
Tes!
Air mata Syafa menetes saat matanya baru saja terbuka, ia segera mengusapnya senyum miring tercetak dibibirnya saat menatap lelaki disampingnya meskipun begitu hatinya sangat sakit, mahkota yang selama ini ia jaga harus ia berikan kepada dia--- suami sahabatnya sendiri.
Kehormatannya telah hilang, Syafa sudah bukan perawan lagi dan dia harus menyerahkan itu semua pada suami sahabatnya sendiri. Manusia macam apa dia ini tidur dengan suami sahabatnya? tidak tahu di untung. Dia wanita yang jahat!
Ya aku memang wanita jahat dendam membutakan hatiku aku terlanjur dendam dan sakit hati pada Andra. Kehancuran telah menantinya dan semua akan segera berlalu setelah Andra hancur dan aku akan pergi dari sini aku akan menjauh dari semua orang.
Maafkan aku Freya...
Syafa bangun ia melilitkan selimut itu ke tubuhnya ia berjalan sedikit susah karena intinya yang masih terasa sakit.
Bukankah ini yang kau mau Syafa? lantas kenapa kau menangis? apa kau menyesal? apa kau takut? penyesalan memang selalu berada di akhir! nikmati saja hidupmu kau akan hancur!
Ya aku tahu setelah ini aku akan hancur semua orang akan membenciku semua orang akan mengucilkan aku aku tahu itu memang pantas untuk ku terima setidaknya aku tidak sendiri kehancuran ku juga akan menjadi kehancuran untuk Andra.
Aku yakin Freya tidak akan memaafkan nya kembali aku yakin mereka akan bercerai dan saat itu juga Andra akan hancur!
Syafa mengguyur tubuhnya dengan air dingin ia menggosok semua bekas kiss mark Andra dengan kasar ia benci tubuhnya ia benci. Tubuhnya kotor? lantas kenapa bukankah ia yang memulai? bukankah ini keinginannya?
Air meluruh dari tubuh Syafa bersamaan dengan air mata yang terus mengalir deras ia benci dengan keadaan ini.
Maafkan aku Frey... Aku memang nggak pantes buat Lo anggep sahabat! Lo terlalu baik buat gue, makasih buat semuanya.
Setelah selesai dengan acara mandinya Syafa keluar dengan handuk melilit ditubuhnya ia menatap sekilas wajahnya.
Mata sembab dan hidungnya yang memerah, bagaimana bisa ia keluar dengan seperti ini. Bisa-bisa Andra akan curiga.
Syafa mengintip kilas melihat Andra yang masih pulas dengan tidurnya ia segera keluar, mengganti baju dan merias wajahnya agar terlihat segar.
"Hey bangun! kenapa tidurmu pulas sekali? apa kau senang dengan kemarin malam!" ucap Syafa seraya menggoyang lengan Andra.
Andra menggeliat matanya mengerjab lalu tersenyum kearah Syafa. "Kau hebat semalam!" ucap Andra dengan suara seraknya.
"Cepatlah mandi setelah ini kita akan rapat!" ucap Syafa yang di angguki oleh Andra.
"Aku terima tawaranmu!" bisik Andra membuat Syafa tersenyum.
Tawaran itu ialah awal dari kehancuran mu tuan Andra Stevano.
__ADS_1
.
"Mereka sekamar?" tatapannya berubah tajam saat mendengar kabar dari penelpon tangannya mengepal, hembusan nafas kasar ia keluarkan dan langsung mematikan ponsel itu.
"Bedebah! dia mulai lagi. Bangsat gue nggak akan tinggal diam!" Arga mengepalkan tangannya ia meninju dengan emosi samsak didepannya, terus menerus seperti itu dengan amarah yang membuncah.
Arga menyudahi latihannya dengan segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Lo dimana?"
"Rumah sakit. Kenapa?"
"Gue butuh bantuan Lo. Bisa ketemu?"
"Bisa, bokap gue juga udah mendingan. Dimana?"
"Tempat biasa. Sekarang!"
Tanpa menunggu balasan dari lawan bicaranya Andra langsung mematikan sambungan telpon.
"Lo main-main sama gue!" Arga masuk ke kamar mandi ia butuh kesegaran sebelum bertemu dengan seseorang.
"Sialan Lo! Lo suruh gue cepet kesini Lo sendiri lelet!" Arga yang baru saja tiba langsung mendapat Omelan dari--- Rendi.
