King Of Lux

King Of Lux
Chapter 58 Perang 7


__ADS_3

Saat Ron, Lily, Lissa, Linlin, Brayen dan Jack dalam situasi yang sangat terkejut.


Rose, Fifian dan Benedeta sangat marah mendengar ucapan Melinda. Terutama Rose, saat dia mendengar ucapan terang-terangan Melinda, dia berkata dengan dingin. "Intinya kamu ingin memanfaatkan situasi ini untuk membuat Lux berhutang Budi padamu, kan?."


"Astaga. Itu sangat kasar, seakan aku hanya memanfaatkan situasi ini untuk mengikat Lux. Padahal aku dengan tulus hanya ingin membantu." Balas Melinda dengan nada sedih.


Rose yang mendengar ucapan Melinda mendengus. Dia kemudian menghadap kepada Fifian dan Benedeta.


"Bagaimana saudari apakah kamu menerima dia sebagai salah satu dari kita?"


"Tentu saja tidak." Balas mereka berdua dengan tegas.


Rose tersenyum saat mendengar ucapan mereka berdua.


"Baiklah. Nona Melinda dapat melakukan apapun yang dia inginkan. Tetapi kamu harus mendengar keputusan Lux terlebih dahulu."


Melinda yang mendengar ucapan dan tingkah laku mereka bertiga, mengangkat alisnya bingung. 'Eh, bukanya tadi mereka berdua menolaknya. Kenapa Rose tiba-tiba membiarkan dia dan malah mengarahkannya kepada Lux sebagai keputusan terakhir. Hummm, mencurigan. Tetapi biarlah yang penting aku di izinkan ikut serta membantu, itu sudah cukup.'


"Baiklah, karena keputusan telah di buat, tanpa persetujuan dari aku dan Lissa. Nona Melinda dapat menjadi bagian dari keluarga kami." Ron berkata sambil menghela nafasnya.


Rose, Benedeta, Fifian dan Melinda merasa sedikit malu mendengar ucapan Ron. Sementara Lissa hanya tertawa mendengar hal ini.


"Fufufu. Tidak apa-apa sayang. Aku justru sangat senang Lux memiliki banyak wanita, yang berarti banyak cucu nanti."


Ron yang mendengar ucapan Lissa menghela nafas lagi. Sementara Linlin yang mendengarnya mengerucutkan bibirnya.


Berbeda Jack yang mendengar bagaimana para gadis yang memperebutkan Lux tidak tahan lagi dan berkata. "Ngomong-ngomong sampai kapan kita berdiri disini?."


Ron, Lily dan Lissa yang mendengar ucapan Jack berbalik melihatnya dan langsung memasang ekspresi kasihan.


"..."


'Ada apa dengan ekspresi kasihan seperti itu?.' Gumam Jack didalam pikirannya dengan marah. Tetapi tidak di hiraukan oleh Ron dan yang lainnya.


"Baiklah, kalau begitu mari kita langsung berangkat." Ron berkata kepada mereka semua.


Selain Jack yang masih dalam ekspresi jelek, yang lainnya semua mengangguk dan menyetujui ucapan Ron.


Mereka semu akhirnya berangkat kediaman keluarga Fos.


.....

__ADS_1


Di dalam sebuah kamar yang memiliki perabotan yang sangat mewah terdapat seorang pria tampan sedang terbaring di tempat tidur. Terlihat Kulit pria itu sangat pucat dan membiru.


*Crack


Bunyi pintu terbuka dari luar, terdengar. Seorang pria muda berseragam pelayan perlahan masuk. Dia datang ke sisi pria yang tertidur itu dan mulai mengeluarkan sebuah pil dari botol yang dia bawa dan memasukkannya di dalam mulut pria itu.


Setelah itu pil tersebut meresap kedalam tubuhnya. Sontak vitalitas pria yang tertidur itu mulai pulih dan akhirnya setelah beberapa menit pria itu mulai membuka matanya yang berwarna biru.


Dia mulai perlahan bangun dan melihat situasi di dalam ruangan sejenak sebelum berbalik kepada pelayan muda itu.


Pelayan muda itu yang melihat tuannya telah bangun, segera bersujud dan berkata. "Salam Yang Mulia Gray. Sesuai janji anda aku akan menggunakan obat terlarang kepada yang mulia, karena situasi kerajaan mulai terancam dan sekarang ini adalah waktunya yang mulia."


Grey melihat pemuda yang bersujud, menghela nafas. "Son, bangunlah. Ceritakan situasi kerajaan saat ini?."


Son yang merupakan pelayan itu mulai bangun dan menceritakan semua situasinya kepada Raja Grey.


Raja Grey yang mendengar cerita tersebut mulai bangun dari tempat tidurnya dan berkata. "Son, serahkan lagi pil terlarang dan ambilkan baju zirahku."


