
"Aku tidak peduli dengan kasus omong kosong ini. Yang aku minta penjelasan adalah apa maksud dari ucapanmu tuan Lux tentang pembunuh malam?" Tanya kepala bangsawan Monyet Putih.
Lux tersenyum dengan situasi ini. Sebelumnya Lux telah berdiskusi dengan Yasaka mengenai pembunuh malam yang akhir-akhir ini merajalela di kerajaan Beast. Yasaka saat itu mengatakan bahwa putra dari Kepala Bangsawan monyet putihpun tewas olehnya. Tetapi yang membuat seisi kerajaan terkejut adalah mayatnya yang telah di m*tilasi dan terdapat bekas siksaan.
Tentu saja setelah melihat status pangeran kedua dengan AInya tadi. Dia sudah bisa menarik kesimpulan. Siapa lagi yang berani membunuh putra kepala Bangsawan monyet putih selain orang yang memiliki status lebih tinggi.
Lux kembali dalam pikirannya dan bertanya balik kepada Kepala Bangsawan monyet putih dengan sopan. "ah, maafkan aku tuan. Kalau boleh tau aku sedang berbicara dengan siapa?"
Kepala Bangsawan monyet putih berkata dengan sombong. "Pemimpin dari puncak gunung putih, Sun Go."
"Astaga, tidak aku sangka aku bertemu dengan sosok yang agung." Balas Lux
"Hum. Kamu memang memiliki mata yang bagus manusia. Tetapi untuk sekarang aku tidak ingin terlalu banyak basa-basi denganmu. Aku ingin mendengar tentang ucapan tadi, mengenai pembunuh malam." Ucap Sun Go dengan tegas.
Lux yang mendengar hal ini tersenyum dan segera berkata dengan tenang. "Mengenai pembunuh malam, sebenarnya aku mempunyai tebakan akan hal itu. Untuk benarnya atau tidak, bisa di pikirkan oleh tuan Sun Go dan semua orang disini."
Raja Lion dan Bahal mengerutkan keningnya dengan perubahan suasana yang tiba-tiba. Tetapi mereka tidak bisa mencela Sun Go karena mereka mengetahui karakternya yang keras kepala dan gampang marah.
Sementara itu Sun Go yang mendengar hal ini mengerutkan keningnya dan berkata. "Segera katakan, aku ingin mendengarnya walaupun itu hanya tebakan sekalipun."
"Sebenarnya pembunuh malam, tidak sulit untuk di temukan karena sekarang dia berada di dalam ruangan ini." Ucap Lux dengan tenang.
Semua orang yang mendengar ucapan Lux tercengang, terutama Sun Go. Dia sangat marah saat mendengar ucapan Lux.
"Siapa itu cepat katakan. Biar aku sendiri yang membunuhnya di sini." Ucap Sun Go dengan marah, sambil melihat sekelilingnya.
Lux yang mendengar ucapan Sun Go, tersenyum dan segera berkata. "Kalian semua pasti sudah mengetahui, bahwa pembunuh malam. Membunuh korbannya dengan cara menyiksanya terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Jadi aku dapat menyimpulkan bahwa dia memiliki kepribadian yang bengkok dan untuk mengetahui hal itu aku sudah menyiapkan sebuah barang."
Lux mengeluarkan sebuah kalung seperti kalung anjing dengan rantai pegangan dan dia juga mengeluarkan cambuk hitam di dalam cincinnya.
Semua orang bingung melihat alat yang di keluarkan Lux, tetapi berbeda dengan Yasaka yang memerah malu saat melihat alat yang di keluarkan Lux. Alasan Yasaka memerah malu mungkin hanya Lux yang mengetahuinya.
Sementara itu Sun Go mengerutkan keningnya dan urat muncul di kepalanya saat melihat alat yang di keluarkan Lux. "Manusia, jangan main-main denganku. Apakah kamu ingin mati. Kenapa kamu mengeluarkan cambuk dan kalung rantai itu?"
__ADS_1
Raja Lion dan Bahal tersenyum mengejek melihat alat yang di keluarkan Lux. Tetapi hal yang mereka tidak sadari adalah pangeran Tetsu menundukan kepalanya saat ini.
Sementara itu Lux yang mendengar teriakan marah Sun Go masih dengan tenang menjelaskan. "Kalian semua mungkin bingung, kenapa aku mengeluarkan alat ini. Tetapi yang memiliki kepribadian bengkok pasti tidak. Benarkan pangeran kedua Tetsu."
Saat Lux mengucapkan kata-kata itu, sontak semua orang memandang pangeran Tetsu yang saat ini memiliki ekspresi gila di wajahnya.
"Hehehe. Hahahaha. Serahkan barang itu, bajingan." Ucap Tetsu yang kemudian menuju ke arah Lux sambil mengeluarkan sihirnya.
Sebelum Tetsu sempat melangkah menuju Lux untuk menyerangnya. Kojiro tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang pangeran kedua dan memukul leher belakang kepalanya hingga pingsan.
"Yang mulia. Sepertinya pangeran sedang sakit. Aku akan pergi keluar dulu untuk mengantarkannya beristirahat." Ucap Kojiro.
