King Of Lux

King Of Lux
Chapter 86 Mata-mata.


__ADS_3

Lux melihat Lolita dengan puas. Sementara Lolita yang telah menekan Law dan yang lainnya tiba-tiba sadar dan terkejut melihat kekuatan yang dia keluarkan.


"Eh, Kenapa aku memiliki kemampuan yang sangat kuat?." Tanya Lolita dengan tercengang.


Lux yang melihat keterkejutan Lolita, segera berkata. "Lolita, tidak perlu terlalu terkejut seperti itu. Kamu sebenernya sudah lama memiliki garis keturunan dari leluhurmu yaitu pahlawan Grey Mesh. Jadi tidak usah terlalu merendahkan dirimu. Kamu sudah sangat pantas menyandang gelar Ratu di kerajaan Mesh ini."


Lolita yang mendengar ucapan Lux pertama terkejut dan kemudian dia sadar dan mengangguk paham kepada Lux. Dia kemudian kembali duduk.


"Paman, Kakek. Mohon kembali duduk. Maafkan aku karena telah bertindak kasar seperti itu."


Law yang mendengar permintaan maaf cucunya, tersenyum. "Yang mulia, sudah sepantasnya kita menghormatimu terlebih dahulu. Kamu sekarang adalah Ratu kami dan memang tidak salah memberikan tanggung jawab kepada anda."


Sev dan yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Law.


Lolita yang mendengar hal ini tersenyum canggung dan tidak terlalu terbiasa dengan situasi ini. Tetapi dia tetap mempersilahkan mereka untuk kembali duduk ditempatnya.


Lux yang melihat situasi telah kembali seperti semula, segera berkata kepada Lolita. "Baiklah karena semuanya sudah selesai, sekarang kita akan membahas rencana penaklukan kerajaan ini."


Semua orang yang duduk mengangguk atas ucapan dari Lux.


........


*Kota Retus.


Kota Retus adalah salah satu kota dari kerajaan Mesh. Kota ini dipimpin oleh seorang Marquez yang berafiliasi dengan pangeran kedua dan juga tempat pangeran kedua berada saat ini.


Dimalam yang gelap, dibagian sudut kota Retus terlihat dua orang yang mengenakan jubah sedang berjalan menuju tempat kediaman penjara kota, sambil membali sebuah karung yang lumayan besar.


"Tuan Lux, apakah rencana ini akan berhasil?." Tanya Sev dengan gugub.


"Tenang saja, ini pasti akan berhasil jadi tidak usah khawatir." Jawab Lux dengan percaya diri.


"Kita akan meletakan mayat ini dimana tuan Lux?."


"Kita akan meletakkannya di penjara tuan kota. Salah satu mata-mata dari pangeran pertama pasti akan mengetahui bahwa salah satu bawahan terpercayanya dibunuh oleh pangeran kedua."


"Tuanku bukannya aku tidak percaya. Tetapi apakah benar ada mata-mata pangeran pertama dipihak pangeran kedua?."

__ADS_1


"Tenanglah dan ikuti saja apa yang aku lakukan."


Sev yang mendengar Lux akhirnya tidak membantah dan mengikutinya. Lux sebenarnya sudah terlebih dahulu mengumpulkan informasi tentang seluruh kerajaan Mesh, baik itu informasi tentang pangeran ketiga, kedua dan bahkan pangeran pertama. Jadi dia mengetahui seluk beluk dari bawahan dan masing-masing dari mereka.


Pangeran pertama sebenarnya cukup pintar menaruh setiap mata-matanya kepada pangeran kedua dan ketiga. Tetapi sayang, itu sangat fatal dihadapan Lux yang memiliki AI dan Moon bersamanya. Jadi dia tidak menaruh curiga pada kekuatan lain apabila mata-mata yang dia pasang mengarah ke setiap musuh yang dia ketahui.


Tanpa berbasah basi lagi Lux dan Sev mulai mengendap-endap pergi kearah penjara kota. Setelah beberapa menit mereka akhirnya tiba didepan gedung.


Didepan pintu terdapat tiga penjaga yang menjaga gedung.


"Sev, tunggulah disini dan berjaga apabila ada orang lain yang datang ke gedung ini. Biar aku saja yang masuk ke dalam."


"Baik tuan."


Lux kemudian memasukan mayat itu kedalam Dimensional Worldnya dan dia mulai menghilang dari tempatnya.


