King Of Lux

King Of Lux
Chapter 53 Perang 2.


__ADS_3

Sementara pangeran Alex yang melihat situasi ini segera marah dan berkata. "Sebastian, apa maksudmu dengan ini?. Dia adalah pengawalku, segera mundur dan kembali ke tempatmu."


Sebastian yang mendengar ini dengan tenang membalas. "Pangeran Alex, maafkan aku. Tetapi pengawal anda ini harus di tahan terlebih dahulu sampai situasi perang selesai di atasi."


"Beraninya kamu. Atas perintah siapa itu?. Aku adalah pangeran ketiga pewaris sah dalam perebutan tahta kerajaan. Aku memerintahkanmu agar segera mundur."


Rose yang mendengar ucapan Alex tidak bisa duduk diam lagi dan segera membalas perkataan Alex.


"Alex, kamulah yang berbicara omong kosong di sini. Kamu tidak memiliki kuasa untuk mendukungmu dan tidak berhak bersuara."


Alex yang mendengar ucapan Rose sangat marah dan berkata. "Rose beraninya kamu. Siapa bilang aku tidak memiliki kuasa. Lihatlah para bangsawan yang mendukungku ini?."


Rose menyeringai saat mendengar ucapan Alex. Sementara Alex yang melihat ekspresi Rose berkeringat dingin dan segera melihat para bangsawan yang dia ikat secara diam-diam, semuanya pergi ke sisi putri Rose.


"Ini?," Pangeran Alex sangat bingung melihat situasi ini.


"Alex apakah kamu bingung dengan situasi ini?. Hehehehe, bersyukurlah pada Lux yang secara diam-diam menyuruhku mengawasimu." Rose tersenyum puas dan segera membuat keputusan. "Dengan ini aku umumkan bahwa pangeran Alex kehilangan haknya untuk memperebutkan tahta dan sebagai gantinya pangeran keempat Arthur akan menjadi pengganti pangeran Alex sebagai ahli waris sah dalam perebutan tahta kerajaan. Bagaimana Ibu?"


Linlin yang mendengar ucapan Rose mengerucutkan bibirnya. 'Ugh, kanapa jadi seperti ini?. Ini tidak sesuai rencana dan juga penggantinya adalah anak dari Lucy, ini ....'


Saat Linlin ingin membantahnya, tiba-tiba Alisa mengintrupsi Linlin. "Linlin sudah cukup. Terima saja."


Linlin yang mendengar ucapan Alisa, berkonflik dan akhirnya menghela nafas pasrah. "Baiklah, aku menerimanya."


Rose yang mendengar ucapan ibunya menghela nafas lega. Tetapi yang membuatnya kembali bingung adalah kenapa Ratu Alisa bisa sangat akrab dengan Ibunya. Bukannya mereka saling bermusuhan. Rose yang sedikit berkonflik dalam pikirannya akhirnya mengenyampingkan hal itu terlebih dahulu dan fokus kepada Duches Semiramis.


"Bagaimana denganmu Nona Semiramis?."


"Fufufu. Aku akan selalu berada di pihak Lux. Jadi tidak masalah apabila terjadi pergantian hak, aku akan tetep berada di pihak dimana Lux berada."


Rose yang mendengar ucapan Semiramis menghela nafas lega dan kemudian berkata. "Seperti yang kalian ketahui bahwa pangeran Alex telah kehilangan haknya dan juga karena dia telah bekerjasama dengan kerajaan Demon dan membiarkan seorang penyusup masuk di istana ini. Aku sebagai putri memerintahkan pengurungan sementara pangeran Alex di penjara kerajaan. Sebastian segera tangkap pangeran Alex dengan antek-anteknya."


"Baik putri." Balas Sebastian dengan senyum senang.


Sementara Alex yang melihat ini semua mulai panik dan segera berkata. "Ibu. Tolong aku."


Linlin yang mendengar ucapan Alex dengan dingin membalas. "Hah, sebenarnya aku ingin menggunakanmu sedikit lebih lama lagi, tetapi karena kamu sudah masuk terlalu dalam dan tidak mendengar ucapanku lagi. Jadi biar aku beritahu sekalian. Kamu itu bukan anakku jadi berhenti memanggilku ibu."

__ADS_1


"Ibu. Apa maksudmu?." Pangeran Alex terguncang atas ucapan Linlin.


Semua orang yang ada di ruang tercengang, kecuali Alisa dan Gregor.


"Kebiasaanmu yang blak-blakan seperti ini belum pernah berubah, Linlin." Alisa berkata sambil menghela nafasnya.


"Diamlah Alisa ini bukan urusanmu." Balas Linlin dengan dingin.


Sementara Gregor yang dari tadi diam akhirnya berbicara.


