
Saat Lux menyebutkan penyakit Risaki, bukan hanya dua saudari itu saja yang terkejut. Yasaka dan Fuji juga terkejut saat mendengar penyakit kutukan Medusa.
"Bukankah itu kutukan bangsa iblis?. Kenapa kamu bisa mendapatkan kutukan itu?, Setahu saya kutukan itu adalah segel budak bangsa iblis." Yasaka bertanya dengan bingung, diikuti Fuji yang mengangguk.
'seharusnya mereka tidak harus memetuhi Raja Lion sperti itu karena kutukan hanya bisa di hilangkan oleh bangsawan iblis, kecuali....'Gumam Yasaka didalam pikirannya dengan muram.
Sasaki yang mendengar pertanyaan Yasaka tidak membalasnya dan malah menatap Lux.
Lux yang ditatap oleh Sasaki tersenyum dan segera berbicara.
"Apakah kamu terkejut bagaimana aku mengetahui penyakit adikmu?. Aku akan memberitahumu kalau kamu setuju dengan kesepakatan kami?." Tanya Lux kepada Sasaki.
Risaki yang mendengar ucapan Lux, mengerutkan keningnya. "Kakak jangan menerimanya. Apakah kamu lupa kami masih memiliki Orang tua yang di sandra oleh Raja Lion?."
Lux yang mendengar ucapan Risaki mengakat alisnya. Sementara Sasaki yang mendengar pertanyaan Lux, muram dan segera membalasnya. "Baiklah. Aku akan menyetujuinya."
"Kakak, kamu?." Teriak Risaki bingung, sekaligus kecewa.
"Diamalah Risaki." Ucap Sasaki dengan dingin.
"Apakah kamu benar-benar ingin meninggalkan orang tua kita?. Aku tidak ingin menggunakan diriku sebagai kesepakatan, kalau itu sampai mengorbankan orang tua kita." Ucap Risaki tegas.
Sementara Sasaki yang mendengar hal ini frustasi dan segera berteriak. "Ku bilang diam."
Risaki yang melihat tingkah kakaknya yang tiba-tiba menjadi aneh, bingung.
Sementara Lux yang saat ini melihat dialog mereka berdua, agak paham.
'Jangan bilang ini seperti klise yang sering kubaca di setiap novel?.' Pikir Lux dengan aneh.
Saat Lux masih dalam pikirannya tiba-tiba Sasaki berbicara kepadanya. "Bagaimana kamu akan menyembuhkannya?. Sementara kunci kutukan saat ini berada di Raja Lion?."
"Bagaimana aku menyembuhkannya, itu adalah rahasia. Tetapi kalau kamu berjanji untuk menjadi pengikutku, aku akan menyembuhkan penyakit adikmu itu." Balas Lux dengan santai.
Sasaki yang mendengar ini muram, tetapi dia akhirnya menetapkan keputusannya dan berkata. "Baiklah. Aku Sasaki dan adikku Risaki berjanji atas nama Mana akan menjadi pengikutmu. Kalau aku melanggarnya Mana coreku akan hancur. Tetapi kalau kamu berbohong kepadaku, perjanjian ini batal."
Sasaki bersumpah atas nama Mana dan menunggu keputusan Lux. Sementara Lux yang mendengar sumpah Sasaki, tersenyum. Saat dia ingin membalas ucapan Sasaki, tiba-tiba Risaki yang melihat hal ini tidak bisa lagi tinggal diam dan segera berkata.
__ADS_1
"Sasaki sudah ku bilang aku lebih baik mati, dari pada kamu menggunakan aku sebagai alasan untuk mengabaikan orang tua kita."
Risaki tiba membalikkan belatinya menghadap jantungnya dan akan bunuh diri. Tetapi tiba-tiba Sasaki yang melihat hal ini akhirnya berteriak.
"Orang tua kita sudah meninggal."
Risaki yang akan menusuk jantungnya, berhenti saat mendengar ucapan Sasaki. Dia menatap Sasaki dengan berkeringat dingin. "Apa maksud ucapanmu itu Sasaki?"
"Orang tua kita sudah lama meninggal. Bajingan Lion itu telah membunuhnya saat kita masih kecil." Sasaki menjelaskan dengan sedikit sedih, sambil mengingat ingatannya kembali.
Sementara Risaki yang mendengar hal ini masih terguncang. "Jadi bagaiman dengan yang kita temui sebulan yang lalu?."
"Itu bukan orang tua kita. Bajingan Lion telah mengunci ingatan kita dengan Rune Dream, saat kita masih kecil. Dia melakukan itu agar kami tetap setia padanya. Aku menyadari hal itu setelah tidak sengaja menyentuh artefak kuno dan menghilangkan Rune itu. Selama ini aku berpura-pura seakan-akan kita masih masih memiliki Orang tua dan tidak memberitahukan kepadamu karena aku saat itu mendapatkan informasi baru bahwa kamu telah ditanamkan segel kutukan dari Lion. Dia sepertinya melakukan itu untuk jaga-jaga." Sasaki menjelaskannya kepada Risaki dengan panjang lebar.
