King Of Lux

King Of Lux
Chapter 57 Perang 6


__ADS_3

*Istana kerajaan Green.


Terlihat di sana Rose telah berhasil menghancurkan penghalang Artefak Suci.


"Akhirnya berhasil. Ayo pergi, sebaiknya kita cepat bergerak untuk memulihkan kembali ibukota kerajaan dari serangan pasukan musuh." Rose berbalik dan menghadap kepada mereka semua.


Semua orang yang melihat penghalang telah hilang, sangat senang dan juga mengangguk saat mendengar ucapan putri Rose.


Mereka mulai keluar dan membersihkan para prajurit kerajaan Ness dan Demon dengan cepat yang saat ini menjaga istana kerajaan Green.


"Jadi bagaimana sekarang apakah kita akan langsung mencari Gregor dan yang lainnya?." Tanya Rose kepada semua orang.


Foban yang mendengar ucapan Rose, segera membalasnya dengan serius. "Tuan Putri, sebaiknya kita bergerak secara terpisah. Dari yang aku pikirkan sepertinya mereka mungkin menfokuskan serangan mereka ke keluarga Red dan sisanya bergerak ke keluarga lainnya. Jadi sebaiknya Aku dan Semiramis bergerak ke keluarga Red, sementara Nona Linlin, tuan Ron dan putri Rose pergi ke keluarga Fos dan terakhir pergi Keluarga lainnya untuk membantu."


Semua orang mengangguk setuju atas rencana Foban dan mulai bergerak.


....


"Ugh, sialan tidak aku sangka Leluhur keluarga Red sekuat itu. Untung saja aku berhasil membunuhnya."


Terlihat di sana Gregor sedang bersandar di sisi tembok, telah kehilangan lengan kanannya dan melihat mayat dari Leluhur Red. Dia juga frustasi saat melihat mayat dari Phil, rekannya.


"Aku harus kembali dengan cepat. Pasti semua orang telah menungguku."


Gregor mulai berdiri dengan susah payah, tetapi saat dia ingin meninggalkan kediaman keluarga Red, tiba-tiba terdengar suara yang sangat marah dan melayangkan pukulan yang sangat kuat di perut Gregor.


*Boom


Gregor terlempar dan menabrak tembok.


"Ughu ughu, sialan." Gregor batuk banyak darah dan vitalitasnya mulai menurun. Dia melihat penyerang dan terkejut saat melihat Semiramis berdiri dengan marah menatapnya.


Semiramis melihat sekelilingnya dengan frustasi dan setelah melihat mayat dari Leluhur Red, diapun tidak bisa menahan emosinya. "Bajingan. Berani-beraninya kamu." Semiramis langsung melesatkan sihir Es dan langsung membekukan Gregor hingga tak bernyawa.


Sementara Foban yang melihat kondisi dari keluarga Red, memiliki wajah muram. 'Ugh, keluarga Red saja sudah bisa di hancurkan seperti ini. Bagaimana dengan keluarga Res kami?.'


"Sabas, segera kembali dengan Anggelina di kediaman." Ucap Foban dengan serius.


Sebastian yang mendengar ucapan Ayahnya paham dan segera mengangguk. Tetapi Anggelina yang mendengar ucapan kakeknya sedikit khawatir dan bertanya.


"Bagaimana dengan Kakek?."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Anggelina. Segera kembali dengan Ayahmu. Aku akan menemani nona Semiramis dulu, sebelum mengatur pasukan yang tersisa untuk memadamkan penyerangan dari kerajaan Ness dan Demon di ibukota kerajaan ini." Sebastian membalas dengan senyuman.


Anggelina yang mendengar ini menghela nafas pasrah dan mulai pergi bersama Ayahnya kembali ke keluarga.


....


Sementara saat ini rombongan Rose mulai bergerak ke keluarga Fos. Tetapi sebelum mereka sampai ke kediaman keluarga Fos, mereka melihat Jack dan yang lainnya mendekat.


Ron yang melihat keluarganya segera mendekati mereka dengan bahagia.


"Sayang, syukurlah kalian semua baik-baik saja."


Lissa dan Lily yang melihat Ron langsung memeluknya dan berkata dengan sedih.


"Ayah, aku sangat takut." Ujar Lily.


"Sayang, keluarga kita telah di serang dan Ray anak kita telah mati di tangan musuh." Ujar Lissa.


Ron yang mendengar ucapan Lissa terkejut dan juga sangat marah. "Sialan. Siapa yang menyerang keluarga kami?."


"Keluarga kami di serang dengan orang yang bernama Cesar Lam Ayah." Jack membalas ucapan Ron dengan muram.


Ron sangat terkejut dengan Wahyu itu. Keluarga mereka dan keluarga Lam memendam dendam lama. Itu terjadi saat perang yang terjadi antara kerajaan Ness dan Green. Saat itu keluarga Fos telah banyak mebunuh garis keturunan dari keluarga Lam, sampai membuat keluarga mereka hampir jatuh. Dari saat itulah keluarga Lam mempunyai dendam yang sangat kuat terhadap keluarga Fos.


