Ketulusan Cinta Freya

Ketulusan Cinta Freya
Kehilangan


__ADS_3

"Akhhhh." Syafa berteriak saat merasakan sakit yang ia rasakan pada perutnya hari masih sangat gelap dilihat jam masih pukul 1 dini hari.


Andra tidak ada di rumah lelaki itu masih sama dia bahkan sangat jarang pulang sekarang, Syafa hanya diam sikap Andra semakin hari semakin dingin padanya.


Syafa tidak kuasa menahan rasa sakit ini, ia segera menghubungi asisten rumah tangganya untuk membantu dirinya, menghubungi Andra pun percuma.


Pembantunya berjalan tergopoh kearah kamar Syafa, ia melihat Syafa yang sudah tak berdaya dengan darah yang mengalir dikakinya.


"Nyonya ketuban anda pecah sepertinya anda akan segera melahirkan." ucapan dari pembantunya membuat Syafa panik, padahal dua hari lagi baru ia melahirkan dengan jalan operasi caesar karena melahirkan normal tidak mungkin tumor di rahimnya sudah membesar.


"Tolong bantu saya ke rumah sakit," ucap Syafa lirih.


"Saya akan panggilkan Danang dulu nyonya." Bibi kembali berlari kedepan rumah untuk memanggil seorang sopir.


Syafa segera dibopong dibawa ke rumah sakit, ia tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya rasanya sangat sakit.


"Ku mohon bertahanlah sayang," ucap Syafa lirih ia terus mengusap perut buncitnya.


Pembantu itu ikut mengantar Syafa ia pun menghubungi Andra namun kalian tahu apa yang lelaki itu katakan.


"Aku tidak perduli! mau dia melahirkan mau dia mati sekalipun aku tetap tidak perduli!" Andra membentak pembantu itu, bisa pembantu itu dengar jika saat ini Andra berada di club malam dan sepertinya lelaki itu tengah mabuk.


"Nyonya tuan---"


"Tidak apa saya tahu," ucap Syafa, ia mencoba tersenyum meskipun saat ini ia ingin menangis. Seperti ini rasanya tidak di perdulikan saat dia benar-benar membutuhkan seseorang disampingnya.


"Mama takut sayang," ucap Syafa.


Mobil baru saja berhenti di rumah sakit, Syafa segera dibawa keruang bersalin dengan peluh yang sudah membanjiri wajah dan tubuhnya.


"Dokter apapun yang terjadi tolong selamatkan nyawa anak saya jangan pedulikan nyawa saya." Syafa berucap dengan memohon pada dokter itu.


"Sebisa mungkin kami akan menyelamatkan kalian berdua."


"Sudah pembukaan delapan dokter, apa kita akan melakukan operasi caesar?"


"Tidak bisa pembukaan sudah delapan terpaksa ibu ini akan melahirkan secara normal meski hanya sedikit harapannya," dokter itu berucap lirih, entah Syafa atau bayinya yang akan selamat.


"Nona terpaksa anda harus melahirkan secara normal," ucap dokter itu.

__ADS_1


"Tidak masalah yang terpenting anak saya harus selamat dok saya tidak perduli dengan nyawa saya."


Dokter memeriksa terlebih dulu kondisi Syafa, namun dia terkejut saat Miom itu menutupi jalan lahir bayi, itu akan sulit untuk bayinya lahir.


"Akhhhh." Syafa kembali berteriak saat merasakan kontraksi itu kembali ini lebih sakit dari yang tadi.


"Sudah pembukaan sepuluh, ibu miom itu menutupi jalan lahir bayi." Dokter tidak bisa apa-apa hanya keajaiban Tuhan yang bisa membantu menurut perkiraannya bayi itu tidak akan selamat karena miom yang sudah membesar dan menutupi jalan lahir bayinya.


Dokter masih membantu mengintruksi untuk Syafa tarik nafas dan mengejan mencoba sebisa mungkin. Harapannya sangat minim melahirkan saat Miom itu ada dijalan lahir.


"Akhhhh." Syafa merasakan sakit yang luar biasa ia bisa merasakan bayinya mulai mencari jalan, tapi seperti jalan buntu sekuat apapun dia mengejan bayinya tidak dapat keluar.


"Ayo nyonya sekali lagi, nyonya harus kuat." Semangat dokter, ada sedikit harapan saat ia melihat sedikit rambut bayi.


"Akhhhh. Saya tidak kuat dokter," ucap Syafa lemah.


Di kondisi seperti ini ia harus berjuang sendiri tanpa dukungan dari siapapun.


"Dokter bayi sudah tidak bergerak," ucap suster. Dokter memeriksa perut Syafa dan dia juga tidak merasakan pergerakan pada bayi itu.


"Dokter bayi saya kenapa?" tanya Syafa lirih, ia sudah sangat kehilangan tenaga.


"Dokter bayi saya pasti selamat kan dok... Selamatkan bayi saya dokter," ucapan terakhir sebelum Syafa pingsan.


.


