
Saat ini situasi diacara pertunangan sangat tegang, saat mereka mendengar pengumuman Ratu Linlin yang tiba-tiba. Tetapi berbeda dengan Alisa yang tiba-tiba tertawa dengan keras.
"Hahahaha. Linlin, kamu sangat lucu hari ini. Apakah kamu pikir dengan mengikat Fifian akan membuat keluarga Red berpihak kepadamu?. Sungguh lucu, biar aku beritahukan kepadamu, aku sudah memiliki kontrak dengan Semiramis. Adapun isi kontrak itu biar ku bocorkan sedikit, ini merupakan kontrak emas."
"Apa?. Ugh, sialan." Ucap Linlin.
Sementara itu para tamu yang melihat situasi yang menegangkan ini, malah tambah bersemangat.
"Fifian masih belum terlambat untuk kembali kesini. Sebelum aku mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuatmu menyesal." Ucap Semiramis dengan dingin.
Fifian yang mendengar ucapan ibunya menegang. "Ibu.."
"Jangan kesana Fifian, kita masih memiliki rencana cadangan. Ingat perkataan Lux kemarin." Ucap Rose kepada Fifian.
Fifian yang mendengar ucapan Rose tenang kembali dan mengangguk kepadanya. Dia mulai mengingat kenangan saat pembahasan acara pertunangan kemarin.
.......
*POV Pembahasan kemarin
"Tetapi ini masih kurang bocah Lux, mereka masih memiliki sebuah kontrak dan aku tidak mengetahui isi kontraknya. Bagaimana kalau kontrak tersebut merupakan kontrak emas?." Ucap Linlin dengan ragu.
Lux yang mendengarnya dengan tenang berkata "Tenang saja, kalau rencana ini tidak berhasil aku masih memiliki rencana cadangan. Adapun apa itu rencana cadangannya, nanti kalian akan mengetahuinya sendiri saat acara pertunangan nanti."
......
Fifian yang mengingat pembahasan itu kemudian menatap Lux dengan penuh harap.
Lux yang melihat situasi mulai tidak bagus akhirnya berkata. "Nyonya Semiramis bisakah kita bicara empat mata bersama. Aku ingin membahas beberapa hal penting."
Semua orang yang mendengar ucapan Lux tercengang, termasuk Alisa dan Leo. Sementara itu Semiramis yang mendengar ucapan Lux tersenyum dan berkata. "Fufufu. Apa yang ingin dibahas nak Lux denganku?."
"Bukun masalah yang penting, hanya tentang beberapa bangsawan yang menghilang." Ucap Lux sambil tersenyum.
Sontak Semiramis yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya dan tersenyum dingin. "Baiklah. Sepertinya aku juga harus memberikan beberapa hadiah kepadamu."
Lux tersenyum mendengar balasan Semiramis dan kemudian berbalik menuju suatu ruangan kosong disamping lokasi acara.
Sementara itu Semiramis yang akan beranjak pergi tiba-tiba dihentikan oleh suara dingin dibelakangnya. "Semiramis, jangan sekali-kali kamu melanggar kontrak kita."
"Fufufu. Apakah seperti itu?" Balas Semiramis dengan santai.
"SEMIRAMIS..." Ucap Alisa, sambil menatap Semiramis dengan dingin.
Semiramis tidak menghiraukan Alisa dan langsung menuju suatu ruangan yang disediakan oleh Lux.
Sementara itu para tamu dan yang lainnya menunggu dengan tegang, mereka tegang karena menyangkut arah perubahan tahta kerajaan.
Selang beberapa saat suara tawa datang dari dalam ruangan Lux dan Semiramis. Suara itu adalah tawa dari Semiramis itu sendiri. Setelah tawa berhenti, Semiramis dan Lux keluar dari ruangan.
Semua orang melihat mereka dan menunggu hasilnya. Sementara Semiramis langsung menuju kearah Alisa dan berkata.
"Fufufu. Ratu Alisa ini untukmu." Ucap Semiramis, sambil memberikan kertas yang berisikan kontrak.
Alisa yang melihat kertas itu melonjak marah. "Apa maksudmu dengan ini Semiramis?."
"Fufufu. Tentu saja aku mengembalikan kontraknya. Kerjasama kita batal dan juga aku belum menyegelnya dengan segel keluarga di kontrak itu, jadi kamu bisa mengambilnya sekarang, karena aku memiliki kerjasama yang lebih baik disini." Balas Semiramis sambil tersenyum.
"SEMIRAMIS....." Teriak Alisa, sambil mengeluarkan aura berwarna peraknya.