Saat Ron masih dalam lamunannya, tiba-tiba Rose berkata dengan sedikit terkejut saat melihat Brayen Horn.


"Eh, tuan Brayen. Kenapa anda bisa berada bersama keluarga Fos?."


Ron segera sadar dan melihat seorang yang bersama keluarganya dengan serius.


Brayen Horn yang mendengar pertanyaan Rose segera membalasnya. "Hohoho. Aku mendapat amanah dari nak Lux untuk menjaga kalian semua jika terjadi sesuatu. Syukurlah kalian sudah berkumpul di sini jadi aku tidak perlu mencari kalian satu persatu."


"Eh, Lux?." Tanya Rose dan yang lainnya dengan terkejut.


"Iya." Balas Brayen dengan senyuman.


Ron mengamati Brayen dengan serius. 'Aku tidak bisa melihat tahap Mananya?, Yang berarti dia berada di atas tahap kuning.'


Bukan hanya Ron yang mengamati Brayen, Linlin juga terkejut saat melihat aura Mana yang di pancarkan Brayen. 'Tahap Puncak Mana Putih. Sepertinya bocah Lux ini sangat pandai menarik orang di sisinya.'


Linlin dan Ron kembali sadar dari pikirannya saat mendengar perkenalan dari Jack.

__ADS_1


"Ayah, tuan Brayen ini yang telah menyelamatkan kita dari beberapa prajurit Cesar yang mengejar kita di jalan. Kalau tuan Brayen tidak ada, kami mungkin tidak akan berani memikirkan tentang konsekuensinya."


Ron yang mendengar ucapan Jack, bahwa Brayen inilah yang telah menyelamatkan keluarganya, dia segera berterima kasih.


"Jadi tuanlah yang telah menyelamatkan keluargaku. Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada tuan." Ron segera membungkuk ke arah Brayen.


Brayen yang melihat ini segera berkata dengan senyuman. "Tidak perlu terlalu formal seperti itu. Wajar saja bila aku membantu keluarga muridku, jadi santai saja."


"Baik tuan." Balas Ron dengan senyuman dan dia kembali memandang Jack dan bertanya. "Ngomong-ngomong bagaimana dengan Leluhur Fos dan yang lainnya?."


"Ugh itu, Leluhur Fos telah menahan pria Cesar itu untuk membiarkan kita melarikan diri dari kediaman keluarga." Jack menjelaskan dengan pandangan rumit kepada Ayahnya Ron.


"Ini?. Putri, bisakah kita langsung ke kediaman keluargaku terlebih dahulu sekarang?." Tanya Ron.


"Baik. Kalau begitu ayo langsung bergerak."


Semua orang mengangguk, termasuk Brayen Horn. Tetapi saat mereka ingin pergi, tiba-tiba mereka mendengar suara di belakang mereka.


"Ara ara. Kenapa sangat ramai sekali malam ini?."


Mereka semua berbalik dan terkejut saat melihat Melinda dan Lit berada di sini.


Brayen Horn memiliki ekspresi serius di wajahnya. "Nona Melinda kenapa kamu berada di sini?."


"Astaga, Brayen. Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?. Apakah Melinda di matamu seorang penjahat?." Balas Melinda dengan ekspresi sedih.


Linlin yang melihat tindakan Melinda mencemoh. "Melinda, berhentilah berputar-putar. Kami lagi tidak mood mendengar candaanmu."


Melinda yang mendengar ucapan Linlin menghela nafas pasrah dan menjelaskan. "Hah, baiklah aku akan menjelaskannya. Aku datang kesini ingin membantu kalian semua."


Semua orang yang mendengar ini sangat terkejut.


"Nona Melinda berhentilah main-main. Apakah kamu pikir kami percaya?. Setahuku kerajaan Elf tidak pernah memihak kepada kerajaan manapun, jadi kami tidak akan percaya dengan ucapan anda. Belum lagi saat ini kerajaan Ness dan Demon berkoalisi untuk menyerang kerajaan kami dan tidak menutut kemungkinan Kerajaan kalian mungkin ikut serta." Rose berkata dengan dingin kepada Melinda, diikuti anggukan dari beberapa orang.


"Ara ara. Bukannya itu terlalu ceroboh berkata seperti itu kepada kami bangsa Elf, apalagi dengan situasi kalian sekarang. Tetapi aku memafkannya karena kamu adalah calon saudariku."


Rose, Fifian, Benedeta yang mendengar ucapan Melinda mengerutkan keningnya. "Apa maksud dari calon saudari yang kamu ucapkan itu?."


"Fufufu. Tentu saja aku akan menjadi salah satu istri Lux. Maka dari itu aku akan membantu kalian, jadi saat Lux kembali dia mungkin akan menerimaku sebagai istrinya." Ucap Melinda dengan seringai menggoda.


Semua orang yang mendengar hal ini tercengang.

__ADS_1


__ADS_2