King Of Lux

King Of Lux
Chapter 54 Perang 3.


__ADS_3

Saat semua orang di dalam ruangan istana mengalami suasana tegang. Tiba-tiba datang suara dari balik pintu.


*Duaaar.


Pintu terbuka dan memperlihatkan Gregor dengan anak buahnya membawa beberapa orang di depan penghalang artefak.


"Hahahaha. Lihat aku membawa hadiah kepada kalian."


Gregor mengangkat seorang pemuda dan wanita yang di ikat dengan perawakan seorang bangsawan.


"Ayah, tolong aku." Teriak para bangsawan yang di tangkap itu.


Beberapa bangsawan yang ada di dalam penghalang berteriak dan berlari menuju Gregor, tetapi sayang dia dihalangi oleh penghalang tembus pandang. "Tidak. Bajingan, lepaskan anakku."


Gregor yang melihat para bangsawan itu menggeram marah di depannya tetapi tidak bisa maju, menyeringai senang.


"Hahahaha. Apakah kamu menginginkan anakmu ini." Gregor menyuruh para bawahan membawa anak-anak dari bangsawan itu mendekati orang tua mereka.


"Bajingan, lepaskan dia." Teriak para bangsawan sambil memukul penghalang dengan kuat.


Gregor yang melihat ini tersenyum kemudian menebas leher semua anak bangsawan itu hingga dia tewas. Para bangsawan yang melihat ini menjerit sedih."Tiiidaaak. Putrakuuuu."


"Putriku, sayang..." Segala macam jeritan sedih keluar dari dalam penghalang.


Arthur dan Nana yang melihat kejadian penuh darah ini merasa sangat takut dan memegang baju saudarinya Rose.


"Kakak Rose, aku takut." Ucap Nana sambil memegang bajunya.


Rose yang melihat mereka berdua segera menenangkannya. "Tidak apa-apa sayang. Aku akan melindungi kalian berdua.


"Um." Balas mereka berdua.


Sementara itu saat para bangsawan masih meratapi melihat kematian putra dan putri di depannya. Linlin yang melihat ini sangat marah.


"Gregor. Beraninya kamu, lepaskan penghalang ini."


Gregor yang mendengar ucapan Linlin menyeringai. "Linlin, biar aku beritahukan kepadamu, kerejaan ini sudah tamat. Istana ini sudah di kuasai oleh kami dan Apakah kamu pikir hanya kerajaan Demon saja yang menaruh mata-mata ke sini?. Hehehehe kerajaan Ness juga memiliki mata di sini dan mereka sedang mengepung semua rumah bangsawan di ibukota ini."


"Apa?" Semua bangsawan terkejut mendengar kabar ini.

__ADS_1


"Hah, sudah kuduga. Apakah Kerajaan ini sudah tamat?." Foban meratap sedih.


"Ayah, kita tidak boleh menyerah. Prajurit mereka belum tiba di kerajaan kita dan juga mata-mata yang mereka tanam pasti tidak sebanyak para prajurit bangsawan kerajaan Green. Jadi tidak mungkin mereka semua menyerang keluarga bangsawan diseluruh ibukota, mereka pasti hanya mengamatinya diam-diam, sambil menunggu kedatangan para prajurit kerajaan Demon dan Ness."


Sebastian berusaha menenangkan Ayahnya dan para bangsawan yang lainnya.


Foban yang mendengar ucapan Sebastian tahu akan itu, tetapi dia sudah berpikir kedepan dan salah satu pikirannya adalah kerajaan Green saat ini belum menyatuh seutuhnya akibat Raja Grey yang jatuh sakit. Belum lagi dengan serang yang tiba-tiba ini, membuat presentase kemenangan terhadap kedua kerajaan yang menyerang kita sangat kecil.


Saat Foban masih dalam pikirannya berkonflik. Tiba-tiba pangeran Leo berteriak kepada Gregor.


"Gregor." Teriak Leo tiba-tiba dan menarik perhatian Gregor.


"Ah, aku hampir lupa." Dia melihat pangeran Leo, Duke Pon dan Gorgon yang menatapnya. Segera dia mengeluarkan artefak dan mengizinkan mereka keluar.


Pangeran Leo, Pon dan Gordon sangat senang, segera keluar dari penghalang. Sementara Semua orang yang melihat kepergian mereka tiba-tiba terkejut.


"Ayo pergi ke tempat berkumpul untuk segera merencanakan penyerangan selanjutnya untuk mengalahkah para monster tua di setiap keluarga bangsawan." Gregor berkata kepada mereka bertiga sebelum pergi meninggalkan ruangan.


"Baiklah." Balas mereka bertiga dan akan segera mengikuti Gregor, tetapi tiba-tiba di intrupsi oleh Rose.


"Apa maksudmu dengan ini Leo?" Tanya Rose dengan dingin, tidak menggunakan gelar saudara kepadanya.


