
"Iya nggak apa-apa, woles aja..." aku maksain senyum.
Ya jelas lah dia bisa denger dan bukan salah dia juga kalau denger aku yang lagi ngomong sendiri saking kalutnya.
"Kalau boleh tau, Mbak eh Kakak..."
"Panggil aja Rachel," ucapku yang secara nggak sengaja memperkenalkan diri
"Oke Rachel. Sorry, saya Almeer.." dia nunjukin name tag di bajunya.
"Maaf kalau saya lancang, tapi sepertinya kamu baru aja kehilangan pekerjaan?" tanya Almeer dengan menunjuk box yang ada di atas meja.
"Iya, begitulah..." aku jawab lemas.
"Ini sih kalau kamu mau. Kebetulan di cofee shop ini lagi membutuhkan karyawan perempuan, ada satu orang yang lagi cuti melahirkan dan bos bilang kalau dia lagi butuh tenaga tambahan karena kedai ini lumayan cukup ramai. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambil kesempatan itu,"
"Beneran? lagi ada lowongan?" mataku membulat.
"Ya walaupun, honornya mungkin nggak sebesar di tempat kamu bekerja dulu, tapi lumayan aja kan bisa buat sambil kamu ngelamar kerjaan di tempat lain. Gimana?" lanjutnya.
"Aku mau?! ya, aku mau. Aku kerja apa aja, selama kerjaan itu halal dan menghasilkan," aku memegangbtangan Almeer dengan mata yang berbinar-binar.
Almeer menundukkan pandangannya, melihat tanganku yang memegang tangannya.
"Ups, sorry!" aku melepaskan tanganku dari Almeer.
"Ehm, kira-kira kapan aku bisa kirim surat lamarannya?" aku antusias.
"Besok pagi aja. Kita buka jam 9 pagi," kata Almeer.
"Oke, oke. Aku bakal siapin semuanya," aku menunjukkan senyumku pada Almeer.
Kita tukeran nomer hape, supaya gampang nanti ngehubungin Almeer. Aku bersyukur banget, disaat kesusahan seperti ini aku mendapatkan pertolongan dari Allah lewat perantara Almeer. Aku nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Ya udah, aku balik kerja dulu ya..." ucap Almeer.
"Sekali lagi makasih yaaa?" ucapku.
"Iya, sama-sama..." Almeer bangkit dan masuk lagi ke dalam.
Tempat minum kopi ini emang cukup besar. Dan aku liat di dalem mereka juga menjual kue dan juga donut.
__ADS_1
Ya, roda mungkin sedang berputar, mengajarkan aku supaya tau dan ngerti cara bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini.
Perlahan aku menggeser ice chocolate dan aku jadi inget orang yang suka banget aama cokelat, pak Raga.
"Ini mah definisi cinta datang terlambat..." aku ngenea banget.
Lagi diminta jadi pacar ogah-ogahan, giliran udah jauh dan nggak mungkin tergapai lagi, baru ngerasain perasaan yang berbeda. Aku emang oon banget soal percintaan.
Minuman udah habis dan udah dibayar, lumayan lama aku duduk disini. Sebelum pulang aku chat Almeer, pamit pulang. Soalnya aku liat-liat kayaknya dia lagi sibuk ngelayanin para pelanggan yang dateng. Aku nggak mau ganggu kerjaan dia juga, jadi aku cuma kasih kode kalau aku mau pulang. Dia pun ngangguk dan senyum.
Taksi yang aku pesen udah dateng, tujuanku nggak pulang ke kosan tapi ke rumahnya mbak Gita. Udah lama aku nggak ketemu sama Nay, aku kangen juga. Dengan sisa gajinyang ada aku mampir buat beli jajanan kesukaan Nay di minimarket, terus aku bawa ke rumahnya mbak Gita.
"Sudah sampai, Kak..." ucap si supir taksi online.
"Oke, makasih ya..." aku sodorin duit ke mas-masnya.
Aku turun dengan tangan yang riweuh pegang inih onoh inih onoh.
"Assalamualaikuuuuum..." aku sengaja agak tereak biar kedengeran.
