
Ratu Elf yang mendengar hal ini menghela nafas dan berkata. "Baiklah tuan Lux. Kami mohon maaf sebelumnya bila menyinggung anda."
Ratu Elf meminta maaf kepada Lux dan menyuruh suaminya yang bersamanya ikut meminta maaf juga.
"Aku juga sebagai seorang Raja sepertinya kurang sopan dalam menyambut tamu. Aku minta maaf soal itu." Ucap Raja Elf dengan tulus.
Lux yang mendengar hal ini mengangguk dan memaafkan mereka. "Tidak apa-apa yang mulia. Kalau boleh tau apakah aku boleh memeriksa pohon dunia yang anda sebutkan itu?"
"Ah, tentu saja anda boleh memeriksanya. Tetapi untuk sekarang mungkin kamu tidak bisa karena aku harus mendiskusikan dulu dengan para tetua tentang bagaimana agar kamu seorang manusia dapat masuk tempat suci."
Lux yang mendengar ucapan Raja Elf berpikir sebentar dan kemudian menyetujui apa yang dia katakan. "Baiklah yang mulia, aku menyetujuinya. Jadi kapan aku bisa masuk ditempat suci itu?."
Raja Elf yang mendengar hal ini bernafas lega dan berkata. "Paling lambat besok tuan Lux akan mendapatkan jawabannya."
Lux yang mendengar hal ini mengangguk lagi dan kemudian meminta undur diri. "Baiklah, kalau begitu aku untuk sementara akan berada di kerajaan ini."
"Tuan Lux tidak usah mencari penginapan di luar istana. Aku sudah menyiapkan tempat untuk tuan tinggal. Tuan Jet akan mengantarkan anda ke kediamanmu."
"Terimakasih kepada yang mulia." Ucap Lux yang kemudian diantar oleh Jet untuk pergi ke kediamannya.
Sementara itu Raja dan Ratu Elf yang melihat kepergian Lux menghela nafas dengan sedikit lega. Raja Elf kemudian melihat para utusan yang telah sekarat di tanah dan memerintahkan para pengawal untuk membawanya di ruang pengobatan.
"Segera bawa para utusan untuk diobati dan jangan lupa untuk menyegel mana core mereka sebelum di obati."
"Baik yang mulia." Sebelum para pengawal melaksanakan perintah, Raja mereka tiba-tiba dia berbicara lagi.
"Ah, dan jangan lupa panggil para penatua untuk datang keistana untuk pertemuan penting."
Para pengawal yang mendengar hal ini segera mengangguk dan kemudian membawa para utusan itu keluar.
....
Disebuah danau yang jernih terlihat seorang wanita Elf cantik yang sedang menangis.
"Dasar Lux, bajingan." Ucap Melinda yang kemudian melemparkan batu kedanau dengan frustasi.
Saat dia ingin mengumpat dan melemparkan batu lagi, tiba-tiba Sasaki menghampirinya dan berbicara dengan nada mengejek.
"Heeh, dasar anak manja."
__ADS_1
Melinda yang mendengar suara itu berbalik dan melihat Sasaki dengan sedikit marah. "Sasaki apa yang kamu lakukan disini?. Jika kamu ingin datang hanya untuk mengejekku sebaiknya kamu kambali."
Melinda menatap Sasaki dengan marah dan air mata tidak bisa jatuh dari matanya. Sasaki yang melihat hal ini sedikit melonggarkan ketidak sukaannya dan berbicara.
"Hah, Melinda apakah kamu tau kenapa Lux tidak menerimamu sebagai istrinya?."
Melinda yang mendengar ucapan Sasaki semakin bingung dan tidak bisa berkata apa-apa.
Sasaki yang melihat hal ini akhirnya berkata dengan tenang. "Itu karena kamu terlalu terobsesi kepada Lux. Sehingga membuatnya ragu."
Melinda yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya dan bertanya. "Apa maksudmu?."
"Hah, Melinda kalau kamu tiba-tiba didekati oleh seorang pria dan dia mengatakan anda sebagai istrinya. Apa yang akan kamu lakukan?." Tanya Sasaki dengan tenang.
Melinda yang mendengar hal ini terkejut dan kemudian dia merenungkan segala macam perbuatannya. Dia kemudian tercerahkan dan menatap Sasaki dengan penuh terimakasih.
"Terimakasih Sasaki, karena telah menghiburku. Apakah ini berarti kalian telah menerimaku sebagai istri Lux yang selanjutnya?." Ucap Melinda dengan nada menggoda.
Sasaki yang mendengar hal ini mendengus dengan dingin. "Hum. Berhentilah berpikir omong kosong Melinda. Aku tidak akan pernah menerimamu. Kalaupun aku menerimamu. Itu harus aku dan Risaki dulu, baru dirimu selanjutnya."
