Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Jangan Pergi


__ADS_3

"Akkh?!!" aku memekik saat aku ditarik sama pak Raga.


"Apaan sih, pak?! Awas, aku harus bantu mas Liam," aku berusaha melepaskan diri dari pak Raga. Namun kekuatannya melebihi aku yang hanya seorang perempuan.


"Apa yang kamu lakukan? jangan coba dekati Rachel?!" ucapnya pada mas Liam.


Aku melihat pak Raga nggak percaya. Ternyata selama ini dia bisa melihat sosok mas Liam. Tapi kenapa dia pura-pura nggak memiliki kemampuan itu?


Sosok mas liam semakin lama semakin menjadi transparan.


"Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pergi, Maaaass. Nggak, nggak boleh?!" aku meronta mencoba menggapai mas Liam.


"Jangan gila, Rachel. Apa yang akan kamu lakukan, hah?" pak Raga mengunci pergerakanku.


"Biarkan aku menolongnya, Pak. Aarrrghhh?!!" mas Liaaaammm..." aku menjerit.


Mas Liam tersenyum ke arahku, aku menggeleng. Aku nggak mau ini menjadi salam perpisahan kami. Dia harus bertahan apapun yang terjadi. Dia nggak boleh pergi begitu aja.


Aku gigit tangan pak Raga dengan sekuat tenaga.


"Aaakkh?!!" dia melepaskan aku. Aku yang mendapat kesempatan itu berlari ke arah Liam.


Aku berusaha menggapai laki-laki baik itu, tapi yang terasa olehku hanya angin.


"Hiks ... hiks ... arrghh?! mas Liaaamm," aku menangis sejadi-jadinya saat wujud mas Liam kini hilang. Aku terduduk menyesal, kenapa nggak daritadi aku kasih energiku buat Liam.


"Racheeel..." panggil pak Raga yang mencoba mendekat.


Tiiiiiiit


Tiiiiiiit


Kini suara perekam jantung membuyarkan tangisanku. Aku menunjukkan telapak tanganku pada pria yang menjadi sumber penghasilanku saat ini.


Tiiiiiiiiiiit.....?!


Sebuah suara dari monitor membuatku segera terbangun dan berlari menuju wujud nyata mas Liam berada. Dan sebuah sirine berbunyi bersamaan dengan munculnya garis lurus di layar monitor.


"Mas, Mas Liaaam?!" aku goyangin badannya. Aku tepokin pipinya.


"Masss, mas Liaaam. Nggak boleh. Kamu nggak boleh pergi...?!"


"Mas, Mas Liam...?!!" aku berusaha menggoyang-goyangkan badannya.


Dan tanpa dipanggil ada team medis yang menerobos masuk ke dalam ruangan ini.

__ADS_1


"Maaf, Nona dan Tuan sebaiknya anda keluar," ucap salah seorang perawat.


Aku nggak bodoh, aku tau apa yang terjadi sama mas Liam saat ini.


"Mari, Nona ... Tuan..." perawat itu menyuruh aku dan pak Raga buat keluar dari ruangan.


Sedangkan aku mau nggak mau harus menuruti apa yang perawat itu suruh. Walaupun dalam hati aku khawatir banget dengan keadaan mas Liam.


"Semoga dokter bisa menyelamatkan nyawanya," ucapku dalam hati.


Sekarang aku dan pak Raga berdiri di depan pintu.


"Rachel..."


"Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan adik Bapak," ucapku dingin.


Aku nggak tau apa yang dirasakan mas Liam saat ini, dan aku nggak mau berspekulasi negatif. Aku yakin kalau Mas Liam bisa kembali.


Ceklek?!


Pintu kamar terbuka dan seorang dokter laki-laki keluar, dia membuka masker yang menutupi wajahnya.


"Dokter, bagaimana kondisinya saat ini? semuanya baik-baik aja, kan?" aku mencecar dokter dengan pertanyaan sedangkan mataku mencuri-curi buat ngeliat mas Liam di dalam. Dokter itu masih terdiam.


"Bagaimana keadaannya dokter?" kali ini pak Raga yang nanya dengan tenang.


"Nggak, nggak mungkin..." aku menggeleng nggak percaya.


"Dokter, anda harus menyelamatkannya, Dokterrr?!!" Aku meraih tangan dokter.


Tapi dengan sigap pak Raga melepaskannya, dia memelukku yang masih meronta.


"Nggak mungkin, nggak mas Liam pasti masih hidup," tangisku pecah.


"Maaf, kami turut berbela sungkawa?! aemoga anda diberi ketabahan, permisi..." ucap sang dokter yang kemudian meninggalkan kami berdua.


Seketika badanku lunglai, aku merosot ke bawah.


