
Didepan Istana kerajaan Beast berjejer sekawanan prajurit dengan rapih. Didepan prajurit terdapat tiga Jendral yang memimpin masing-masing 1000 prajurit.
"Aku atas nama pangeran pertama kerajaan Beast, Otar Tamarin. Akan memimpin penyerangan ini. Apakah ada keluhan?." Teriak pangeran Otar dengan keras.
"Tidak ada Pangeran."
Para prajurit membalas dengan ragu. Tetapi yang tidak di ketahui pangeran Otar ketiga jendral yang memimpin para prajurit itu, memiliki ekspresi tidak puas.
Semetara itu Sasaki muncul dengan adiknya dan menyapa pangeran Otar terlebih dahulu.
"Salam pangeran Otar. Aku dan adikku di perintahkan oleh yang mulia untuk menemani anda dalam ekspedisi ini." Ucap Sasaki sambil membungkuk bersama adiknya.
"Oh, Sasaki. Dengan kamu di sini dan adikmu, Risaki. Pekerjaan ini pasti akan lebih mudah. Hahahaha." Teriak Otar.
Sasaki yang mendengar ini ragu sebentar, sebelum akhirnya berbicara. "Yang mulia pangeran Otar bolehkah adikku tidak menggunakan kemampuannya kali ini?. Dia sekarang sedang sakit dan tidak bisa menggunakan Mananya secara berlebihan."
"Kakak, jangan..." Ucap Risaki sambil menarik baju Sasaki.
Sasaki yang melihat adiknya berusaha menahannya, dia makin tidak tega dan segera bersujud kepada pangeran Otar.
"Pangeran Otar. Tolong untuk kali ini biarkan adikku beristirahat. Akan kupastikan aku akan mampu menangkap Suku Rubah dan Suku Burung dengan kamampuanku sendiri." Sasaki berbicara dengan nada memohon.
"Kakak" Ucap adik Sasaki dengan sedih, saat melihat kakaknya bersujud di hadapan banyak orang.
Sementara itu pangeran Otar yang melihat tindakan Sasaki menyeringai senang. Dia melihat dua bersaudara itu, walaupun Sasaki dan Risaki saat ini mengenakan topeng tetapi mereka memiliki tubuh yang sangat bagus dan menggoda.
"Hehehe. Lepaskan topeng kalian berdua." Ucap Otar dengan nada mesum.
"Ini?." Ucap Sasaki ragu.
"Dasar bajingan mesum. Kakak jangan turuti kemauannya." Teriak Risaki marah.
Pangeran Otar yang mendengar ucapan Risaki menatapnya dengan seringai ganas. "Ku bilang lepas topeng kalian berdua apakah kalian tidak mendengarnya?"
Sasaki yang mendengar desakan Otar Sampat ragu dan akhirnya pasrah. "Baiklah. Tetapi biar aku saja yang melepasnya, tolong lepaskan adikku."
Saat para jenderal dan prajurit yang melihat tindakan pangeran Otar yang mesum, mereka menggelengkan kepalanya. Sedangkan Risaki sangat marah dengan pangeran Otar.
"Kakak jangan. Pangeran Otar dasar bajingan." Teriak Risaki.
Pangeran Otar yang mendengar ucapan Risaki mengabaikannya dan fokus dengan ucapan Sasaki.
__ADS_1
"Hahahaha. Sangat baik Sasaki, baiklah aku berjanji." Ucap Pangeran Otar tidak sabar.
Sasaki yang mendengar ucapan Otar mulai melepaskan topengnya, tetapi tiba-tiba ada yang mengintrupsi mereka bertiga dari belakang.
"Ada apa ini?. Otar, berani-beraninya kamu mengambil alih para prajuritku. Apakah kamu ingin mati?." Tanya seorang pria paruh baya berwatak singa tetapi berwarna putih.
Semua orang yang berada di sana segera melihat orang yang berbicara dan terkejut saat melihatnya, terutama ke tiga Jendral.
"Salam kepada Komandan." Ucap ketiga jendral itu dengan senang.
Sementara pangeran Otar yang mendengar ucapan pria paruh baya itu, terkejut dan kemudian marah. "Komandan Konte. Apa maksud dengan ucapanmu itu?. Aku di perintahkan oleh yang mulia untuk memimpin ekspedisi ini."
"Apakah ucapanku belum jelas. Berani-beraninya kamu mengarahkan para prajuritku. Apakah kamu ingin mati? dan untuk ekspansi ini akulah yang memimpinnya." Ucap Konte dengan marah sambil mengeluarkan auranya menekan Pangeran Otar.
Pangeran Otar yang merasakan tekanan konte berkeringat dingin. "Apakah kamu berusaha memberontak Konte?."
"Ini terakhir kali aku berbicara kepadamu Otar. Segera berbaris bersama prajurit atau tinggalkan tempat ini." Ucap Konte dengan nada mengancam.
Pangeran Otar yang mendengar ini murung dan akhirnya terpaksa mengikuti instruksi dari Komandan Konte.