"Leo, dasar pengkhianat."


"Hehehehe." Pangeran Leo malah tertawa dengan nada mengejek. Sebelum pergi mengikuti Gregor.


Sementara Alisa yang melihat Ayahnya dan Leo terang-terangan mengkhianati kerjaan Green, sangat marah. "Ayah, selama ini yang mulia Grey sangat baik dengan keluarga kita. Kenapa kamu melakukan ini?."


Gordon yang mendengar ucapan putrinya, hanya dengan tenang membalas. "Putriku, ikutlah denganku. Masih belum terlambat mengikuti jalan yang benar."


Alisa yang mendengar ini mengerutkan keningnya dengan dingin.


"Gordon Lance, lebih baik aku mati dari pada mengkhianati Grey. Jadi jang repot-repot mengundangku." Alisa berkata dengan marah dan tidak memanggilnya lagi dengan sebutan Ayah.


"Cih, kalau begitu kamu dapat menunggu kematianmu di sini.


Gordon segera pergi dan mengikuti Gregor. Sementara Pon yang mendengar ucapan Gordon sangat senang, kemudian dia menatap Sebastian dan Ron.


"Kukuku. Sebastian, mata-mata kerajaan lain mungkin tidak cukup untuk menekan semua keluarga bangsawan di ibukota. Tetapi bagaimana dengan gabungan keluarga Wolfku dan Lance?."

__ADS_1


Sebastian yang mendengar ucapan Pon sangat marah. "Pon dasar pengkhianat brengsek."


Pon yang melihat ekspresi marah Sebastian, sangat senang. Kemudian dia menatap Ron. "Dan untuk kamu Ron. Sebaiknya kamu siap karena keluarga yang akan kita serang pertama adalah keluarga Fos. Hahahaha."


Ron yang mendengar ini sangat marah. "Pon, kalau kamu berani menyentuh keluargaku. Akan ku pastikan akan memburumu sampai ke neraka sekalipun."


Pon yang mendengar ucapan Ron tidak menghiraukannya dan terus tertawa mengikuti Gregor dan yang lainnya.


"Sialan. Kuharap Leluhur mampu menahan serangan mereka untuk sementara." Ron berkata dengan penuh harap.


Sementara saat ini Rose sangat berkonflik dengan situasi yang tiba-tiba ini. "Apakah tidak ada cara agar kita bisa keluar dari sini?."


Semua orang terdiam dan tidak bisa memikirkan sesuatu. Tetapi Fifian yang dari tadi diam tiba-tiba mengingat sesuatu dan berkata dengan gembira. "Rose, Apakah kamu lupa?."


"Lupa Apa?." Tanya Rose bingung dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.


"Artefak yang di berikan oleh Lux kepada kamu."


Rose yang mendengar ucapan Fifian akhirnya tersadar dan segera kembali bersemangat. Dia kemudian mengeluarkan tombak pembunuh naganya, sontak aura yang sangat kuat segera keluar dari tombak itu.


Semua orang yang di dalam ruang tercengang melihat tombak yang di pegang oleh Rose.


"Ini adalah Artefak Suci. Kita mungkin bisa menghancurkan penghalang ini menggunakan tombak yang di pegang Rose." Ucap Semiramis dengan penuh semangat


Para bangsawan yang mendengar ucapan Semiramis akhirnya menemukan kembali harapan mereka.


"Baiklah, biar aku mencobanya."


Rose segera pergi didepan penghalang itu dan dengan serius menatapnya. 'Lux, pernah bilang kepadaku bahwa kalau aku ingin mengeluarkan kekuatan penuh tombak ini, aku harus meneteskan darahku pada tombak.'


Setelah berpikir lama dia akhirnya dia menggores sedikit telapak tangannya dan meneteskan darah ke tombaknya.


Tombak Rose langsung mengeluarkan aura naga yang sangat menakutkan. Rose yang melihat ini kemudian segera mengalirkan mananya di tombak untuk lebih memperkuatnya.


Api berwarna hitam muncul di ujung tombak dan melapisi tombak dengan kekuatan penghancur yang kuat.


"Hancurlah untukku." Teriak Rose, segera mengarahkan tombaknya ke penghalang. Segera bunyi bentrokan yang sangat kuat terjadi.


Penghalang yang sangat kokoh mulai sedikit retak saat mengenai api hitam milik Rose. Rose yang melihat ini segera mengeluarkan seluruh kekuatannya dan berubah menjadi bentuk iblisnya.

__ADS_1


Kekuatan tombak Rose mulai semakin kuat karena perubahan bentuk iblisnya dan menyebabkan penghalang mulai retak dan akhirnya hancur. Penghalang yang menghalau mereka mulai hilang dan akhirnya mereka semua bebas.


__ADS_2