"Seandainya kamu tidak datang, pasti dia masih hidup," ucapku menyalahkan pak Raga.


"Berdirilah, jangan duduk disini," ucap pak Raga dingin.


"Lepas?!" aku mencoba melepaskan tangan pak Raga dan bangkit, beralih ke kursi tunggu.


Tatapan mataku kosong, mengawang pada sebuah senyiman yang terlukis di wajah mas Liam. Sosok yang kerap bersahabat dengan kepahitan hidup. Orang yang sampai akhir hayatnya, hanya memikirkan kebahagiaan kakak yang sama sekali nggak menganggapnya ada.

__ADS_1


"Bukankah ini yang anda harapkan, Pak? dia sudah pergi menyusul ibunya," ucapku dengan linangan air mata. Aku kecewa kenapa aku nggak bisa menahannya walau sedetik saja.


"Tidak sama sekali, Rachel. Mungkin aku tidak menyukainya, tapi aku tidak mengharapkan dia pergi dengan cara seperti ini," ucap pak Raga.


"Aku memang bisa melihatnya, bahkan sejak awal. Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, tapi aku berusaha mengacuhkannya. Karena sampai saat ini aku nggak bisa menerima kehadirannya yang merusak kebahagiaan keluargaku," ucap pak Raga.


"Bahkan bukan hanya Liam yang aku lihat, tapi sosok-sosok lain yang orang lain tidak bisa melihat," lanjutnya.


"Kenapa? kenapa Bapak tidak menerima kalau--"


"Dia anak dari wanita yang merusak keharmonisan keluargaku, Rachel?! walaupun nenek sangat sayang sama Liam, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa menerimanya..." ucap pak Raga menatapku dengan tajam.


"Dia bukan seperti yang anda kira, Pak. Anda akan menyesal jika tau cerita yang sebenarnya," ucapku dengan mengusap sisa air mata yang mengalir ke pipi ku.


"Apa? cerita seperti apa? aku tau semuanya dari tante Mella,"


"Tante Mella?"


"Adik sepupu Papi," ucap pak Raga.


"Siapapun dia, tapi aku bisa menjamin ucapannya itu tidak benar. Karena mas Liam buka anak ayah anda, Pak. Dan wanita yang anda kira merusak keluarga anda itu merupakan sahabat ayah anda yang hamil dan ditinggalkan suaminya, dan ketika mas Liam lahir dia menitipkan bayinya pada ayah anda..."


Lalu aku pun menceritakan apa yang aku dengar dari mas Liam.


Raut kaget terpancar dari wajah pak Raga, walupun dia berusaha keras untuk menyembunyikannya.


Pak Raga duduk menunduk cenderung membungkuk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Aku tau hatinya saat ini pasti sangat remuk, selama bertahun-tahun dia hidup dengan kebencian.


Pak Raga tidak.mengeluarkan suara, hanya bahunya yang bergetar dan naik turun.


Aku memeluknya, dan sekarang wajahnya bersembunyi di perpotongan leherku. Dia tetap tidak bersuara, tapi aku tau dia sedang menangis.


Aku mengusap punggungnya, "Aku pernah dengar jika, jangan terlalu membenci seseorang karena bisa jadi nantinya kita malah akan mencintai atau menyayangi orang itu. Dan jangan terlalu mencintai seseorang karena bisa jadi perasaan itu bisa berubah jadi benci..."


Dia memelukku sangat erat, aku bisa merasakan penyesalannya. Ya, penyesalan pasti datang di akhir karena kalau datangnya di awal namanya pendaftaran.


"Aku baru mengenal mas Liam, tapi aku bisa merasakan kebaikannya. Dan aku yakin dia akan ditempatkan di tempat yang terindah di sisi-Nya," ucapku dengan rasa sakit yang menjalar di hatiku.


"Ya Allah, aku tau semua di dunia ini milik-Mu. Tapi jika aku boleh meminta, tolong hidupkan mas Liam kembali. Dan jika hal itu terjadi, aku berjanji akan menepati permintaannya untuk selalu disisi Raga, kakaknya..." ucapku dalam hati.


Malam ini kita berdua saling menguatkan satu sama lain.


"Bagaimana aku bisa mengatakan ini pada Eyang? Eyang pasti akan sangat shock, karena aku sudah berbohong mengenai keberadaan Liam..." ucap pak Raga dia melepaskan pelukannya, dan menatapku dengan matanya yang merah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


"Mau tidak mau anda harus jujur, Pak..." ucapku pada pak Raga.


"Anda mungkin bisa memanipulasi hubungan kita di depan nenek anda, tapi tidak dengan kondisi mas Liam. Karena besok pagi, kita harus menyiapkan pemakamannya..." ucapku.


__ADS_2