
Berbeda dengan Sasaki dan Risaki yang mendengus dingin dengan ucapan Melinda.
Melinda yang melihat hal ini sedikit tidak mau dan akhirnya berbicara lagi. "Ayah, Ibu. Tapi aku sangat menyukainya. Tolong restui kami berdua."
"Ehh?, Ini?..." Raja Elf sangat bingung dengan ucapan Melinda.
'ah putriku. Apakah kamu sebegitu inginnya cepat menikah hingga menginginkan pria yang sudah menikah?.' Gumam Raja Elf didalam pikirannya dengan rumit.
Sementara Ratu Elf mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Melinda. "Melinda, bisa-bisanya kamu mengatakan hal yang memalukan seperti itu. Pria ini sudah memiliki istri dan anak. Apakah kamu ingin merebut dia dari keluarganya?."
"Tapi, tapi,..Lux memiliki empat orang istri. Dia bahkan mungkin ingin memiliki istri yang lain nantinya. Jadi aku harus cepat mengambil hatinya duluan."
Semua orang di dalam ruangan tercengang, terutama Raja Elf dan Ratu Elf.
"Astaga. Sungguh laki-laki yang jantan. Apakah wanita yang berada di sampingnya termasuk istrinya?." Ucap Ratu Elf dengan senyum main-main.
Sementara Sasaki dan Risaki sedikit memerah atas ucapan Ratu Elf. Tetapi mereka tetap diam dan tidak membalas.
Melinda yang mendengar ucapan ibunya segera berkata. "Mereka bukan ibu, tetapi aku takut mereka berdua mungkin nanti akan mendahuluiku."
"Ara ara. Kalau begitu aku tidak masalah dengan itu, tetapi aku tidak tahu bagaimana pendapat ayahmu?."
Raja Elf yang terkejut segera kembali sadar dan berkata dengan canggung. "Hah, selama kamu bahagia, aku tidak mempermasalahkannya."
Melinda yang mendengar hal ini sangat bahagia. Raja Elf dan Ratu Elf tersenyum lelah dengan kelakuan Melinda.
Sementara Lux yang dari tadi menyaksikan interaksi mereka semua, tercengang di tempat. 'apa-apaan. Kalian langsung setuju saja. Tampa membiarkanku berbicara.'
Saat Lux ingin berbicara dan mengoreksi ucapan dari Melinda, tiba-tiba datang sebuah suara dari balik pintu istana.
"Astaga. Dari yang aku lihat sepertinya Raja sekarang dalam keadaan bahagia?. Bolehkah kami ikut berpartisipasi juga?."
Lux dan yang lainnya melihat orang yang berbicara. Terlihat sekelompok pria dengan perawakan seperti ras elf, tetapi mereka memiliki tato bulan sabit di jidat mereka.
Raja Elf mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan mereka, sedangkan Jet berkeringat dingin melihat mereka semua.
Sementara Melinda menatap para utusan dengan pandangan dingin. Tetapi hal yang unik adalah Sasaki dan Risaki mengangkat alis mereka saat melihat para utusan itu, seperti mereka berdua mengenalnya.
__ADS_1
"Tuan Utusan, tidak perlu terlalu sopan silahkan duduk. Kalau diskusi ini menarik minat anda, aku dan istriku tidak keberatan bilah kalian bergabung." Ucap Raja Elf.
Para utusan yang mendengar hal itu menyeringai senang. Dia kemudian menatap beberapa orang yang berada di sana. Saat pandangan jatuh ke arah Sasaki dan Risaki dia mengangkat alisnya dengan terkejut.
Sebelum dia bisa mengkonfirmasi pandangannya. Tiba-tiba temannya yang berada di sampingnya berlari menuju ke arah putri Melinda.
"Bukankah ini Melinda sayangku. Apakah kamu datang kesini menunggu kedatanganku." Ucap pria dengan perawakan sedikit tampan dengan rambut coklat.
Melinda yang mendengar ucapan pria itu mendengus jijik dan berkata. "Bar. Berhentilah menggangguku, jangan karena kamu seorang utusan kamu bisa lancang seperti itu."
Bar yang merupakan salah satu utusan itu, mengangkat alisnya dan berkata dengan senyum dingin. "hehehehe. Melinda, nasibmu sudah di tentukan. Kamu akan menjadi istriku, jadi apa masalahnya dengan tindakanku yang wajar."
"Istri?. Hum. Biar aku beritahu, aku sudah memiliki seorang suami. Jadi berhentilah berkhayal seperti itu."
"Suami?." Bar sedikit terkejut dan mengangkat alisnya.
"Iya."