"Tapi yang mulia, kalau yang mulia meminumnya lagi maka...." Saat Son ingin melanjutkan ucapannya tiba-tiba Raja Grey mengangkat tangannya untuk menghentikan dia berbicara.


"Son, Eraku sudah berakhir. Biarkan aku menyelesaikan apa yang perlu di lakukan sebelum aku mati. Selain itu aku tidak tega melihat Alisa dan Linlin menderita lagi. Jadi tolong ambilkan saja pil terlarang dan juga baju zirahku, Son."


"Yang muliaaa. Kalau anda bilang seperti itu, baiklah." Ucap Son dengan air mata yang sudah menetes dan segera pergi dengan sedih.


Raja Grey mulai berjalan mendekati jendela dan membuka tirainya. Malam gelap mulai terlihat dan dia bergumam di dalam pikirannya.


"Hah, sepertinya kerejaan akan dalam keadaan kacau nanti." Gumam Raja Grey sambil menghela nafas lelah.


....


Kembali kepada Rose dan yang lainnya, saat ini mereka telah tiba di kediaman keluarga Fos dan terkejut saat melihat setengah kediaman hancur lebur.


Para prajurit keluarga Fos yang melihat kedatangan Kepala keluarga sangat senang dan segera menghampirinya.


"Salam Tuan."


Ron yang melihat prajurit yang tersisa segera berkata. "Apa yang terjadi dan bagaimana dengan Leluhur?."


Para prajurit yang mendengar ucapan Ron segera menjelaskan semua situasinya.


Ron dan yang lainnya terkejut saat mendengar penjelasan dari prajurit itu.

__ADS_1


"Segera kumpulkan semua pasukan yang tersisa." Ron berkata dengan muram. Dia sebenarnya masih terguncang dengan kematian Leluhur Fos, tetapi dia masih harus berpikir jernih untuk memulihkan kondisi ibukota secepat mungkin.


"Baik tuan." Segera sebagian prajurit berlari dan menyusuri beberapa pasukan kediaman keluarga Fos yang tersisa.


"Ayah, apa yang akan kita lakukan sekarang?." Tanya Jack ragu.


Ron yang mendengar ucapan putranya segera membalas. "Kita akan mengumpulkan prajurit yang tersisa dan kembali ke istana untuk membentuk pasukan dan memulihkan ibukota kerajaan."


"Baiklah Ayah." Balas Jack masih sedikit khawatir.


Sementara Rose dan Linlin mengangguk paham dengan ucapan Ron.


Setelah beberapa menit sekelompok prajurit akhirnya berkumpul dan berdiri didepan Ron. "Tuan, prajurit yang tersisa tinggal 200 orang."


Prajurit mulai berkumpul didepan Ron dan salah satu prajurit maju dan berkata kepada Ron.


"Um. Kamu akan menjadi kapten pasukan sekarang dan segera ikuti aku untuk untuk berkumpul ke istana kerajaan."


"Baik tuan."


Mereka semua mulai bergerak ke arah istana kerajaan.


Selang beberapa menit mereka akhirnya tiba dan melihat di sana sudah ada Foban, Semiramis dan yang lainnya. Mereka juga membawa prajurit kerajaan Green yang tersisa.


"Foban, berapa sisa prajurit yang tersisa?." Tanya Linlin.


"Hah, untuk sekarang aku hanya bisa mengumpulkan 1600 prajurit di tambah dengan prajurit yang di miliki tuan Ron, menjadi 2000."


"Ini?. Bagaimana dengan Alisa dan rombongannya?"


"Aku tidak tahu. Mari kita tunggu sebentar."


Linlin yang mendengar ucapan Foban, menghela nafas.


"Ngomong-ngomong tuan Foban apakah anda menemukan Gordon dan rombongannya dalam perjalanan anda." Tiba-tiba Ron bertanya dengan serius.


"Sayangnya tidak. Tetapi aku curiga mereka mungkin telah keluar dari ibukota."


Ron yang mendengar ucapan Foban, sedikit marah. 'Gordon, Pon dan Leo. Kalian bajingan pengkhianat. Tunggu saja, setelah aku menemukanmu. Akan kubunuh kau denga tanganku sendiri.'


Mereka semua akhirnya istirahat sejenak dan menunggu kedatangan Alisa dan rombongannya.

__ADS_1


Setelah menunggu lama, tiba-tiba Semiramis yang berada di samping Foban berkata. "Ratu Alisa telah tiba dan sepertinya dia membawa prajurit juga."


Mereka semua yang mendengar ucapan Semiramis segera berbalik dan melihat Ratu Alisa dan rombongan prajuritnya datang mendekat.


__ADS_2