Mata Syafa mengerjab hal pertama kali yang ia lihat adalah langit-langit putih, ia terdiam sebentar sampai ingatannya kembali refleks wanita itu memegang perutnya, perutnya sudah tidak membuncit lagi.


"Anakku." Syafa langsung duduk dan melepas infus ditangannya. Saat ia akan bangkit seseorang masuk ke ruangannya.


"Syafa apa yang kamu lakukan!" Freya berjalan cepat mencegah Syafa yang akan bangun.


"Freya, anak aku mana Frey?" tanya Syafa histeris.


"Syafa tenang dulu, a-anak kamu..."


"Bangsat Lo! jadi ibu gak becus! gara-gara Lo anak gue meninggal. Kenapa gak Lo aja yang mati, wanita sialan!" Andra yang baru datang langsung marah-marah pada Syafa.


"MAS ANDRA!" bentak Freya.

__ADS_1


Syafa terdiam mendengar ucapan Andra tadi, anaknya meninggal? air mata meluruh begitu saja tubuh Syafa melemas sampai ia akan terjatuh jika tidak ditahan Freya.


"ENGGAK! ANAK AKU NGGAK MUNGKIN MENINGGAL!" teriak Syafa dia mengamuk seperti orang gila.


"SYAFA HEI SYAFA TENANG. KAMU HARUS TENANG!" ucap Freya ia berusaha menenangkan Syafa yang berontak.


"Freya anak aku gak meninggalkan Frey? dia bohong kan dia benci sama aku karena itu kan dia bilang kalau anak aku meninggal. Iyakan sebenarnya anak aku nggak meninggalkan?" Syafa memberondong pertanyaan pada Freya tatapannya kosong tapi air mata terus mengalir di pipinya.


Freya menangkup kedua pipi Syafa ia mengusap air mata itu pelan. "Fa dengerin aku! hidup dan mati seseorang itu ada ditangan Tuhan, kita nggak bisa mencegah. Anak kamu nggak terselamatkan Fa, karena miom yang menutupi jalan lahirnya membuat dia tidak bisa keluar dan keracunan air ketuban itu."


Syafa menggeleng dengan air mata yang meluruh deras ia menjambak rambutnya keras, Syafa sangat frustasi dia nampak seperti orang gila.


"Enggak. Enggak! kamu nggak boleh meninggal sayang kamu nggak boleh meninggal. Jangan tinggalin mama sayang, cuma kamu yang mama punya. Hiks hiks..." Freya memeluk tubuh rapuh Syafa ia ikut menangis merasakan sakit hati Syafa.


"Kenapa nggak aku aja yang meninggal Frey? kenapa! aku nggak mau hidup aku mau ketemu sama anak aku." Syafa berlari keluar entah kemana.


Freya terus mengikutinya dengan diikuti Arga dibelakangnya sedangkan Andra dia entah pergi kemana.


Syafa berlari keatas gedung rumah sakit membuat Freya panik apa yang akan dilakukannya.


"Syafa jangan gila! jangan seperti ini Fa!" teriak Freya.


"Buat apa gue hidup Frey. Anak gue udah meninggal gue udah nggak punya siapa-siapa! semua orang benci sama gue. Gue capek sama hidup gue Frey, ini emang pantes buat gue. Gue udah jahat sama Lo Frey! gue udah jahat sama Lo!" Syafa memukuli kepalanya lalu menjambak rambutnya.


"Hahaha. Anak mama sayang, kamu cantik banget!" Freya menangis histeris melihat keadaan Syafa saat ini, sekarang Syafa tertawa sendiri dengan tangan seolah-olah tengah menggendong seorang bayi.


Dokter langsung datang dan menyuntikkan obat penenang pada Syafa membuat wanita itu pingsan.


"Apa yang terjadi sama Syafa dok?" tanya Freya, ia tengah berada di ruangan dokter yang baru saja memeriksa Syafa tadi.


"Psikis Syafa terganggu, dia harus segera dibawa ke RSJ untuk penyembuhannya," ucap dokter.


"Maksud dokter sahabat saya gila?" tanya Freya tak percaya.


"Karena kehilangan anaknya membuat mentalĀ  pasien down dan psikisnya terganggu sepertinya selama ini pasien tertekan dan itu salah satu sebabnya juga."


"Apakah sahabat saya sudah tidak bisa memiliki anak?"


"Tidak. Pasien baru saja melakukan operasi miom karena miom pasien yang semakin besar akibatnya kami melakukan pengangkatan rahim pada pasien, membuat pasien tidak bisa memiliki anak lagi."

__ADS_1


Freya menangis merasa sedih mendengarnya, Syafa sudah tidak bisa memiliki anak dan sekarang dia depresi dia gila.


Tuhan itu adil, ini adalah balasan yang Syafa terima setelah apa yang selama ini ia perbuat, Freya tidak membalasnya tapi Tuhan yang membalasnya. Setiap perbuatan itu selalu ada pertanggungjawaban nya.


__ADS_2