Bar yang mendengar balasan Melinda yang dingin kemudian menatap Raja Elf dan Ratu Elf. "Yang mulia Raja. Apakah yang dikatakan putrimu itu benar?."
Raja yang mendengar hal ini segera membalasnya. "Yang di ucapkan putriku, memang benar. Tuan Bar dapat berkenalan dengannya. Dia duduk disebelah sana, namanya adalah tuan Lux."
"Manusia. Berani-beraninya kamu mengarahkan tangan busukmu kepada calon istriku."
"Bar, apa yang ingin kamu lakukan?. Apakah kamu ingin melawan aturan yang di tetapkan oleh utusan sebelumnya?."
Bar yang mendengar ucapan Melinda menyeringai ganas dan berkata. "Apakah ada aturan seperti itu?."
"Kamu..." Geram Melinda dengan sedikit marah.
Sementara itu Lux yang dari tadi diam, mengerutkan keningnya dengan situasi ini.
'Raja sialan ini. Dia sengaja mengataka itu untuk memprovokasi pihak lain, untuk melawannya. Cih, Kali ini aku akan memaafkanmu karena saat ini aku masih membutuhkan tenaga dari kerajaanmu. Tetapi kalau sampai ini terjadi lagi tanpa mempertimbangkan persahabataku dengan Melinda, aku pastikan kamu akan menyesal.' Gumam Lux didalam pikirannya dengan dingin.
"Itu memang aku." Balas Lux dengan tenang atas pertanyaan Bar tadi.
Melinda yang mendengar ucapan Lux terkejut dan kemudian sangat bahagia karena Lux akhirnya mengakui dirinya.
__ADS_1
Sementara Bar yang mendengar balasan Lux yang tiba-tiba, segera berkata dengan dingin. "Oh, sepertinya kamu memang benar-benar ingin cepat mati."
Bar segera berjalan mendekati Lux, tetapi hal yang tak terduga dia di hadang oleh Sasaki dan Risaki.
Bar yang melihat ini pada awalnya sedikit mengerutkan keningnya. Tetapi saat dia melihat wajah cantik Sasaki dan Risaki, dia tambah bersemangat.
"Tidak aku sangka kamu akan di temani oleh dua orang wanita cantik manusia. Hehehehe. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku." Ucap Bar dengan ekspresi mesum.
Sasaki yang melihat hal ini mengerutkan keningnya. Saat dia ingin langsung membunuh Bar karena berpikir seperti dia adalah miliknya, tetapi dia berhenti secara tiba-tiba karena mendengar ucapan teman Bar yang mengenal Sasaki dan Risaki.
"Nona Sasaki, tolong berhenti." Teriak pemuda itu dengan panik.
Sasaki yang ingin menyerang segera berhenti dan menatap pemuda itu dengan dingin.
Pemuda itu yang di tatap oleh Sasaki berkeringat dingin.
"Nona Sasaki, tolong maafkan kesalahan juniorku yang kurang sopan." Ucap pemuda itu yang menghampiri bar dan memaksanya tunduk di depan Sasaki.
Bar yang melihat tindakan seniornya, tercengang. "Senior Rid. Apa maksudnya dengan semua ini?."
"Diamlah." Balas Rid dengan dingin.
Bar yang mendengar ucapan kuat Rid, diam dan tidak berbicara lagi. Sementara Rid yang sudah meminta maaf pada Sasaki segera menunggu balasan Sasaki.
Sasaki yang melihat hal ini sedikit mengurangi aura membunuhnya.
"Heeh, berani-beraninya seorang tahap peleburan Mana belaka bertindak sombong di depanku. Apakah kamu ingin mati Rid?."
"Ugh, nona Sasaki. Situasi ini adalah hal yang tak terduga, mohon dimaklumi. Tetapi yang menjadi pertanyaan di sini adalah kenapa pengawal Raja dari kerajaan Beast berada di wilayah utusan kerajaan Moon kami?." Ucap Rid yang pada awalnya sedikit takut, tetapi kemudian dia menenangkan dirinya karena mengingat kartu truf yang dia bawa.
Sasaki yang mendengar ucapan Rid mendengus dingin dengan ucapannya. "Aku ingin pergi dimana saja itu bukan urusan dari orang lemah sepertimu."
Rid yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya. Sementara Bar yang dari tadi bingung akhirnya mengerti saat mendengar tentang kerajaan Beast dari seniornya.
Lux yang dari tadi diam segera berdiri dan berbicara. "Sasaki. Apakah kamu mengenal mereka?."
Sasaki yang mendengar pertanyaan Lux segera membalasnya. "Tuan. Dulu saat konferensi benua timur aku pernah melihat mereka."
__ADS_1
"Humm, jadi seperti itu?." Ucap Lux kemudian menatap Rid dan Bar.