Sev yang melihat hal ini sangat terkejut. "Sungguh kekuatan elemen Ruang yang sangat luar biasa."


Sev kemudian melihat artefak yang diserahkan kepada Lux. Artefak itu sangat mirip dengan Walkie Talkie. Sebenarnya Sev sebelum datang kesini sempat bingung dengan alat yang diserahkan oleh Lux, tetapi setelah mendengar penjelasan dari Lux, dia langsung kagum dengan fungsi artefak ini.


Sementara Sev berjaga di luar penjara. Lux sudah masuk kedalam dengan membawa mayat seorang bangsawan kedalam penjara.


Setelah Lux meletakan mayat itu. Dia kemudian menghilang dan muncul di samping Sev.


"Baiklah. Sekarang kita akan menuju ke arah kediaman pangeran kedua."


"Baik tuan."


Mereka berdua segera mengendap-endap dan kembali menuju kearah kediaman tuan kota.


.....


"Bagaimana Marquez Pev?. Apakah kita bisa mengalahkan kekuatan dari pangeran pertama?." Tanya seorang pria yang sedang duduk disuatu ruangan mewah bersama Pev sang Marquez dari Kota Retus.


"Tuanku, pangeran pertama mendapatkan dukungan dari kerajaan Matahari dan Chaos. Kita tidak akan bisa mengalahkan mereka kalau tidak beraliansi dengan pangeran ketiga. Jadi mohon kebijaksanaan tuan untuk membujuk pangeran ketiga untuk kerjasamanya."


Pangeran kedua yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya dan kemudian melihat pelayan setia disampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu Sei?."


"Tuan, aku sebenarnya tidak setuju kalau tuan sampai bekerjasama dengan pangeran ketiga. Kita tidak tahu apakah mereka nanti akan menusuk kita dari belakang nanti?." Ucap Sei sambil tersenyum.


Marquez Pev yang mendengar ucapan Sei mengerutkan keningnya dan melihat dia dengan marah. "Tuan, kamu harus memeriksa tuan Sei. Aku takut dia adalah seorang mata-mata dari pangeran pertama. Sudah jelas bahwa bekerjasama dengan pangeran ketiga untuk melawan penjajah asing adalah keputusan yang tepat."


"Hoo, sebenarnya aku justru curiga kamu seorang mata-mata dari pangeran ketiga, tuan Marquez." Ucap Sei sambil menyeringai.


"Kamu .." Teriak Pev dengan marah.


"Cukup." Sela dari pangeran kedua.


Pev dan Sei yang mendengar perintah pangeran segera berhenti dan tenang. Saat mereka sudah tenang tiba-tiba mereka mendengar prajurit yang berteriak di depan pintu.


"Tuan ada kabar buruk." Teriak sang prajurit.


Tuan Pev yang mendengar bawahannya segera mengerutkan keningnya dengan dingin. "Masuk."


Prajurit yang mendengar intruksi tuannya langsung masuk didalam ruangan dan berteriak. "Tuan ada kabar buruk."


Pangeran kedua, Marquez Pev dan Sei mendengar ucapan prajurit itu mengerutkan keningnya.


"Ada apa?. Berani-beraninya kamu menerobos masuk kesini dan berteriak seperti itu."


"Maafkan tuan, tetapi ini adalah kabar buruk gudang persenjataan, gudang makanan dan harta dari tuan telah hilang dan dicuri."


Pev yang mendengar hal ini langsung berdiri dan sangat marah. "Apa katamu?"


"Siapa yang berani mencuri di dalam kotaku?." Tanya Pev dengan marah.


"Itu kami tidak mengetahuinya tuan. Pertama persediaan itu masih ada saat kita mengeceknya dan kemudian saat kita melakukan pengecekan yang kedua tiba kosong dan tidak ditahu kemana dan bagaimana persediaan itu diambil." Ucap prajurit itu dengan gugub.


Pev yang mendengar ucapannya semakin marah dan kemudian tanpa basa-basi dia langsung mengeluarkan petir dari tangannya dan melesatkan langsung ke prajurit itu hingga mati di tempat.


Sementara itu pangeran kedua yang mendengar kabar dari prajurit Marquez Pev mengerutkan keningnya dengan dingin. "Tuan Pev segera pergi ke saudara ketigaku dan membahas aliansi untuk menyerang pangeran pertama."


"Baik tuanku." Ucap Pev.

__ADS_1


Semenjak Sei yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya dengan tidak puas.


__ADS_2