Semiramis yang melihat hal ini menyeringai dan balas mengeluarkan aura mananya.
__ADS_1
"Apakah kamu ingin bertarung?." Ucap Semiramis dengan dingin.
Bentrokan aura antar mereka berdua membuat para bangsawan yang ada disana berkeringat dingin.
"Apa-apaan dengan perilaku yang tidak sopan ini. Kami sedang berada di acara pertunangan putri Rose, mohon tenang." Ucap Foban sambil mengeluarkan aura berwarna putihnya.
Semiramis dan Alisa yang merasakan aura Foban akhirnya berhenti. Berbeda dengan Semiramis yang kembali tenang, Alisa malah menatap Foban dengan dingin.
"Foban seharusnya kamu berlaku adil disini. Kamu harus membatalkan pertunangan bocah Lux itu dengan Fifian, karena dia merupakan tunangan dari anakku Kevin." Ucap Alisa dengan marah.
Bukan Foban yang menjawab pernyataan Alisa, itu malah dijawab oleh Rose. "Itu tidak benar tuan Foban. Fifian tidak ingin bertunangan dengan pangeran Kevin, buktinya cincin ini."
Rose menunjukkan cincinnya, Fifian dan Lux.
Para tamu yang melihat cincin itu tercengang.
"Cincin ikatan jiwa." Ucap Sebastian, Semiramis dan Foban.
Sementara itu Alisa yang melihat hal ini marah. "Kamu akan menyesali ini Semiramis dan untuk kamu Linlin walaupun kamu menang kali ini. Itu hanya untuk sementara."
Alisa langsung beranjak pergi, diikuti oleh Leo. Sementara itu Linlin dan Semiramis menyeringai senang.
"Sepertinya masalah disini sudah...."
Sebelum Foban melanjutkan perkataannya, tiba-tiba ada suara dibalik pintu dengan marah. "Lux bajingan, aku menantangmu duel. Kalau aku menang berikan putri Rose padaku."
Semua orang yang melihat pria dipintu masuk tercengang.
"Ray Fos." Ucap salah satu tamu bangsawan.
Ayah Lux yang melihat Ray, mengerutkan kening. "Apa maksud dari perkataanmu itu Ray?. Berhentilah bercanda dan segera minta maaf kepada adikmu?."
Sementara itu Jack yang berada disamping ayahnya bergumam. "Tamat riwayatmu Lux, hehehe."
Berbeda dengan yang lainnya, Rose justru mengerutkan kening saat mendengar ucapan Ray. "Omong kosong. Jangan berlebihan Ray. Apa kamu pikir karena kamu seorang jenius di akademi. Kamu bisa seenaknya saja disini."
Ray yang mendengar ucapan Rose muram. Ray dari dulu sangat menyukai Rose. Walaupun dia tidak pernah mengambil inisiatif, dia selalu mengamati setiap tindakannya. Dia juga berniat melamar Rose setelah dia Lulus akademi dan menjadi siswa lulusan terbaik. Karena Ray berpikir kalau dia sudah menjadi yang terbaik, pasti pihak keluarga kerajaan dan Rose akan menyetujui lamarannya.
Ternyata pikirannya sangat naif, masih setahun lagi dia akan lulus. Tiba-tiba dia mendengar kabar bahwa Rose mengincar adiknya yang tidak berguna, Lux. Saat itu dia sangat marah, sampai suatu hari dia bekerja sama dengan pangeran pertama, Tampa pikir panjang dia meracuni Lux, melalui racun yang diberikan Leo. Bukannya mati dia malah hidup dan yang lebih buruknya dia malah menghamili Rose.
Ray menatap Lux dengan marah dan berkata. "Lux berhenti menjadi pengecut dan bersembunyi dibawah lubang perempuan. Ayo kita bertanding dan yang menang akan mendapatkan putri Rose."
Lux yang mendengar ucapan kedua Ray mengerutkan keningnya. "Saudara Ray, kamu yang seharusnya datang kesini untuk mengucapkan selamat, justru membuat masalah seperti seorang bayi."
"Apa katamu brengsek. Sepertinya kamu memang ingin mati."
Sontak aura mana Ray berubah menjadi Orange dan kemudian mana tersebut berubah menjadi petir yang mengelilingi tubuhnya. Ray langsung melesat kearah Lux dengan cepat.
"THUNDER RAGE." Teriak Ray mengarahkan ujung tangannya yang berubah seperti anak panah petir.