Melinda yang mendengar hal ini mendengus dingin. Saat mereka sibuk mengobrol, tiba-tiba Lux, Risaki dan Jet datang.
Melinda yang mendengar hal ini segera melihat mereka, sebelum pandangannya jatuh kepada Lux.
Dia kemudian menunduk kepalanya dengan sedikit sedih dan malu. Lux yang melihat hal ini kemudian menghela nafas dan menghampirinya.
"Nona Melinda,.." Saat Lux ingin melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba Melinda mengangkat tangannya untuk menghentikan Lux berbicara.
"Lux tidak usah berbicara. Aku sudah paham apa yang akan kamu katakan. Aku memang salah karena bertindak dengan sewenang-wenang seperti itu. Aku seharusnya mempertimbangkan perasaanmu juga." Ucap Melinda dengan senyum yang dipaksakan.
Lux yang mendengar hal ini kemudian membalasnya dengan sedikit canggung.
"Nona Melinda bukannya aku tidak menyukaimu. Tetapi sebenarnya aku ragu padamu?." Ucap Lux dengan sedikit keraguan.
Melinda yang mendengar hal ini sedikit terkejut. "Apa maksudmu Lux?."
"Hah, aku ragu karena tindakanmu selama ini atas nama kerajaanmu atau dirimu sendiri?."
Melinda yang mendengar hal ini tidak bisa tidak terguncang. Dia ingat selama ini dia mendekati Lux karena kemampuannya yang dapat bermanfaat bagi kerajaan Elf yang sedang menurun sekarang ini, tetapi setelah enam bulan bergaul dengannya di kerajaan Green. Dia tiba-tiba memendam rasa cinta yang begitu dalam hingga saat ini.
__ADS_1
'Astaga, ternyata tindakanku selama ini memang terlihat jelas dimatanya.' Melinda ragu sejenak, sebelum dia ingin membalas perkataan Lux.
"Untuk sekarang kamu tidak harus menjawabnya Melinda. Biarkan ini dipikirkan olehmu dulu sebelum mengambil keputusan." Ucap Lux.
Melinda yang mendengar hal ini mengangguk dan kemudian berkata.
"Baiklah Lux. Tapi tolong jangan berpikiran buruk tentangku, itu sangat menyakitkan." Ucap Melinda sambil memegang dadanya.
Lux yang mendengar hal ini tersenyum dan membalasnya dengan pandangan hangat. "Melinda kenapa aku bisa membencimu?. Justru aku beruntung bisa didekati dan disukai oleh gadis cantik sepertimu."
Melinda yang mendengar ucapan Lux tersenyum bahagia. "Terimakasih Lux."
Sementara itu Sasaki dan Risaki yang melihat ini sangat iri.
'Dasar gadis licik. Hah, sepertinya aku akan disidang oleh saudari Yasaka dan Saudari Rose nanti.' Pikir Sasaki.
....
Saat Lux dan Melinda mengobrol di danau dekat istana kerajaan. Raja Elf dan Ratu Elf sekarang ini sedang mengadakan pertemuan untuk membahas tentang Lux yang akan memasuki tanah suci mereka.
Didalam terlihat keributan yang sangat intens. Ada yang berteriak dengan marah kearah anggota lainnya dan ada juga yang mengeluarkan aura mana siap bertempur.
Raja Elf yang melihat hal ini tidak bisa tidak menghela nafas lelah.
"Semuanya harap tenang." Teriak Raja Elf dengan aura mana core putih.
Para penatua yang dulunya ribut, kemudian terdiam saat melihat kemarahan Raja mereka.
Salah satu penatua kemudian berkata kepada Raja Elf dengan sopan. "Yang mulia. Aku tidak setuju apabila ras lain selain ras Elf memasuki tanah suci kita. Itu bertentangan dengan aturan leluhur kita yang selama ini kita jaga."
"Cih, dasar munafik. Penatua pertama, apa gunanya mempertahankan aturan Leluhur, kalau kerajaan ini akan hancur akibatnya." Ucap salah satu penatua dengan nada mengejek.
Penatua pertama yang mendengar hal ini kembali marah." Penatua kedua tutup mulut busukmu itu."
Aura mana penatua pertama keluar dan menekan ke arah penatua kedua.
Penatua kedua yang merasakan ini berdiri dengan marah juga.
"Penatua pertama apakah kamu ingin bertarung?." Aura mana penatua kedua keluar juga dan membalas tekanan penatua pertama.
__ADS_1
Raja Elf yang melihat hal ini semakin frustasi.