
Hoek Hoek
Freya terbangun di pagi hari ia langsung berlari menuju kamar mandi memuntahkan isi perutnya.
Andra yang mendengar Freya yang terus mual lantas menghampirinya memijit tengkuk istrinya, wajah Freya nampak sangat pucat sedari kemarin ia tidak henti-hentinya mual, baru kemasukan makanan sedikit dia sudah kembali mual.
"Sayang masih mual?" tanya Andra perhatian ia menangkup pipi istrinya mengusapnya perlahan.
Freya menggeleng ia menyenderkan kepalanya pada dada suaminya tangannya memeluk pinggang suaminya, tubuhnya terasa sangat lemas saat ini.
"Mau ke rumah sakit?" tanya Andra khawatir ia mengusap kepala istrinya membiarkan Freya memejamkan mata di pelukannya.
Freya menggeleng, dengan perlahan Andra menggangkat nya memindahkan Freya agar tertidur di ranjang.
"Kamu mau makan apa hm?" Andra terduduk dibawah tangannya mengusap kepala Freya wajahnya sejajar dengan wajah Freya.
"Nggak mau makan!" ucap Freya lemah.
"Makan dikit ya, kalau nggak makan kasihan baby nya. Kamu mau apa? nanti aku beliin!"
"Aku mau makan kalau itu masakan kamu," ucap Freya membuat Andra terdiam. Masakannya? oh ayolah dia tidak bisa memasak.
"Sayang masakan bibi aja ya? kamu kan tahu sendiri aku nggak bisa masak," ucap Andra memelas semoga Freya mengerti namun nyatanya tidak.
Freya memalingkan muka kearah lain. "Aku nggak mau kalau itu bukan masakan kamu!" cetus Freya.
"Yaudah aku masakin buat kamu, sekarang kamu istirahat dulu ya!" Andra berdiri mengecup sekilas kening istrinya dan mulai melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Tuan, Tuan butuh apa? biar saya ambilkan!" ucap bibi.
"Saya mau masak bubur buat Freya bi," ucap Andra.
"Biar saya saja tuan yang buat, tuan tunggu disana saja!"
"Nggak bisa bi, Freya minta saya yang buat dia nggak mau orang lain yang buat. Tapi masalahnya saya nggak bisa masak, bibi bisa bantu kan!" ucap Andra.
__ADS_1
Bibi mengganguk ia tersenyum bahagia saat mendengar majikannya tengah mengandung. "Ehm mungkin nona Freya tengah ngidam tuan," kekeh bibi.
"Ngidam? apa itu ngidam?" tanya Andra membuat bibi menoleh, benarkah dia tuannya tidak tahu ngidam? makhluk dari mana dia sebenarnya?
"Ngidam itu tuan keinginan ibu hamil yang menginginkan sesuatu atau mengonsumsi makanan tertentu, seperti saat ini nona Freya menginginkan bubur buatan tuan Andra dan kalau ngidam ibu hamil nggak dipenuhi kata kebanyakan orang sih nantinya si bayi ileran," jelas bibi.
"Serius bi?" tanya Andra.
"Iya tuan. Apa nona juga mengalami mual-mual?" tanya bibi.
"Hm, Freya dari kemarin mual terus bi. Apa nggak ada obat yang bisa bikin dia nggak mual lagi? kemarin Freya juga dapat tapi itu vitamin penguat kandungan."
"Bukan obat sih tuan semacam jamu nanti biar saya bikinkan buat nona Freya, dan untuk mual itu mungkin nona sedang morning sickness."
"Morning sickness? apalagi itu bi?" tanya Andra kembali banyak yang tidak ia ketahui tentang ibu hamil.
"Morning sickness itu ya mual-mual itu tuan itu sudah biasa dialami ibu hamil. Hormon ibu hamil juga naik turun lebih sering sensitif jadi tuan harus lebih hati-hati dan lebih ekstra menjaga nona Freya!" ucap Bibi dengan telaten menjelaskan apapun yang Andra tanyakan.