Semua orang yang berada disana terkejut dengan kecepatan serangan Ray. Mereka disana sudah meramalkan bahwa Lux pasti akan terkena serangannya dengan telak.
Rose yang melihat hal berteriak khawatir. "LUX.."
Sementara itu Lux hanya dengan santai melihat Serangan Ray. Lux kemudian membuka mata terlarangnya dan mengeluarkan teknik baru yang dia pelajari.
"TIME BREAK." Ucap Lux.
Tangan petir Ray yang akan mengenai Lux berhenti didepannya, bukan hanya itu Ray sekarang seakan membatu di udara.
Kemampuan Lux yang satu ini mampu menghentikan waktu suatu objek baik itu yang hidup, maupun mati, dan durasi waktu penghentian waktu adalah tergantung objek yang dihentikan. Jika objek tersebut berada dibawah kemampuan Lux, dia mampu menghentikannya selama hampir satu jam, tetapi jika objek yang dihentikannya diatas kemampuan Lux, dia mampu menghentikannya paling lama 30 detik. Tetapi bagi Lux 30 detik sangatlah berharga.
__ADS_1
Sementara itu para tamu melihat Ray membeku diudara tercengang.
"Kekuatan apa yang dia gunakan?." Tanya salah satu bangsawan.
Sementara itu Marquez Foban yang melihat ini mengerutkan kening, sambil mengelus janggutnya. 'Menarik. Bocah Lux ini sepertinya tidak sederhana...'
Kembali kepada Lux yang mulai mendekati Ray dengan tenang. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke kepala Ray dan mulai menggunakan salah satu tekniknya.
"DEVOUR.."
Mana petir yang mengelilingi tubuh Ray kemudian mulai menyusut. Sementara itu Lux yang dari semenjak dia pindah ke dunia ini selalu memikirkan sesuatu yang janggal, dia mulai bertanya kepada AInya. 'AI, tidak bisakah kamu membaca ingatan orang?.'
[Memproses pertanyaan....]
[Mendapatkan Jawaban..]
[Untuk mengetahui ingatan seseorang memerlukan akses mana tuan rumah dan kontak fisik yang ingin dilihat ingatannya.]
Lux yang melihat hal ini tersenyum dan bergumam. 'Dari setelah aku berpindah kedunia ini sebenarnya, aku sudah menaruh curiga pada saudaraku yang satu ini. Karena hal terakhir yang aku jumpai setelah diracuni adalah Saudara Ray, jadi....'
'AI, Selama aku menghisap mananya, analisis dengan ingatan tubuhnya juga.'
[Mulai Menganalisis......]
[Memasuki Hippocampus tubuh..]
[Menyerap ingatan...]
[Penyerapan Selesai.]
[Mulai menyimpan ingatan didatabase.]
[Data berhasil disimpan.]
'AI. Cari ingatan mengenai diriku yang diracuni.' gumam Lux dipikirannya.
[Mulai mencari...]
[Mengekstrak ingatan ke tuan Rumah..]
Sontak semua ingatan tentang Lux yang diracuni saat itu terungkap. Lux yang melihat ingatannya ini sangat marah. Dia menatap Ray dengan dingin.
"Apakah kamu masih menganggapku sebagai saudara?." Ucap Lux dengan marah kemudian melepaskan Time Breaknya dan menggunakan Devour untuk lebih menyiksa Ray.
"Aaaaaaaaaa...." Ray berteriak kesakitan saat Mana didalam tubuhnya mulai terkuras dengan cepat.
Saat Ray akan kehabisan mana tiba-tiba ada tangan yang memegang tangan Lux.
"Lux berhenti. Apakah kamu ingin membunuh saudaramu sendiri." Ucap Ron sambil menatap tajam Lux.
Lux yang mendengar ucapan Ayahnya. Menatap balik Ayahnya yang khawatir dan kemudian melihat ibunya juga khawatir. Melihat ekspresi Ayah dan ibunya yang khawatir membuat Lux akhirnya menghela nafas dan melepaskan Ray, yang menyebabkan dia tersungkur ditanah, pingsan.
"Maafkan aku Ayah."
Ron menghela nafas lega saat mendengar ucapan Lux. "Tidak apa-apa. "
Sementara itu Rose dan Fifian menghampiri Lux dan berkata dengan panik. "Apakah kamu tidak apa-apa Lux?."
Lux yang mendengar ucapan mereka berdua tersenyum dan kemudian berkata. "Tidak apa-apa."
Mendengar ucapan Lux, membuat mereka berdua menghela nafas lega.
__ADS_1