Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Apa Maksudnya Ngomong Kayak Gitu?


__ADS_3

Sebentar lagi jam kerjaku udah habis, dan aku belum ngomong sama Almeer perihal janji makan nasi goreng kambing yang alamat batal. Daritadi kedai rame, aku nggak sempat bilang karena kita sama-sama sibuk sama kerjaaan masing-masing.


"Al..." aku manggil Almeer.


"Ini ke meja 20, ya?" ucap Almeer.


Aku menerima nampan dari Almeer, dan nganterin Iced matcha latte dan juga Iced cofee ke meja yang disebutkan Almeer tadi.


"Silakan, Nona..." ucapku naruh pesanan di meja.


"Eh, Mbak ... mbaaak. Yang bikin kopi siapa namanya, Mbak?" tanya salah salah satu cewek yabg duduk di meja 20.


"Yang bikin kopi?"


"Yang itu loh, yang tadi ngasih nampan ini ke mbaaaak," dia nunjuk malu-malu gitu ke arah counter.


"Almeer?"


"Namanya Almeer? namanya bagus kayak orangnya," cewek ini uget-uget, senyum senyum sendiri.


"Eh, eh, Mbak! salam ya, buat mas Almeer. Salam dari Jessey," ucap si cewek sambil nunjukin finger love gitu.


"Iya, nanti saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi," ucapku, yang undur diri.


Aku nengok ke belakang sebelum aku ngomong sama Almeer.


"Al..." Aku panggil Almeer yang lagi beres-beres.


"Ada apa, Chel?"


Si cewek uget-uget tadi, nunjuk ke Almeer. Aku disuruh cepet ngomong.


"Al..." aku panggil Almeer lagi.


"Ya, Racheeeel...?" mata Almeer menatapku dalam.


"Ehm, itu ada..."


"Ada apa?" tanya Almeer, aku malah fokus sama bola matanya yang berwarna hitam.


"Rachel...?"


"Eh, sorry. Itu ada yang titip salam, dari meja 20 namanya Jessey!" aku nunjuk meja 20. Si cewek tadi sok kecantikan banget, dia senyum sok imut.


Almeer cuma kasih senyum dan ngangguk sopan.


"Cewek jaman sekarang agresif semua ya?"


Si cewek aenyum lagi, dan Almeer ngangguk lagi sopan. Terus dia nyautin omonganku tadi.


"Nggak semua. Ada kok cewek yang susah banget dikirimin sinyal," kata Almeer.

__ADS_1


"Maksudnya?


"Walaupun cowok itu suka, tapi si cewek datar-datar aja, nggak ada respon. Kalau itu ada 3 kemungkinan, antara nolak halus, emang nggak peka atau ada perasaan orang yang harus dia jaga," ucap Almeer.


"Oh gitu ya?" aku cuma gitu aja nanggepin Almeer.


"Bukannya aku nggak peka, Al. Aku cuma takut merusak hubungan baik ini, aku takut kehilangan orang sebaik kamu. Orang yang care disaat aku lagi nggak ada siapa-siapa," batinku. Mataku mendadak berair.


"Mata kamu kenapa? kok kayak mau nangis? kenapa?" tanya Almeer.


"Mataku kan emang kayak gini, mungkin efek kelelahan aja. Kacamata segede gini, hidung juga capek banget rasanya," aku ngeles.


"Kalau gitu kamu ganti frame aja yang lebih ringan," usul Almeer.


"Al..." aku manggil pria di depanku ini.


"Ngomong aja kali, Chel. Kayak nggak biasanya aja,"


"Kayaknya sore ini kita nggak jadi makan nasi goreng kambing, aku ada urusan yang harus aku selesein..." ucapku ragu.


Aku nggak enak banget sama Almeer, aku yang ngajak dia aku juga yang batalin.


"Ya udah, besok lagi kan bisa. Nggak usah begitu mukanya," ucap Almeer.


"Maaf yaaaa?"


"Iyaaaaa," jawab Almeer panjang, kemudian dia tersenyum.


"Mana ada dia nelfon? dia kan kalau mau dateng, dateng aja..." aku belum ngelepas apron maupun topi.


"Pulang duluan ya, Chel..." ucap Almeer.


