King Of Lux

King Of Lux
Chapter 61 Puncak Perang 3.


__ADS_3

"Ayah. Apa yang kamu maksud dengan dunia luar?." Tanya Rose tiba-tiba.


Semua orang yang mendengar pertanyaan Rose ikut mengangguk bingung juga.


"Hmm, itu sangat panjang untuk di jelaskan. Nanti baru aku jelaskan untuk sekarang fokuslah pada Medan perang. Sepertinya mereka akan mulai menyerang."


Rose yang mendengar ucapan Raja Grey mengangguk dan kembali fokus pada Medan perang.


Mereka semua melihat bahwa kerajaan Ness dan Demon akan langsung menyerang.


"Grey, kamu akan mati di tanganku sekarang. Serang." Teriak Raja Ness dan di ikuti Raja Demon yang berteriak serang juga.


Raja Grey yang melihat pasukan musuh mulai menyerang dia akhirnya ikut memeriahkan generang perang.


"Serang. Musnah mereka semua." Teriak Raja Grey kemudian berlari dengan cepat. Pasukan mengikuti di belakangnya dan ikut menyerang.


Pasukan mulai bentrok dan mereka mengeluarkan sihir masing-masing untuk saling membunuh.


"Grey, Mati." Raja iblis melesatkan serang elemen gelapnya kepada Raja Grey.


Raja Grey yang melihat serangan ini segera membalasnya dengan mengeluarkan tombak dan menusukannya kedepan dengan aura api yang membara.


Bentrokan serangan terjadi dan menyebapkan mereka berdua mundur ke belakang, tetapi Raja Ness tiba-tiba muncul dan menyerang Raja Grey yang masih dalam keadaan tidak siap.


Raja Grey yang melihat serangan Raja Ness menangkis menggunakan tombaknya, tetapi Raja Grey masih terlontar ke belakang lagi.


"Ugh, sialan." Ucap Raja Grey kembali meluruskan tubuhnya.


Linlin dan Alisa yang melihat Raja Grey di tekan tidak bisa tidak khawatir dan segera ingin langsung membantu Raja Grey, tetapi tiba-tiba mereka di halau oleh Jendral dari kerajaan Ness dan Demon.


"Hahahaha. Grey kamu tidak bisa mengalahkan kami berdua." Raja Ness berkata dengan bangga.


"Kukuku. Raja Grey sebaiknya kamu segera menyerah, mungkin aku akan membunuhmu dengan cepat." Raja Iblis menambahkan dengan seringai ganas.


"Dalam mimpimu." Ucap Raja Grey dengan marah. Tiba-tiba seluruh tubuh Raja Grey mulai bercahaya merah dan tubuhnya mulai membesar.


Setelah beberapa saat dia kemudian berubah menjadi naga barat merah dan berteriak.


*Roaarrr


"Hoo. Tidak aku sangka ada Naga di alam tersembunyi ini?." Salah satu orang yang berjubah berkata dengan ekspresi yang menarik.


"Ron. Kenapa kamu memasang ekspresi penasaran seperti itu?. Seharusnya kamu berpikir tentang solusi yang selanjutnya. Kamu tahu sendiri Ras Naga di benua tengah sangat sensitif kalau menyangkut penyerangan Ras mereka. Kalian Ras Iblis memang sangat aneh." Pria berjubah lainya berkata kepada Ron dengan jijik.

__ADS_1


"Kukuku. Kalian dari kerajaan Matahari wajar saja tidak tahu karena tidak memiliki pendukung di benua tengah. Biar aku beritahu Ras Naga memang cukup sensitif dengan Ras mereka, tetapi itu terkhusus untuk darah murni dan berdasarkan pengamatanku Raja Grey ini bukan darah murni."


"Apakah seperti itu?. Kalau begitu kita tidak perlu melakukan perubahan rencana."


Ron tersenyum mendengar ucapan rekannya itu.


Sementara itu, kembali ke pertarungan antara tiga Raja. Grey yang berevolusi tidak membuat Raja Ness dan Raja Iblis takut.


"Hum. Kamu pikir dengan berevolusi bisa merubah keadaanmu." Raja Ness berkata dengan seringai mengejek dan kemudian dia juga mulai berubah menjadi singa Api yang tidak kalah besarnya dengan Raja Grey.


Raja iblis juga mulai berubah mengikuti Meraka berdua dan tubuhnya mulai membesar dan muncul tanduk di kepalanya, sementara di belakangnya terdapat enam pasang sayap hitam.


Mereka bertiga mulai bertarung dengan sengit. Raja Grey menyemburkan api ke arah Raja iblis tetapi di halau oleh pedangnya. Sementara Raja Ness tidak menganggur dan langsung menerkam Raja Grey yang membuat dia sedikit terluka di punggungnya.


Foban yang melihat Raja Grey mulai di tekan ingin membantunya, tetapi dia di halau juga oleh komandan kerajaan Ness.


"Hahahaha. Foban mau kemana lawanmu adalah aku."


"Gort..." Foban berkata dengan marah saat melihat Gort menghalaunya.


Tiba-tiba terdengar teriakan Raja Grey lagi. Sontak semua pasukan melihat kearah pertarungan Raja Grey dan melihat dia di tekan oleh kedua Raja kerajaan musuh.