Risaki yang mendengar penjelasan Sasaki terguncang dan segera bersujud dengan air mata yang menetes. "Aaaaaaaaa."
Sasaki yang melihat hal ini panik dan segera menghampiri dan memeluknya. Di berusaha menenangkan Risaki.
Lux yang dari tadi mendengar interaksi mereka, menghela nafas. 'Seperti yang kuduga.'
Sementara Yasaka dan Fuji yang mendengar ini, memandang Sasaki dan Risaki dengan kasihan.
Dibawah pegunungan terdapat banyak prajurit yang sudah sampai di perbatasan wilayah suku Burung. Tinggal beberapa saat lagi mereka tiba di kota suku Burung yang berada di puncak gunung.
Saat para prajurit ingin memasuki wilayah suku Burung dan menaiki pegunungan, tiba-tiba Komandan Konte menghentikan para prajurit.
"Semuanya berhenti." Ucap Konte.
Segera semua orang berhenti.
Salah satu jendral yang melihat hal ini segera datang dan menghampiri Konte. "Tuan, apakah kita tidak akan memasuki wilayah suku Burung?."
"Tunggu sebentar, kita akan menunggu Risaki di sini. Mereka pasti telah berhasil menjebak kota suku Burung dengan artefak ruang."
Saat Jenderal yang mendengar penjelasan Konte, mengangguk mengerti dan kembali ke posisinya.
Jelang beberapa saat tiba-tiba datang sesosok gadis dengan topeng polos, muncul.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga Risaki. Bagaimana situasinya?." Tanya Konte.
Risaki yang mendengar pertanyaan Konte segera membalas. "Kita telah berhasil menjebak mereka dan saat ini kakakku sedang mengawasi mereka."
"Hahahaha. Sangat bagus. Sepertinya tidak sia-sia aku membawa kalian berdua. Para prajurit apakah kalian mendengar itu, ayo segera berangkat."
Para prajurit yang mendengar perintah komandan mereka segera bergerak mengikuti di belakangnya.
Sementara itu Otar yang mendengar ucapan Risaki mendengus dingin dan berjalan mengikuti rombongan prajurit.
Saat mereka semua pergi, meninggalkan Risaki sendirian. Risaki menatap para prajurit kerajaan Beast yang bergerak ke arah kota suku Burung dengan dingin. Dia mulai menghilang dan mengikuti prajurit ini.
Mereka akhirnya sampai di puncak gunung dan melihat kota yang telah di blokir oleh penghalang ruang.
"Hahahaha. Sepertinya kalian berdua memang melakukan pekerjaan dengan baik. Apakah para penduduk suku Burung sudah ditahan?." Tanya Konte tiba-tiba kepada Risaki.
"Ya. Mereka saat ini sangat rentan karena tidak adanya Kepala suku Burung dan pengawal terkuatnya, jadi mudah bagi kami untuk mengambil alih." Balas Risaki dengan tenang.
"Sudah kuduga. Bajingan manusia itu pasti akan bergerak ke suku Rubah dulu. Kita akan membuat jebakan di sini dan menangkap sumua pemberontak itu saat mereka tiba." Komandan Konte berkata dengan senyum tipis.
Otar yang melihat hal ini sangat senang dia langsung datang kepada komandan Konte dan berkata. "Komandan, bolehkah kamu memberikan manusia itu kepada. Aku ingin sekali mencabik-cabik tubuhnya dengan tanganku sendiri."
Konte yang mendengar ucapan Otar menatapnya dengan tenang dan berkata. "Hmmm. Sepertinya itu tidak apa-apa, tetapi ingat jangan bertindak ceroboh nanti. Kita masih belum menangkap mereka."
"Terimakasih komandan." Otar sedikit menunduk dengan sopan.
'kukuku. Lux tunggu saja, setelah aku menangkapmu. Aku akan menyiksamu dulu sebelum membunuhmu.' Pikir Otar kegirangan.
Sementara itu Risaki yang mendengar ucapan Otar menatapnya dengan dingin. 'Otar, para prajurit ini mungkin akan ada beberapa yang selamat. Tetapi kamu harus mati di tanganku nanti.' Risaki bergumam dengan dingin dipikirannya.
"Sasaki apakah kamu mendengarku, segera buka celah ruang agar kita bisa masuk." Teriak Konte.
Sasaki yang mendengar ucapan Konte segera muncul didepannya dan menyambutnya dengan sopan.
"Baik tuan."
Segera celah ruang terbentuk dan Konte yang melihat hal ini segera masuk dengan anak buahnya. Tetapi saat mereka semua masuk, mereka bingung kenapa kota ini sangat kosang dan tidak adanya kehidupan.
__ADS_1
Konte mengamati sekitarnya dan berpikir. Tiba-tiba dia menegang dan berkata." Tidak baik, ini jebakan."