdekat mu bisa jadi dia yang menjadi kehancuran di kehidupanmu."


"Apalagi dia bekerja dengan suamimu. Berhati-hati itu juga perlu bukan aku mengatakan hal buruk tentang sahabatmu aku hanya tidak ingin kau merasakan apa yang aku rasakan karena kau terlalu baik untuk merasakan itu semua."

__ADS_1


"Jauhkan sahabatmu dari suamimu atau dia yang akan menjadi kehancuran rumah tanggamu!"


__ADS_2