King Of Lux

King Of Lux
Chapter 65 Aku tidak bisa di dahului oleh ibuku.


__ADS_3

Yasaka yang melihat Rose terdiam kemudian melepaskan pelukan dan menatapnya.


"Eh, kenapa saudari, diam?. Apakah saudari tidak menerimaku?." Tanya Yasaka dengan sedikit Isak tangis.


Rose yang melihat ini mulai panik dan langsung berbicara. "Eh, tentu saja aku merinamanya."


Rose berusaha menenangkan Yasaka yang sedih, tiba-tiba tercengang saat melihat hal yang tak terduga. Saat Rose mengatakan telah menerimanya, Yasaka langsung kembali ceria.


"Syukurlah. Terimakasih saudari." Yasaka berkata sambil memeluk dan mengeluaskan pipinya ke pipi Rose dengan mesra.


Rose, Fifian dan Bendeta yang melihat hal ini tercengang, berbeda Melinda yang melihat tindakan Yasaka, tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.


"Dasar Rubah licik." Gumam Melinda dengan tidak puas.


Sementara Lux tercengang dengan situasi tiba-tiba yang sangat akrab. Semiramis melihat ini malah lebih memperhatikan telingan dan ekor Yasaka.


"Ugh, kenapa kalian tidak ada yang memperhatikan wanita itu. Mereka semua memiliki telinga dan ekor hewan." Semiramis tiba-tiba berkata, berusaha menyadarkan mereka kembali.


"Hmm. Sepertinya memang betul, sengguh ras yang unik." Ucap Foban dengan pandangan menilai.


"Hahahaha. Pak tua Foban, seperti yang kuduga kamu juga berpikiran sama denganku. Ras mereka memang sungguh luar biasa." Ron menambahkan dengan sedikit mesum.


Sementara itu saat semua orang dalam suasana yang nyaman, Anggelina yang berdiri di sisi ayahnya memandang Rose dan yang lainnya dengan iri.


"Lux, bisakah kamu memperkenalkan mereka terlebih dahulu." Semiramis berbicara lagi. Berusaha mengembalikan situasi ke keadaan formal.


"Hah, baiklah untuk sekarang aku ingin memperkenalkan kepada kalian semua. Kecuali Sasaki dan Risaki yang berada di sampingku, mereka semua adalah Ras manusia hewan yang tinggal di dunia luar."


Saat mendengar ucapan Lux Yasaka mulai memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. "Biar aku yang pertama memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku adalah kepala suku Rubah ekor sembilan Yasaka Kitsune, salam kenal."


"Aku adalah pelayan Tuan Lux, Sasaki"


"Aku adalah pelayan Tuan Lux juga, namaku adalah Risaki."


"Aku adalah Kepala suku Burung, Fuji. Salam kenal."


Saat Yasaka, Sasaki, Risaki dan Fuji mulai memperkenalkan dirinya. Beberapa suku manusia hewan lainnya ikut memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Rose dan yang lainnya, melihat perkenalan mereka mulai berbaur dan memperkenalkan diri juga. Segera ditempat itu menjadi sangat bising, mereka mulai mengobrol dengan bahagia.


Lux yang melihat hal ini tersenyum. Sementara Brayen yang melihat ekspresi Lux kemudian berkata. "Hohoho. Nak Lux, walaupun kali ini kerajaan Green telah mengalami serangan dari kerajaan Ness dan Demon. Tetapi kita dapat menikmati suasana yang hangat ini."


Lux yang mendengar ini menghela nafas dan membalas ucapan Brayen. "Guru, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Hoo?. Apa itu tanyakan saja. Selama itu masih dalam pengetahuanku, pasti akan ku jawab."


Lux mengangguk dan berbicara. "Ngomong-ngomong sudah berapa lama tuan berada di alam tersembunyi ini?."


"Hmm, kalau soal itu mungkin sekitar 10 tahun."


Lux yang mendengar ini terkejut dan kemudian berbicara kepada Brayen lagi. "Karena guru telah berada di alam tersembunyi selama sepuluh tahun. Apakah tuan sudah tahu dimana lokasi benih alam tersembunyi?."


Brayen membelai janggutnya dengan tenang dan kemudian berkata. "Benikah?... Kalau soal itu aku tidak tahu banyak. Tetapi aku pernah mendapat informasi bahwa benih alam ini berada di wilayah kerajaan Elf."


Lux yang mendengar ini mengerutkan keningnya dan menatap Melinda dan Lit dengan serius.