Andra mulai membuat bubur dengan bantuan dari bibi meskipun sedikit kesulitan namun tidak apa-apa dia akan berusaha membuatkan ini untuk Freya dan calon buah hatinya.
"Enak!" puji Andra pada masakannya sendiri ia lantas naik ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan juga air.
"Sayang makan dulu ya," ucap Andra ia meletakkan bubur itu di nakas, tangannya menepuk pelan pipi istrinya untuk membangunkan tidur Freya.
"Makan dulu ya," ucap Andra saat Freya mulai membuka mata. Freya duduk menatap memicing pada bubur ditangan Andra.
"Itu buatan kamu kan!" ucap Freya dengan tatapan mengintimidasi.
"Iya sayang ini buatan aku, udah sini aku suapin!" ucap Andra, ia mulai menyendokkan bubur ke mulut Freya.
"Enak?" tanya Andra.
"Enak, aku suka. Aku mau kamu buatin aku bubur ini tiap hari!" ucap Freya girang namun tidak dengan wajah Andra yang melas.
Setelah Freya menghabiskan semangkuk bubur itu Andra segera memberikannya minum, ia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
__ADS_1
Hari ini ia tidak akan pergi ke kantor ia ingin menemani istrinya, Andra turun untuk meletakkan piring kotor itu lalu kembali tidur disebelah Freya.
"Masih mual? atau pusing?" tanya Andra.
"Usah nggak kok mas," ucap Freya ia memeluk dari samping suaminya menyenderkan kepalanya pada dada suaminya.
"Kamu nggak kerja?" tanya Freya.
"Nggak. Aku mau nemenin kamu dirumah, kamu mau apa?"
"Aku nggak mau apa-apa, kamu udah kabarin orang tua kita?" Freya membentuk abstrak pada dada Andra dengan sesekali menatap ke wajah suaminya.
"Udah kemarin, bentar lagi juga pasti datang!" Andra terus mengusap kepala Freya dengan sesekali memberi kecupan dikepalanya.
"Mas kamu mau bayi cewek atau cowok?" tanya Freya tiba-tiba.
.
Arga memejamkan matanya saat merasa pusing mendera dikepalanya, masalah baru kembali muncul.
Freya tengah mengandung itu sedikit menjadi masalah untuknya, jika Freya hamil peluang untuk mereka akan bercerai sangat lah dikit 5 persen mungkin.
"Gue percaya kalau Lo jodoh gue Cia, gue kangen sama Lo gue pingin peluk Lo dan gue pingin ngomong ke elo kalau gue udah balik kalau orang yang selama ini Lo tunggu udah kembali. Gue udah nepatin janji gue! Atha udah kembali Cia, Atha kembali buat Cia."
"Woy lah ngelamun aja pak bos, ngelamun'in apa sih pak? istri orang ya! hayo ngaku gak boleh Lo pa entar Tuhan bapak marah!" itu ialah ejekan dari sepupunya---- Jelita wanita cantik seumurannya yang berkerja di perusahaan nya sebagai sekretaris Arga.
"Diem Lo!" kesal Arga, memang benar Jelita tahu jika selama ini Arga mencintai istri orang yaitu Freya.
"Udahlah Ga, Lo lupain dia lagian dia udah punya laki. Lo jangan jadi pela--- ya eh tunggu emang ada Pela cowok setahu gue selama ini Pela itu cewek nggak tahu cowok iya apa gak!" kekeh Jelita ia masih asyik menggoda Arga, tidak takutlah ia pada Mr. Es?
"Banyak omong Lo! pergi sana ganggu aja!" usir Arga, Jelita dengan kekehan nya akhirnya mengganguk dan pergi dari sana namun sebelumnya ia sempat mengucapkan kata yang membuat Arga mendengus kesal.
"Pak bos be like: Freya aku tunggu jandamu!" kekeh nya lalu berlari pergi dari ruangan Arga sebelum sebuah lemparan melayang kearahnya.
"Shit!" umpat Arga kesal, entah kenapa dia harus hidup dengan dikelilingi orang-orang menyebalkan seperti mereka tidak Rendi, tidak Jelita sama saja.
__ADS_1