Brayen yang melihat hal ini mengerutkan keningnya. "Hmm, sepertinya Raja bisa kalah kalau seperti ini terus."


"Ugh, putri. Sebenarnya aku di beri tugas oleh Lux untuk melindungimu dan yang lainnya. Aku takut kalau aku menjauh dari sisimu itu bisa membahayakan kalian."


Rose yang mendengar hal ini kembali memohon. "Tuan, tolong. Tidak usah khawatir denganku. Aku bisa bertahan bersama Sisil, Fifian dan Benedeta di sini. Apakah kamu lupa kami juga memiliki hal ini."


Rose mengeluarkan artefak sucinya, di ikuti oleh Sisil dan Fifian.


Brayen yang melihat hal ini menghela nafas dan berkata. "Baiklah. Tapi tolong jangan berada di posisi paling depan pasukan. Cukup berada di belakang pasukan sebagai pendukung."


"Ok." Balas Rose dengan cepat.


Brayen yang mendengar ucapan Rose segera menghilang.


Sementara itu di sisi Raja Grey yang di tekan terus menerus oleh dua Raja, terus bertahan.


"Hahahaha. Raja Grey, sampai kapan kamu bisa bertahan. Terimalah ini.." Raja Ness ingin mengeluarkan nafas Apinya, tetapi tiba-tiba sebuah palu yang sangat besar menghantamnya dan membuat dia terbang kebelakang.


"Hohoho. Bukannya tidak adil bertarung dua lawan satu. Jadi aku di sini akan sedikit menstabilkan agar pertarungan ini menjadi sedikit adil." Brayen berkata, sambil memegang palu di tangannya.


Raja Ness yang melihat Brayen sangat marah.

__ADS_1


"Grr. Mana Core Tahap putih puncak." Ucap Raja Ness sedikit terkejut.


Sementara Raja Iblis yang melihat kemunculan Brayen Horn yang tiba-tiba, ingin melancarkan serangan kepadanya. Tetapi Raja Grey mengeluarkan nafas Api yang sangat panas melalui mulutnya.


"Mau kemana kamu Asmodeus. Lawanmu adalah aku."


"Cih,.." Raja Iblis segera menahan serangan nafas Raja Grey dengan sayapnya.


Pertarungan yang dulunya tidak seimbang, sekarang menjadi seimbang, yang menyebabkan pertarungan mereka semakin menjadi intens.


Sementara Alisa dan Linlin yang melihat bahwa Raja Grey baik-baik saja, menghela nafas dan kembali fokus menghadapi musuh mereka.


"Humm. Sepertinya kita harus bergerak sekarang." Ron berkata dan berbalik kearah rekannya yang mengenakan jubah.


"Baiklah. Apakah kita akan membunuh Raja Grey itu terlebih dahulu?."


"Iya, biar aku yang melakukannya. Sementara kamu mengurus Hobbit itu. Tidak aku sangka ras penempa ini akan muncul ke alam tersembunyi ini secara tiba-tiba."


"Baiklah."


Mereka saling menatap dan kemudian menghilang dan tiba-tiba muncul di depan Brayen dan Raja Grey.


Mereka berempat yang melihat kemunculan dua orang berjubah, segera berhenti bertarung.


"Raja Ness, Raja Demon. Kalian terlalu lama menyelesaikan hal ini."


"Maafkan aku tuan. Tidak aku sangka ada seorang yang tiba-tiba muncul dan membantu Raja Grey." Ucap Raja Demon, diikuti Raja Ness.


"Hah, tidak apa-apa. Biar kami berdua sekarang yang menyelesaikan hal ini dengan cepat."


Raja Ness dan Raja Demon yang mendengar hal ini mengangguk dengan pasrah. Sementara Raja Grey yang melihat kedua utusan itu berkata dengan marah.


"Tuan, bukannya kalian sudah berjanji, bahwa kalian tidak akan ikut campur dengan pertarungan kerajaan kami."


"Eh, apakah seperti itu?. Bukannya kalian sendiri yang melanggarnya. Kedua Pangeran yang kami utus ke kerajaan kalian, malah di perlakukan dengan tidak adil, yang satunya tewas di bunuh. Sedangkan yang satunya lagi melarikan diri dari kerajaan Green dan bergabung deng pasukan kami. Hal itu disebabkan karena kerajaan kalian telah lama mendiskriminasinya. Bukankah seperti itu bocah Leo?."


Leo yang mendengar ucapan utasan itu, tergagap dan menjawab dengan cepat. "Benar tuan. Aku bahkan sampai akan di bunuh juga oleh mereka saat itu."


"Dengar?"


Raja Grey yang mendengar ini sangat marah. Sementara Alisa dan Linlin yang melihat ini ikut marah juga.


"Omong kosong apa. Leo, dasar bajingan yang tidak tahu berterimakasih. Kamu bahkan kami jadikan putra mahkota kerajaan Green, tetapi kamu membalasnya dengan hal ini?."

__ADS_1


Leo yang mendengar ucapan Ratu Alisa mendengus dan mengabaikannya.


__ADS_2