"Kenapa?" Rendi tau jika saat ini Arga tengah marah.
"Dia berulah lagi!" ucap Arga dengan hembusan nafas kesal.
Rendi terdiam sejenak kemudian tangannya mulai mengepal, ia tahu siapa yang dimaksud Arga.
"Sama siapa?"
"Lo bukannya kemarin ikut?" Arga menyesap kopi pesanannya, ia ingin meredakan emosinya yang tengah memuncak. Lagi-lagi bedebah itu berulah membuatnya sangat ingin menghabisinya saat ini juga.
"Bokap gue kemarin sakit jadi gue terpaksa gak ikut, cuma dia sama Syafa aj--- shit! sial." Rendi baru sadar.
"Benar. Wanita tidak tahu diri itu penerus kakaknya!" ucap Arga dingin.
"Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya, nggak usah kaget kalau kelakuan dia 11 12 sama kakaknya." Arga tersenyum sinis tatapannya tajam ia tidak rela wanitanya tersakiti kembali.
__ADS_1
"Jalang!" sinis Rendi.
"Rencana Lo selanjutnya apa?" Arga tersenyum miring ia membisikkan sesuatu pada Rendi yang membuat lelaki itu tersenyum devil.
"Rencana yang bagus!" ucap Rendi.
.
Rangga nampak merenggut ia habis uang banyak hanya untuk adiknya, datang-datang membuatnya bangkrut. Masih ingat saat Freya nangis? dan berujung bujukan eskrim setoko itu? ya dengan sangat terpaksa Rangga harus membelikannya karena adiknya yang tidak henti-hentinya menagih padanya.
Tapi bukan setoko ya se boks eskrim tau bukan? memang tidak ada apa-apanya untuknya tapi--- taulah untuk apa eskrim banyak-banyak buang-buang uang saja.
"Seneng Lo bikin gue susah!" ucap Rangga kesal.
Freya merenggut ia menatap sendu kearah keluarganya, papa, bunda dan juga kakak iparnya Nanda.
"Lihat kaRang nggak ikhlas kasih aku, padahal kan yang mau baby nya bukan aku hiks hiks." Freya kembali menangis membuat semua orang menatap tajam kearah Rangga karena wanita itu baru saja terdiam.
"Astaghfirullah demi anak didalam kandungan Lo, gue bener-bener kesel sekarang. Belum lahir aja udah nyusahin!" ucap Rangga frustasi.
"Hiks hiks kaRang jahat!" tangis Freya semakin kencang membuat semua orang panik.
"Cup cup Frey diem ya, jangan nangis terus kasihan baby nya!" bujuk Nanda.
"KaRang jahat sama aku, dia ngatai baby aku nyusahin kak hiks hiks!" adu Freya pada Nanda.
"Udah jangan nangis nanti biar kakak kasih pelajaran buat Rangga. Sekarang kamu diem ya!" ucap Nanda sabar ia menenangkan Freya bak menenangkan anak kecil.
"Nanti suruh KaRang tidur diluar! aku mau tidur sama kakak," ucap Freya kembali Nanda segera mengganguk tidak perduli dengan wajah masam suaminya.
"Frey... Dia kan bini gue kenapa jadi elo yang tidur sama dia! udah deh Lo balik aja bikin gue naik darah mulu Lo!" ucap Rangga kesal.
"Rangga!" ucap semua orang dengan tatapan tajamnya membuat Rangga meneguk salivanya susah.
"Oke gue ngalah. Puas kan Lo bikin gue menderita, gue tahu Frey ini bukan kemauan baby Lo tapi emang Lo sengaja. Lo punya dendam kesumat apa sama gue sampai jadiin ponakan gue tamengnya!" ucap Rangga kesal wajahnya nampak memerah.
"Sayang... Tidur sama aku ya entar," ucap Rangga melas ia memegang tangan istrinya dengan wajah nelangsa.
"Nggak! aku mau nemenin Freya tidur kamu tidur diruang tamu!"
__ADS_1
Freya terkikik geli ia menatap meledek kearah kakak nya memang benar jika Freya tengah mengerjai Andra ini semua bukan karena baby tapi karena dia yang ingin membuat kakaknya kesal saja.
"Selamat tidur sendiri kakakku, peluk guling sebagai ganti kak Nanda!" ucap Freya dengan gerakan bibir tanpa ada yang mendengarnya.