"Seperti yang mulia Raja bilis duga, kamu memang telah berkhianat, Linlin." Ucap Gregor yang kemudian tiba-tiba mengayunkan tangannya kearah pangeran Alex.


Kepala Alex langsung hancur berkeping-keping dan tubuhnya jatuh Tampa nyawa.


Semua orang yang melihat hal ini meringis ngeri. Terutama Rose sangat terkejut dengan kematian pangeran Alex yang tiba-tiba.


"Ibu?...." Rose berkata dengan nada bergetar kemudian menatap ibunya yang tidak bergeming atas kematian Alex.


Linlin yang melihat ekspresi Rose, menghela nafas. "Nanti aku akan menjelaskannya kapadamu, untuk sekarang tenanglah Rose."


Rose yang melihat ini menundukan kepalanya dengan bermasalah.


Rose yang mendengar ucapan mereka berdua, segera mengingat Lux dan menengkan pikirannya kembali.


"Kakek, kanapa suasananya menjadi seperti ini?." Anggelina yang berada di samping Marquez Foban berkata.


"Hah, Cucuku kamu harus ingat bahwa. Politik kerajaan itu lebih berbahaya dari pada Raja itu sendir. Jadi untuk sekarang kuharap kamu dapat belajar dengan baik."


Anggelina yang mendengar ucapan Foban memiliki ekspresi rumit, tetapi tidak membantah ucapannya.


Sementara semua orang masih dalam pikiran mereka dan berkonflik dengan situasi yang membingungkan ini, Gregor segera berkata dengan seringai ganas.


"Tetapi tidak apa-apa karena semuanya sudah sampai di sini lebih baik langsung menghancurkan kalian semua disini."


Foban yang mendengar ucapan Gregor segera sadar dan berteriak kepada Sebastian. "Tidak baik, Sebastian segera bunuh dia."


Sebastian mendengar teriakkan Ayahnya yang tiba-tiba sedikit terkejut. Tetapi dia tetap melaksanakannya.

__ADS_1


Berbeda dengan Linlin dan Semiramis yang mendengar ucapan Gregor juga berpikir situasinya tidak baik. Hanya setelah teriakan Marquez Foban mereka akhirnya sadar dengan maksud ucapan Gregor. Mereka berdua akhirnya segera ikut menyerang Gregor dengan ganas.


Gregor yang melihat serangan mereka bertiga, menyeringai dan berteriak. "Sudah terlambat. Segera aktifkan Artefaknya."


Mereka bertiga tetap menyerangnya dengan kekuatan yang sangat kuat di tempat Gregor, tetapi mereka terkejut saat tidak melihat mayat Gregor.


Tetapi yang membuat mereka murung adalah penghalang yang sangat kuat aktif dan mengurung semua orang di aula istana.


"Ini, apa yang terjadi?." Tanya Ron dengan muram.


"Hah, sepertinya para mata-mata dari kedua kerajaan Ness dan Demon telah berhasil menyusup di dalam ibukota kita." Marquez Foban berkata kepada semua orang di dalam ruangan.


Para bangsawan yang mendengar hal ini mulai panik.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita akan menunggu kematian kami di sini?." Ucap salah satu bangsawan.


Bangsawan lainnya ikut berbicara dengan takut, segera ruangan mulai ribut dengan perkataan mereka.


"Tenanglah." Teriak Alisa dengan dingin.


Sontak semua bangsawan yang ribut akhirnya tenang kembali.


Ratu Alisa yang melihat semua orang sudah tenang, segera menatap ayahnya Gordon Lance. "Ayah, dari tadi aku melihat ekspresimu masih tenang sampai sekarang. Apakah kamu mengetahui ini semua akan terjadi?."


Pangeran pertama Leo dan Duke Pon berkeringat dingin atas ucapan Ratu Alisa yang tiba-tiba.


'Bajingan Gregor, dia bertindak tanpa memperhatikan keselamatan kita.' Pikir Leo dengan marah.


Sementara Gordon yang mendengar ucapan Alisa, masih dengan tenang berkata. "Ratu, apa maksud anda?. Apakah kamu ingin kami panik seperti para bangsawan yang penakut ini?."


Ratu Alisa yang mendengar ini mengerutkan keningnya dan menatap Ayahnya dengan tenang.


Setelah lama menatapnya dia akhirnya, mendengus dan berkata kepada Marquez Foban.


"Foban, Apakah kamu memiliki solusi atas penghalang ini?"


Foban yang mendengar pertanyaan Alisa menghela nafas dan berkata. "Penghalang ini sepertinya Artefak Suci. Aku tidak bisa memecahkan ini."

__ADS_1


"Ugh, bagaimana denganmu Linlin, Semiramis?." Alisa mengalihkan perhatiannya kepada mereka.


Semiramis dan Linlin yang mendengar pertanyaan mereka segera menggelengkan kepalanya dengan frustasi.


__ADS_2