Sementara itu Sasaki dan Risaki menatap Komandan Konte dengan rumit. Konte yang merasakan tatapan kedua bersaudara itu segera berkata.
"Sasaki dan Risaki, kalian akan kuberikan 500 prajurit untuk di pimpin. Untuk kasus kondisi Risaki sekarang, terserah pada kemampuamu nanti Sasaki, kalau itu belum cukup untuk mengepung kedua suku itu nanti, maka Risaki harus ikut membantumu." Ucap Konte dengan tegas.
"Terimakasih Konte." Ucap Sasaki sedikit membungkuk dan di ikuti Risaki di belakangnya.
Komandan Konte mengangguk dan kembali menatap para prajuritnya.
Sementara Pangeran Otar yang melihat ini berkerut marah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baiklah. Kita harus segera berangkat, untuk tujuan pertama kita akan ke Suku Burung. Aku yakin bocah manusia itu dan para antek-anteknya menuju ke suku Rubah dulu. Jadi kita akan mengepung dan menjebak mereka di suku burung nanti. Apakah ada yang menolaknya?." Ucap Komandan Konte dengan tegas.
"Tidak ada komandan." Ucap semua orang.
"Kalau begitu ayo berangkat."
Mereka segera menunggangi kudanya masing-masing dan menuju ke lokasi suku burung.
......
Sementara itu Lux dan yang lainnya, seperti prediksi Komandan Konte. Mereka sekarang berada di suku Rubah dulu untuk mengumpulkan para penduduk suku Rubah.
__ADS_1
"Semuanya cepat berkumpul di lapangan dan kumpulkan barang berharga kalian. Kita harus meninggalkan suku Rubah segera." Teriak Yasaka.
Semua penduduk suku Rubah bingung mendengar ucapan Yasaka yang tiba-tiba. Tetapi mereka tetap menuruti perkataan Yasaka dan mereka mulai mengumpulkan barang berharga mereka.
"Lux, apakah kemampuanmu mampu membawa beberapa bangunan?." Tanya Yasaka penasaran.
Lux yang mendengar pertanyaan Yasaka tersenyum den segera membalas. "Tenang saja Dimensional Worldku memiliki ukuran yang cukup besar, itu hampir sebesar istana kerajaan Beast. Jadi satu atau dua bangunan akan dapat di simpan."
Yasaka yang mendengar ini bersyukur, kerena di berniat menyimpan seluruh bangunan perpustakaan karena perpustakaan keluarga mereka adalah satu-satunya peninggalan suku mereka yang sangat penting.
"Kalau begitu Lux dapatkah kamu menyimpan bangunan perpustakaan kami?." Tanya Yasaka dengan penuh semangat.
"Tenang saja, itu mudah. Ayo kita segera pergi ke lokasi perpustakaan." Balas Lux dengan senyuman.
"Terimakasih Lux." Ucap Yasaka kemudian memeluk Lux dengan senang.
Lux yang melihat tingkah Yasaka hanya bisa tersenyum dan menepuk kepalanya. Mereka berdua segera pergi ke perpustakaan untuk menyimpannya di Dimensional World.
Sesampainya mereka di sana, Lux segera menggunakan mata terlarangnya dan menyerap seluruh bangunan hingga menghilang.
Yasaka yang melihat ini tidak bisa tidak takjub dengan kemampuan Lux yang serba guna.
Setelah Lux menyerap bangunan perpustakaan, Lux dan yang Yasaka ingin segera berkumpul bersama penduduk suku Rubah di perpustakaan. Tetapi tiba-tiba Lux melihat sebuah bangunan yang sangat mencolok di sebelah perpustakaan.
"Yasaka bangunan apa itu?." Tanya Lux penasaran.
"Ah, itu gudang penyimpanan Logam dan dan beberapa permata, tidak terlalu berharga." Balas Yasaka.
"Eh, logam?. Dapatkah aku melihatnya, Yasaka?." Tanya Lux dengan penasaran.
"Tentu saja. Ayo kita segera pergi ke sana." Balas Yasaka tersenyum.
Mereka tiba di bangunan itu dan saat membukanya Lux terkejut saat melihat beberapa Logam dan permata kelas Suci dan bahkan ada beberapa yang tidak bisa di nilai.
"Yasaka aku akan menyimpan dengan bangunan ini." Ucap Lux dengan penuh semangat.
"Kalau kamu menginginkannya, kamu dapat mengambilnya. Apa saja yang kamu minta, aku pasti akan mengabulkannya." Ucap Yasaka dengan senyuman sambil memeluk lengan Lux.
Lux yang mendengar ucapan Yasaka segera menyimpan bangunan ini juga.
Setelah menyimpannya kemudian mereka segera pergi ke lapangan tempat berkumpul para penduduk suku Rubah.
__ADS_1
Sementara itu para penduduk dan bawahan Yasaka yang telah mengumpulkan barang berharga mereka, sudah berkumpul di lapangan dan menunggu instruksi Yasaka yang selanjutnya.