"Duluan, Cheeel..." ucap mas Wahyu yang udah ngibrit ke depan ngintilin Almeer dari belakang lalu disusul mbak Arni yang kayaknya udah dijemput sama ayangnya.


"Belum pulang, Chel?" tanya Fatir.


"Belum," aku cuma nyengir aja.


"Lembur?"


"Nggak. Aku .. lagi nungguin orang," jawabku.


Tas udah aku bawa ke counter, tapi apron dan topi masih dipake. Macam orang bingung antara mau pulang atau nggak.


"Ini udah jam 5 sore, sebenernya dia mau kesini nggak sih?" aku gelisah ngeliat jam.


Aku bela-belain batalin janji sama Almeer, tapi sampai detik ini pak Raga belum nongol juga.


"Woy, jangan ngelamuuun!" ucap Fatir.


"Siapa juga yang ngelamuuun?" aku liat ke Fatir.

__ADS_1


"kamu lagi disetrap sama pak Chandra apa gimana, Chel? kamu ada masalah lagi sama pak Chandra? iya?" Fatir mepert kepo banget.


"Yeuuuh, emang kita anak SMA pake disetrap segala. Lagian kamu kepo banget sih!"


"Ya abisnya ini udah pada bubar yang shift pagi, tapi kamu sendirian yang masih stay disini! ini kan jadi sesuatu yang genap!"


"Ganjiiiiil kali bukan genap?!" aku nyambung ucapan Fatir.


"Kan tadi aku udah bilang, aku lagi nungguin orang," ucapku sambil sesekali ngecek hape.


"Eh, tapi kalau ada yang bisa dibantu, aku bantu nggak apa-apa. Daripada aku bengong," ucapku sama Fatir.


Aku berdiri ngadep tembok, jadi posisiku ini membelakangi pintu. Sampai jam 5 lebih seperempat, pan Raga belum nongol juga. "Kalau tau kayak gini, aku nggak ngebatalin acara makan sama Almeer lah," batinku.


Tapi nggak biasanya pak Raga ngaret apalagi ingkar janji, lha wong dia orangnya on time abis. Aku telat semenit aja, dia udah nyap-nyap.


Daritadi ada aja yang pesen, tapi aku malah fokus sama hape yang dari kantor, yang waktu itu pak Raga kasih yang isinya nomor-nomor penting.


"Apa aku telfon mas Andri ya? kali aja pak Raga ada scedule dadakan. Kalau iya kan aku nggak perlu nunggu kayak gini," gumamku.


Tapi baru aja aku mau nelfon mas Andri, eh si Fatir nepok pundakku.


"Chel?"


"Ya? ada apa, Tir?"


"Anterin pesenan ini dong, Chel. Fitri lagi ke dapur bentar tadi, si Aldan lagi bikin pesenan yang lain," ucap Fatir.


"Oke, oke. Siniin nampannya!" aku sakuin lagi hapeku dan ngambil nampan dari tangan Fatir.


"Meja 17," kata si Fatir.


"Sorry ya, Chel..." ucap Aldan yang lagi bikin minuman yang lain.


"Santai aja, Dan..." ucapku.


"Thank you ya," ucap Fatir.


Ya begitulah, temen-temen disini kalau nyuruh itu nggak main nyuruh apalagi posisinya kita udah selesai shift. Beda ama tempat yang lain, yang mentang-mentang senior terus nyuruhnya seenak jidat gitu. Pokoknya walaupun kerja kayak gini aku betah dan kerasan banget.


Dan ketika aku mendekatbke arah meja 17, aku denger suara yang sangat familiar.


"Amel?" batinku. Posisi duduk Amel membelakangiku.


"Sebenernya aku nggak tega, tapi gimana? aku juga nggak rela kalau si Tristan deketin Rachel terus. Kamu tau kan aku udah naksir Tristan dari jaman traineee, sampai bisa jadi karyawan tetap..." ucap Amel sama salah satu perempuan yang aku tau dia dari divisi yang sama dengan aku dan Amel dulu.


Deg!


"Apa maksudnya dia ngomong dia kayak gitu?" batinku.


"Amel?" aku panggil dia.

__ADS_1


Sahabatku itu menoleh dan menampakkan wajah terkejutnya, "Ra-chel...?" ucapnya terbata.


__ADS_2