Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Terima Nasib


__ADS_3

"Makhluk halus?" tanya pak Raga, dia lipet tangannya di depan dada.


"Iya, semalam. Saya denger ada suara nenek-nenek jam 3 pagi, manggilin cucunya..." jelasku.


"Ya memang di kosan mu itu sebenarnya banyak makhluk astralnya. Makanya saya kok heran kamu bisa betah di tempat seperti itu,"


"Jadi pak Raga eh maksudnya Sayangku ini bisa ngeliat semua makhluk itu? semuaaa?" aku menatap pak Raga nggak percaya.


Pak Raga mengangguk dengan gentle-nya.


"Waw, kereeeen?!" ucapku nggak sadar udah muji doi.


Pak Raga nyentuh jambulnya dengan cool-nya, "Sudah pasti!" ucapnya.


"Terus? yang harus dilakuin?"


"Pindah atau pura-pura tidak melihat," sahut pak Raga.


"Pindah? ya, aku juga berpikir seperti itu. Capek juga kalau diganggu tiap tengah malam," aku manggut-manggut.


"Kalau mau kamu bisa menempati apartemen milikku atau mau beli yang baru. Beritahu saja, nanti Andri yang akan mengurusnya "


"Ah, nggak. Maksudku saya nggak mau ngerepotin. Saya akan cari kosan sekitar sini, biar berangkatnya nggak telat terus," aku mengakui dosa karena sering datan mepet jam absen.


"Kita sepasang manusia yang sedang menjalin percintaaan, jadi wajar kalau kamu saya kasih apartemen! itung-itung sebagai bentuk kegentle-an saya sebagai pria yamg melindungi kekasihnya dari gangguan makhluk halus!" ucapnya dengan percaya diri.


"Iya, tapi nggak perlu sampai seperti itu juga. Saya cuma pengen jangan ngeliat hal-hal ghoib seperti itu,"


"Mata batin yang sudah terlanjur terbuka, sulit untuk ditutup lagi. Anggap saja sebagai anugerah, tidak perlu terlalu direwes dan dipikirin. Cukup jalani dan terima nasib," kata pak Raga santuy.


"Jadi sampai saya tua saya bisa ngeliat makhluk yang astral-astral gitu?"


"Ya bisa jadi," ucap pak Raga. Mendadak kok aku jadi merinding. Bukan apa-apa, ya kalau bentukannya kayak yang bagus-bagus mah masih mending, lah ini bentukannya serem kita juga ogah kaleeess.


Lagi ngobrol kayak gini tiba-tiba mas Andri dateng. Dia bilang kalau mobil udah siap, dan kita harus segera pergi ke suatu tempat untuk menemui orang penting hari ini.

__ADS_1


Sebelum itu, mas Andri nyuruh satu orang masuk, dia ngenalin satu asisten baru namanya Jolie.


"Permisi, Pak. Nama saya Jolie..."


"Ya, nanti Andri yang akan memberitahu tugasmu!" ucap pak Raga tegas.


Dan pak Raga yang kayak gini nih yang dulu aku kenal. Nggak ada tuh sikap-sikap benerin jambul, naik turunin alis juga nggak ada. Pak Raga itu ya kalau dimata karyawan, bos yang disegani gitu. Dan apa jadinya kalau pada tau dia pernah ngeluarin jurus pendekar dan xiluman, pasti pada geleng-geleng kepala. Bosnya yang galak bisa somplak juga.


Jolie disuruh Andri keluar. Kalau dari perawakannya sih oke banget, rambut panjang badan ramping. Termasuk dalam golongan wanita pemikat hati, soalnya ya emang semenarik itu. Tapi buat pak Raga nggak tau ya, soalnya dia datar-datar aja sih daritadi.


"Sayang? kok kamu bengong?" tanya pak Raga di depan mas Andri.


Sedangkan aku yang ditegur mau jawab apa bingung.


"Ndri, saya pakai mobil sendiri?!" ucap pak Raga pada mas Andri, sedangkan pak Raga ngerangkul pundakku dengan cueknya.


"Paaak?!" ucapku lirih. Akku turunin tangan pak Raga dari pundakku. Aku takut mas Andri atau orang yang ada di kantor ini berpikiran yang nggak-nggak tentang aku.


Jadi aku sama pak Raga beda mobil sama mas Andri. Sedangkan Jolie, dia tendem di kantor. Mungkin sekarang lagi di ospek sama mbak Erna.


"Nggak apa-apa, saya cuma lagi pengen diem..." jawabku.


"Menurut kamu bagaimana Jolie?" tanya pak Raga.


"Apanya yang bagaimana? Jolie menarik sih, mungkin dia juga pinter. Mungkin akan lebih menguasai daripada saya," ucapku jujur.


"Haiiishhh, bukan itu yang saya maksud," ucap pak Raga.


"Lalu maksudnya bagaimana?"


"Maksudnya, apa ... ehm, apa kamu tidak apa-apa kalau dia jadi asistenku juga?" tanya pak Raga setengah ragu.


"Bukannya itu kapasitas saya buat menentukan bokeh atau tidak boleh? saya juga kan asisten pak Raga Mahendra," jawabku.


"Kamu kan bukan asisten biasa. Ehm, maksudku kamu kan bukan hanya sekefar asiaten, tapi juga pacar saya. Jadi kamu juga berhak setuju atau tidak setuju. Apa kamu tidak berpikir Jolie akan menjadi ancaman?" tanya pak Raga.

__ADS_1


"Yaaaaa, ada sih berpikiran sampai kesana...." ucapku.


"Benarkah? jadi kamu cemburu? oke, aku telfon Andri aja suruh pecat Jolie!" ucap pak Raga bersemangat


"Lah lah lah, kok malah mau dipecat? pak Raga gimana sih?" ucapku.


"Ya kan dia memberikan ancaman? iya kan?"


"Iya maksud saya---"


"Ssshhhhh, saya tau apa yang ada di dalam pikiran wanita," ucap pak Raga yang aneh banget kataku mah.


"Jangan pecat Jolie! masa iya baru kerja belum genap sehari udah dipecat? janganlah, kasian..." aku memohon sama pak Raga. Ya kali gara-gara omonganku yang asal-asalan tadi, seseorang jadi kehilangan pekerjaannya, kan nggak adil.


"Yakin?"


" Ya...." sahutku.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu!" kata pak Raga.


Perjalanan kita lumayan lancar, sampai akhirnya mobil ini berhenti di sebuah restoran. Kalau urusan kerjaan udah ada mas Andri yang handle, aku cuma ngurusin keperluan pribadi pak Raga.


Cuma sampai disini firasatku mendadak nggak enak.


"Ada apa? apa ada yang aneh?" tanya mas Andri saat aku melihat ke arah meja pak Raga dengan seorang pria berjas. Mereka sedang bicara empat mata, sedangkan aku sama mas Andri melipir agak menjauh begitu juga dengan salah seorang yang datang bersama pria yang bernama Moreno Saputra.


"Rachel...?" mas Andri melambaikan tangannya di depan wajahku.


"Oh iya, Mas. Sorry," ucapku, dengan senyum canggung.


"Pak bos lagi ngomong apaan sih? kayaknya serius banget harus bicara berdua segala?" aku nanya sama mas Andri.


"Terkadang ada kesepakatan atau pembicaraan yang kita nggak boleh tau, Chel..." ucap mas Andri.


Mendengar jawaban mas Andri yang kurang memuaskan, mataku nggak biaa lepas dari sosok Moreno Saputra.

__ADS_1


"Feelingku berkata lain," ucapku dalam hati.


__ADS_2