Brayen yang melihat ekspresi Lux segera bertanya. "Lux apakah kamu ingin memiliki alam tersembunyi ini?. Kalau kamu menginginkan alam ini, aku sangat mendukungmu. Jika kamu berhasil mendapatkan benih alam tersembunyi dan menanamkannya di dalam jiwamu. Kamu pasti dapat melaju kealam peleburan Mana dengan lancar."


Lux yang mendengar ini mengangguk dan membalas ucapan gurunya, Brayen. "Aku memang memiliki pemikiran seperti itu. Karena situasi dunia Core sangat berbahaya. Aku membutuhkan benih itu untuk bertambah kuat dengan cepat."


Lux yang mendengar ucapa Brayen tidak terlalu terkejut. Dia sebenarnya sudah menebak identitas Melinda, sejak lama. Berdasarkan analisis AI, aku berhasil melihat informasi darinya dan juga pengawalnya itu.


Brayen yang melihat Lux tidak terkejut, melihat dengan heran. "Nak Lux, apakah kamu sudah mengetahui identitas Nona Melinda?."


"Mm. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak aku datang ke tokonya. Aku berpikir saat itu tidak mungkin Nona Melinda ini orang biasa. Sementara bawahannya berada di Tahap Mana Core putih."


"Hohoho. Tidak aku sangka kamu dapat melihat tahap mananya. Padahal dia memiliki artefak yang menyembunyikan auranya. Lit pasti akan terkejut mengetahui hal ini." Ucap Brayen dengan seringai bahagia.


Lux yang mendengar ucapan Brayen hanya bisa menggelengkan kepalanya.


....


Sementara Lux dan Brayen mengobrol, tiba-tiba Yasaka berbicara serius kepada Rose, Fifian dan Benedeta.


"Apakah di kerajaan ini ada hama yang selalu mendekati suami kita?."

__ADS_1


Rose yang mendengar pertanyaan Yasaka berkata dengan serius. "Itu sangat banyak. Tetapi hal yang paling berbahaya adalah ibu Fifian dan Melinda."


Yasaka yang mendengar ucapan Rose, mengakat alisnya bingung. "Eh, ibu saudari Fifian?."


Fifian yang mendengar pembahasan mereka tentang ibunya dan Lux, tidak bisa tidak mengerucutkan bibirnya dengan rumit.


Sementara Rose segera menyambung bicaranya kepada Yasaka. "iya. Kalau kamu melihat dia, pasti kamu akan mengerti."


Rose kemudian menunjuk Semiramis yang sedang mengobrol dengan Sasaki dan Risaki.


Yasaka yang melihat Semiramis, tiba-tiba tidak bisa tidak terkejut. Tubuhnya yang sangat menggoda, ditambah dengan buah dada yang besar dan bokong yang luar biasa. Pesonya tidak bisa di lukiskan. Bagaikan Ratu malam yang mendominasi para pria.


"Ugh, sialan. Dia seorang penyihir..." Ucap Yasaka dengan rumit.


Rose dan Bendeta yang melihat hal ini mengangguk setuju dengan ucapan Yasaka. Sementara Fifian yang berada di samping Rose tidak bisa tidak berbicara.


"Ugh, tidak bisakah kalian tidak bergosip tentang ibuku."


Yasaka yang mendengar hal ini tidak bisa menghela nafas melihat tingkah Fifian. "Saudari Fifian. Kamu pasti masih perawan, kan?."


"Eeh?. Kenapa kamu bertanya hal itu?."


Yasaka dan Rose menggelengkan kepalanya.


"Fifian, kalau kamu seperti itu terus. Ibumu bisa saja akan menyalipmu duluan. Setelah hal ini, kamu harus segera pergi ke Lux dan memakannya." Ucap Yasaka dengan serius.


"Ini, ini, ini...." Fifian memerah saat mendengar ucapan Yasaka. Sementara Bendeta yang mendengar ucapan Yasaka segera menambahkan.


"Saudari Fifian, tenang saja. Lux itu sangat mesum. Dia pasti akan menerimanya dengan sukarela, saat anda berbicara kepadanya."


Rose mengangguk atas ucapan Benedeta. Sementara Fifian masih agak ragu dengan hal ini.


Melihat masih ada keraguan di wajah Fifian, Yasaka segera menambahkan. "Saudari Fifian tenang saja. Kami bertiga pasti akan membantumu."


Rose dan Bendeta mengangguk atas ucapan Yasaka.


Fifian yang mendengar dorongan terakhir dari Yasaka, akhirnya mengangguk.

__ADS_1


"A,..a,..aku tidak ingin di dahului oleh ibuku." Ucap Fifian dengan memerah di pipinya, sambil mengepalkan tangannya.


Mereka bertiga mengangguk dengan puas atas respon dari Fifian.


__ADS_2