"Assalamualaikuuuuuuuum...?!" aku tereak lagi tapi nggak ada sahutan dari dalem.
"Mbak Gita lagi pergi apa ya? kok nggak ada jawaban," aku bergumam.
"Assalamualaikum, Mbak. Mbak dimana? aku udah di deoan rumah mbak Gita. Bukain pintu dong," ucapku berusaha ceria, seolah nggak ada masalah.
"Waalaikumsalam, Mbak lagi nggak di rumah, Dek..." sahut mbak Gita.
"Terus mbak Gita dimana? aku samperin deh,"
"Di rumah sakit," ucap mbak Gita.
"Rumah sakit? siapa yang sakit?" keningku berkerut.
"Nay!"
"Nay? ya udah sekarang mbak Gita share loc rumah sakitnya, aku susul sekarang juga!" ucapku.
Aku nyari taksi di aplikasi. Tapi setelah dipikir-pikir, nggak mungkin aku bawa box kaya gini ke rumah sakit. Jadilah aku ke kosan dulu naruh barang terus aku lanjut ke rumah sakit. Beruntung nyampe di kosan aku nggak ketemu bala-bala tawon. Jadi nggak ada omongan-omongan yang nggak enak di denger sama kuping.
Pokoknya setelah aku naruh box sama belanjaan yang awalnya mau aku kasih buat Nay, aku langaung cuss lagi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Semiga Nay nggak kenapa-napa, ya Allah..." aku berdoa dalam hati.
Seketika aku lupa sengan semua masalah yang aku hadapi. Aku malah kebayang wajah Nay terus. Hatiku rasanya nggak tenang sebelum aku liat keadaan keponakanku satu-satunya.
"Paaak, cepetan dong! nanti keburu jam besuknya habis!" ucapku pada si supir.
"Sabar, Mbak! ini jam-jam maghrib! nggak boleh ngebut-ngebut takut ada apa-apa di jalan, Mbak!" jawab si supir.
Nggak mau berdebat sama supirnya, aku milih diem aja. Padahal dalam hati udah gregetan banget pengen ambil alih stir mobilnya.
Perjalananke rumah sakit memakan waktu sekitar 45 menit an. Setelah nyampe, aku kasih ongkos mobil dan langsung aja ngibrit ke dalem. Takut jam besuknya keburu abis.
Ternyata mau besuk aja harua ada kartu aksesnya, terpaksambak Gita keluar kamar Nay dan nyamperin aku.
"Ya ampun, mbaaaak...." aku peluk mbak Gita saat kakakku itu udah di depan.
"Ngomongnya jalau udah di kamar rawatnya Nay aja, kasian dia sendirian..."
"Loh kok ditinggal sih, Mbaaak?" tanyaku khawatir.
"Abis dikasih obat, terus dia tidur. Makanya bisa mbak tinggal kesini," ucap mbak Gita
Mbak Gita ngebawa aku menuju uanganbya Nay. Dengan perlahan mbak Gita membuka pintu.
Aku melihat Nay sedang tidur, dengan selang infus yang tertancap di tangan kirinya.
Aku mendekat ke ranjangnya Nay, "Haloo, Nay. Ini Tante..." ucapku lirih.
"Cepet sembuh ya, Sayang..." aku nggak berani ngelus tangannya. Takut dia kebangun.
Nggak kuat ngeliat keponakan sendiri terkapar sakit, aku pun meneteskan air mata. Hari ini kayaknya udah banyak air mata yang aku keluarin. Kalau diukur mungkin udah lebih dari seliter.
"Duduk disana, Dek..." mbak Gita menunjuk sofa yang ada di ruangan ini. Aku mengangguk dan mengikuti mbak Gita.
"Nay kenapa, Mbak?" tanyaku setelah duduk di samping mbak Gita.
"Demam tanpa penyebab yang pasti," jawab mbak Gita.
"Yang sabar ya, Mbak. Aku yakin Nay pasti cepet sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit ini," aku pegang tangan mbak Gita, ngasih kekuatan.
"Mas Bram dimana? kok mbak Gita disini sendirian?" aku lanjut nanya.
__ADS_1
"Dia..." mbak Gita ragu buat ngejawab pertanyaanku.