Tetapi sebelum Raja Lion membalas tiba-tiba dia di interupsi oleh Sun Go yang muncul di belakangnya.
"Hei Bajingan. Serahkan pangeran Tetsu kepadaku sekarang." Ucap Sun Go dengan mata yang memerah marah.
Saat Raja melihat situasi yang tidak baik ini di segera datang berdiri didepan Tetsu.
Sun Go yang mendengar ucapan Raja Lion membalas dengan dingin. "Lion. Selama ini keluarga kami selalu setia kepada kerajaan Beast dan tidak pernah memiliki niat memberontak. Tetapi kamu bahkan tidak memberikan wajah untuk keluarga kami yang di bantai olehnya, terutama putraku satu-satunya."
Raja Lion yang mendengar ucapan Sun Go membalas dengan tenang. "Sun Go, jangan bilang kamu mempercayai ucapan bocah itu yang hanya menunjukkan cambuk dan kalung rantai sebagai bukti?"
"Kalau begitu serahkan pangeran Tetsu. Untuk di introgasi keluarga kami." Ucap Sun Go dengan dingin sambil mengeluarkan auranya.
"Sun Go, jangan memaksaku." Balas Raja Lion sambil mengeluarkan auranya juga.
Lux yang melihat hal ini dengan tenang mengawasi. 'fyuh. Untuk saat ini aku setidaknya memiliki dua keluarga ini di sisiku, termasuk suku burung.'
Sementara Suzuki dan Bahal menatap Lux dengan serius.
'Fufufu. Sepertinya aku memang tidak salah menilaimu.' Gumam Suzuki didalam pikirannya.
'Bocah ini. Sepertinya aku harus menilainya lebih tinggi lagi.' Pikir Bahal.
__ADS_1
Kembali kepada Raja Lion dan Sun Go yang siap berkonflik. Tiba-tiba ada yang mengintrupsi mereka.
"Yang Mulia dan Tuan Go, mohon tenang. Ini adalah ruang sidang bukan tempat perkelahian." Ucap seorang Lelaki tua yang memiliki mata seperti reptil.
Saat Sun Go dan Raja Lion melihat sosok yang berbicara mereka akhirnya menghilangkan aura mereka. Tetapi Sun Go membalas perkataan lelaki tua itu.
"Pak tua Orochi. Kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku selama ini. Anakku dan beberapa anggota keluarga kami telah mati, tanpa mengetahui siapa dalangnya." Ucap Sun Go dengan muram.
"Aku sangat paham akan hal itu. Maka dari pada itu aku mengeluarkan solusi terbaik, yaitu bagaimana kalau menggunakan Artefak Suci Pelihat mimpi untuk membuktikan apakah yang di katakan tuan Lux itu benar, bahwa pangeran Tetsu adalah dalang dari pembunuhnya?." Ucap Orochi dengan tenang, sambil memejamkan matanya.
Sementara itu Sun Go yang mendengar saran Orochi sangat senang. "Oh ide yang sangat bagus. Seperti biasa kecerdasan tuan Orochi memang tidak bisa di duakan."
Sun Go langsung melihat Raja Lion dan berkata. "Kamu tidak masalah dengan ini, kan Lion?"
Lion yang mendengar ucapan Sun Go dan Orochi, muram. Tetapi dia tidak bisa membantah.
Sun Go yang melihat ini mengangguk puas dan mulai mengeluarkan Artefaknya. Kemudian sebuah kaca yang sangat indah dan desain yang menawan muncul di tangan Sun Go. Dia kemudian menyuruh seorang pelayannya untuk mengambil setetes darah pangeran Tetsu.
Saat darah pangeran Tetsu jatuh diatas kaca, tiba-tiba cahaya muncul dan menampakkan semua pikiran di dalam Pangeran Tetsu.
Saat Sun Go melihat apa yang dipikirkan pangeran Tetsu sekarang, terutama di dalam pikirannya ada gambar anaknya yang menangis disiksa disebuah ruan gelap, membuat darah Sun Go mendidih.
"Lion, bajingan. Apakah kamu puas sekarang?. Cepat serahkan anakmu untuk di adili keluarga kami." Ucap Sun Go.
Sementara Lion yang mendengar ucapan Sun Go muram dan kemudian balas berkata. "Pangeran Tetsu akan di adili oleh pihak kerajaan. Harap tuan Sun Go, mengerti."
Saat Sun Go mendengar ucapan Lion, dia siap menyerang Lion. Tetapi tiba-tiba Orochi mengoreksi mereka lagi.
"Raja Lion anda sekarang adalah Raja kerajaan Beast. Kalau kamu terlalu memihak kepada anakmu yang jelas-jelas telah melanggar hukum paling berat di kerajaan Beast, itu dapat menghilangkan semua kepercayaan kami yang ada di sini. Lihatlah sekeliling tuan agar anda paham." Ucap Orochi sambil menyipitkan matanya.
Raja Lion yang mendengar ucapan Orochi mengernyit dan segera melihat sekelilingnya. Dia terkejut saat melihat semua bangsawan dan kepala suku memandang dia dengan tatapan tidak puas.
Raja Lion yang melihat hal ini menghela nafas frustasi.
__ADS_1